INICIAR SESIÓNKejadian memalukan di pagi hari antara Wulan dan Arga membuat posisi keduanya semakin canggung.
Arga yang keluar dari kamarnya dengan seragam kerja terlihat melangkah terburu-buru melewati ruang makan, tempat kakak iparnya sedang menyiapkan sarapan. "Arga!" Waduh! Arga menepuk jidat. Sudah buru-buru agar tidak berpapasan dengan Wulan, tetapi kakak iparnya itu justru memanggilnya, membuatnya mau tak mau menghentikan langkah dan menoleh ke arah sumber suara. Pemuda itu menyengir kuda dan menatap kakak iparnya dengan wajah memerah seperti tomat matang yang hampir busuk. "Hee...." "Kamu masih demam, Ga. Gak usah kerja dulu. Istirahat aja di rumah," kata Wulan. Ia meletakkan piring berisi lauk di tangannya ke atas meja, lalu mendekati Arga yang mematung di tempatnya. Didekati oleh Wulan, Arga spontan melangkah mundur. Kejadian menegangkan kemarin dan pagi tadi membuatnya merasa sangat gugup setiap melihat wajah ayu nan cantik kakak iparnya yang ternyata sangat menggoda. Sebagai kaum batangan normal, harga dirinya saat ini dipertaruhkan. Pemuda tanggung itu takut khilaf jika terus-terusan diuji dengan kemolekan tubuh Wulan yang seksi, bahkan lebih seksi dan berisi daripada mantan pacarnya yang laknat. "Mbak Wulan mau ngapain?" tanya Arga yang mundur beberapa langkah dari posisinya saat Wulan semakin mendekat. Tanpa menjawab pertanyaan Arga, Wulan berjinjit dan memajukan wajahnya ke hadapan adik iparnya hingga jarak keduanya hanya tersisa beberapa senti saja. Arga pun semakin gugup dibuatnya. Pemuda tanggung berwajah tampan itu memejamkan mata. Tubuhnya yang jangkung seolah mengecil karena saking gugupnya. "Tuh kan, masih panas keningnya." Merasakan telapak tangan halus mendarat di keningnya, Arga perlahan membuka mata dan melihat wajah cantik Wulan yang polos tanpa riasan. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, seperti mau copot dan melompat keluar dari tempatnya. Bahkan pikirannya sudah melayang ke mana-mana, mengira kakak iparnya yang kesepian itu akan melakukan hal yang tidak-tidak. "Gile, kupikir Mbak Wulan mau ngasih ciuman di pagi hari. Ternyata cuma mau ngecek suhu tubuh," kata Arga dalam hati. Setiap melihat wajah cantik Wulan, Arga selalu terbayang pada apem tembem kakak iparnya yang cantik, berwarna kemerahan amat menggoda. Kejadian konyol itu benar-benar tak bisa lepas dari otaknya. Selalu teringat tubuh polos kakak iparnya dan membuatnya serasa gila. "Ke-ke-keadaanku udah mendingan kok, Mbak. Kepalaku juga udah gak pusing lagi," kata Arga dengan terbata-bata. Melihat wajah dan telinga Arga memerah seperti kepiting rebus, kening Wulan spontan berkerut dalam. Menyadari kegugupan adik iparnya, wanita itu seketika merasa tak enak hati. Namun, sebisa mungkin Wulan berusaha menutupi kecanggungannya dan bersikap biasa saja. "Tapi kening kamu masih panas banget, loh, Ga. Takutnya kalau dipaksa kerja, yang ada kondisi kamu makin parah," tutur Wulan, tak mengizinkan Arga bekerja hari itu. Tetap saja, Arga yang merasa canggung berada di dekat kakak iparnya saat ini ngotot ingin pergi bekerja. Ia tak mau otaknya semakin konslet jika tetap berada di rumah. "Mbak Wulan tenang aja. Nanti kalau kondisi badanku gak memungkinkan, aku bakal istirahat di kafe." Mendengar perkataan Arga, Wulan menghela napas dan mengangguk. "Ya udah deh kalau ngotot mau kerja. Yang penting sarapan dulu sebelum berangkat. Soalnya dari kemarin kamu belum makan." Arga tersenyum kaku dan menganggukkan kepala. Terpaksa menuruti perkataan Wulan yang memintanya untuk sarapan sebelum berangkat bekerja. Selanjutnya, Arga mengikuti langkah Wulan menuju meja makan yang terbuat dari kayu. Lalu menarik salah satu kursi plastik butut dan mendaratkan bokongnya di sana dengan gerakan perlahan. Arga yang duduk di kursi makan menatap hidangan sederhana yang disajikan kakak iparnya. Oseng kangkung, ikan asin, dan tempe goreng yang ada di atas meja membuat cacing di perut Arga seketika berdemo minta diberi makan. Sejak bangun tidur sebenarnya pemuda tanggung itu merasa sangat lapar. Namun, karena malu dan canggung pada kakak iparnya, ia memilih menahan rasa lapar dan memutuskan segera pergi bekerja. Akan tetapi, Wulan justru menghentikannya dan memaksanya sarapan. "Makan yang banyak, biar cepat sembuh dan semangat kerjanya," kata Wulan sembari mengacak rambut Arga, lalu melangkah menuju lemari makan. Tak lama kemudian, wanita cantik itu kembali. Di tangannya membawa sepiring terong goreng, lalu menyajikannya ke hadapan Arga yang sedang menyendok nasi di piringnya. Begitu mendengar kata "terong goreng" yang keluar dari bibir kakak iparnya, makanan yang baru masuk ke mulut Arga langsung menyembur keluar. Pemuda tanggung itu terbatuk-batuk sampai kedua matanya berair. "Uhuk! Uhuk!" "Astaga, Ga. Kamu kenapa? Minum dulu, biar batuknya berhenti," kata Wulan. Cepat-cepat ia meraih segelas air dan memberikannya kepada Arga yang masih terbatuk-batuk. Tangan Arga bergerak menerima gelas itu, lalu meneguk isinya hingga tandas. Setelah batuknya reda, ia mengangkat wajahnya yang memerah dan menatap wajah cemas kakak iparnya. "Mbak... terong goreng ini bukan terong yang kemarin sore, kan?" Degh!"Ga, lihat deh. Itu kok kayak...."Arga yang sedang mengunyah satenya menoleh dan menatap ke mana arah tunjuk sang istri.Saat melihat orang yang ditunjuk oleh Wulan, Arga justru melongo dan menatap cengo."Anaknya Bu Nur, kan, itu? Yang nomor dua?" tanya Wulan dengan pelan, tetapi tak ditanggapi oleh Arga. "Iya, kan?" lanjut Wulan.Tak mendapatkan tanggapan dan respons dari Arga, Wulan pun menoleh, menatap wajah cengo suaminya itu.Bibirnya seketika tercebik saat melihat ekspresi wajah sang suami yang cengo. Benar-benar seperti orang bodoh."Sayang, kamu denger aku nggak sih? Aku ngomong lho sama kamu!" kata Wulan sambil menepuk pelan pipi tirus Arga."Aku denger, Sayang. Tapi mataku lagi lihatin anak Bu Nur nangis-nangis tuh!" timpal Arga, menunjuk dua orang remaja yang sedang terlibat cekcok menggunakan moncong bibirnya.Mendengar perkataan Arga yang mengatakan jika salah satu dari remaja itu memang benar-benar anak Bu Nur, Wulan pun angguk-angguk kepala."Berarti beneran anaknya B
"Sekali lagi ngomong buruk ataupun nyindir-nyindir Wulan, saya pastikan kalau hidup Bu Nur dan keluarga nggak akan pernah tenang!"Degh!Mendengar ancaman Arga yang tidak main-main, terkesiap Bu Nur dibuatnya. Bahkan, wanita jelek bertubuh subur itu langsung berbalik dan memasuki kontrakannya.Wajah Arga yang memerah dan mata melotot tajam benar-benar menakutkan untuk dilihat.Setelah Bu Nur memasuki rumah, Arga menoleh dan menatap Wulan yang tertunduk di sampingnya. Ia lalu meraih jemari sang istri dan menggenggamnya dengan amat erat, berusaha memberikan kehangatan dan ketenangan."Omongan perempuan itu nggak usah didengerin, Sayang. Kamu kan tahu sendiri kalau mulutnya emang busuk," kata Arga. Suaranya pelan dan terdengar menenangkan hati Wulan.Mendengar kalimat yang diucapkan oleh Arga, Wulan pun mengangkat wajah dan memaksakan senyumannya. Kepalanya lalu mengangguk pelan."Aku nggak masalah kok denger omongan Bu Nur, aku cuma takut kamu terpengaruh dan pergi ninggalin aku," kata
Di rumah mewah berlantai dua milik Amelia, tampak ia yang menghabiskan waktu semalaman berhubungan seks dengan ketiga pengawalnya, baru membuka mata saat matahari mulai meninggi.Digangbang semalaman oleh tiga orang pria, membuat tubuh janda seksi itu terasa remuk redam dan energinya terkuras habis.Jika bukan buatan Tuhan, mungkin tubuh Amelia benar-benar remuk dan liang vaginanya sudah robek lantaran digilir oleh para pengawalnya."Ssttt... aww, perihnya."Amelia yang membuka mata, mendesis kala beringsut dari posisinya yang meringkuk di atas sofa.Vaginanya terasa begitu perih, dan mungkin saja lecet karena diobok-obok Gatot dan kedua temannya. Bahkan, kulit tubuhnya yang mengalami merah kebiruan seperti lebam juga terasa sakit."Ugh... sialan. Ke mana Gatot, Rusdi, dan Wanto? Enak banget mereka, setelah puas ngewe malah pergi gitu aja," gerutu Amelia sembari turun dari atas sofa dengan gerakan yang amat perlahan.Wanita itu memungut dress dan pakaian dalamnya yang berserak di lant
"Kita telepon Mbak Mira sekarang, gimana?"Wulan menanggapi perkataan pelan bernada serius yang keluar dari bibir Arga dengan gelengan kepala. Sementara itu, tangannya meraih gelas berisi air dan meneguk isinya sedikit."Nggak mau telepon?" tanya Arga dan diangguki kepala oleh Wulan. "Nanti ngira aku bohong lagi?" lanjutnya seraya menatap wajah sang istri dengan tatapan yang dalam dan tanpa berkedip."Nggak, aku nggak mau telepon dan aku percaya sama kamu. Aku tanya kayak gitu karena aku sayang sama kamu, aku peduli dan aku nggak mau kamu terjerumus, salah jalan kayak orang-orang di luaran sana karena uang, Ga. Aku sayang kamu...."Bibir Arga tersenyum kecil. Tangannya mendorong piring yang ada di hadapannya, lalu merengkuh tubuh Wulan dan membawa kepala sang istri ke dalam dekapannya."Nggak akan, Sayang. Selagi kamu ada di sampingku, aku nggak akan salah jalan dan ngelakuin hal-hal buruk di luaran sana. Kamu rumahku, satu-satunya perempuan yang aku punya dan cinta," ucap Arga. Suara
"Nggak bohong? Beneran bajunya basah kena minuman? Terus, sekarang bajunya mana?"Degh!Saat ditanya ke mana bajunya, jantung Arga seolah berhenti berdetak. Pemuda itu baru ingat jika bajunya sengaja ditinggalkan di ruangan Mira atas permintaan wanita tersebut.Wajahnya yang pucat kini menjadi semakin pucat. Reaksi gugupnya terlihat jelas di mata Wulan.Begitulah ekspresi dan reaksi pemuda itu setiap kali dimarahi oleh sang istri."Bajunya mana?" tanya Wulan lagi. Tetapi kali ini jauh lebih singkat dan to the point.Arga memajukan bibir bawahnya, memasang wajah paling melas sedunia agar Wulan tidak menekannya untuk berbicara."Tolong jangan marah dan melotot kayak gini, aku gugup. Mulutku rasanya kaku, susah buat jawab omongan kamu," kata Arga. Suaranya pelan, sedangkan matanya menatap takut pada Wulan yang menatap penuh selidik.Mendengar perkataan pelan yang keluar dari mulut Arga, Wulan pun menghela napas panjang. Tangannya melepaskan baju sang suami yang dicengkeramnya.Wanita itu
Mira yang masih berada di dalam kamarnya, tampak begitu betah berbaring di atas ranjang dengan tubuh telanjang bulat. Tangannya menggenggam erat baju kaus Arga yang kotor dan basah akibat semprotan squirting-nya subuh tadi.Bibir wanita itu tak henti-hentinya tersenyum. Ia merasa sangat puas dengan permainan yang diciptakan oleh Arga."Aku beneran nggak nyangka Arga sehebat itu. Sayangnya aku nggak diizinin buat mainin penisnya dan bantuin dia sampe crot. Kalau diizinin aku bisa ngerasain gimana rasanya punya dia," kata Mira dengan bibir tersenyum.Mira lalu memejamkan mata, lalu mencium baju kaus Arga yang sejak tadi berada di dalam genggaman tangannya."Walaupun nggak diizinin, dan Arga sendiri bilang kalau dia bantuin aku buat yang pertama dan juga terakhir kali, yang penting aku udah pernah ngerasain gimana nikmatnya dibikin banjir sama dia," lanjut Mira.Tak seperti Amelia, Mira jauh lebih sadar diri. Meskipun sangat ingin memiliki Arga, tetapi ia tidak mau memaksakan kehendak."






