Share

Aku Bangkit dari Lembah Neraka
Aku Bangkit dari Lembah Neraka
Penulis: Rempeyek garing

1.

Penulis: Rempeyek garing
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-01 11:58:01

Malam itu sunyi. Angin gunung hanya berhembus pelan melewati pepohonan bambu di sekitar Paviliun Selatan, tempat terpencil yang jarang dikunjungi murid Sekte Batu. Di sanalah Ling Xuan, murid jenius yang dulu dielu-elukan, tengah duduk bersila di tengah ruangan.

Ling Xuan dikenal sebagai murid paling berbakat di generasinya. Dalam usia dua puluh lima tahun, ia sudah menembus lapisan keenam jurus Api Dalam Batu, teknik dasar sekte yang terkenal sulit dan berbahaya. Banyak orang percaya, hanya tinggal selangkah lagi sebelum ia menjadi murid pewaris langsung kepala sekte.

Namun malam itu, bukan kebanggaan yang memenuhi dirinya. Melainkan panas yang membakar dari dalam.

Keringat menetes dari pelipisnya. Napasnya berat dan tersengal. Tubuhnya seolah dipanggang dari dalam, hawa panas mengalir deras di setiap urat. Api Dalam Batu memang menguatkan tubuh, tapi di lapisan ketujuh... sedikit saja salah kendali, tubuh bisa terbakar dari dalam.

Pakaiannya sudah basah kuyup oleh keringat. Dengan wajah menegang, ia akhirnya melepas baju bagian atas, membiarkan udara malam menyentuh kulitnya yang panas. Dada bidangnya naik-turun cepat, ototnya tegang karena menahan aliran energi yang belum seimbang.

Tiba-tiba, aroma manis menyengat masuk ke hidungnya. Aroma yang asing.

Ling Xuan membuka mata. “Apa ini…?”

Udara di sekitar berubah hangat, lalu panas, lalu mengalirkan sensasi aneh yang membuat darahnya mendidih bukan karena latihan. Ia segera tahu, ini bukan hawa alami.

Seseorang telah menyebarkan racun.

Belum sempat ia berdiri, tirai sutra di sudut ruangan tersibak. Seorang gadis jatuh tersungkur rambut panjangnya terurai, wajahnya merah seperti terserang demam tinggi.

Bai Yuer.

Putri kepala sekte, sekaligus murid perempuan yang paling dihormati di seluruh Sekte Batu. Lembut, disiplin, dan nyaris sempurna dalam semua hal. Namun malam itu, ia terlihat kacau. Matanya kabur, napasnya memburu, dan hawa panas aneh memancar dari tubuhnya.

“Putri Bai Yuer!” Ling Xuan segera menghampiri. Ia mengangkat dan menahan tubuh gadis itu agar tidak terjatuh ke lantai.

Saat tangannya menyentuh kulitnya, hawa panas luar biasa mengalir di antara mereka.

“Racun... Gairah Naga Merah,” gumamnya lirih.

Ia mencoba menyalurkan energi dingin untuk menstabilkan racun, tapi teknik yang ia kuasai, Api Dalam Batu justru bereaksi sebaliknya. Tubuhnya memanas, darahnya bergejolak, dan hawa panas di antara keduanya semakin kuat.

Bai Yuer menggeliat lemah di pelukannya. Matanya terbuka setengah, menatap Ling Xuan dengan tatapan yang campur aduk antara bingung, lelah… dan rindu.

“Ling Xuan...?” bisiknya. “Benarkah ini Ling Xuan?”

Ling Xuan menatapnya dalam diam. “Ya...”

Bai Yuer mengangkat tangannya pelan, menyentuh sisi wajah Ling Xuan. Sentuhan itu ringan, namun cukup untuk membuat jantungnya berdebar lebih keras.

“Kalau ini racun… kenapa hatiku terasa tenang?” bisiknya.

Lalu, sebelum Ling Xuan sempat berkata, Bai Yuer mendekat. Bibirnya menyentuh bibir Ling Xuan. Hangat, lembut, dan jujur. Sebuah ciuman yang tak hanya datang dari racun. Tapi karena ia benar-benar takut ini mungkin satu-satunya kesempatan yang ia punya.

Ciumannya hangat, pelan, dan jelas penuh perasaan. Tapi bersamaan dengan itu, ada rasa sedih yang tidak bisa ia sembunyikan.

Air matanya turun begitu saja. Tubuh Bai Yuer gemetar, ia tahu situasinya kacau… dan ia mungkin tidak akan sempat mengatakan apa yang ia rasakan selama ini.

Ling Xuan bisa merasakan napas Bai Yuer yang tidak stabil. Dan di tengah itu, ia mendengar suara lirih yang nyaris hilang.

“Seandainya semua ini terjadi… bukan dengan cara seperti ini…”

Namun tepat saat itu—

BRAK!

Di saat paling buruk, pintu paviliun terbuka keras.

Beberapa murid senior dan tetua berdiri di ambang pintu. Mata mereka terbelalak melihat pemandangan di depan mereka. Ling Xuan tanpa baju, memegangi Bai Yuer yang terkulai di pelukannya dengan wajah merah dan napas berat.

Hening...

Lalu seseorang berteriak histeris, “Ling Xuan… menodai putri kepala sekte!”

Suara itu menggema di malam sunyi. Dan sejak saat itu, tak ada lagi yang percaya pada kebenaran yang sebenarnya.

Keesokan paginya, seluruh Sekte Batu geger.

Desas-desus tentang pendosa di Paviliun Selatan menyebar lebih cepat daripada api di musim kemarau. Tiap sudut halaman, tiap kelompok murid, semua membicarakan hal yang sama. Nama Ling Xuan disebut dengan nada jijik dan tidak dipercaya.

Di ruang utama sekte, Majelis Tetua berkumpul. Kepala sekte duduk di kursi batu hitam di tengah ruangan, wajahnya kelam. Di hadapannya, Ling Xuan berlutut dengan tangan terikat, masih berlumur noda darah kering di ujung bibir. Sisa pergulatan semalam saat ia mencoba menjelaskan diri dan ditahan paksa.

“Bai Yuer masih belum sadar penuh,” ujar salah satu tetua, suaranya berat. “Namun racun di tubuhnya telah terkonfirmasi. Racun itu bereaksi terhadap panas, dan satu-satunya orang dengan energi Api Dalam Batu di tempat itu adalah kau, Ling Xuan.”

Ling Xuan menunduk, menahan napas. “Yang Mulia Tetua… racun itu sudah ada sebelum aku datang. Aku tidak tahu siapa—”

“Cukup!” suara kepala sekte memotong tajam. “Kau ditemukan tanpa pakaian, di ruangan yang sama dengan putriku yang hampir kehilangan kesadaran! Kau pikir kami masih butuh alasan lain?”

Suasana membeku.

Di tengah keramaian, dua sosok berdiri sedikit ke belakang. Zhou Han dan Lan Ruo.

Zhou Han, murid senior yang terkenal kalem dan bijak, memasang wajah kecewa yang meyakinkan. Ia maju satu langkah, menunduk hormat, lalu berkata dengan nada tenang tapi menusuk,

“Kepala sekte, izinkan saya bersaksi. Saya dan Lan Ruo melihat Ling Xuan masuk ke Paviliun Selatan malam itu, padahal tempat itu dilarang untuk latihan pribadi tanpa izin.

Lan Ruo, yang statusnya masih sebagai kekasih Ling Xuan di sebelahnya menggigit bibir, menunduk dalam-dalam. Matanya berair, suaranya bergetar, sangat meyakinkan bagi siapa pun yang mendengar.

“Saya... saya juga melihatnya, Guru. Saya bahkan menegurnya sebelumnya. Tapi dia bilang hanya sebentar. Aku tidak tahu kalau... kalau ini yang akan terjadi.”

“Lan Ruo...” Ling Xuan menatapnya, matanya lebar, tidak percaya. “Kau tahu aku tidak—”

Tatapan gadis itu bergetar, namun ia tidak berani menatap balik. Di balik wajah sedihnya, ada rasa takut... dan rasa bersalah yang dengan cepat ia tekan agar tak terlihat. Tangannya yang menggenggam jubah Zhou Han sedikit gemetar, dan Zhou Han meremasnya pelan, seolah menguatkan.

“Maafkan aku, Ling Xuan...” bisik Lan Ruo lirih, tapi cukup keras untuk terdengar semua orang.

“Aku... tak bisa membelamu.”

Bisikan itu jatuh seperti pisau ke dada Ling Xuan.

Segala suara lain mendadak lenyap. Dunia terasa berguncang, tapi tubuhnya tetap diam di tanah, menatap kosong ke lantai batu.

Zhou Han menatap kepala sekte lagi, nada suaranya lembut dan tegas.

“Sekte kita harus menjaga kehormatan, Guru. Jika tidak ada tindakan tegas, seluruh dunia persilatan akan menertawakan kita.”

Ucapan itu menjadi paku terakhir. Kepala sekte mengangguk pelan. “Benar... kehormatan Sekte Batu tak boleh ternoda.”

Ia berdiri. Tatapan marah dan kecewa bercampur menjadi satu di wajahnya. “Ling Xuan, mulai hari ini, gelar dan hakmu sebagai murid inti dicabut. Kekuatanmu akan disegel, dan kau akan dibuang ke Lembah Neraka Batu. Jika kau benar tak bersalah, biarlah langit sendiri yang menjadi saksi dan menolongmu.”

Beberapa murid menunduk. Sebagian menatap dengan jijik. Hanya Zhou Han yang tersenyum puas.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Komen (1)
goodnovel comment avatar
Sabam Silalahi
makin seru
LIHAT SEMUA KOMENTAR

Bab terbaru

  • Aku Bangkit dari Lembah Neraka   57. Dikucilkan

    Keheningan di alun-alun tidak langsung pecah.Para murid perlahan kembali ke kegiatan masing-masing, seolah apa yang baru saja terjadi hanyalah ujian rutin. Namun jarak yang terbentuk di sekitar Ling Xuan tidak ikut memudar. Justru sebaliknya, ia menjadi jelas.Sekte Pohon tidak membutuhkan pengumuman untuk mengambil sikap. Pada hari itu, Ling Xuan ditempatkan terpisah.Ia tidak diusir, dan tidak pernah dinyatakan bersalah. Tidak ada nama hitam, tidak ada teguran. Di atas kertas, Ling Xuan tetap murid Sekte Pohon.Namun jalur yang ia lalui berbeda.Tempat tinggalnya berada di tepi wilayah murid, dekat kebun obat lama yang jarang disentuh. Jadwal kultivasinya tidak pernah bentrok dengan murid inti. Ketika ia datang ke aula pembelajaran, bangku di sekitarnya selalu kosong, seolah ada kesepakatan diam yang tak pernah dibicarakan.Bukan permusuhan. Lebih tepatnya… dikucilkan.Ling Xuan merasakannya dengan jelas. Ini bukan pertama kalinya.Dulu, di Sekte Batu, ia pernah berdiri di tengah k

  • Aku Bangkit dari Lembah Neraka   56. Masuk Sekte Pohon

    Di lembah pemulihan bagian dalam Sekte Pohon, Ling Rou terbaring tenang di atas ranjang kayu roh.Napasnya mengalun pelan seiring cahaya hijau lembut yang berdenyut di dadanya, sementara Ling Yue duduk di sisinya tanpa bergerak, menggenggam tangan adiknya seolah takut jika dilepas sedikit saja kehidupan itu akan kembali menjauh.Kabut tipis menyelimuti lembah, menahan suara dunia luar, dan jauh di balik pepohonan roh yang berbisik pelan, Ling Xuan telah melangkah ke wilayah murid Sekte Pohon, meninggalkan adiknya dalam perlindungan alam demi menghadapi jalannya sendiri yang kini jauh lebih sunyi dan tajam.Gerbang Sekte Pohon terbuka tanpa suara. Dua batang pohon raksasa berdiri berhadap-hadapan, akarnya menembus tanah seperti urat nadi dunia. Di antara keduanya, kabut hijau tipis mengalir perlahan, membawa aroma tanah basah dan daun tua.Ling Xuan melangkah masuk.Tidak ada terompet penyambutan. Tidak ada sorak murid. Bahkan tidak ada tatapan penasaran yang terang-terangan.Yang ada

  • Aku Bangkit dari Lembah Neraka   55. Tingkah anak muda

    Namun sudah terlambat.Tekanan lenyap, dan mereka semua terhempas mati. Langit kembali cerah.Proyeksi bayangan runtuh menjadi serpihan hitam yang menguap.Hutan terdiam.Mu Qinghe berdiri perlahan.Ia menatap dua murid muda di hadapannya, dengan ekspresi seseorang yang baru saja menyaksikan sejarah lahir.“…Langit benar-benar gila,” gumamnya.Ia tertawa kecil, kelelahan bercampur kekaguman.“Aku pikir aku hanya menyelamatkan satu nyawa.”Ia menatap Ling Xuan dan Bai Yuer.“Ternyata… aku membangunkan takdir.”Cahaya di sekitar Ling Xuan dan Bai Yuer perlahan meredup.Mereka saling menatap.Untuk sesaat, dunia terasa sunyi.Akar-akar yang retak perlahan menutup. Tunas-tunas hijau tumbuh di tanah yang hangus, seolah luka alam dipaksa untuk sembuh lebih cepat dari seharusnya.Ling Xuan berdiri terdiam.Tubuhnya sudah pulih jauh lebih baik, namun dadanya terasa kosong. Seolah sesuatu yang hangat tadi… masih tertinggal, namun tidak lagi menyelimuti.Di hadapannya, Bai Yuer berdiri membelak

  • Aku Bangkit dari Lembah Neraka   54. Melihat keadaan sang murid

    Akar hijau kembali menjalar di dalam klinik, membentuk kubah pelindung. Lapisan qi kehidupan menyatu rapat, memisahkan ruangan dari dunia luar, menahan setiap gangguan, suara, dan aura berbahaya.Mu Qinghe berdiri di sisi ranjang Ling Rou, menatap wajah gadis itu yang kini telah memiliki rona hidup.Ia mengangkat tangan, menekan ringan kening Ling Rou. Cahaya hijau lembut meresap, membuat napas gadis itu semakin teratur.Ling Yue menahan napas. “Kakek Tabib…”Mu Qinghe menoleh sedikit, sorot matanya tajam namun hangat.“Hanya sebentar,” katanya tenang. “Tunggulah di sini. Jangan keluar dari perisai ini apa pun yang terjadi.”Ia melangkah mundur satu langkah, lalu menatap ke arah luar, seolah bisa menembus dinding dan jarak.“Kakek tua ini,” lanjutnya pelan, namun ada tekanan yang tak bisa disembunyikan, “akan memeriksa keadaan muridnya.”Sebelum Ling Yue sempat berkata apa-apa, tubuh Mu Qinghe memudar. Ia menyatu dengan aliran kehidupan, berpindah melalui akar, tanah, dan nadi dunia.

  • Aku Bangkit dari Lembah Neraka   53. Penyembuhan Ling Rou

    Akar hijau berkilau menembus lantai klinik seperti urat nadi raksasa. Cahaya kehidupan menyebar, menekan bau obat pahit dan darah yang memenuhi ruangan.Mu Qinghe tidak membuang waktu.Begitu kakinya menyentuh lantai, ia sudah berada di sisi ranjang Ling Rou.“Meridian jantung runtuh. Qi menipis. Racun obat sudah menyatu dengan darah,” gumamnya cepat. Tangannya bergerak tanpa jeda, menekan beberapa titik akupuntur di dada dan perut Ling Rou. Cahaya hijau menyala di ujung jarinya, masuk ke tubuh gadis itu seperti aliran hangat.Ling Rou tersentak. Napasnya tersendat.Mu Qinghe tidak berhenti. Ia mengangkat kedua tangan, membentuk segel hidup. Akar-akar di lantai bergerak, menjalar ke arah ranjang, lalu berhenti beberapa jengkal dari tubuh Ling Rou, berdenyut seirama dengan jantungnya.“Bangunlah!” bisiknya, bukan sebagai perintah, melainkan dorongan lembut. “Jangan lepaskan hidupmu.”Qi kehidupan membanjiri ruangan.Di sudut, Bai Yuer yang sejak tadi menunggu terpaku. Matanya membelala

  • Aku Bangkit dari Lembah Neraka   52. Menjadi murid Tabib Agung

    Ling Xuan tidak ragu sedikit pun.“Apa pun,” ucapnya tegas. “Selama adikku tetap hidup.”Mu Qinghe tersenyum kecil.“Aku tidak butuh harta,” katanya. “Tidak butuh sumpah kosong. Dan aku tidak kekurangan murid.”Ia mencondongkan tubuh sedikit ke depan.“Justru karena itu,” lanjutnya pelan, “aku sangat memilih.”Ling Xuan menegang. “Maksud Senior…?”Mu Qinghe menatap tajam ke dalam matanya.“Ilmu yang kupelajari,” katanya tenang, “bukan sekadar teknik penyembuhan. Ia adalah jalur hidup. Jalur yang menuntut kesabaran, pengendalian diri, dan belas kasih yang tidak palsu.”Udara terasa berat.Lava Maw menahan napas.“Jika aku menyelamatkan adikmu,” lanjut Mu Qinghe, suaranya tegas, “kau harus menjadi muridku.”Kata-kata itu jatuh perlahan… namun beratnya seperti gunung.Ling Xuan terdiam.Menjadi murid Tabib Agung Sekte Pohon. Bukan kehormatan biasa. Itu adalah ikatan. Jalan hidup baru. Jalur kultivasi yang tidak bisa ditinggalkan sesuka hati.Api itu… jalannya sekarang. Batu Api di dalam

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status