Share

Samsak Hidup

Author: Pena Chr
last update publish date: 2026-08-10 10:47:36

"An, sini sebentar," panggil Mas Doni dari teras.

"Iya, Mas," jawabku, menelan sisa makanan yang belum sempat aku kunyah, melangkah dengan cepat ke teras.

"Ada apa, Mas?" tanyaku begitu berhasil duduk di sebelahnya.

"Besok kamu izin kerja saja. Di rumah ibu ada arisan. Kasihan ibuku kalau harus ngurus semuanya sendirian," pintanya.

"Maaf ya, Mas. Tapi sepertinya aku nggak bisa izin untuk besok, Mas. Ada rapat dengan leader masalah target penjualan yang masih kurang banyak," jawabku jujur.

PLAK

Pipi kiriku terasa panas. Dengung memenuhi telinga. Untuk sesaat aku bahkan tidak bisa mendengar apa pun selain detak jantungku sendiri.

"Ternyata kamu butuh tamparan lagi untuk mengingat sesuatu ya?!" bentak mas Doni. "Ibuku lebih penting dari segalanya. Lupakah kamu kalau surgaku ada di telapak kaki ibu, dan surgamu ada pada ridhoku?"

"Aku tidak lupa, Mas."

"Bagus! Memang seharusnya kamu tidak boleh melupakan itu."

"Iya, Mas."

"Jadi? besok kamu izin kerja dan datang ke rumah ibu jam tujuh pagi," perintahnya.

"Iya, Mas," jawabku patuh. Aku tak berani membantah lagi meskipun aku tahu resiko terbesar dari alpanya aku di rapat esok hari adalah kemungkinan kontrak kerjaku akan diakhiri.

"Ambilkan kunci motor matic, aku mau ke rumah ibu," pintanya.

Seperti kerbau yang dicucuk hidungnya, aku menurut begitu saja. Tak ada satu kalimat bantahan yang berhasil keluar dari mulutku, meskipun jelas batinku berteriak.

"Ini, Mas."

"Sudah, masuk sana. Selesaikan pekerjaanmu. Pel juga itu lantainya, kotor itu. Diinjak lengket begitu. Kunci pintunya, nggak usah nunggu aku pulang," perintahnya lagi.

"Iya, Mas." Menjawab dengan anggukan dalam situasi seperti ini jelas tidak memungkinkan. Bisa-bisa aku kembali mendapatkan tamparan.

Aku berdiri, menunggu lelaki itu tak lagi terlihat, dan mengunci pintu. Meskipun mas Doni punya motor sendiri, tapi dia lebih sering menggunakan motorku dengan alasan motorku lebih irit. Dugaanku, dia hanya tidak ingin bensinnya lebih cepat habis.

Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Baju terakhir baru saja tertata rapi di almari. Kini saatnya aku mengistirahatkan badan, menyiapkan tenaga. Diundang ke rumah ibu mertua sama dengan diminta untuk menjadi asisten rumah tangga sepanjang waktu.

Sudah terbayang olehku akan ada berapa banyak cucian piring, cucian baju, setrikaan dan debu-debu yang menumpuk.

Aku tidak tahu kenapa, mereka tidak lagi menggunakan jasa ART semenjak mas Doni menikah denganku. Pipit—adik perempuan satu-satunya mas Doni juga tak pernah mau menyentuh pekerjaan rumah. Katanya, sebagai wanita karier haram hukumnya mengerjakan pekerjaan rumah.

Padahal aku dulu juga memiliki karier, sebelum memutuskan untuk menikah dengan kakaknya. Aturan kantor kami saat itu tidak boleh ada sepasang suami istri bekerja di kantor yang sama. Sebagai istri yang taat, akulah yang mengundurkan diri dan membiarkan suamiku meneruskan kariernya.

Awalnya, aku menjadi ibu rumah tangga penuh waktu. Mengurus mertua dan seisi rumahnya. Namun, aku hanya sanggup bertahan selama satu tahun saja. Aku meminta kepada mas Doni untuk keluar. Terjadi perdebatan panjang, sampai akhirnya terjadi kesepakatan dimana aku diminta untuk kembali bekerja dan mengajukan KPR rumah—yang tentu saja rumahnya sudah dipilih oleh mereka.

Aku setuju saja, karena kupikir neraka itu akan berakhir, dan kami berdua benar-benar bisa menjalani kehidupan rumah tangga tanpa campur tangan orang lain. Namun, pikiranku lagi-lagi mengecewakanku. Mas Doni berubah.

Tempramentalnya semakin menjadi-jadi. Pukulan dan tamparan sudah menjadi makanan sehari-hari. Aku sempat ingin menyerah, tapi entah kenapa aku tetap bertahan juga.

"Tuhan, apa yang sebenarnya sedang aku pertahankan saat ini? bantulah aku menemukan jawabannya," doaku tulus di dalam hati. Aku menarik selimut, dan berusaha memejam. Menelan sendiri kepahitan dan seluruh kebisingan ini.

---

Azan subuh berkumandang, mas Doni jelas tidak pulang. Aku sudah bisa menebak sejak semalam ketika dia memintaku untuk tidak menunggunya.

Belum juga selesai salat, ponselku berdering tanpa henti. Ada puluhan panggilan masuk dari suamiku.

"Assalamualaikum, Mas. Ada apa?" ujarku sambil menjepit ponsel di antara telinga dan bahu, tanganku sibuk melipat mukena dan sajadah yang baru saja terpakai.

"Kamu baru bangun tidur ya?"

Suara melengking terdengar dari seberang sana, langsung membuatku menjauhkan ponsel dari telinga. Sepagi ini, suamiku sudah memiliki tenaga untuk berteriak.

"Aku baru selesai salat, Mas."

"Dari suaramu sih jelas sekali kalau kamu baru bangun tidur. Kamu kan pemalas, makanya nggak betah tinggal di rumah ibuku, karena beliau selalu memaksamu untuk bangun sebelum subuh."

Aku menjauhkan ponsel agar helaan napasku tidak terdengar olehnya. Menunggu kalimat apalagi yang akan diucapkan.

"Jam berapa kamu kesini?"

"Kemarin kamu bilang jam enam, Mas. Ini aku masih siap-siap," jelasku. Yakin seratus persen kalau jawabanku tidak akan didengarnya.

"Berangkat sekarang juga!"

Kan, sesuai dengan dugaan. Meskipun menggunakan kalimat tanya, tapi suamiku tidak benar-benar bertanya. Dia hanya mendengar apa yang ingin didengarnya saja.

"Setelah ini ya, Mas," ucapku masih tetap pada jawaban awal.

"Sepuluh menit lagi kamu harus sudah sampai sini. Aku sudah bilang ke ibu kalau sepuluh menit lagi kamu akan datang."

***

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ajari Aku, Mas Duda   Tak Takut Mati

    Aku menatap wajah suamiku yang memerah. Kata-katanya tentang syariat, keadilan dan kebaikan berhamburan seperti sampah di udara. Aku tahu, jika aku terus mendengarkan celoteh liciknya, hatiku yang bodoh ini bisa saja terdorong untuk luluh dan percaya lagi. "Aku mau cerai, Mas."Mata Doni membelalak, "Apa kamu bilang?!" "AKU MAU CERAI!" teriakku tepat di depan wajahnya. "Aku sudah muak dengan semua kegilaan ini. Hiduplah berdua dengan pujaan hatimu itu!"BUK!Pukulan keras mendarat di rahangku, melemparkan tubuhku hingga tersungkur ke lantai. Belum sempat aku memulihkan napas, Doni menjambak rambutku dengan kasar, memaksa kepalaku mendongak. PLAK!"Cerai?!" bentaknya seraya menampar wajahku lagi. "Dasar perempuan tak tahu diri. Perempuan tak tahu terima kasih. Sudah merasa hebat kamu sampai berani meminta cerai dariku?""Aku mau cerai!" ulangku. Doni menendang rusukku, membuatku terbatuk-batuk menahan sesak."Kenapa? karena kamu sudah berhasil menjual diri kepada laki-laki hidung b

  • Ajari Aku, Mas Duda   Kebodohanku

    "Kamu sewa mobil untuk apa, Mas?" tanyaku. "Dan perempuan ini siapa ya? sepertinya aku belum pernah melihatnya.""Oh, ini Dewi. Sepupu jauh. Anaknya saudara ibu. Kalian memang belum pernah bertemu, tapi Dewi sering main ke rumah ibu," jelas suamiku. "Dewi," kata perempuan itu, menyodorkan tangan, memperkenalkan diri. "Rinjani.""Kami sewa mobil untuk perjalanan luar kota minggu depan, Mbak Rinjani. Ada salah satu anggota keluarga yang ada di Yogjakarta melangsungkan pernikahan," jelas Dewi, tiba-tiba saja menjadi juru bicara suamiku. "Oh." Aku tidak bertanya lebih. Sudah biasa jika aku tidak tahu apapun tentang acara keluarga besar suamiku. Aku sudah kebal dianggap tak ada."Kamu sendiri kenapa di sini, An? kamu tidak kerja?" selidik Doni."Ini kerja, Mas. Kebetulan bosnya beli unit dariku," jawabku. "Wah, cair ini. Bulan depan masih bisa kerja berarti ya? nggak jadi dipecat," kata Doni sumringah. "Alhamdulillah.""Aku bisa nabung lagi berarti. Kamu semangat kerjanya. Usahakan ja

  • Ajari Aku, Mas Duda   Titik Balik

    Dengan gerakan kalap, tangan kanannya menyambar vas keramik kecil yang tergantung di pajangan dinding tepat di samping kami. Tanpa ragu, dia menghentakkannya ke pinggiran lemari kayu. PRANG!Bunyi keramik pecah beradu di udara. Sebagian vas itu hancur berhamburan ke lantai, sementara sebagian lagi yang menyisakan pecahan tajam berpola bergerigi masih berada dalam cengkeraman jemarinya. Sebelum aku sempat menjerit, Doni mencengkeram rahangku dengan tangan kirinya, menekan kepalaku, membuatnya makin terdesak ke tembok. Lalu, dengan deru napasnya yang memburu, dia memajukan pecahan vas berujung runcing itu—menempelkannya tepat di atas urat nadi leherku. Dingin. Ujung keramik tajam itu menusuk kulit leherku. Rasa perih itu kini mulai terasa dan setetes cairan hangat mulai merembes. "Berani kamu meninggikan suaramu padaku, hah?!" napas Doni memburu tepat di depan wajahku. Matanya merah, melotot seperti hendak melompat keluar. "Berani kamu?! Cari mati kamu ya?!"Jantungku berdegup tak k

  • Ajari Aku, Mas Duda   Penolongku

    "Tapi, mana mungkin suamiku sejahat itu? bukankah dia sendiri yang mengatakan bulan lalu, kalau dia masih sanggup menafkahiku meskipun aku tidak lagi berpenghasilan?"Sepanjang jalan pulang, aku bermonolog sendiri. Perdebatan di otakku semakin tak karuan. Sebagian lain meyakini kalau suamiku memang tidak berniat menafkahiku dengan layak, sebagian lain meyakini kalau mas Doni melakukan ini semua atas perintah ibunya."Bener. Mas Doni kan anak yang patuh. Pasti ibu yang meminta dia untuk bohong sama aku," simpulku begitu motor ini berbelok ke teras rumah. Karena tetangga mertuaku tadi bilang kalau mereka pergi dengan mobil agen perjalanan, terlintas ide dipikiranku untuk mendatangi travel-travel terdekat dan menawarkan mobil langsung kepada mereka. "Toh cara ini belum pernah aku coba. Kalau mau telfon juga kan aku nggak tahu mau nelfon siapa," kataku meyakinkan diri sendiri. "Kalau tidak dicoba, nggak tahu hasilnya. Semangat, Rinjani!"Aku mencari, mencatat, dan membuat daftar kantor

  • Ajari Aku, Mas Duda   Kehilangan Penghasilan

    "Rin, maaf ya. Menurutku, tindakan kekerasan itu bukan bahasa cinta. Baik itu dilakukan oleh orang tua, ataupun oleh pasangan kita.""Maksudnya gimana ya, Bu?" Aku tak sepenuhnya paham dengan apa yang dikatakan oleh ketua timku. Apakah dia sedang menyinggung masalah rumah tanggaku? tapi tahu dari mana? aku tidak pernah menceritakan apapun kepada rekan kerjaku. "Ya... Aku hanya menyampaikan pendapatku saja, Rinjani. Menurutku, tindakan kekerasan itu bukan bahasa cinta. Jadi, kalau kamu mendapatkan kekerasan dari pasanganmu, ya lebih baik ditinggalkan. Karena kekerasan itu bukan bahasa cinta.""Tapi saya tidak mendapatkan kekerasan dari suami saya, Bu," bantahku. "Syukurlah kalau kamu tidak mengalami KDRT, Rin," ucap ketua timku. Dia menatapku sejenak, kemudian meninggalkanku. Aku menelan saliva, mencoba menyunggingkan senyum agar terlihat baik-baik saja. Tadi, ketika satpam dan beberapa orang bertanya tentang benjolan di dahiku, aku menjelaskan jika ini terjadi karena benturan deng

  • Ajari Aku, Mas Duda   Kejutan

    Aku membaca pesan itu berulang kali, memikirkannya. Namun, tak ada jawaban yang muncul juga. Suamiku memang ringan tangan—sesekali, tapi dia selalu punya alasan dibaliknya. Menurut mas Doni, ada banyak hal yang tidak aku ketahui di dunia ini. Aku percaya, kenapa? karena dia adalah orang yang menolongku, mengajariku bertahan di dunia kerja yang memang kejam. Aku sadar kalau aku banyak tak tahunya. Ibuku membesarkanku sendirian. Ayahku pulang ke rumah istri pertamanya. Menurut pengakuan ibu dan keluarga besar, ayahku mengaku sebagai duda tanpa anak saat meminang ibuku—padahal pernikahan pertamanya baik-baik saja, dan ketika istri pertamanya melabrak ibu dan meminta ayah untuk memilih, ayah memilih istri pertamanya. Jadi sampai sekarang, di usiaku yang sudah mendekati angka dua puluh lima ini, aku tak pernah mendapatkan didikan dari seorang ayah. Berdiri sendiri, melindungi diri sendiri.Ketika lulus SMA, aku langsung mencari kerja. Mas Doni adalah orang yang menerimaku bekerja—setel

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status