LOGINKurang lebih lima belas menit Arga menggumul tubuh Wulan, memainkan apem tembemnya dan juga menghisap payudara besarnya, akhirnya wanita itu pun mencapai puncak klimaks. Wulan yang tak tahan dan dibuat terlena oleh permainan Arga, bukan hanya orgasme biasa, tetapi juga mengalami squirting hingga tubuhnya benar-benar melemas. "Gimana, Sayang. Apa rasanya masih lemes?" Arga yang duduk di samping Wulan, berbicara pelan seraya menyingkirkan rambut yang menutupi wajah cantiknya. Kepala Wulan mengangguk pelan. Sedangkan giginya menggigit ujung kuku jempolnya sendiri. "Aku haus, Sayang," ucap Wulan. Suaranya terdengar lemas dan pelan, sedangkan deru napasnya masih memburu. Payudaranya ikut naik turun dengan cepat, mengikuti gerak dadanya yang kempang-kempis. Cepat-cepat Arga meraih botol air mineral yang berada di pinggiran kasur, tepatnya di dekat kipas aing. Lalu membuka tutupnya dan memberikannya pada Wulan. "Minum dulu, Sayang. Pelan-pelan aja," kata Arga seraya merengkuh tubuh sa
Setelah Arga memasuki kamar dan kembali menghampiri Wulan, Mira yang merasa lemas sehabis orgasme itu pun beringsut dan kembali duduk di karpet.Wanita itu lalu membuka celana dalamnya yang terasa tidak nyaman dan lengket akibat cairan orgasmenya sendiri. Ia mengusap area vaginanya yang basah menggunakan tisu di dalam tasnya hingga kering."Ngehh... sikap Arga makin lama makin baik. Pokoknya aku nggak boleh bikin dia ketawa. Aku bakalan naikin gajinya di klub sebelum nyerahin klub itu buat dikelola langsung ama dia," ucap Mira dengan lirih. Bibirnya tersenyum kecil, sedangkan tangannya melipat segitiga berwarna kremnya yang lembap.Setelah melipat benda itu, Mira pun menyimpannya ke dalam tas agar tidak dilihat oleh Wulan.Dan sekarang, ia yang duduk di karpet dengan kedua paha merapat itu pun tidak memakai dalaman.Menunggu Wulan dan Arga selesai bercinta dan berhubungan seks, ia memutuskan untuk keluar dari kontrakan tersebut. Ia bermain ponsel di teras sambil memperhatikan warga ko
"Butuh bantuan nggak? Hmm!" Arga yang memajukan tubuhnya dan memepet Mira yang bersandar pada tembok, berbisik pelan di telinganya. Degh! Bisikan pelan Arga, sukses membuat jantung Mira berdetak secara brutal. Wajahnya yang merah menjadi semakin merah. Bahkan tarikan napasnya terasa begitu berat. "Ga, jangan mainin aku," balas Mira seraya memejamkan mata. Ia menikmati embusan napas Arga yang terasa begitu hangat menyapu kulit leher dan daun telinganya. Sebelah tangannya yang berada di balik celana dalam cream berenda yang dipakainya perlahan melemas. Ia menarik pelan jarinya keluar dari liang sempitnya yang basah dan becek, lalu menyentuh pinggang Arga dan meremasnya agak kuat. Sementara itu, tangan Arga juga bergerak, menyentuh dan memegang pinggul Mira yang jauh lebih besar dari milik istrinya yang ramping. Lalu, ia mengangkat dress wanita itu agak tinggi hingga naik ke perut. Dan, perlahan menyentuh bagian atas vaginanya. "Pakai dua jari mana bikin puas dan sesek, Mbak. Tiga
"Akhh... Argantara! Please, jangan hajar di sana, aku nggak kuat!"Jerit kenikmatan yang keluar dari mulut Wulan membuat kedua lutut Mira melemas. Ia yang berdiri di balik pintu menyandarkan punggungnya pada tembok.Deru napas wanita itu memburu, membuat payudaranya yang besar brutal ikut naik turun.Mira menggigit ujung bibir bawahnya kuat-kuat. Wajahnya memerah seperti udang rebus, sedangkan tangannya mencengkeram dan meremas bagian bawah perutnya dengan kencang."Aduh, ngeuh... gila, permainan Arga bisa bikin istrinya teriak lepas kayak gitu," gumam Mira.Merasa tak tahan, wanita itu mengangkat rok yang dipakainya. Ia lalu menelusupkan tangan kirinya ke balik celana dalam berwarna cream berendanya.Vaginanya kini terasa basah dan lembap hanya dengan mendengar suara desahan Wulan dan juga erangan Arga.Perlahan, Mira yang bersandar pada tembok biru mengusap-usap bagian atas vaginanya. Lalu menjepit klitorisnya sendiri menggunakan dua jari."Ugh, ngeh... terus, Ga. Enak banget rasany
"Jangan dibuka semua dong, Sayang. Nanti kalau Mbak Mira manggil aku, gimana?"Wulan yang duduk lemas dengan punggung bersandar pada tembok, melayangkan aksi protes pada Arga yang menarik lepas dress-nya melalui kepala. Ia takut Mira yang berada di luar memanggilnya.Namun, Arga yang yakin sekali jika Mira tak akan mengganggu permainannya dan Wulan, justru menggelengkan kepalanya. Ia tetap membuka habis kain yang melekat di tubuh sang istri hingga tubuhnya telanjang bulat seperti bayi baru lahir."Ga....""Hust, jangan kebanyakan protes! Atau kamu mau, aku panggil Mbak Mira biar gabung sama kita?!" ancam Arga, sampai-sampai Wulan langsung bungkam dibuatnya.Diancam, Wulan pun membiarkan Arga melakukan apa pun padanya. Ia diam dan bibirnya cemberut bebek.Setelah tubuh Wulan telanjang bulat, Arga pun menarik tubuhnya dan membaringkannya di atas kasur dengan kepala bertumpu pada bantal yang disusun agak tinggi."Rebahan di sini, Sayang!" kata Arga dengan suara tertahan.Wulan mengangguk
"Ngehh... Sa-sa-sayang, ada bos kamu, lho, di luar." Perkataan bernada pelan Wulan yang sengaja ditahan membuat Arga langsung menghentikan permainannya. Pemuda itu lalu menatap wajah memerah istrinya. Keningnya berkerut, alisnya bertautan, dan matanya menyipit. Sedangkan deru napasnya memburu dan dadanya naik turun dengan cepat. "Bosku, Mbak Mira maksud kamu?" tanya Arga. Suaranya yang serak kini bernada pelan. "Eum, iya. Perempuan yang waktu itu datang ke sini, ngasih kamu motor," kata Wulan dengan pelan. Lalu menggigit bibir bawahnya kuat-kuat seraya meremas erat pahanya sendiri. Setelah mendengar perkataan Wulan, Arga kembali memajukan wajahnya dan menggumul tubuh indah istrinya yang amat menggoda. Pemuda itu menciumi wajah dan leher Wulan, bahkan menjilat dan mengecup daun telinganya. "Ugh... udah dong, Ga. Didengar sama Mbak Mira," kata Wulan, meminta Arga menghentikan permainan gilanya. Bibir wanita itu memang menolak, tetapi tubuhnya justru berkhianat. Bahkan, ke







