LOGINKeesokan paginya seperti biasa, aku sudah tidak mendapati Alexey di sebelahku. Hari ini aku memaksakan diri untuk mulai berjalan. Saat aku menginjakan kaki ke lantai, aku benar-benar takjub. Rasa nyerinya sudah hilang sepenuhnya! Dokter itu benar-benar manjur.
Aku ingat ucapan Vadim, kalau aku harus mendapatkan rasa hormat dan meraih simpati dari para pelayan. Meski aku nyonya rumah, kalau aku jadi mereka pun pasti tidak akan langsung menerima sepenuhnya majikan yang baru. Apalagi mereka tahu kalau Alexey-lah yang membayar gaji mereka.
Setelah bersiap-siap, aku meminta Elena dan Yulia memakaikanku gaun yang biasa saja supaya aku bisa leluasa beraktifitas. Aku sudah memikirkan strategi hari ini matang-matang. Hari ini aku akan lebih banyak berinteraksi dengan para pelayan supaya mereka tahu betapa baik dan rendah hatinya diriku ini. Hahahaha! Saatnya cari muka!
Yang aku tahu, tempat para pelayan, tidak lain dan tidak bukan adalah di dapur!
"M-M'lady![]()
Orang bilang burung-burung, tanaman dan angin akan ikut berdoa ketika manusia mengucap ikrar di hadapan Tuhan.Aku telah berdiri di altar. Menunggu. Aku telah siap menunggu hingga sore atau malam jika memang Anya Levitski kabur dari pernikahan kami. Atau jika dia berhasil menemukan seseorang untuk menggantikannya. Aku akan pasrah saja kepada takdir Bunda Suci.Suara pintu aula terbuka. Nyanyian paduan suara dan alat-alat musik bersahut bagai simfoni. Mereka menyambut apa yang datang dari pintu itu. Aku tak sanggup melihat. Aku juga tak mau tahu siapa pengganti Anya Levitski yang sudah kabur itu. Aku melirik, cuma ingin melihat kakinya yang sudah terbalut gaun putih mewah. Ia melangkah dan melangkah. Menaiki undakan kecil tangga-tangga altar, lalu berdiri di sampingku. Kini kami berdua berhadapan dengan pendeta.
"Selamat malam, Lady Levitski," sapa Vadim dengan suaranya yang agak cempreng.Ia membungkuk sambil mengangkat rok."Selamat malam,Your Grace, Lord Vadim.""Ehem ... Vadim saja,my lady.""Bagaimana belanjamu dengan Madam Petrov?" tanyaku tanpa basa-basi"Semuanya baik-baik saja,my lord.""Kau suka?""Tentu,Your Grace. Saya suka. Terimakasih atas kebaikan Anda.""Yulia bilang kau cuma membeli sedikit? Apa kau tidak suka gaun buatan Madam Petrov?"."S-Saya ... saya pikir ... gaun-gaun itu sangat mahal ... jadi ...."Aku mengernyit. Tidak pernah dalam hidupku aku merasa dihina seperti ini. Apa dia tidak paham mengapa aku memanggil si Dasha Petrov itu kemari?! Perempuan itu adalah penggosip di kalangan atas! Dia sengaja kudatangkan agar semua orang tahu bahwa istriku mampu beli gaun-gaun miliknya! Bikin kacau rencanaku saja! Apa dia sengaja?!Kugebrak
Malam harinya aku telah berdandan dengan rapi. Aku akan makan bersama dengan calon istriku. Sesampainya aku di meja makan, ia telah duduk santun dalam balutan gaun sederhananya. Bukan yang warna hijau zamrud, tapi warna pastel yang nyaris pudar karena kebanyakan dicuci. Anya Levitski begitu rendah hati. Namun kecantikannya yang menyihir berhasil mengungguli pernak-pernik dan perkakas di ruang makan.Kuberusaha menekan segala kegugupanku.Aku memandanginya, tapi Anya Levitski juga sepertinya lekat melihatku dalam-dalam. Wajahnya itu seakan terpesona kepadaku. Apa jangan-jangan akhirnya ia menyadari ketampananku ini ya? Akhirnya. Pastilah begitu. Mungkin sekarang dia baru sadar bahwa calon suaminya itu ganteng mampus."Kau baik-baik saja?" tanyaku sesaat setelah aku duduk."A-Aku?" Ia gugup."Kau seperti kesulitan bernafas."Aku juga kok.Ia menggeleng. "Oh ... aku tak apa."Sedetik kemudian, pelayan berbondong membawakan makanan
"Baiklah ... saya ... menerima lamaran Anda, Your Grace."Seakan ia telah meneguhkan hatinya, Anya Levitski memandangku dengan tegar. Sepasang mata hijaunya menyala. Sedangkan aku ... tubuhku nyaris runtuh gemetar. Aku tak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Aku tak percaya akan diriku sendiri yang telah melamar seorang wanita di dalam kereta kuda. Begitu singkat dan tiba-tiba. Ia pun ... menerima lamaranku meski begitu alot.Jantungku bergetar. Tubuh ini begitu mendamba ingin memeluknya begitu erat. Ingin sekali kurengkuh tubuh kecil berbalut gaun zamrud itu. Namun kutahan diriku sekuat tenaga untuk memendam rasa senang ini.Aku dan dia akan menikah.Napas yang nyaris memburu kuredam sekuat tenaga.
Anya Levitski terbengong dan kaget. Oh tentu saja! Kalau aku jadi dia pun pasti sama! Aku saja kaget! Apalagi dia!AAAAAA! Ibu aku malu sekali! Kenapa aku harus ceplas-ceplos di masa-masa begini?! Kenapa mulut bodohku selalu meracau seperti orang mabuk! Kenapa mulut ini tidak mau berbakti kepada otak?! AAAA! Aku malu sekali wahai Ayah dan Ibu di surga. Hiks. Aku ingin sekali lompat dari kereta kuda ini dan langsung mati saja."M-Menikah?!" Ia berseru.Ah. Sial. Semuanya telah terjadi. Dan gengsiku besar sekali. Sudahlah. Pasrah saja, Alexey. Cobalah teruskan aktingmu yang sok keren ini. Buatlah seakan-akan kau telah merencanakan ini sejak lama."Aku mengundangmu ... bukan hanya karena akan membeli aset dan membebaskan dirimu dari utang. Tapi ... karena aku ingat namamu, Anya Levitski."Ia sepertinya kaget.Sekali lagi aku bertanya."Kau tidak ingat padaku?"Namun ia menggeleng pelan.Mungkin ini saatnya aku berterus tera
Bunda Suci telah memberiku tanda-tanda, dan aku mengabaikannya. Tanda di malam itu, di pesta debutante dimana aku menemukan sakit hatiku yang pertama. Sofia Romanov ... iblis itu akan terus mengikutiku hingga ke liang kubur. Dia akan melakukan segalanya untuk membuatku celaka. Tapi ... kali ini aku tak akan menyingkirkan apa yang telah Bunda Suci berikan kepadaku.Tanda-tanda. Ini adalah kehendak-Nya.Aku ingat malam itu di penginapan Rob. Setelah kumelihat siluet perempuan misterius itu, Anya Levitski, aku berdoa sungguh-sungguh kepada Bunda Suci. Aku bersumpah kepadanya, jika aku bertemu dengan Anya Levitski sekali lagi, maka jadilah ini kesempatanku yang kedua, kesempatanku untuk mengulang hidup sekali lagi.Aku tidak akan menolak takdir ini. Aku akan mengusahakannya.







