LOGINBOOK 1: Seducing The Gay CEO BOOK 2: Akitin Ang Fiance Kong Tomboy We already witnessed the cute roller coaster love story of Zachary Villanueva and Gillian Guzman in SEDUCING THE GAY CEO. Pinatawa, pinasaya, at pinaiyak tayo ng STGC, finally the wait is over, mga ka STGC readers, let’s all welcome the story of their son, Earl Zach Villanueva. Earl Zach was now ready to make us feel the butterflies in our stomachs and set the standard. Earl Zach Villanueva, a.k.a. Zacky, is the eldest son of Zachary Villanueva. He gets almost everything he wants in life. At his young age, his father already trusted him with the whole company, but there was a private property island that he wanted to get, but he couldn't get it because it was owned by his dad's friend. So when his father's friend asked for help to let his daughter be engaged with him, he immediately agreed. Zacky doesn't believe in love, so it's not up to him to marry anyone. He has never seen his daughter because she grew up in the province, but the desire to get that island pushed him to do that. Arranging a marriage with that girl is easy, but he is so shocked and challenged at the same time when he hears something about that girl. The person who will be engaging with him is a tomboy. "Seduce her and make her a straight woman, and if you do that, the island you want from Palawan will be yours." Those are the words that his father's friend said to him. Makakaya kaya ni Zacky na gawing tunay na babae ang mapapangasawa niya na isang pusong lalake?
View MoreAku masih ingat betul hari-hari pertama setelah pernikahan kami. Rumah kontrakan kecil di pinggiran kota itu terasa hangat, meski hanya ada satu kamar tidur, dapur mungil, dan ruang tamu yang nyaris tak cukup untuk menampung dua orang. Tapi aku dan Dion merasa itu sudah cukup.
Dion muda, penuh semangat, kadang keras kepala, tapi selalu tahu bagaimana membuatku tersenyum. Aku, dengan sifat pekerja keras dan mandiri, merasa cocok dengannya. Kadang ego kami bentrok, tapi selalu ada ruang untuk tawa. Malam-malam pertama kami di rumah ini, kami makan mie instan di lantai, bercanda tentang mimpi-mimpi yang terlalu besar untuk ukuran rumah kecil kami. “Kalau nanti kita punya rumah yang lebih besar,” kata Dion sambil menyeruput kopi panas, “aku nggak janji bisa seindah ini, tapi setidaknya kita bisa duduk tanpa khawatir jatuh dari kasur.” Aku tertawa, menatap wajahnya yang bercahaya di lampu temaram. “Aku cuma ingin kita bahagia. Aku nggak butuh apa-apa lagi.” Dia menggenggam tanganku erat. “Kamu cukup. Kamu selalu cukup.” Aku menelan senyum. Kata-kata itu terasa manis, janji yang menenangkan hati. Waktu itu, aku merasa semua akan baik-baik saja. “Jangan berubah ya, Dion,” bisikku pelan. Dion menatapku sambil tersenyum kecil. “Kalau aku berubah, tolong ingatkan. Aku nggak mau kehilangan kita yang seperti ini.” Pekerjaan juga terasa ringan meski gaji tidak terlalu besar. Aku bekerja sebagai admin di perusahaan real estate perumahan. Pekerjaan yang kadang membuatku lelah, tapi aku menikmatinya karena aku merasa berguna dan mandiri. Dion bekerja di perusahaan beton sebagai staff labor, penghasilan sesuai UMR, tapi cukup untuk kebutuhan awal kami. Kami sering mengatur uang dengan cermat. Setiap kali gaji datang, kami duduk bersama, menghitung pengeluaran, menabung sedikit demi sedikit. Kadang aku dan Dion bertengkar soal uang, tapi selalu berakhir dengan tawa atau kompromi. Aku merasa aman. Aku merasa Dion adalah teman sekaligus pasangan hidup yang mengerti jalannya. “Dion, kalau gaji kamu nanti naik, kita bisa mulai nabung buat rumah ya,” kataku suatu malam sambil mencatat pengeluaran. Dia mengangkat alis sambil tersenyum lelah. “Naik aja belum tentu, tapi doain aja. Kalau nggak naik, ya kita naik semangatnya dulu.” Aku mendengus, lalu tertawa kecil. “Kamu memang paling bisa bikin kalimat motivasi dadakan.” Hubungan dengan keluarga masing-masing juga hangat. Ibuku, Tari, selalu mengingatkan agar aku sabar dan menjaga rumah tangga. Ayahku, Zen, meski berwibawa dan sedikit keras, selalu memberi nasihat bijak. Kakak-kakakku, Rahma, Raka, dan Ratna, perhatian dan humoris, selalu membuatku tersenyum. Keluarga Dion juga baik. Ibu Sari selalu ramah padaku, seperti ibu sendiri, meski awalnya aku merasa canggung. Ayah Dion, Agus, tegas dan keras, tapi aku belajar menghormati pendiriannya. Adik-adik Dion , Tika, dan Diaz masing-masing punya sifat berbeda, tapi mereka baik dan selalu membuat rumah menjadi hidup. “Aku senang keluargamu baik sama aku,” kataku suatu sore setelah pulang dari rumah ibu Dion. Dion menatapku, sambil menepuk pundakku. “Kamu juga bikin mereka nyaman, Din. Ibu bilang kamu nggak banyak tingkah, itu pujian besar loh.” Aku tertawa pelan. “Berarti aku lulus jadi menantu ya?” “Lulus, dengan predikat istimewa,” jawabnya sambil tersenyum bangga. Kami menikmati kebersamaan sederhana. Sabtu pagi biasanya kami jalan-jalan ke pasar, membeli sayur, lauk, atau jajanan untuk Dinda yang saat itu masih dalam kandungan. Aku sering bercanda dengan Dion, “Kalau kamu sibuk kerja, jangan lupa tetap bawa aku senyum ya.” Dia tersenyum, menggenggam tanganku, “Tenang, aku nggak akan lupa.” Aku menatapnya lama. “Janji ya?” “Janji,” jawabnya lirih, menatapku penuh keyakinan. “Aku kerja buat kamu dan Dinda. Itu aja yang aku tahu.” Momen-momen itu sederhana, tapi penuh kebahagiaan. Aku merasa setiap pengorbanan dan lelahnya kerja sepadan, karena aku tahu ada Dion di sampingku, dan suatu hari nanti, kami akan melihat semuanya indah dengan cara kami sendiri. Kehidupan terasa sempurna, seolah tak ada badai yang akan datang tapi justru di sanalah awal perubahan itu menunggu.Kinabukasan ay hindi ko siya matignan. Hindi ko alam kung anong iisipin ko at gagawin pagkatapos ng naging usapan namin.Dahil wala kaming gagawin sa umaga, naisip kong umalis para dalawin si Kuya. Sinama mo si Alie habang si Zacky ay naiwan. We almost spent our time there for 3 hours bago umuwi.“A-Ako na ang mag-aayos nito at ako na rin maghuhugas,” utal na sambit ko sa kanya nang matapos kaming kumain ng tanghalian. Alie went back to her room after she ate, kaya dalawa lang kami ang natira rito.“Ako na rito,” he just said and also didn't look at me.“Pero ikaw na naman ang nagluto—”“Hello, everyone!” Napapikit ako nang marinig ang boses ni Boduy. Bago pa makapagsabi o gumawa ulit ng kung anong maisip niya, hinarap ko na siya at hinila paalis doon, leaving Zacky at the dining table.“Wala ka bang trabaho? Pakiramdam ko sayang lang sinasahod mo kasi puro pang-aasar lang ang ginagawa mo,” sarkastikong ani ko.“Grabe ka naman sa akin. May pinuntahan ako malapit rito na parte ng traba
Gusto kong lumayo, pero hindi ko mautusan ang katawan ko. I suddenly felt safe in his arms. Amoy ko rin ang alak sa kanya, pero hindi iyon naging masama sa ilong ko.I let him hug me. I could also hear his breathing. Ilang sandali ay naramdaman ko ang pagluluwag ng yakap niya. Akala ko ay lalayo siya, but I felt him holding me para iharap sa kanya.Nagtama ang tingin namin. Mapungay ang mata niya siguro ay dahil sa alak na nainom niya.“Lasing ka na. You should go upstairs,” mahinahong sambit ko at sinubukang dumaan sa gilid, pero hindi niya ako hinayaan.Halos manlambot ako nang hawakan niya ako sa bewang at haplusin iyon.“Maliban sa kaya mo ng mag-drive, what else has changed about you?” Mahinahong tanong niya sa akin habang nanatili sa harap ko. Hindi niya pinansin ang sinabi ko.Naisandal ko ang katawan ko sa sink dahil sa panghihina nang mas lumapit siya sa akin. I can smell the beer in his breath sa sobrang lapit namin.“Gusto kong malaman ang mga bagay na nag-iba sa'yo. Lahat-
“I don't know why he needs to say that. Para saan? Liligawan niya si Alie bago ako? What the hell does that mean?” Si Boduy ang una kong tinawagan dahil parang nababaliw na ata ako kakaisip sa naging huling usapan namin.Nasa site na kami. We had done checking the site and all, at kasalukuyan na silang nagmemeryenda. I just excused myself because I really can't take this anymore! Kanina todo asikaso rin siya kay Alie na talaga namang nagpapamangha kay Alie.“Seryoso? Ang bilis naman ata niyang bumigay. Nalaman niya lang single ka, binabakuran ka na agad,” I heard that from Boduy na nagpanguso sa akin.“I really just can't get everything—”“Obvious na nga hindi mo pa makuha? Teka. Hindi naman pwedeng madali lang para sa kanya! Aabsent ako ngayon at pupunta ako diyan. Patayin natin sa selos ang lalaking iyan,” he suddenly said and before I could say something, namatay na ang tawag.Napakurap-kurap ako at parang mas lalo akong naguluhan pagkatapos naming mag-usap. At ano raw? Pupunta siy
Kinabukasan ay halos hindi ko alam ang gagawin sa nadatnan sa dining table.“No! I don't want any of that! I want bacon!” Si Alie habang masungit na nakatingin sa ama niya.“We don't have bacon here—”“Then I'm not going to eat. I'll just wait for Tito Boduy so that we can eat outside with Mommy. We'll just go on a date outside like a whole family,” she said at nakapamaywang pa habang nakikipagtalo sa ama niya. Habang si Zacky ay mukhang natataranta at namumutla.“Alie, what are you doing?” Hindi ko naitago ang pagkagalit sa boses ko at lumapit sa kanila.“Mommy, don't eat anything! I am going to call Tito Boduy and tell him we are going to eat outside. You know, a date with him because soon, he will be part of our family!” Deklara niya na talaga namang nagpasakit sa ulo ko.“Natalie,” mariing tawag ko ulit. “Your Da—Tito Zacky cooked breakfast for us. You should—”“It's fine. Aalis na lang ako saglit para bumili ng bacon,” Zacky suddenly said na ikinaawang ng labi ko. Bago ko pa siya
“Oh, you are going somewhere?” I glanced at the door when I heard that. Dad and Mom looked at Luigi when they also heard him.They were the first to greet Luigi, and Luigi greeted them back. After that, Luigi looked at me again and smiled at Alie, who was already ready to leave the house.“Wala po ako
“Sabing ayos lang ako,” sambit ko at buong lakas na hinila ang kamay ko sa kanya nang tuluyang mahugasan ang kamay ko.I heard his sigh.“Pupunta na ako sa taas, mamaya ko na lang tapusin yan,” sambit ko na lang, pero inisang hila niya ang kamay ko at isinandal sa lababo.Hindi ko alam kung bakit siyan
Ilang malalalim na buntong-hininga ang pinakawalan ko habang nagtitipa sa laptop ko. Wala akong nagawa kundi sundin ang lahat ng utos niya. He is seriously working on his laptop, and I was also busy working on my own laptop. Sinabi niya kung ano ang babaguhin at mukhang matatapos ito ng lagpas alas
“Mommy, is he playing basketball? What is his hobby? Does he have many jerseys?” Walang katapusang tanong ni Alie sa akin habang nilalagay ko sa taas ang mga maleta namin.Kanina pa siya tanong ng tanong nang nasa bahay pa kami. I can also see how curious she is. Maya't maya ang pagtatanong na para b






Maligayang pagdating sa aming mundo ng katha - Goodnovel. Kung gusto mo ang nobelang ito o ikaw ay isang idealista,nais tuklasin ang isang perpektong mundo, at gusto mo ring maging isang manunulat ng nobela online upang kumita, maaari kang sumali sa aming pamilya upang magbasa o lumikha ng iba't ibang uri ng mga libro, tulad ng romance novel, epic reading, werewolf novel, fantasy novel, history novel at iba pa. Kung ikaw ay isang mambabasa, ang mga magandang nobela ay maaaring mapili dito. Kung ikaw ay isang may-akda, maaari kang makakuha ng higit na inspirasyon mula sa iba para makalikha ng mas makikinang na mga gawa, at higit pa, ang iyong mga gawa sa aming platform ay mas maraming pansin at makakakuha ng higit na paghanga mula sa mga mambabasa.
reviewsMore