แชร์

5. Ajari aku, Mbak!

ผู้เขียน: MoonCake
last update วันที่เผยแพร่: 2026-07-06 20:18:48

"Mbak, terong goreng ini bukan terong kemarin sore yang dipakai buat anu, kan?"

Degh!

Pertanyaan konyol yang keluar dari mulut bocor Arga spontan membuat sepasang mata Wulan mendelik lebar. Wajahnya kini memerah, lebih merah daripada wajah Arga sehabis tersedak dan terbatuk-batuk sebelumnya.

"Kamu, kamu—" tunjuk Wulan ke wajah Arga sambil menjeda kalimatnya.

Wanita berwajah ayu itu merasa kesal bercampur malu. Bisa-bisanya Arga menanyakan hal seperti itu setelah apa yang terjadi.

"Aku seriusan, Mbak. Kemaren sore aku sempet lihat terong di pinggir kasur Mbak Wulan. Terongnya bukan terong ini, kan?" tanya Arga dengan tampang polosnya dan juga seenaknya.

Serius bertanya atau hanya ingin membuat kakak iparnya merasa malu? Entahlah, hanya Arga sendiri dan Tuhan yang tahu!

Yang jelas, Wulan benar-benar sangat malu saat ini. Bahkan, hampir menangis karena pertanyaan gila adik iparnya yang tidak kira-kira.

"Huaaa, Arga. Kamu sengaja bikin aku malu, ya?!" jerit Wulan dengan sepasang mata yang berkaca-kaca dan wajah yang semakin memerah.

Tak sanggup menanggung malu lebih lama, Wulan menghentak-hentakkan kakinya di lantai dapur yang retak-retak. Setelah itu, dia berbalik, berlari menuju kamar, lalu mengunci pintunya.

Di kursinya, Arga menatap kepergian kakak iparnya dengan wajah meringis. Pemuda tanggung itu tak menyangka jika ekspresi dan reaksi Wulan akan seperti itu.

"Waduh, mulutku bener-bener busuk. Bisa-bisanya nanyain terong bekas nganu," kata Arga sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Ia merasa berdosa karena menanyakan hal tak bermutu yang membuat kakak iparnya menangis.

Selanjutnya, pemuda koplak itu memajukan wajahnya ke atas meja. Ia menatap dan memperhatikan terong goreng yang disajikan Wulan di hadapannya.

"Tapi ini beneran bukan terong yang dipakai main tusuk-tusukkan kemaren, kan?"

Di dalam kamar, Wulan yang menangis karena malu menutup wajahnya menggunakan bantal.

Kejadian konyol yang memalukan terus-menerus saja terjadi antara dirinya dan Arga.

Kemarin sore terpergok sedang bermain solo dalam keadaan tubuh polos seperti bayi. Lalu, ketahuan tidur memeluk Arga dalam posisi yang sangat intim. Dan sekarang, adik iparnya itu justru mengira dirinya menggoreng terong yang digunakannya untuk bermain solo kemarin.

"Tuhan, malu banget rasanya. Aku harus gimana sekarang?" jerit Wulan dalam hati.

Wanita berparas ayu itu memukul-mukul kepalanya sendiri, memikirkan akan seperti apa kehidupannya dan Arga di rumah itu setelah ini.

Rasanya pasti akan sangat-sangat canggung tinggal berdua di rumah itu.

Di saat sedang memikirkan bagaimana hubungannya dengan Arga setelah ini, Wulan tiba-tiba meringis. Tangannya bergerak menyentuh dan meremas bagian bawah perutnya.

"Ssstt... aku sampe lupa sama bagian ini. Gimana ya, caranya biar keluar?"

---

Arga mengendarai motor bututnya dengan kecepatan yang cukup tinggi, menembus jalanan kota di pagi hari itu. Tujuannya adalah Kafe Break, tempatnya bekerja selama beberapa bulan terakhir.

Namun, kesialan kembali menimpa pemuda yatim piatu malang tersebut. Motor butut yang dikendarainya tiba-tiba mengalami pecah ban saat tempat kerja yang ditujunya masih cukup jauh.

"Astaga... pakai pecah ban segala. Apes bener dah idupku!" kata Arga meratapi nasib sial yang terus-menerus menimpanya.

Arga yang mengomel lantaran merasa kesal memukul keras jok motornya yang sudah butut dan sedikit robek.

Brak!

"Argh... motor sialan, bener-bener gak berguna. Gak bisa diajak kerja sama!"

Hari ini, ia pasti akan ditegur oleh bosnya lantaran kembali telat masuk kerja. Yang terburuk, mungkin saja ia akan langsung dipecat dan ditendang dari kafe tersebut.

Terpaksa, pemuda itu pun mendorong motornya menuju bengkel terdekat untuk menambal ban yang bocor.

Setelah menambal ban, jam sudah menunjukkan pukul setengah sembilan, yang artinya hari sudah beranjak siang. Gegas Arga memacu motor bututnya menuju kafe.

"Semoga aja hari ini Pak Bos gak dateng, jadi posisiku di kafe bisa aman," gumam Arga. Sepasang matanya fokus menatap jalanan yang ada di depannya, sedangkan otaknya memikirkan nasib pekerjaannya setelah ini.

Arga sangat berharap bosnya tidak datang ke kafe hari itu.

Beberapa saat kemudian, pemuda yatim piatu itu tiba di kafe tempatnya bekerja. Dengan terburu-buru, Arga turun dari motor bututnya lalu melangkah menuju pintu kafe.

Namun, langkahnya seketika berhenti saat melihat bosnya yang galak berdiri di ambang pintu dengan kedua tangan terlipat di dada.

Pria paruh baya bertubuh gemoy dan agak pendek dengan kepala botak di bagian tengah itu menatap tajam ke arahnya, seolah ingin menelannya hidup-hidup saat itu juga.

"Astaga, beneran kelar idupku kali ini. Ternyata bos jelek ini beneran dateng!" batin Arga menjerit-jerit.

Arga yang kini berdiri di hadapan bosnya meringis sambil mengusap-usap pahanya sendiri.

"Bos, maaf, saya terlambat lagi. Motor saya tadi pe—"

"Mulai hari ini kamu dipecat!”

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   233. Ajari Aku, Mbak!

    "Kita telepon Mbak Mira sekarang, gimana?"Wulan menanggapi perkataan pelan bernada serius yang keluar dari bibir Arga dengan gelengan kepala. Sementara itu, tangannya meraih gelas berisi air dan meneguk isinya sedikit."Nggak mau telepon?" tanya Arga dan diangguki kepala oleh Wulan. "Nanti ngira aku bohong lagi?" lanjutnya seraya menatap wajah sang istri dengan tatapan yang dalam dan tanpa berkedip."Nggak, aku nggak mau telepon dan aku percaya sama kamu. Aku tanya kayak gitu karena aku sayang sama kamu, aku peduli dan aku nggak mau kamu terjerumus, salah jalan kayak orang-orang di luaran sana karena uang, Ga. Aku sayang kamu...."Bibir Arga tersenyum kecil. Tangannya mendorong piring yang ada di hadapannya, lalu merengkuh tubuh Wulan dan membawa kepala sang istri ke dalam dekapannya."Nggak akan, Sayang. Selagi kamu ada di sampingku, aku nggak akan salah jalan dan ngelakuin hal-hal buruk di luaran sana. Kamu rumahku, satu-satunya perempuan yang aku punya dan cinta," ucap Arga. Suara

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   232. "Ajari Aku Mbak!

    "Nggak bohong? Beneran bajunya basah kena minuman? Terus, sekarang bajunya mana?"Degh!Saat ditanya ke mana bajunya, jantung Arga seolah berhenti berdetak. Pemuda itu baru ingat jika bajunya sengaja ditinggalkan di ruangan Mira atas permintaan wanita tersebut.Wajahnya yang pucat kini menjadi semakin pucat. Reaksi gugupnya terlihat jelas di mata Wulan.Begitulah ekspresi dan reaksi pemuda itu setiap kali dimarahi oleh sang istri."Bajunya mana?" tanya Wulan lagi. Tetapi kali ini jauh lebih singkat dan to the point.Arga memajukan bibir bawahnya, memasang wajah paling melas sedunia agar Wulan tidak menekannya untuk berbicara."Tolong jangan marah dan melotot kayak gini, aku gugup. Mulutku rasanya kaku, susah buat jawab omongan kamu," kata Arga. Suaranya pelan, sedangkan matanya menatap takut pada Wulan yang menatap penuh selidik.Mendengar perkataan pelan yang keluar dari mulut Arga, Wulan pun menghela napas panjang. Tangannya melepaskan baju sang suami yang dicengkeramnya.Wanita itu

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   231. Ajari Aku, Mbak!

    Mira yang masih berada di dalam kamarnya, tampak begitu betah berbaring di atas ranjang dengan tubuh telanjang bulat. Tangannya menggenggam erat baju kaus Arga yang kotor dan basah akibat semprotan squirting-nya subuh tadi.Bibir wanita itu tak henti-hentinya tersenyum. Ia merasa sangat puas dengan permainan yang diciptakan oleh Arga."Aku beneran nggak nyangka Arga sehebat itu. Sayangnya aku nggak diizinin buat mainin penisnya dan bantuin dia sampe crot. Kalau diizinin aku bisa ngerasain gimana rasanya punya dia," kata Mira dengan bibir tersenyum.Mira lalu memejamkan mata, lalu mencium baju kaus Arga yang sejak tadi berada di dalam genggaman tangannya."Walaupun nggak diizinin, dan Arga sendiri bilang kalau dia bantuin aku buat yang pertama dan juga terakhir kali, yang penting aku udah pernah ngerasain gimana nikmatnya dibikin banjir sama dia," lanjut Mira.Tak seperti Amelia, Mira jauh lebih sadar diri. Meskipun sangat ingin memiliki Arga, tetapi ia tidak mau memaksakan kehendak."

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   230. Ajari Aku, Mbak!

    "Astaga, dari mana Arga dapet uang sebanyak ini? Jangan-jangan dia jual diri sama tante-tante yang dia bilang tadi?"Wulan bergumam sambil menatap uang di dalam Arga dengan mata melotot lebar tanpa berkedip. Lalu, ia menoleh, menatap sang suami yang tengkurap di atas kasur tanpa melepaskan sepatunya.Wanita itu membuka mulut dan hendak berbicara, namun dengkuran halus Arga membuatnya mengurungkan niat. Ia membiarkan suaminya yang mengantuk berat dan kelelahan itu terlelap di pagi hari itu.Melihat Arga yang terlelap begitu saja, Wulan menghela napas pelan dan menggelengkan kepalanya. Ia menutup kembali tas sang suami lalu menggantungnya di gantungan baju."Dari dulu sampai sekarang, nggak berubah sama sekali. Mudah banget molor," gumam Wulan.Setelah menggantung tas tersebut, Wulan mendekati Arga dan membuka sepatu yang melekat di kakinya secara perlahan.Banyak pertanyaan yang kini memenuhi kepalanya. Hatinya merasa curiga dan penasaran, tetapi wanita itu memilih untuk menahannya.Na

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   229. Ajari Aku, Mbak!

    Setelah setengah jam mengobok-obok liang kenikmatan Mira, Arga pun akhirnya keluar dari klub Happy Fun tersebut. Tentunya, ia keluar dengan tubuh yang sudah bersih dari cairan squirting Mira yang membasahi bagian depan bajunya.Kini, pemuda itu memakai baju kaos oblong milik salah satu gigolo yang bekerja di klub tersebut, dilapisi dengan hoodienya. Sedangkan bajunya sendiri tinggal di ruangan Mira dan akan dibawa pulang oleh wanita itu ke apartemennya untuk dicuci.Dengan langkahnya yang santai, Arga berjalan menuju parkiran. Tak lupa, menggendong tas ranselnya yang berisi uang tip hasil kerja semalaman."Moga aja Mbak Wulan belum bangun," kata Arga. Lalu setelahnya membuka mulut lebar-lebar. "Hoam...."Arga lalu menaiki motornya dan melajukan motor tersebut meninggalkan klub Happy Fun dengan kecepatan yang cukup tinggi, menembus jalanan kota di pagi buta yang masih begitu sepi pengendara.Setelah menempuh perjalanan yang memakan waktu kurang lebih setengah jam, motor yang dikendarai

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   228. Ajari Aku, Mbak!

    "Maaf, Ga. Aku kelepasan, nggak tahan lihat bibirmu yang menggoda banget."Mira yang memagut bibir Arga tanpa izin itu pun meminta maaf. Ia benar-benar tidak tahan untuk tidak menjamah dan menyerang Arga yang begitu menggoda di matanya.Suara wanita itu pelan, tertahan, dan terdengar bergetar. Jelas jika ia sedang berusaha mati-matian menahan hasratnya menggebu dan mengontrol tubuhnya.Bukannya marah, Arga justru menarik tengkuk Mira dengan kasar dan membalas pagutan wanita itu dengan pagutan yang beringas.Slurp!Cup!"Ngeh...." Lenguhan tertahan itu keluar dari sela-sela bibir Mira yang dibungkam oleh Arga. Sementara itu, tangannya menelusup ke baju kaus Arga dan meraba-raba punggung lebarnya menggunakan kedua telapak tangannya yang begitu mulus.Aroma alkohol dari mulut Mira beradu dengan rasa manis candu rokok di bibir Arga. Keduanya saling pagut, saling mengecap, dan saling mengeksplor satu sama lain.Deru napas Arga dan Mira yang memburu beradu dengan suara lenguhan tertahan. Me

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status