Home / Male Adult / Ajari Aku, Mbak Ipar! / 166. Ajari Aku, Mbak!

Share

166. Ajari Aku, Mbak!

Author: MoonCake
last update Petsa ng paglalathala: 2026-09-29 13:00:24
"Asal kamu tahu ya, Wi. Aku nggak sebodoh itu! Kamu pikir aku nggak tahu kalau kamu deketin aku dan ngebet pingin balikan karena mau jadiin aku tumbal buat bayi yang ada di dalam perut kamu itu!"

Degh!

Mata Dewi seketika membelalak lebar. Wajahnya yang memerah berubah pucat dan tubuhnya menegang. Sedangkan jantungnya kini berdetak berkali-kali lebih cepat.

Di hadapan Arga, Dewi menjadi gugup. Bahkan, ia meneguk sisa ludah di tenggorokannya dengan amat bersusah payah. Tenggorokannya terasa
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   204. Ajari Aku, Mbak!

    "Sayang, katanya mau jepit punyaku pakai nenmu? Ayo cepat, jepit sekarang aja. Nggak lama lagi, punyaku bakalan muncrat."Wulan menggigit ujung bibirnya dan mengangguk. Lalu mensejajarkan posisi payudaranya pada batang kemaluan Arga yang tegang maksimal dan sudah siap memuncratkan cairan sperma kentalnya.Selanjutnya, Wulan menggenggam batang kemaluan Arga dan menempelkan ujungnya yang basah dan mengilap oleh cairan bening ke tengah-tengah payudaranya."Sayang, rasanya licin banget," kata Wulan saat merasakan sensasi basah dan licin penis sang suami."Bentar lagi bakalan lebih licin dari ini, Sayang," timpal Arga sambil menahan tengkuk Wulan menggunakan tangan kirinya. Sedangkan tangan kanan menyentuh pinggul ramping sang istri.Wulan kembali menggigit bibir. Jika bukan karena habis keguguran, ia pasti sudah memasukkan batangan tumpul berukuran jumbo itu ke dalam lubang apem tembemnya."Nenmu sekarang beneran makin montok dan besar. Putingnya juga agak sedikit lebih gede dari dulu," k

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   203. Ajari Aku, Mbak!

    "Jangan cuma dikocokin, tapi diemut juga, Sayang!" Wulan yang masih merasa lemas karena permainan Arga sebelumnya, mengangguk dan segera menuruti keinginan sang suami. Wanita itu beringsut perlahan dari posisinya yang berbaring terlentang di atas kasur dalam keadaan tubuh bagian atasnya yang polos. Lalu, duduk bersimpuh di hadapan Arga yang terlihat sudah sangat tidak tahan.Melihat posisi duduk Wulan yang bersimpuh tepat di hadapannya, Arga memajukan tangannya dan mengusap lembut pipi sang istri hingga turun ke dagu. "Duduk kayak gini, perut dan apemnya sakit nggak?" tanya Arga sambil menatap wajah Wulan tanpa berkedip. Meskipun berhasrat dan sange tingkat maksimal, tetapi ia tetap mengkhawatirkan kondisi istrinya. Kepala Wulan menggeleng pelan, lalu tangannya mulai bergerak, meraih dan menggenggam batang kemaluan sang suami. Lalu mengurutnya ke atas dan ke bawah secara perlahan. "Shit... rasanya enak banget, Sayang!" umpat Arga begitu Wulan mengurut batangannya. Tangan Wulan t

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   202. Ajari Aku, Mbak!

    "Aduh, aku jadi nggak tahan, Sayang...." Dihisap puting dan diremas payudaranya oleh Arga, Wulan memekik tertahan. Tangannya semakin kuat mencengkeram rambut sang suami dan menekan kepalanya. Dalam keadaan pemulihan pasca keguguran, bisa-bisanya Arga membuat istrinya sange dan menggila sepertinya itu. Sedangkan Arga sendiri, terlihat sangat-sangat menikmati kegiatannya. Tangannya tak henti-hentinya meremas gundukan kenyal payudara besar sang istri dan menghisap putingnya secara bergantian. Bahkan, pemuda itu tak hanya menghisap, tetapi juga menjilati area tersebut dan menyapu seluruh permukaan kulitnya tanpa sisa. "Aahh, astaga... aku beneran sange dan nggak tahan kalau kayak gini, Ga!" Tubuh Wulan melengkung ke belakang, membuat kepalanya mendongak dan rambutnya yang tergerai tergantung bebas di belakang. Sedangkan matanya yang merem-melek menatap langit-langit kamar tersebut. Tangan Wulan yang menjambak rambut Arga dibuat bergetar hebat setiap kali suaminya itu menggigit keci

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   201. Ajari Aku, Mbak!

    "Aku mainin pakai mulutku sekarang ya, rasanya pasti bakalan jauh lebih enak dan punyamu bakalan cepet muncratin!" Wulan yang menghentikan kocokan tangannya pada batang kemaluan Arga yang tegang maksimal, mengangkat kepala dan menatap sang suami yang tak henti-hentinya mengerang dan meracau keenakan. Arga yang terpejam membuka matanya. Lalu menatap Wulan yang berbicara padanya dengan tatapan matanya yang sudah benar-benar diselimuti gairah. "Mainnya pelan-pelan aja, Sayang. Jangan sampe kamu kecapean," kata Arga. Tangannya bergerak, menangkup wajah Wulan dan mengusap-usap pipinya dengan usapannya yang amat lembut dan penuh cinta. Diusap pipinya, Wulan menggerakkan wajahnya dan memejamkan mata. Lenguhan kecil lolos dari sela-sela bibirnya yang terkatup. "Aku nggak capek sama sekali, yang ada aku justru seneng bisa muasin kamu," balas Wulan. Suaranya pelan dan terdengar agak serak. Deru napas wanita yang belum lama mengalami keguguran itu memburu. Sedangkan dadanya naik turu

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   200. Ajari Aku, Mbak!

    "Sayang, jangan pergi... biar aku yang bantuin kamu sampe muncrat!"Arga yang dicekal tangannya, seketika menghentikan langkahnya dan menoleh, menatap Wulan yang memintanya untuk tidak pergi ke kamar mandi. Wanita itu membalas tatapan sang suami tanpa berkedip. Bahkan ia menggigit bibirnya sendiri kuat-kuat. "Di sini aja," lanjutnya. Suaranya pelan dan terdengar lembut di telinga.Melihat ekspresi wajah Arga yang meringis lantaran menahan gejolak hasrat yang membakar tubuhnya, Wulan menjadi kasihan dan tidak tega. Sebagai seorang istri, mana mungkin Wulan membiarkan sang suami kesulitan dan menderita seperti itu.Namun, di sisi lain, ia juga memahami kekhawatiran Arga terhadap kondisinya yang belum pulih sepenuhnya.Meskipun tidak bisa melakukan hubungan seks seperti biasanya, setidaknya ia bisa membantu melakukan Oral Sex sampai sang suami mencapai puncak kenikmatan dan ejakulasi."Jangan, Sayang. Keadaan kamu belum pulih. Lagi pula, aku masih bisa tahan kok," kata Arga seraya memak

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   199. Ajari Aku, Mbak!

    "Terus terang sama aku sekarang, tadi kamu ngapain aja sama Mbak Susi?!" Arga menghela napas dengan kasar. Lalu menyandarkan punggungnya pada tembok. Matanya melirik sang istri yang menatap heran bercampur curiga padanya. "Habis ngapain tadi?" tanya Wulan lagi. Kali ini kalimatnya singkat tetapi terdengar agak keras. Kepala Arga menggeleng. Lalu tangannya meraih bantal dan meletakannya ke atas paha, menutupi bagian depan celananya yang masih menonjol besar akibat melihat apem tembem Susi sebelumnya. "Aku tanya, Sayang. Kamu denger nggak sih?" "Aku denger... tadi tuh aku nggak ngapa-ngapain, cuma ngawasin Mbak Susi dari jauh, takut dia macem-macem di rumah kita!" kata Arga, menjawab pertanyaan Wulan dengan nada bicaranya yang terdengar malas. Mendengar jawaban malas yang keluar dari bibir Arga, kening Wulan semakin berkerut. Matanya memindai wajah dongkol sang suami, dan turun ke bagian tubuh. "Yakin nggak ngapa-ngapa?" tanya Wulan dan diangguki kepala oleh Arga. "Coba siniin ba

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status