LOGINJam besuk usai. Sel penjara Alexey nampak lebih mewah ketimbang yang lain. Banyak barang-barang di sana yang bisa membuatnya hangat di ruang bawah tanah ini. Aku mendengar tahanan lain menggerutukan sumpah serapah kepadaku. Meskipun begitu, petugas sipir tidak bisa berbuat banyak. Akhirnya mereka tahu siapa aku, siapa Alexey. Tentulah kami sudah sepatutnya dapat perlakuan super istimewa dari sipir istana Tsar.
Namun bukan itu yang membuatku senang hingga membuatku berdebar tidak karuan. Sepanjang di kereta kuda, aku tidak bisa menahan diri senyum-senyum sendiri. Aku bahkan mendapat tatapan curiga dari Vadim. Apa ia menduga kalau aku tengah memikirkan siasat-siasat jahat untuk Alexey? Tak lama tatapan curiga itu pudar, saat kami sampai di rumah dan aku meminta Vadim dan Alfred menuliskan surat permintaan pembebasan Alexey dari tahanan di istana Tsar, dan mengembalikannya pada perin
Mataku terbelalak.'Dini hari tanggal 5 Oktober pukul empat pagi sebuah ledakan terdengar di depan distrik pertokoan Kota Maltova. Insiden ini menewaskan His Grace Grand Duke Vladimir Yusupov beserta seorang kusirnya. Saksi mata melihat beliau keluar dari sebuah gedung. Sesaat setelah masuk ke kereta kuda, seseorang berpakaian serba hitam melemparkan sesuatu melalui jendela kereta kuda. Pihak keamanan setempat tidak sempat mengetahui identitas pelaku.'Tanganku bergetar membuat lembaran kertas surat kabar berkemersak.Alexey masuk ke ruang baca."Anya ... Grand Duke Vladimir-."Kalimatnya kupotong. Aku memampang menunjukkannya lembar paling depan surat kabar. A
Alexey memandangiku lama sekali. Ia tak menjawab. Justru ia menunjukkan sebuah kekecewaan yang besar."Apa kau sedang menghinaku?" ucapnya dingin. Kami lengang, lalu ia melanjut. "Aku sudah membencinya. Aku sangat membencinya. Aku harap dia mati.""Lalu ... kenapa kau menciumnya? Kau menciumnya di depanku." Suaraku serak. Dadaku sesak dan rasa nyeri memenuhi relung hatiku. Air mataku menetes dengan pedihnya. "Berhenti berbohong. Katakan padaku, Alexey .... Apa kau masih mencintainya?""Tidak."Aku tak puas dengan ucapannya. Atau perilakunya. Ini semua tidak cukup. Aku ingin dia meyakinkan aku."Aku ... aku paham. Sejak awal kita berdua sepakat ... kita tak memb
Orang bilang burung-burung, tanaman dan angin akan ikut berdoa ketika manusia mengucap ikrar di hadapan Tuhan.Aku telah berdiri di altar. Menunggu. Aku telah siap menunggu hingga sore atau malam jika memang Anya Levitski kabur dari pernikahan kami. Atau jika dia berhasil menemukan seseorang untuk menggantikannya. Aku akan pasrah saja kepada takdir Bunda Suci.Suara pintu aula terbuka. Nyanyian paduan suara dan alat-alat musik bersahut bagai simfoni. Mereka menyambut apa yang datang dari pintu itu. Aku tak sanggup melihat. Aku juga tak mau tahu siapa pengganti Anya Levitski yang sudah kabur itu. Aku melirik, cuma ingin melihat kakinya yang sudah terbalut gaun putih mewah. Ia melangkah dan melangkah. Menaiki undakan kecil tangga-tangga altar, lalu berdiri di sampingku. Kini kami berdua berhadapan dengan pendeta.
"Selamat malam, Lady Levitski," sapa Vadim dengan suaranya yang agak cempreng.Ia membungkuk sambil mengangkat rok."Selamat malam,Your Grace, Lord Vadim.""Ehem ... Vadim saja,my lady.""Bagaimana belanjamu dengan Madam Petrov?" tanyaku tanpa basa-basi"Semuanya baik-baik saja,my lord.""Kau suka?""Tentu,Your Grace. Saya suka. Terimakasih atas kebaikan Anda.""Yulia bilang kau cuma membeli sedikit? Apa kau tidak suka gaun buatan Madam Petrov?"."S-Saya ... saya pikir ... gaun-gaun itu sangat mahal ... jadi ...."Aku mengernyit. Tidak pernah dalam hidupku aku merasa dihina seperti ini. Apa dia tidak paham mengapa aku memanggil si Dasha Petrov itu kemari?! Perempuan itu adalah penggosip di kalangan atas! Dia sengaja kudatangkan agar semua orang tahu bahwa istriku mampu beli gaun-gaun miliknya! Bikin kacau rencanaku saja! Apa dia sengaja?!Kugebrak
Malam harinya aku telah berdandan dengan rapi. Aku akan makan bersama dengan calon istriku. Sesampainya aku di meja makan, ia telah duduk santun dalam balutan gaun sederhananya. Bukan yang warna hijau zamrud, tapi warna pastel yang nyaris pudar karena kebanyakan dicuci. Anya Levitski begitu rendah hati. Namun kecantikannya yang menyihir berhasil mengungguli pernak-pernik dan perkakas di ruang makan.Kuberusaha menekan segala kegugupanku.Aku memandanginya, tapi Anya Levitski juga sepertinya lekat melihatku dalam-dalam. Wajahnya itu seakan terpesona kepadaku. Apa jangan-jangan akhirnya ia menyadari ketampananku ini ya? Akhirnya. Pastilah begitu. Mungkin sekarang dia baru sadar bahwa calon suaminya itu ganteng mampus."Kau baik-baik saja?" tanyaku sesaat setelah aku duduk."A-Aku?" Ia gugup."Kau seperti kesulitan bernafas."Aku juga kok.Ia menggeleng. "Oh ... aku tak apa."Sedetik kemudian, pelayan berbondong membawakan makanan
"Baiklah ... saya ... menerima lamaran Anda, Your Grace."Seakan ia telah meneguhkan hatinya, Anya Levitski memandangku dengan tegar. Sepasang mata hijaunya menyala. Sedangkan aku ... tubuhku nyaris runtuh gemetar. Aku tak percaya dengan apa yang barusan terjadi. Aku tak percaya akan diriku sendiri yang telah melamar seorang wanita di dalam kereta kuda. Begitu singkat dan tiba-tiba. Ia pun ... menerima lamaranku meski begitu alot.Jantungku bergetar. Tubuh ini begitu mendamba ingin memeluknya begitu erat. Ingin sekali kurengkuh tubuh kecil berbalut gaun zamrud itu. Namun kutahan diriku sekuat tenaga untuk memendam rasa senang ini.Aku dan dia akan menikah.Napas yang nyaris memburu kuredam sekuat tenaga.







