Home / Romansa Pria / Ajari Aku, Mbak Ipar! / 88. Ajari Aku, Mbak!

Share

88. Ajari Aku, Mbak!

Author: MoonCake
last update publish date: 2026-08-24 22:39:43

"Mbak, ada kondom nggak?"

Pertanyaan yang dilontarkan Arga pada kasir wanita di supermarket tersebut membuat mata Wulan spontan mendelik lebar.

Wajah wanita berparas ayu itu memerah seperti kepiting rebus. Tangannya refleks mencubit pinggang Arga dengan sangat keras. Ia benar-benar tidak menyangka pemuda itu akan menanyakan benda seperti itu dengan santainya di tempat ramai.

"Argantara...." sebut Wulan dengan suara tertahan dan mata yang masih saja mendelik.

Dicubit keras pinggangnya oleh Wulan
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   243. Ajari Aku, Mbak!

    "Ngehh... Sa-sa-sayang, ada bos kamu, lho, di luar."Perkataan bernada pelan Wulan yang sengaja ditahan membuat Arga langsung menghentikan permainannya. Pemuda itu lalu menatap wajah memerah istrinya.Keningnya berkerut, alisnya bertautan, dan matanya menyipit. Sedangkan deru napasnya memburu dan dadanya naik turun dengan cepat."Bosku, Mbak Mira maksud kamu?" tanya Arga. Suaranya yang serak kini bernada pelan."Eum, iya. Perempuan yang waktu itu datang ke sini, ngasih kamu motor," kata Wulan dengan pelan. Lalu menggigit bibir bawahnya kuat-kuat seraya meremas erat pahanya sendiri.Setelah mendengar perkataan Wulan, Arga kembali memajukan wajahnya dan menggumul tubuh indah istrinya yang amat menggoda.Pemuda itu menciumi wajah dan leher Wulan, bahkan menjilat dan mengecup daun telinganya."Ugh... udah dong, Ga. Didengar sama Mbak Mira," kata Wulan, meminta Arga menghentikan permainan gilanya.Bibir wanita itu memang menolak, tetapi tubuhnya justru berkhianat. Bahkan, kedua tangannya m

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   242. Ajari Aku, Mbak!

    "Yang, di mana? Kok keluar sih? Kan aku udah bilang tadi, aku minta dikelonin!"Kalimat pertanyaan yang hendak dilontarkan oleh Mira seketika terjeda. Wanita itu menoleh dan menatap ke arah pintu kamar yang terbuka lebar, di mana asal suara serak Arga berada.Wulan yang duduk di hadapan Mira seketika menjadi salah tingkah. Wajahnya memerah lantaran malu pada Mira yang mendengar perkataan Arga."Mbak Wulan....""Iya, Ga. Aku di depan!" sahut Wulan sembari bangkit dari duduknya. "Mbak, saya ke dalam dulu sebentar. Arga kebiasaan nyariin saya kalau bangun tidur!" katanya dengan wajah semakin memerah.Cepat-cepat, Wulan yang merasa malu pada Mira melangkah menuju kamar, menghampiri Arga yang bertingkah seperti bocah.Sepeninggalan Wulan, Mira mengusap pahanya sendiri. Mendengar suara Arga yang serak khas bangun tidur, Mira justru merasa jika suara pemuda itu terdengar begitu menggoda.Namun, panggilan 'Mbak Wulan' yang disebutkan Arga sebelumnya membuat Mira menjadi semakin yakin bahwa wa

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   241. Ajari Aku, Mbak!

    Jam menunjukkan pukul sepuluh siang, Arga yang semalaman bekerja di klub, belum bangun dari tidurnya. Pemuda itu tampak begitu lelap di tengah-tengah kasur dengan bagian atas tubuhnya bertelanjang dada. Kipas angin di kamar tersebut menyala dalam mode full. Sedangkan Wulan baru saja selesai mandi setelah berkutat dengan rutinitas biasanya di pagi hari. Mulai dari beberes, mencuci pakaian, dan juga menyiapkan menu masakan untuk Arga makan saat bangun tidur nanti. Di saat Wulan baru saja selesai mengikat rambutnya, pintu kontrakan tersebut diketuk-ketuk dengan pelan dari luar. Meskipun pelan, tetapi terdengar jelas di telinga Wulan lantaran kontrakan tersebut begitu hening. Tuk, tuk! "Sebentar!" sahut Wulan sembari beranjak dari duduknya dan meletakkan sisir yang ada di tangannya ke lantai pinggiran kasur. Wanita bertubuh seksi dan berparas cantik itu keluar dari kamar. Ia berjalan menuju pintu dengan langkahnya yang lebar. Selanjutnya, memutar kunci lalu menarik gagang pin

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   240. Ajari Aku, Mbak!

    "Munafik, perempuan murahan, lonte!"Plak!Tamparan keras telapak tangan Mira kembali melayang untuk kedua kalinya ke wajah Amelia. Emosinya sudah benar-benar tidak bisa ditahan, ia geram dikata-katai oleh Amelia.Selama ini Mira selalu menganggap Amelia sebagai teman sekaligus saudaranya. Tetapi apa yang dilakukan Amelia? Hanya karena obsesinya pada seorang pria yang sudah beristri, ia justru nekat melakukan apa saja dan memusuhi orang-orang yang ada di sekitarnya."Aku nggak segila dan senekat kamu, Mel. Aku juga bukan perempuan yang berani berbuat curang buat dapetin perhatian suami orang. Dari sini jelas, siapa yang lebih murahan!"Plak!Amelia membalas tamparan Mira tak kalah keras.Adu mulut kedua wanita itu kini berujung adu kekerasan. Di dalam ruangan tersebut, Amelia menjambak rambut Mira yang bertubuh sedikit lebih pendek darinya."Aku tahu semalam kamu dan Arga ngabisin waktu berduaan di kamar ini, kan?" kata Amelia dengan suara tertahan. Tangannya menjambak kuat rambut Mir

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   239. Ajari Aku, Mbak!

    "Astaga, muka Mbak Mira kenapa?"Arga yang memasuki ruangan pribadi Mira, dibuat terkejut saat melihat wajah wanita pemilik klub Happy Fun tempatnya bekerja.Bagaimana tidak terkejut? Wajah mulus Mira kini terdapat tanda lima jari, bahkan sudut bibirnya mengalami lebam kebiruan."Siapa yang mukulin Mbak Mira? Kenapa sampai biru kayak gini? Ke mana petugas keamanan dan penjaga yang tugas? Bisa-bisanya biarin Mbak Mira dipukulin!" kata Arga sembari menyentuh bahu Mira dan memeriksa bagian tubuh wanita itu.Melihat kecemasan di wajah Arga, Mira tersenyum geli. Lalu, ia mendorong pelan tangan Arga yang memegang bahunya."Aku nggak apa-apa, Ga. Tadi siang abis ribut sama Amelia," kata Mira dengan santai.Beberapa jam sebelumnya, tepatnya pada pukul satu siang, Amelia mendatangi klub tersebut bersama Gatot dan kedua temannya.Penjaga klub sudah melarang Amelia untuk masuk, tetapi wanita yang menyandang status janda itu keukeuh ingin masuk dan menerobos."Saya mau ketemu Mira. Kalau kalian t

  • Ajari Aku, Mbak Ipar!   238. Ajari Aku, Mbak!

    "Jadi gitu ceritanya, Sayang. Aku beneran nggak nyebarin video itu. Cuma Bu Erna yang aku kasih tahu!"Arga yang duduk di atas karpet itu menceritakan semuanya pada Wulan yang berdiri di hadapannya. Ekspresi wajahnya terlihat santai dan tenang, bahkan berbicara sambil mengunyah emping goreng di dalam mulutnya."Bukan aku yang nyebarin, tapi Bu Erna!" lanjut Arga seraya menyengir kuda.Mendengar cerita Arga, Wulan geleng-geleng kepala. Lalu, ia menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya perlahan."Kamu sengaja kan ngasih tahu Bu Erna, karena kamu tahu kalau dia biang gosip yang nggak bisa jaga rahasia. Huh ... kamu pikir aku nggak tahu apa isi otak kamu itu!"Arga yang semula hanya menyengir kuda kini terkekeh-kekeh. Membenarkan perkataan istrinya.Pemuda itu memang sengaja. Ia ingin membalas Bu Nur yang sudah berkali-kali menyakiti Wulan dan menjatuhkan mentalnya dengan kata-kata menyakitkan.Sekarang, wanita julid itu mendapatkan balasan, menuai karma atas apa yang pernah ia lakuk

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status