Beranda / Male Adult / Ajari Aku, Mbak Ipar! / 152. Ajari Aku, Mbak!

Share

152. Ajari Aku, Mbak!

Penulis: MoonCake
last update Tanggal publikasi: 2026-09-24 03:56:34
Merasa diabaikan, lalu ditinggalkan ke kamar mandi oleh Wulan yang dikiranya sedang marah, Arga pun memilih merebahkan tubuhnya di tengah-tengah kasur. Pikirnya, setelah Wulan keluar dari kamar mandi, ia akan menjelaskan semuanya pada sang mantan ipar pujaannya.

Tanpa diketahui oleh Arga, jika Wulan mendengar semua pembicaraannya dan Mira saat di depan pintu setengah jam yang lalu. Entah apa yang ada di dalam pikiran wanita itu saat ini, Arga sama sekali tidak mengetahuinya. Yang jelas, Arga m
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   206. Ajari Aku, Mbak!

    "Oke, aku gesek-gesek penisku sekarang. Tapi kalau nanti aku khilaf dan nggak tahan terus nerobos masuk ke lubang apemmu, resiko tanggung sendiri!" Wulan yang benar-benar merasa gatal dan ingin merasakan sensasi bercinta malam itu, langsung menganggukkan kepala dan setuju pada perkataan Arga. Bahkan, bibirnya yang semula merenggut seketika tersenyum kecil. Sedangkan matanya menatap sang suami dengan tatapan bergairah. "Kalau sampai sakit dan pendarahan lagi, aku nggak bakalan peduli!" lanjut Arga dan kembali diangguki kepala oleh Wulan. Kepala Wulan mengangguk pelan. Bibirnya masih saja tersenyum pada sang suami. Selanjutnya, Arga beringsut dari posisinya dan mendorong tubuh sang istri secara perlahan hingga kepalanya menempel pada bantal. Setelah itu, tangan Arga bergerak pada dalaman yang dipakai oleh sang istri. Secara perlahan, ia menarik dalaman tersebut hingga terlepas dari kedua kakinya. Gluk! Jakun Arga naik turun dengan cepat meneguk ludah berulang kali. Sedangkan mat

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   205. Ajari Aku, Mbak!

    "Ga, aku pingin apemku digesek-gesek pakai penismu sebentar." Degh! Mendengar permintaan gila Wulan, sepasang mata Arga spontan mendelik lantaran kaget. Bahkan, tubuh yang baru saja bersandar pada tembok lantaran agak lemas usai mencapai puncak kenikmatan, kini kembali menegang. Bukan menegang karena hasratnya kembali memuncak, melainkan karena terkejut. Tak menyangka jika sang istri akan memintanya melakukan hal yang extrem. "Sayang, boleh nggak?" tanya Wulan. Suaranya pelan, wajahnya memelas dan sepasang matanya menatap ingin pada Arga. Gluk! Arga meneguk sisa ludah di tenggorokannya dengan amat bersusah payah. Keningnya berkerut, membuat alisnya bertautan. Sedangkan matanya membalas tatapan sang istri dengan tatapan bingung bercampur takut. "A-a-aku nggak berani, Sayang. Aku takut...." Wulan menggigit ujung bibirnya kuat-kuat. Sementara itu, tangannya meremas payudaranya sendiri dengan remasan kuat lantaran merasa berhasrat. "Cuma digesek di pinggir dan luarnya aja, Sayan

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   204. Ajari Aku, Mbak!

    "Sayang, katanya mau jepit punyaku pakai nenmu? Ayo cepat, jepit sekarang aja. Nggak lama lagi, punyaku bakalan muncrat."Wulan menggigit ujung bibirnya dan mengangguk. Lalu mensejajarkan posisi payudaranya pada batang kemaluan Arga yang tegang maksimal dan sudah siap memuncratkan cairan sperma kentalnya.Selanjutnya, Wulan menggenggam batang kemaluan Arga dan menempelkan ujungnya yang basah dan mengilap oleh cairan bening ke tengah-tengah payudaranya."Sayang, rasanya licin banget," kata Wulan saat merasakan sensasi basah dan licin penis sang suami."Bentar lagi bakalan lebih licin dari ini, Sayang," timpal Arga sambil menahan tengkuk Wulan menggunakan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanan menyentuh pinggul ramping sang istri.Wulan kembali menggigit bibir. Jika bukan karena habis keguguran, ia pasti sudah memasukkan batangan tumpul berukuran jumbo itu ke dalam lubang apem tembemnya."Nenmu sekarang beneran makin montok dan besar. Putingnya juga agak sedikit lebih gede dari dulu," k

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   203. Ajari Aku, Mbak!

    "Jangan cuma dikocokin, tapi diemut juga, Sayang!" Wulan yang masih merasa lemas karena permainan Arga sebelumnya, mengangguk dan segera menuruti keinginan sang suami. Wanita itu beringsut perlahan dari posisinya yang berbaring terlentang di atas kasur dalam keadaan tubuh bagian atasnya yang polos. Lalu, duduk bersimpuh di hadapan Arga yang terlihat sudah sangat tidak tahan.Melihat posisi duduk Wulan yang bersimpuh tepat di hadapannya, Arga memajukan tangannya dan mengusap lembut pipi sang istri hingga turun ke dagu. "Duduk kayak gini, perut dan apemnya sakit nggak?" tanya Arga sambil menatap wajah Wulan tanpa berkedip. Meskipun berhasrat dan sange tingkat maksimal, tetapi ia tetap mengkhawatirkan kondisi istrinya. Kepala Wulan menggeleng pelan, lalu tangannya mulai bergerak, meraih dan menggenggam batang kemaluan sang suami. Lalu mengurutnya ke atas dan ke bawah secara perlahan. "Shit... rasanya enak banget, Sayang!" umpat Arga begitu Wulan mengurut batangannya. Tangan Wulan t

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   202. Ajari Aku, Mbak!

    "Aduh, aku jadi nggak tahan, Sayang...." Dihisap puting dan diremas payudaranya oleh Arga, Wulan memekik tertahan. Tangannya semakin kuat mencengkeram rambut sang suami dan menekan kepalanya. Dalam keadaan pemulihan pasca keguguran, bisa-bisanya Arga membuat istrinya sange dan menggila sepertinya itu. Sedangkan Arga sendiri, terlihat sangat-sangat menikmati kegiatannya. Tangannya tak henti-hentinya meremas gundukan kenyal payudara besar sang istri dan menghisap putingnya secara bergantian. Bahkan, pemuda itu tak hanya menghisap, tetapi juga menjilati area tersebut dan menyapu seluruh permukaan kulitnya tanpa sisa. "Aahh, astaga... aku beneran sange dan nggak tahan kalau kayak gini, Ga!" Tubuh Wulan melengkung ke belakang, membuat kepalanya mendongak dan rambutnya yang tergerai tergantung bebas di belakang. Sedangkan matanya yang merem-melek menatap langit-langit kamar tersebut. Tangan Wulan yang menjambak rambut Arga dibuat bergetar hebat setiap kali suaminya itu menggigit keci

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   201. Ajari Aku, Mbak!

    "Aku mainin pakai mulutku sekarang ya, rasanya pasti bakalan jauh lebih enak dan punyamu bakalan cepet muncratin!" Wulan yang menghentikan kocokan tangannya pada batang kemaluan Arga yang tegang maksimal, mengangkat kepala dan menatap sang suami yang tak henti-hentinya mengerang dan meracau keenakan. Arga yang terpejam membuka matanya. Lalu menatap Wulan yang berbicara padanya dengan tatapan matanya yang sudah benar-benar diselimuti gairah. "Mainnya pelan-pelan aja, Sayang. Jangan sampe kamu kecapean," kata Arga. Tangannya bergerak, menangkup wajah Wulan dan mengusap-usap pipinya dengan usapannya yang amat lembut dan penuh cinta. Diusap pipinya, Wulan menggerakkan wajahnya dan memejamkan mata. Lenguhan kecil lolos dari sela-sela bibirnya yang terkatup. "Aku nggak capek sama sekali, yang ada aku justru seneng bisa muasin kamu," balas Wulan. Suaranya pelan dan terdengar agak serak. Deru napas wanita yang belum lama mengalami keguguran itu memburu. Sedangkan dadanya naik turu

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status