Compartilhar

Ajari Aku, Mas Duda
Ajari Aku, Mas Duda
Autor: Pena Chr

Tujuh Ratus Ribu

Autor: Pena Chr
last update Data de publicação: 2026-08-10 10:44:40

"ANI!!! kenapa ini mejanya kosong?" teriak Mas Doni—laki-laki yang menikahiku tiga tahun yang lalu.

"Sebentar, Mas," sahutku dari kamar mandi. Aku mempercepat mandiku agar bisa segera membuatkan makan untuk suamiku. Biasanya suamiku pulang jam tujuh atau delapan malam. Sekarang masih jam enam, jadi aku belum menyiapkan apapun.

"Kamu ngapain saja di rumah? jam segini nggak ada makan?" tanya Doni dengan suara yang masih meninggi.

"Biasanya kan kamu pulang jam tujuh, Mas."

"Urusanku mau pulang jam berapa saja, tugasmu itu ngurus rumah sama menyediakan makanan buatku," tegasnya.

"Iya, Mas. Sebentar ya. Aku siapkan dulu," jawabku dengan suara lirih. Aku tidak ingin terjadi perdebatan atau pertengkaran lain.

Tanpa menjawab, laki-laki itu melenggang keluar, meninggalkan dapur. Tak selang berapa lama aku mendengar suara televisi yang dinyalakan.

Di kulkas, hanya ada telur dua butir dan sawi putih.

"Aku juga lapar, tapi kalau telur ini dibagi dua, nanti dia marah," gumamku lirih.

Sejak pagi, aku baru sempat makan sekali saja. Biasanya aku memilih untuk puasa daud untuk menghemat pengeluaran, tapi karena tamu bulananku datang, aku jadi tak bisa melakukannya.

"Ah sudahlah, masak saja. Adanya ini. Kalau dia ingat aku ya syukur, kalau enggak ya makan nasi sama kuah aja," ucapku memutuskan.

Tak sampai tiga puluh menit, makanan sudah terhidang di dapur.

"Mas, ini makanannya sudah siap. Mau dibawakan ke depan TV atau makan di dapur?" tanyaku, menghampiri suamiku yang sedang asik memainkan ponselnya.

"Bawa sini," jawabnya tanpa mendongak sama sekali.

Tanpa berkata lagi, gegas aku membawa semua tadi ke ruang keluarga. Mas Doni memiliki kebiasaan yang cukup unik menurutku, meskipun minta diambilkan makanan, tapi dia akan marah jika piring nasinya sudah diisi dengan lauk pauk. Hal itu juga yang membuat cucian piringku selalu banyak. Satu kali makan, butuh minimal tiga piring untuk mas Doni sendiri.

"Ini, Mas." Aku menyodorkan piring bersih untuknya. Namun, laki-laki itu tak beranjak sama sekali. Dia masih fokus dengan ponselnya, mengetik sesuatu, dan sesekali tersenyum lebar.

Senyum yang sudah lama sekali tak pernah terlihat olehku.

Aku duduk diam, tak berani menegur lagi. Meskipun perutku keroncongan dan cacing-cacing di dalamnya sudah berteriak sejak tadi.

"Mas,..." panggilku takut-takut. Saat ini ada banyak barang di sekitarnya yang bisa dilemparkan kepadaku.

"Apasih?" sahutnya dengan nada sedikit kesal.

"Makanannya keburu dingin, Mas."

"Kalau dingin kenapa? lagian apasih yang bisa kamu sajikan untukku? kaya makananmu seenak steak wagyu saja. Orang cuma telor goreng sama cah sawi saja kok," omelnya.

"Adanya ini, Mas. Bulan ini kan kamu belum memberiku uang belanja, Mas."

"Terus uangmu kemana? kamu kan kerja, ada gaji juga. Mau hitung-hitungan kamu sama aku?"

"Bukan begitu maksudku, Mas. Gajiku sudah digunakan untuk bayar KPR rumah, listrik, air, dan cicilan motor, Mas. Sisanya sudah habis untuk belanja kebutuhan kita."

"Ya itu urusanmu. Sudah enak tinggal di rumah orang tuaku, malah kamu ngajak KPR rumah. Ya tanggung sendiri akibatnya," jawab mas Doni santai.

Dia menegakkan posisi duduknya, menatapku. "Coba kalau kita masih tinggal di rumah orang tuaku? kamu nggak perlu kerja. Nggak perlu bayar ini itu, bisa pakai motornya orang tuaku. Nggak perlu belanja sabun dan lain-lain karena sudah disediakan oleh orang tuaku."

Aku hanya bisa diam. Ada alasan yang kuat kenapa aku memilih untuk hidup sendiri di rumah cicilan ini. Namun, alasan itu dianggap hanya mengada-ada oleh mas Doni—suamiku.

Laki-laki yang kupilih sendiri ini akhirnya mengulurkan piring kosongnya. Memintaku untuk mengambilkan nasi.

"Cukup! Jangan banyak-banyak nasinya. Lauknya itu, semuanya," ucapnya.

"Sayurnya, Mas?"

"Ya iyalah. Kamu kira aku anak SD yang makannya cuma nasi sama telor goreng? mikirlah. Jangan sedikit-sedikit tanya," bentaknya.

"Lagi," pinta mas Doni.

"Yang ini boleh buat aku, Mas?" tanyaku sedikit berharap. Satu sendok sayur cah sawi yang tersisa.

"Memangnya kamu belum makan?"

Aku menjawab dengan gelengan, dan tentu saja sedikit ketakutan.

"Ambillah," katanya sembari memberikan sepotong telor gorengnya untukku. "Ambil nasinya yang banyak, biar kenyangnya lama. Lihat itu badanmu, tinggal kulit dan tulang saja."

"Terima kasih, Mas."

"Jaga penampilanmu juga. Laki-laki itu mahkluk visual. Mana mungkin aku nafsu kalau melihatmu begitu? kapan kita bisa punya anak kalau urusan ranjang saja tak pernah memuaskan!"

"Iya, Mas."

Sejenak, hanya suara televisi dan denting piring saja yang terdengar. Mas Doni tak suka ada yang berbicara saat dia makan.

"Ini," katanya, menyodorkan tujuh lembar uang ratusan ribu. "Gunakan untuk belanja kebutuhan makan sampai awal bulan nanti. Harus cukup. Nggak usah yang aneh-aneh, toh aku cukup makan telur dan sayur seperti ini." Dia langsung beranjak menuju teras depan.

***

Continue a ler este livro gratuitamente
Escaneie o código para baixar o App

Último capítulo

  • Ajari Aku, Mas Duda   Putar Balik Fakta

    "Apalagi sekarang dia sedang hamil, Pak. Kami sudah bertahun-tahun menjadi pejuang garis dua. Program kesana-kemari dan selalu gagal. Dokter bilang sperma saya kurang cocok dengan sel telur istri saya, jadi susah dibuahi. Lalu, setelah dia pindah kerja dan dekat dengan duda itu, tiba-tiba saja dia hamil. Apa... apa iya itu anak saya?"Laki-laki itu meneteskan air mata—palsu tentu saja. Petugas penyidik berdecak pelan, simpati jelas bergeser padanya. Bahkan aku bisa tahu dengan melihat tatapan para petugas itu kepadaku. "Tapi demi Tuhan, Pak," Doni menyeka air matanya, suaranya terdengar begitu heroik. "Saya bersedia memaafkan pengkhianatannya. Saya bersedia merawat bayi dari laki-laki itu asalkan istri saya mau pulang. Saya sangat mencintainya, Pak. Saya ingin menyelamatkan rumah tangga kami."Aku reflek tertawa—tak percaya. Doni membuat skenario yang sangat rapi, begitu masuk akal bagi orang luar yang tidak tahu apa-apa. Mahardika yang kebetulan menolongku, kehamilanku yang tiba-tib

  • Ajari Aku, Mas Duda   Apa Selanjutnya, Tuhan?

    "Bisakah Pak Mahardika menghubungi Bu Azura? saya tidak ingin masalah ini dibesarkan, Pak," pintaku dengan suara parau. Bayangan Doni menghajarku tanpa ampun masih segar di ingatan. Dan fakta bahwa aku mengandung anaknya menjadi salah satu pertimbanganku. Jika aku saja yang luntang-lantung sendirian, aku tidak keberatan. Tapi bagaimana dengan anak yang ada di kandunganku ini? tegakah aku membiarkan dia hidup dengan kesengsaraan?"Bu Rinjani mau damai?" tanya Mahardika. Dari tatapan dan juga nada bicaranya, sepertinya beliau tidak percaya dengan keinginanku untuk damai."Laki-laki itu masih tinggal di rumah saya, Pak. Dan saya juga baru tahu hari ini kalau saya hamil. Jika masalah ini sampai ke polisi, kemungkinan saya dihajar sampai mati akan lebih besar.""Ya kalau begitu jangan pulang. Jangan temui dia. Jangan lagi berhubungan dengan laki-laki gila itu sampai masalah ini sudah tertangani dengan baik oleh pihak kepolisian."Aku tersenyum kecut, "Bapak ini terlalu baik atau terlalu

  • Ajari Aku, Mas Duda   Tak Takut Mati

    Aku menatap wajah suamiku yang memerah. Kata-katanya tentang syariat, keadilan dan kebaikan berhamburan seperti sampah di udara. Aku tahu, jika aku terus mendengarkan celoteh liciknya, hatiku yang bodoh ini bisa saja terdorong untuk luluh dan percaya lagi. "Aku mau cerai, Mas."Mata Doni membelalak, "Apa kamu bilang?!" "AKU MAU CERAI!" teriakku tepat di depan wajahnya. "Aku sudah muak dengan semua kegilaan ini. Hiduplah berdua dengan pujaan hatimu itu!"BUK!Pukulan keras mendarat di rahangku, melemparkan tubuhku hingga tersungkur ke lantai. Belum sempat aku memulihkan napas, Doni menjambak rambutku dengan kasar, memaksa kepalaku mendongak. PLAK!"Cerai?!" bentaknya seraya menampar wajahku lagi. "Dasar perempuan tak tahu diri. Perempuan tak tahu terima kasih. Sudah merasa hebat kamu sampai berani meminta cerai dariku?""Aku mau cerai!" ulangku. Doni menendang rusukku, membuatku terbatuk-batuk menahan sesak."Kenapa? karena kamu sudah berhasil menjual diri kepada laki-laki hidung b

  • Ajari Aku, Mas Duda   Kebodohanku

    "Kamu sewa mobil untuk apa, Mas?" tanyaku. "Dan perempuan ini siapa ya? sepertinya aku belum pernah melihatnya.""Oh, ini Dewi. Sepupu jauh. Anaknya saudara ibu. Kalian memang belum pernah bertemu, tapi Dewi sering main ke rumah ibu," jelas suamiku. "Dewi," kata perempuan itu, menyodorkan tangan, memperkenalkan diri. "Rinjani.""Kami sewa mobil untuk perjalanan luar kota minggu depan, Mbak Rinjani. Ada salah satu anggota keluarga yang ada di Yogjakarta melangsungkan pernikahan," jelas Dewi, tiba-tiba saja menjadi juru bicara suamiku. "Oh." Aku tidak bertanya lebih. Sudah biasa jika aku tidak tahu apapun tentang acara keluarga besar suamiku. Aku sudah kebal dianggap tak ada."Kamu sendiri kenapa di sini, An? kamu tidak kerja?" selidik Doni."Ini kerja, Mas. Kebetulan bosnya beli unit dariku," jawabku. "Wah, cair ini. Bulan depan masih bisa kerja berarti ya? nggak jadi dipecat," kata Doni sumringah. "Alhamdulillah.""Aku bisa nabung lagi berarti. Kamu semangat kerjanya. Usahakan ja

  • Ajari Aku, Mas Duda   Titik Balik

    Dengan gerakan kalap, tangan kanannya menyambar vas keramik kecil yang tergantung di pajangan dinding tepat di samping kami. Tanpa ragu, dia menghentakkannya ke pinggiran lemari kayu. PRANG!Bunyi keramik pecah beradu di udara. Sebagian vas itu hancur berhamburan ke lantai, sementara sebagian lagi yang menyisakan pecahan tajam berpola bergerigi masih berada dalam cengkeraman jemarinya. Sebelum aku sempat menjerit, Doni mencengkeram rahangku dengan tangan kirinya, menekan kepalaku, membuatnya makin terdesak ke tembok. Lalu, dengan deru napasnya yang memburu, dia memajukan pecahan vas berujung runcing itu—menempelkannya tepat di atas urat nadi leherku. Dingin. Ujung keramik tajam itu menusuk kulit leherku. Rasa perih itu kini mulai terasa dan setetes cairan hangat mulai merembes. "Berani kamu meninggikan suaramu padaku, hah?!" napas Doni memburu tepat di depan wajahku. Matanya merah, melotot seperti hendak melompat keluar. "Berani kamu?! Cari mati kamu ya?!"Jantungku berdegup tak k

  • Ajari Aku, Mas Duda   Penolongku

    "Tapi, mana mungkin suamiku sejahat itu? bukankah dia sendiri yang mengatakan bulan lalu, kalau dia masih sanggup menafkahiku meskipun aku tidak lagi berpenghasilan?"Sepanjang jalan pulang, aku bermonolog sendiri. Perdebatan di otakku semakin tak karuan. Sebagian lain meyakini kalau suamiku memang tidak berniat menafkahiku dengan layak, sebagian lain meyakini kalau mas Doni melakukan ini semua atas perintah ibunya."Bener. Mas Doni kan anak yang patuh. Pasti ibu yang meminta dia untuk bohong sama aku," simpulku begitu motor ini berbelok ke teras rumah. Karena tetangga mertuaku tadi bilang kalau mereka pergi dengan mobil agen perjalanan, terlintas ide dipikiranku untuk mendatangi travel-travel terdekat dan menawarkan mobil langsung kepada mereka. "Toh cara ini belum pernah aku coba. Kalau mau telfon juga kan aku nggak tahu mau nelfon siapa," kataku meyakinkan diri sendiri. "Kalau tidak dicoba, nggak tahu hasilnya. Semangat, Rinjani!"Aku mencari, mencatat, dan membuat daftar kantor

Mais capítulos
Explore e leia bons romances gratuitamente
Acesso gratuito a um vasto número de bons romances no app GoodNovel. Baixe os livros que você gosta e leia em qualquer lugar e a qualquer hora.
Leia livros gratuitamente no app
ESCANEIE O CÓDIGO PARA LER NO APP
DMCA.com Protection Status