Home / Romansa Pria / Ajari Aku, Mbak Ipar! / 3. Ajari aku, Mbak!

Share

3. Ajari aku, Mbak!

Author: MoonCake
last update publish date: 2026-07-06 20:17:50

"Astaga, Arga!"

Wulan berlari kecil ke arah kasur. Adik iparnya meringkuk tanpa selimut, menggigil hebat dengan wajah sepucat kertas.

Buru-buru Wulan duduk di pinggir kasur dan menarik selimut untuk menutupi Arga. Begitu telapak tangannya menyentuh kening pemuda itu, dia tersentak.

"Ya ampun, Ga, kamu demam tinggi! Dari kapan kayak gini? Kenapa gak manggil Mbak?"

"Ta-tadi cuma pusing dikit, Mbak. Terus tiba-tiba dingin banget."

"Pusing dikit apanya? Badan kamu panas kayak setrikaan!"

Wulan bergegas mengambil baskom berisi air hangat dan handuk kecil. Dia memeras handuk itu, lalu meletakkannya di kening Arga.

"Dikompres dulu, ya. Tahan sebentar."

"Huhu ... dingin banget, Mbak. Badanku kayak ditempeli es batu," lirih Arga dengan bibir gemetar.

Selama dua tahun tinggal bersama, baru kali ini Wulan melihat Arga sakit separah itu. Pemuda yang biasanya cerewet dan tak bisa diam itu kini terkulai lemas dengan mata terpejam.

"Tunggu sebentar, aku ambilin obat," kata Wulan sambil beranjak.

Namun, belum sempat dia melangkah, Arga menahan pergelangan tangannya dengan cukup erat.

"Jangan pergi .... Dingin, aku gak mau ditinggal sendirian ...," racau Arga dengan mata yang masih terpejam.

Degh!

Jantung Wulan berdetak dua kali lebih cepat. Perasaannya mendadak tak karuan.

"Ya ampun, apaan sih yang aku pikirin? Inget, Lan, Arga itu iparmu. Adik suamimu sendiri," batin Wulan.

Pelan-pelan, dia melepaskan tangannya dari genggaman Arga.

"Aku cuma ke dapur, Ga. Ambil obat penurun panas buat kamu. Tungguin sebentar, ya," bisiknya lembut.

Tak lama kemudian, Wulan kembali membawa obat dan segelas air. Dia mengangkat kepala Arga perlahan, lalu membantunya menelan obat.

Mata Arga terbuka sedikit. "Mbak .... Maaf soal tadi sore."

"Ssst. Udah, jangan dipikirin. Minum dulu airnya."

"Dewi bilang aku jongos, Mbak. Anjing pesuruh," racau Arga lirih. "Emang aku segitu gak berharganya, ya?"

Tenggorokan Wulan tercekat. Dia mengusap rambut adik iparnya yang basah oleh keringat.

"Kamu bukan jongos siapa-siapa, Ga. Kamu orang paling baik yang Mbak kenal. Perempuan kayak gitu gak pantas kamu tangisin."

"Beneran?"

"Beneran. Sekarang tidur, ya. Besok pagi pasti udah mendingan."

Namun, Arga justru semakin gelisah. Dalam tidurnya, pemuda itu meracau, dan air mata mengalir dari sudut matanya.

"Tolong ... jangan tinggalin aku, Bu. Dingin .... Arga mau dipeluk Ibu ...."

Dada Wulan terasa nyeri. Dia tahu betul, sejak kecil Arga dan Mas Burhan sudah ditinggal kedua orang tua mereka. Hanya saja, dia tak pernah menyangka Arga yang selama ini terlihat ceria, humoris, dan mandiri ternyata menyimpan luka sedalam itu.

"Jangan tinggalin Arga, Bu .... Arga mohon ...."

Racauannya berganti nama. "Mas Burhan .... Mas kapan pulang? Mbak Wulan nungguin terus ...."

Wulan tertegun. Dia tak menyangka Arga memikirkan hal itu, bahkan dalam keadaan setengah sadar.

"Mbak juga gak tahu, Ga," jawabnya lirih, meski dia tahu Arga tak akan mendengar. "Mbak juga pengen tahu."

Wulan menghela napas panjang. Malam itu, dia memutuskan untuk tidak kembali ke kamarnya.

"Nemenin dia di sini gak masalah, kan? Dia lagi sakit. Lagian, aku gak ngapa-ngapain," gumamnya, lebih untuk meyakinkan diri sendiri.

Wulan duduk di sisi Arga dan menggenggam tangan adik iparnya yang panas. Sesekali, dia membasahi ulang handuk kompres dan memastikan selimut Arga tidak melorot.

"Tidur yang nyenyak, aku janji gak akan ninggalin kamu malem ini. Aku bakal nemenin kamu sampe sembuh."

***

Menjelang tengah malam, napas Arga mulai teratur. Wulan merogoh saku dasternya dan mengeluarkan ponsel lama dengan layar retak di ujungnya.

Satu nama dia tekan, Mas Burhan.

Nada sambung terdengar sekali, lalu terputus. Suara operator menyusul, mengabarkan bahwa nomor yang dia tuju sedang tidak aktif.

Wulan beralih ke aplikasi pesan. Pesan terakhirnya untuk sang suami, yang dia kirim tiga hari lalu, masih bercentang satu.

[Mas, beras sama token listrik udah habis. Mas sehat, kan?]

Tidak ada balasan, sama seperti pesan-pesan sebelumnya.

Jempol Wulan bergerak menggulir ke atas. Belasan pesan lain berderet tanpa satu pun balasan. Tanya kabar, tagihan listrik, kabar Arga yang naik gaji, ucapan selamat malam. Balasan terakhir dari Mas Burhan dikirim hampir sebulan lalu, isinya hanya dua kata.

[Lagi sibuk.]

"Mas sesibuk apa, sih, sampai gak sempat bales satu pesan aja?" bisik Wulan pada layar ponselnya. "Aku gak minta uang, Mas. Aku cuma mau tahu kamu masih hidup."

Wulan menatap jari manis kirinya yang kosong. Matanya memanas.

"Kalau Mas pulang terus lihat cincinnya gak ada di jariku ... Mas pasti marah besar," bisiknya pelan.

Air mata yang dia tahan sejak sore akhirnya jatuh tanpa suara. Di rumah tua itu, hanya ada dua orang yang sama-sama ditinggalkan. Arga yang memanggil ibunya dalam tidur, dan dirinya yang menunggu suami yang tak pernah membalas pesan.

Jam dinding di ruang tengah berdentang dua kali. Lama-kelamaan, kepala Wulan terkulai ke samping. Dia tertidur sambil tetap menggenggam tangan Arga.

***

Pukul setengah lima pagi, Arga perlahan mengerjapkan mata. Kepalanya masih berdenyut, tetapi rasa dingin yang menusuk semalam sudah hilang.

"Sstt ... pusing banget," gumamnya sambil mencoba mengangkat tangan.

Gerakannya terhenti. Ada beban yang menindih lengannya.

Dengan kening berkerut, Arga menoleh perlahan.

Degh!

Jantungnya seolah berhenti berdetak. Matanya mendelik seperti ikan asin yang dijemur di bawah terik matahari.

Di sampingnya, Wulan tertidur pulas dengan kepala berbantalkan lengannya. Tangan kakak iparnya itu masih menggenggam jemarinya, persis seperti janjinya semalam.

Refleks, Arga menjerit sambil beringsut mundur.

"Argh

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   242. Ajari Aku, Mbak!

    "Yang, di mana? Kok keluar sih? Kan aku udah bilang tadi, aku minta dikelonin!"Kalimat pertanyaan yang hendak dilontarkan oleh Mira seketika terjeda. Wanita itu menoleh dan menatap ke arah pintu kamar yang terbuka lebar, di mana asal suara serak Arga berada.Wulan yang duduk di hadapan Mira seketika menjadi salah tingkah. Wajahnya memerah lantaran malu pada Mira yang mendengar perkataan Arga."Mbak Wulan....""Iya, Ga. Aku di depan!" sahut Wulan sembari bangkit dari duduknya. "Mbak, saya ke dalam dulu sebentar. Arga kebiasaan nyariin saya kalau bangun tidur!" katanya dengan wajah semakin memerah.Cepat-cepat, Wulan yang merasa malu pada Mira melangkah menuju kamar, menghampiri Arga yang bertingkah seperti bocah.Sepeninggalan Wulan, Mira mengusap pahanya sendiri. Mendengar suara Arga yang serak khas bangun tidur, Mira justru merasa jika suara pemuda itu terdengar begitu menggoda.Namun, panggilan 'Mbak Wulan' yang disebutkan Arga sebelumnya membuat Mira menjadi semakin yakin bahwa wa

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   241. Ajari Aku, Mbak!

    Jam menunjukkan pukul sepuluh siang, Arga yang semalaman bekerja di klub, belum bangun dari tidurnya. Pemuda itu tampak begitu lelap di tengah-tengah kasur dengan bagian atas tubuhnya bertelanjang dada. Kipas angin di kamar tersebut menyala dalam mode full. Sedangkan Wulan baru saja selesai mandi setelah berkutat dengan rutinitas biasanya di pagi hari. Mulai dari beberes, mencuci pakaian, dan juga menyiapkan menu masakan untuk Arga makan saat bangun tidur nanti. Di saat Wulan baru saja selesai mengikat rambutnya, pintu kontrakan tersebut diketuk-ketuk dengan pelan dari luar. Meskipun pelan, tetapi terdengar jelas di telinga Wulan lantaran kontrakan tersebut begitu hening. Tuk, tuk! "Sebentar!" sahut Wulan sembari beranjak dari duduknya dan meletakkan sisir yang ada di tangannya ke lantai pinggiran kasur. Wanita bertubuh seksi dan berparas cantik itu keluar dari kamar. Ia berjalan menuju pintu dengan langkahnya yang lebar. Selanjutnya, memutar kunci lalu menarik gagang pin

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   240. Ajari Aku, Mbak!

    "Munafik, perempuan murahan, lonte!"Plak!Tamparan keras telapak tangan Mira kembali melayang untuk kedua kalinya ke wajah Amelia. Emosinya sudah benar-benar tidak bisa ditahan, ia geram dikata-katai oleh Amelia.Selama ini Mira selalu menganggap Amelia sebagai teman sekaligus saudaranya. Tetapi apa yang dilakukan Amelia? Hanya karena obsesinya pada seorang pria yang sudah beristri, ia justru nekat melakukan apa saja dan memusuhi orang-orang yang ada di sekitarnya."Aku nggak segila dan senekat kamu, Mel. Aku juga bukan perempuan yang berani berbuat curang buat dapetin perhatian suami orang. Dari sini jelas, siapa yang lebih murahan!"Plak!Amelia membalas tamparan Mira tak kalah keras.Adu mulut kedua wanita itu kini berujung adu kekerasan. Di dalam ruangan tersebut, Amelia menjambak rambut Mira yang bertubuh sedikit lebih pendek darinya."Aku tahu semalam kamu dan Arga ngabisin waktu berduaan di kamar ini, kan?" kata Amelia dengan suara tertahan. Tangannya menjambak kuat rambut Mir

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   239. Ajari Aku, Mbak!

    "Astaga, muka Mbak Mira kenapa?"Arga yang memasuki ruangan pribadi Mira, dibuat terkejut saat melihat wajah wanita pemilik klub Happy Fun tempatnya bekerja.Bagaimana tidak terkejut? Wajah mulus Mira kini terdapat tanda lima jari, bahkan sudut bibirnya mengalami lebam kebiruan."Siapa yang mukulin Mbak Mira? Kenapa sampai biru kayak gini? Ke mana petugas keamanan dan penjaga yang tugas? Bisa-bisanya biarin Mbak Mira dipukulin!" kata Arga sembari menyentuh bahu Mira dan memeriksa bagian tubuh wanita itu.Melihat kecemasan di wajah Arga, Mira tersenyum geli. Lalu, ia mendorong pelan tangan Arga yang memegang bahunya."Aku nggak apa-apa, Ga. Tadi siang abis ribut sama Amelia," kata Mira dengan santai.Beberapa jam sebelumnya, tepatnya pada pukul satu siang, Amelia mendatangi klub tersebut bersama Gatot dan kedua temannya.Penjaga klub sudah melarang Amelia untuk masuk, tetapi wanita yang menyandang status janda itu keukeuh ingin masuk dan menerobos."Saya mau ketemu Mira. Kalau kalian t

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   238. Ajari Aku, Mbak!

    "Jadi gitu ceritanya, Sayang. Aku beneran nggak nyebarin video itu. Cuma Bu Erna yang aku kasih tahu!"Arga yang duduk di atas karpet itu menceritakan semuanya pada Wulan yang berdiri di hadapannya. Ekspresi wajahnya terlihat santai dan tenang, bahkan berbicara sambil mengunyah emping goreng di dalam mulutnya."Bukan aku yang nyebarin, tapi Bu Erna!" lanjut Arga seraya menyengir kuda.Mendengar cerita Arga, Wulan geleng-geleng kepala. Lalu, ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan."Kamu sengaja kan ngasih tahu Bu Erna, karena kamu tahu kalau dia biang gosip yang nggak bisa jaga rahasia. Huh ... kamu pikir aku nggak tahu apa isi otak kamu itu!"Arga yang semula hanya menyengir kuda kini terkekeh-kekeh. Membenarkan perkataan istrinya.Pemuda itu memang sengaja. Ia ingin membalas Bu Nur yang sudah berkali-kali menyakiti Wulan dan menjatuhkan mentalnya dengan kata-kata menyakitkan.Sekarang, wanita julid itu mendapatkan balasan, menuai karma atas apa yang pernah ia lakuk

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   237. Ajari Aku, Mbak!

    "Argantara...."Wulan meneriaki Arga yang berlari memasuki rumah lantaran sengaja menjauhinya. Lalu, ia beranjak dari duduknya dan menyusul suaminya itu.Wanita itu ingin tahu, apa yang sudah dilakukan oleh Arga hingga kabar kehamilan putri Bu Nur menyebar dengan begitu cepat."Sayang!" panggil Wulan saat memasuki rumah. Memanggil suaminya yang entah berada di mana."Di dapur, bukan di kamar!" sahut Arga.Mendengar sahutan Arga, Wulan melangkah menuju dapur. Dilihatnya, Arga duduk santai di karpet yang terbentang di lantai. Tangannya memeluk toples plastik berisi emping goreng."Kamu yang nyebarin berita dan video anaknya Bu Nur?" tanya Wulan yang kini berdiri di hadapan Arga dengan kedua tangan terlipat di bawah dada.Mata wanita itu menatap dengan tatapan penuh selidik, hingga membuat Arga memajukan bibir dibuatnya."Iya, kamu yang nyebarin?" tanya Wulan lagi lantaran tak kunjung mendapatkan jawaban dari Arga.Ditanya secara berulang-ulang, Arga menggelengkan kepalanya. Lalu mencono

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status