แชร์

Aku Bukan Pilihannya
Aku Bukan Pilihannya
ผู้แต่ง: Jay

Bab 1

ผู้เขียน: Jay
Melihat pesan itu, aku kembali menunduk menatap hasil USG dengan gambaran yang masih samar di tanganku. Hatiku terasa perih.

Aku kira tak akan pernah punya anak lagi seumur hidup ini, tapi tak disangka, ternyata diriku masih diberi keberuntungan sebesar ini.

Ponsel di genggamanku bergetar. Leo kembali mengirim pesan.

[Aku akan segera pulang besok, jangan takut.]

Aku hendak membalas, tapi malah mendengar suara lembut dan manja Selly.

“Kak Nathan, menurutmu bayi kita nanti akan mirip dengan siapa?”

“Tentu saja mirip denganmu. Matanya harus mirip denganmu, mulutnya….”

Suara Nathan dipenuhi kelembutan yang belum pernah kudengar sebelumnya.

Namun, saat aku mendongak dan tatapan kami bertemu, suaranya pun mendadak terhenti.

“Jasmine, kok kamu di sini?”

Mendengar pertanyaannya yang dingin, jari-jariku yang menggenggam kertas USG langsung mengencang.

Kertas itu pun terlipat kusut di telapak tanganku.

Begitu melihatku, Selly langsung merangkul lengan Nathan dengan sikap menantang.

Seolah sengaja memamerkan cincin di jari manisnya.

Itu adalah cincin pernikahanku dulunya dan juga hadiah dari keluarga Nathan untuk menantu.

Namun, hanya karena Selly bilang suka, cincin itu dengan mudahnya direnggut dariku.

Meski aku tidak mengizinkan, Nathan tetap menyuruh orang melepaskannya secara paksa.

Bahkan sampai mematahkan kelingkingku.

Selly menutup mulutnya sambil tertawa pelan, lalu sengaja bersandar ke dada Nathan dan berkata,

“Kakak juga datang untuk kontrol kehamilan? Tapi bukannya Kak Nathan pernah bilang kalau kamu itu mandul?”

Ejekan yang begitu terang-terangan, Nathan selalu tidak pernah menyadarinya.

Namun, Nathan lupa. Dirinyalah yang memilih menyelamatkan Selly lebih dulu, hingga aku terlambat ditangani dan akhirnya menjadi sulit untuk hamil.

Aku masih ingat. Setelah kecelakaan itu, aku terjepit di kursi mobil.

Logam tajam menusuk perutku, darah hangat mengalir turun sepanjang pahaku.

Nathan berhasil keluar lebih dulu. Dia melihatku penuh luka dan kesakitan.

Namun, setelah ragu sejenak, dia malah berkata pelan padaku,

“Luka Selly lebih parah darimu. Aku bakal menyelamatkannya lebih dulu, baru kembali menolongmu!”

Yang katanya terluka lebih parah, nyatanya hanya goresan tipis di lengannya.

Aku ditinggalkan sendirian di dalam mobil yang terbalik. Saat kesadaranku perlahan menghilang, yang kulihat hanya bayangannya yang semakin menjauh.

Karena pendarahan yang cukup parah, rahimku mengalami kerusakan permanen.

Dan hal itu malah dia jadikan alasan untuk menyakitiku sesuka hati.

Bahkan berkali-kali tanpa ragu membuka kembali luka lama yang berusaha kulupakan.

Melihat aku tak bereaksi atas sindirannya, Selly pun mulai pura-pura pusing dan mual.

“Kak Nathan, aku mual lagi….”

Aktingnya yang begitu jelek, tetap saja tak bisa disadari Nathan.

Perceraian pertama terjadi karena Selly demam tinggi.

Selly bilang merasa dirinya akan mati, jadi ingin mewujudkan keinginan terakhirnya, yaitu menikah dengan Nathan.

Saat itu, Nathan pun tanpa pikir panjang dan langsung menyeretku ke kantor catatan sipil untuk mengurus perceraian.

Kakiku masih cedera dan belum pulih sepenuhnya, tapi dia tetap menarik dan mendorongku ke kursi penumpang depan.

Aku kesakitan sampai meneteskan air mata, sementara dia sibuk menenangkan Selly dengan suara lembut melalui ponselnya.

Kelembutan di matanya membuat mataku perih.

Tak peduli bagaimanapun aku memohon dan menangis sampai hampir sesak napas.

Nathan hanya melonggarkan dasinya, lalu menegurku dengan suara dingin,

“Selly lagi sakit, haruskah kamu begitu egois? Setelah dia lebih tenang, kita bisa menikah lagi, ‘kan?”

Itu bukan diskusi, melainkan perintah yang tak bisa dibantah.

Dengan air mata bercucuran, aku menandatangani surat cerai. Begitu mendapatkan surat cerai, hal pertama yang Nathan lakukan adalah kembali ke rumah sakit untuk menemani Selly.

Aku yang terluka ditinggalkan sendirian di kantor catatan sipil sampai hari gelap.

Sejak dulu, dia selalu percaya sepenuhnya pada kata-kata Selly.

Sedangkan padaku, dia tak pernah memberi sedikitpun kepercayaan.

Dan benar saja, setelah mendengar ucapannya, tatapan Nathan pun menyapu ke arahku, ketidaksabaran yang begitu jelas terlihat di tatapannya.

“Kenapa kamu harus mengikuti kami? Hanya karena aku menyuruhmu pindah untuk tinggal di luar sementara? Kamu tahu sendiri Selly nggak enak badan kalau melihatmu.”

Dulu, kalau mendengar kata-kata sedingin itu darinya, aku pasti akan menangis sedih semalaman.

Namun sekarang, aku tak lagi insomnia hanya karena satu tatapan dan satu ucapan darinya.

Jadi, saat mendengar itu, aku hanya menjawab dengan dingin,

“Permisi.”

Aku tak ingin berlarut-larut dengannya dan langsung beranjak pergi.

Namun, saat kami berpapasan, kepalaku mendadak pusing.

Langkahku terhuyung.

Nathan reflek mengulurkan tangan untuk menopangku, tapi gerakanku yang menoleh untuk menghindar membuat tangannya membeku di udara.

Dan kertas USG yang kugenggam pun tak sengaja jatuh ke lantai.

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Aku Bukan Pilihannya   Bab 9

    Rambut panjang Selly tampak acak-acakan menempel di wajahnya. Mungkin karena baru saja keguguran, wajahnya terlihat sangat pucat.Saat dia mendongak, aku melihat sudut bibirnya membiru dan mata kirinya bengkak sampai hampir tak bisa dibuka.Sangat berbeda dengan penampilannya yang dulu selalu tampak lemah dan manja di hadapan Nathan.“Jasmine, kamu pikir dirimu sudah menang?”Begitu melihatku, dia tiba-tiba tertawa nyaring dengan suara yang tajam.“Orang yang benar-benar dicintai Nathan selamanya adalah aku! Kamu hanya mainan saja. Emangnya kenapa kalau dia menikahimu?”Plak!Leo menampar wajahnya keras-keras, langsung membuat pipinya bengkak dan memerah.“Siapa yang mengizinkanmu bicara?”Setelah itu, Leo menoleh ke arahku. Tatapannya langsung berubah lembut.“Jasmine, tempat ini kedap suara. Kamu bisa bebas melampiaskan amarahmu.”Aku melangkah maju, kilasan kenangan masa lalu berkelabat di benakku.Selama dua tahun ini, semua kejahatan yang Selly lakukan berulang kali terputar di ke

  • Aku Bukan Pilihannya   Bab 8

    Dia mengangkat kepalanya menatapku, sorot matanya sulit ditebak.Usai bicara, dia tiba-tiba tertawa. Suara tawanya terdengar gila.“Kamu bahkan tahu kalau aku pura-pura amnesia demi membalas dendam padamu.”Dia menopang dirinya untuk berdiri, langkahnya terhuyung saat mendekat ke arahku.Aku reflek mundur, pinggangku membentur sandaran kepala ranjang hingga mengeluarkan bunyi yang tumpul. Telapak tangan Nathan menghantam keras sisi telingaku, napas hangatnya menyapu wajahku.“Lalu kamu mencari pria lain untuk akting, mau menggunakan cara yang sama untuk membalas dendam padaku?”Dia menempelkan keningnya ke keningku. Air mata panas jatuh dan membasahi wajahku.“Maaf! Maaf!”Tangan Nathan gemetar saat menyentuh wajahku, jempolnya dengan lembut menghapus air mataku.“Tapi kamu salah. Bahkan sebelum diriku sendiri menyadarinya, aku sudah jatuh cinta padamu.”Usai bicara, dia menunduk, seolah ingin menciumku.Aku menghindar dengan marah, lalu menampar wajahnya keras-keras.“Nathan, jangan p

  • Aku Bukan Pilihannya   Bab 7

    Sebenarnya aku tak begitu mengerti semua sikap anehnya selama beberapa hari terakhir ini.Yang ingin cerai itu dia, yang menyuruhku pergi juga dia.Tapi, ketika aku benar-benar berhenti berharap untuk rujuk, dia pula yang tampaknya tidak senang.Namun, karena dia ingin tahu, aku pun akan memberitahunya.“Dalam kecelakaan itu, bukan hanya rahimku saya yang terluka. Aku juga kehilangan seorang anak yang sudah berusia dua bulan.”Begitu kata-kata itu terucap, dunia seakan ditekan tombol jeda.Nathan terpaku di tempat. Wajahnya pucat seketika, jakunnya bergerak dengan susah payah.“Apa kamu bilang? Kamu hamil waktu itu?”Sementara tangan Leo yang menggenggam tanganku mendadak mengencang, ujung jarinya sampai memucat.“Aku sendiri juga nggak tahu. Dokter yang memberitahuku setelah aku sadar.”Saat mengatakan itu, kenangan itu pun menyerbu seperti riak gelombang.Rasa sakit hebat saat kecelakaan, suara logam yang terpelintir memekakkan telinga.Serta keputusasaan saat darah hangat terus meng

  • Aku Bukan Pilihannya   Bab 6

    Saat menatapku, alisnya agak berkerut. Matanya yang berwarna kecoklatan langsung menajam saat melihat keadaanku yang begitu malang.“Tolong… aku!”Aku terhuyung keluar dari lift. Tubuhku yang panas membara secara reflek mendekat ke arah yang terasa dingin.Leo bereaksi sangat cepat, sebelum aku terjatuh, tangannya sudah mencengkeram bahuku.“Kamu diracuni?”Mendengar suaranya, aku pun mengangguk asal. Jari-jariku tanpa sadar mencengkeram dasinya.Sebenarnya, dia berniat membawaku ke rumah sakit, tapi aku benar-benar tak sanggup menahan dorongan obat itu.Setelah satu malam yang tak terduga itu, sebenarnya aku ingin berterima kasih dengan baik padanya.Namun, dia malah mengajukan diri untuk bertanggung jawab.“Bagaimana kalau kita menikah? Aku punya mobil dan rumah, kondisiku seharusnya nggak buruk!”Baru saja terluka oleh cinta, aku tentu tak mungkin langsung masuk ke pernikahan baru.Namun, dia bilang dirinya butuh seorang istri. Jika aku ingin membalas budi, bisa dengan menikah denga

  • Aku Bukan Pilihannya   Bab 5

    Leo menyelimuti tubuhku dengan jasnya, lalu memelukku erat.Dia mencium keningku berulang kali, menenangkanku dengan suara lembut, “Jasmine, aku sudah datang, semuanya akan baik-baik saja!”Lalu dengan mata memerah, dia menyapu pandangan ke sekeliling. Suaranya sangat dingin, seolah mampu membekukan udara.“Siapa yang menyentuhnya?Melihat situasi yang mulai memburuk, orang-orang di sekitar mulai ingin kabur. Namun, wanita yang memimpin tadi malah maju dan menunjuk kami sambil berteriak, “Wanita jalang ini menggoda pria di mana-mana! Kamu sudah tertipu olehnya!”Leo meliriknya dengan dingin, suaranya datar tanpa emosi,“Polisi akan datang sebentar lagi. Fitnah dan pencemaran nama baik, ditambah penganiayaan dengan sengaja, sepertinya sudah cukup untuk dipenjara beberapa tahun!”Kerumunan mendadak sunyi. Orang-orang mulai menurunkan ponsel masing-masing.Saat para satpam membawa perisai dan membubarkan kerumunan, pandangan Nathan masih tertuju pada ujung gaunku yang berlumuran darah.

  • Aku Bukan Pilihannya   Bab 4

    Aku berjalan menghampirinya, memapahnya dan membiarkan dia menggenggam tanganku.Menanyakan kabar dengan penuh perhatian, mengulang semua prosedur yang sama seperti dulu.Hanya saja, saat menyinggung hubunganku dengan Nathan, aku menunduk dan berkata pelan, “Kami sudah cerai. Dia sudah nggak mengingatku, pernikahan ini juga sudah nggak perlu dilanjutkan.”Genggaman tangannya sempat terhenti, tatapan matanya tampak tidak rela.“Ada baiknya juga. Setelah dia amnesia, kami benar-benar sudah banyak menderita.”Saat hendak pergi, dia kembali memperingatkan Nathan dengan nada tegas, “Meski kamu sudah cerai dengan Jasmine, jangan pernah berharap perempuan itu bisa masuk ke rumah kita.”Seketika, wajah Nathan langsung memuram. Dengan suara keras, dia membantah, “Kami hanya cerai sementara. Setelah Selly melahirkan, kami pasti akan rujuk kembali.”Aku menatap ekspresinya yang sama sekali tak terlihat bercanda, lalu berkata, “Aku sudah menikah dan juga sudah mengandung anak suamiku. Jadi, a

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status