LOGIN"Sekali lagi ngomong buruk ataupun nyindir-nyindir Wulan, saya pastikan kalau hidup Bu Nur dan keluarga nggak akan pernah tenang!"Degh!Mendengar ancaman Arga yang tidak main-main, terkesiap Bu Nur dibuatnya. Bahkan, wanita jelek bertubuh subur itu langsung berbalik dan memasuki kontrakannya.Wajah Arga yang memerah dan mata melotot tajam benar-benar menakutkan untuk dilihat.Setelah Bu Nur memasuki rumah, Arga menoleh dan menatap Wulan yang tertunduk di sampingnya. Ia lalu meraih jemari sang istri dan menggenggamnya dengan amat erat, berusaha memberikan kehangatan dan ketenangan."Omongan perempuan itu nggak usah didengerin, Sayang. Kamu kan tahu sendiri kalau mulutnya emang busuk," kata Arga. Suaranya pelan dan terdengar menenangkan hati Wulan.Mendengar kalimat yang diucapkan oleh Arga, Wulan pun mengangkat wajah dan memaksakan senyumannya. Kepalanya lalu mengangguk pelan."Aku nggak masalah kok denger omongan Bu Nur, aku cuma takut kamu terpengaruh dan pergi ninggalin aku," kata
Di rumah mewah berlantai dua milik Amelia, tampak ia yang menghabiskan waktu semalaman berhubungan seks dengan ketiga pengawalnya, baru membuka mata saat matahari mulai meninggi.Digangbang semalaman oleh tiga orang pria, membuat tubuh janda seksi itu terasa remuk redam dan energinya terkuras habis.Jika bukan buatan Tuhan, mungkin tubuh Amelia benar-benar remuk dan liang vaginanya sudah robek lantaran digilir oleh para pengawalnya."Ssttt... aww, perihnya."Amelia yang membuka mata, mendesis kala beringsut dari posisinya yang meringkuk di atas sofa.Vaginanya terasa begitu perih, dan mungkin saja lecet karena diobok-obok Gatot dan kedua temannya. Bahkan, kulit tubuhnya yang mengalami merah kebiruan seperti lebam juga terasa sakit."Ugh... sialan. Ke mana Gatot, Rusdi, dan Wanto? Enak banget mereka, setelah puas ngewe malah pergi gitu aja," gerutu Amelia sembari turun dari atas sofa dengan gerakan yang amat perlahan.Wanita itu memungut dress dan pakaian dalamnya yang berserak di lant
"Kita telepon Mbak Mira sekarang, gimana?"Wulan menanggapi perkataan pelan bernada serius yang keluar dari bibir Arga dengan gelengan kepala. Sementara itu, tangannya meraih gelas berisi air dan meneguk isinya sedikit."Nggak mau telepon?" tanya Arga dan diangguki kepala oleh Wulan. "Nanti ngira aku bohong lagi?" lanjutnya seraya menatap wajah sang istri dengan tatapan yang dalam dan tanpa berkedip."Nggak, aku nggak mau telepon dan aku percaya sama kamu. Aku tanya kayak gitu karena aku sayang sama kamu, aku peduli dan aku nggak mau kamu terjerumus, salah jalan kayak orang-orang di luaran sana karena uang, Ga. Aku sayang kamu...."Bibir Arga tersenyum kecil. Tangannya mendorong piring yang ada di hadapannya, lalu merengkuh tubuh Wulan dan membawa kepala sang istri ke dalam dekapannya."Nggak akan, Sayang. Selagi kamu ada di sampingku, aku nggak akan salah jalan dan ngelakuin hal-hal buruk di luaran sana. Kamu rumahku, satu-satunya perempuan yang aku punya dan cinta," ucap Arga. Suara
"Nggak bohong? Beneran bajunya basah kena minuman? Terus, sekarang bajunya mana?"Degh!Saat ditanya ke mana bajunya, jantung Arga seolah berhenti berdetak. Pemuda itu baru ingat jika bajunya sengaja ditinggalkan di ruangan Mira atas permintaan wanita tersebut.Wajahnya yang pucat kini menjadi semakin pucat. Reaksi gugupnya terlihat jelas di mata Wulan.Begitulah ekspresi dan reaksi pemuda itu setiap kali dimarahi oleh sang istri."Bajunya mana?" tanya Wulan lagi. Tetapi kali ini jauh lebih singkat dan to the point.Arga memajukan bibir bawahnya, memasang wajah paling melas sedunia agar Wulan tidak menekannya untuk berbicara."Tolong jangan marah dan melotot kayak gini, aku gugup. Mulutku rasanya kaku, susah buat jawab omongan kamu," kata Arga. Suaranya pelan, sedangkan matanya menatap takut pada Wulan yang menatap penuh selidik.Mendengar perkataan pelan yang keluar dari mulut Arga, Wulan pun menghela napas panjang. Tangannya melepaskan baju sang suami yang dicengkeramnya.Wanita itu
Mira yang masih berada di dalam kamarnya, tampak begitu betah berbaring di atas ranjang dengan tubuh telanjang bulat. Tangannya menggenggam erat baju kaus Arga yang kotor dan basah akibat semprotan squirting-nya subuh tadi.Bibir wanita itu tak henti-hentinya tersenyum. Ia merasa sangat puas dengan permainan yang diciptakan oleh Arga."Aku beneran nggak nyangka Arga sehebat itu. Sayangnya aku nggak diizinin buat mainin penisnya dan bantuin dia sampe crot. Kalau diizinin aku bisa ngerasain gimana rasanya punya dia," kata Mira dengan bibir tersenyum.Mira lalu memejamkan mata, lalu mencium baju kaus Arga yang sejak tadi berada di dalam genggaman tangannya."Walaupun nggak diizinin, dan Arga sendiri bilang kalau dia bantuin aku buat yang pertama dan juga terakhir kali, yang penting aku udah pernah ngerasain gimana nikmatnya dibikin banjir sama dia," lanjut Mira.Tak seperti Amelia, Mira jauh lebih sadar diri. Meskipun sangat ingin memiliki Arga, tetapi ia tidak mau memaksakan kehendak."
"Astaga, dari mana Arga dapet uang sebanyak ini? Jangan-jangan dia jual diri sama tante-tante yang dia bilang tadi?"Wulan bergumam sambil menatap uang di dalam Arga dengan mata melotot lebar tanpa berkedip. Lalu, ia menoleh, menatap sang suami yang tengkurap di atas kasur tanpa melepaskan sepatunya.Wanita itu membuka mulut dan hendak berbicara, namun dengkuran halus Arga membuatnya mengurungkan niat. Ia membiarkan suaminya yang mengantuk berat dan kelelahan itu terlelap di pagi hari itu.Melihat Arga yang terlelap begitu saja, Wulan menghela napas pelan dan menggelengkan kepalanya. Ia menutup kembali tas sang suami lalu menggantungnya di gantungan baju."Dari dulu sampai sekarang, nggak berubah sama sekali. Mudah banget molor," gumam Wulan.Setelah menggantung tas tersebut, Wulan mendekati Arga dan membuka sepatu yang melekat di kakinya secara perlahan.Banyak pertanyaan yang kini memenuhi kepalanya. Hatinya merasa curiga dan penasaran, tetapi wanita itu memilih untuk menahannya.Na







