LOGIN"Pantas bocah sialan itu mati-matian bela kamu, ternyata muka dan matanya udah ketutupan selangkangan kamu!"Brak!Burhan berbicara dengan suara tertahan sambil menatap Wulan yang berada di ujung kasur. Lalu, ia memukul lemari pakaian yang ada di dekatnya.Dada Burhan kini bergemuruh hebat kala melihat kotak kondom berukuran XL yang berada di dalam keranjang alat makeup Wulan.Jelas jika kondom tersebut adalah milik Arga dan jumlahnya pun sudah tidak utuh lagi. Semua itu terbukti saat mata Burhan menatap ke tempat sampah yang berisi beberapa helai tisu dan juga kondom bekas lengkap dengan sisa sperma milik adiknya.Pria itu benar-benar marah dan emosi. Padahal, ia yang lebih dulu mengkhianati Wulan dan juga membohongi adiknya soal kepergiannya ke luar daerah, tetapi justru dirinya sendiri yang merasa paling tersakiti. Bahkan dengan lantang dan tanpa ragu mengatakan jika Wulan dan Arga-lah yang telah mengkhianatinya selama ini."Kamu bener-bener gila, nggak waras. Bukannya introspeksi
"Ngapain kamu ke sini?"Wulan yang membuka pintu, berbicara dengan ketus pada seseorang yang sejak tadi menggedor-gedor pintu tersebut.Wajah janda muda itu merah padam, sedangkan sepasang matanya melotot tajam. Ia menunjukkan reaksi tak suka melihat orang yang saat ini berdiri di hadapannya.Burhan, yang saat berdiri di depan pintu, menatap Wulan yang bertanya ketus padanya dengan tatapan yang sulit diartikan."Di mana Arga?" tanya Burhan. Suaranya datar, sedangkan matanya masih saja menatap Wulan."Arga nggak ada, kerja!" timpal Wulan semakin ketus. Tangannya memegangi pintu, seolah menjaga jarak dari Burhan yang berada di hadapannya.Mengingat pesan yang dikirimkan pria itu pada Arga, hati Wulan rasanya dongkol sekali. Ia malas melihat wajah Burhan, apalagi meladeni mantan suaminya itu.Mengetahui jika Arga tidak berada di rumah, tiba-tiba saja pikiran kotor timbul di otak minus Burhan."Hegh, baguslah kalau dia nggak ada. Aku bisa ngasih pelajaran sama perempuan murahan kayak kamu
"Ga, HP lu bunyi tuh tadi dua kali!"Arga yang baru saja kembali dari toilet, menatap Dion yang duduk di lantai lantaran mendengar perkataan sahabatnya itu."HP gue?" tanya Arga dan diangguki kepala oleh Dion. "Terus kenapa nggak lu lihat dan angkat?"Kepala Dion kali ini menggeleng. Sedangkan tangannya memanjang, meraih rantang bekal yang dibawa Arga dari rumah.Selanjutnya, Arga melangkah menuju tasnya berada dan mengambil ponselnya yang kata Dion dua kali berbunyi.Dilihat oleh Arga, dua panggilan tak terjawab dari nomor Wulan. Bibirnya tersenyum kecil, lalu segera menghubungi balik nomor wanita pujaannya itu.Dion yang membuka bekal makan siang yang disiapkan Wulan itu pun geleng-geleng kepala melihat tingkah Arga yang sedang kasmaran. Bahkan baru melihat nama Wulan di layar ponselnya saja, pemuda itu sudah menunjukkan wajah sumringah."Lu makan duluan aja, gue mau telepon Mbak Wulan sebentar!" kata Arga dan diangguki oleh Dion.Selanjutnya, Arga sedikit melipir dari dekat Dion. D
Seminggu telah berlalu setelah Arga menerima pesan tuduhan dan ancaman dari Burhan. Selama itu pula, ia dan Wulan menjalani aktivitas normal seperti biasanya. Namun, meskipun semuanya berjalan normal, tetapi Arga selalu waspada dan berhati-hati. Ia tak ingin lengah dan membiarkan Burhan mengusiknya dan Wulan. Sehari-harinya Arga bekerja sebagai kuli panggul di pasar bersama Dion. Sedangkan di rumah, Wulan memutuskan untuk berjualan kue seperti saat tinggal di rumah tua peninggalan orang tua Arga. Bedanya, kali ini wanita itu tidak berjualan keliling, melainkan berjualan di rumah, alias teras kontrakannya. Aktivitas tersebut nyatanya membuat hari-hari Wulan menjadi lebih menyenangkan.Sebenarnya, Arga tak mengizinkan Wulan berjualan lagi. Tetapi janda muda itu tetap ngeyel, katanya jenuh di rumah seharian tanpa melakukan apa-apa. Jadi, Arga pun membiarkannya. Selama Wulan tidak terlalu kelelahan, ia tidak ingin mempermasalahkan hal tersebut.Jam menunjukkan pukul sebelas siang, kue d
"Chat semalem bukan chat orang nyasar, kan? Tapi chatnya Mas Burhan, atau mungkin chat istrinya?!"Kalimat pertanyaan yang diucapkan Wulan membuat Arga menghela napas panjang. Sepertinya memang tak ada gunanya ia menutupi semua itu dari Wulan, karena wanita itu sudah bisa menebaknya dengan benar. Arga terdiam. Tatapan matanya turun ke meja makan, sedangkan pikirannya kembali teringat pada pesan Burhan yang sejak semalam memenuhi isi kepalanya.Melihat reaksi yang ditunjukkan Arga, Wulan memejamkan matanya sesaat dan menggeleng pelan."Iya kan, chat yang kamu bilang chat orang nyasar itu dari Mas Burhan. Chat apa dia ke kamu?" lanjut Wulan, mendesak Arga agar menceritakan semua padanya.Arga yang ditanya tetap tak menjawab. Ia justru beranjak dari duduknya dan melangkah pergi menuju kamar.Di kursinya, Wulan hanya menatap punggung Arga yang menghilang ditelan pintu. Ia tak memanggil ataupun menegur sang mantan adik ipar. Karena ia tahu dan sudah bisa menebak apa yang dilakukan Arga di
Usai drama tempe gosong, Arga dan Wulan pun sarapan bersama. Kini sepasang anak manusia yang usianya terpaut cukup jauh dan menjalin hubungan ilegal sarapan bersama.Aroma masakan Wulan memenuhi seantero ruangan sederhana tersebut, bahkan mungkin tercium hingga ke hidung tetangga kontrakan sebelah. Kedua anak manusia itu duduk berhadapan, menikmati isi piring masing-masing. Sesekali, Arga mengangkat wajahnya dan menatap Wulan yang makan tanpa suara. Lalu, beralih pada sepotong sambal terong yang ada di dalam piringnya.Pandangan Arga tertahan beberapa detik pada potongan terong sambal tersebut.Dan tiba-tiba saja, pemuda itu terkikik geli, hingga Wulan yang sedang menikmati makanannya itu pun menatap sang mantan adik ipar yang cekikikan seperti kerasukan roh. "Ga, kamu kenapa? Kok medeni sih? Nakutin, tiba-tiba ketawa kayak gitu?!" kata Wulan, menegur Arga yang duduk di kursi seberang meja.Kening Wulan langsung berkerut. Ia bahkan langsung menghentikan gerakan tangannya yang henda







