تسجيل الدخولSebelumnya...
Begitu sampai di rumah, Felisha langsung menutup pintu rapat-rapat dan menjatuhkan tubuhnya di atas kasur.Jantungnya berpacu tak karuan. Napasnya tersengal seperti habis dikejar setan. Ia bahkan tidak ingat bagaimana bisa sampai di rumah dengan begitu cepat—yang jelas, ia hanya tidak ingin Guan sampai melihatnya diantar pulang dengan mobil mewah.Seketka pikirannya berputar tak tentu arah, penuh pertanyaan yang membuat dada sesak.“Apa Tuan Ace akan mDalam ruang kerja di apartemennya, Ace tengah menatap serius rekaman CCTV apartemen yang dikirim ke ponselnya. Rekaman itu memperlihatkan detik-detik ketika Yuki mencoba menculik Felisha di pinggir jalan.Tatapan Ace mengeras.Di layar terlihat jelas bagaimana Yuki awalnya menarik tangan Yoko secara sembarangan. Lalu Felisha mencoba menarik Yoko kembali untuk menyelamatkannya. Setelah sadar salah sasaran, Yuki langsung beralih menarik Felisha dengan kasar hingga wanita itu terjatuh dan lututnya menggesek trotoar.Rahang Ace langsung menegang.Genggamannya pada ponsel mengeras, seolah ingin meremukkan benda itu.Melihat wajah Yuki saja sudah cukup membuat darahnya mendidih.“Apa sebenarnya yang mereka inginkan dari Felisha…?” gumamnya lirih sambil menggertakkan gigi.Tanpa membuang waktu, Ace segera menelepon pihak keamanan apartemen.“Halo, Tuan Ace. Bagaimana? Anda sudah melihat rekamannya?” suara petugas keamanan terdengar sigap dari seberang sana.“Tandai plat mobil dan wajah pria
Hiromi baru saja selesai membasuh wajah dan melakukan perawatan kecil sebelum tidur. Saat berjalan melewati rak buku di sudut kamarnya, bahunya tanpa sengaja menyenggol salah satu buku yang menonjol keluar dari barisan hingga beberapa buku lain ikut terjatuh ke lantai.“Ah…” gumamnya pelan.Ia segera berjongkok untuk memungut buku-buku itu dan menatanya kembali. Namun tangannya berhenti pada sebuah buku kecil bersampul kusam.Tatapannya perlahan berubah. Buku itu langsung mengingatkannya pada masa lalu.Dengan rasa penasaran, Hiromi membuka halaman pertamanya. Di sana terdapat tulisan tangannya sendiri semasa SMA. Rapi, tertata, dan dipenuhi nama Ace di beberapa bagian.Senyum tipis terukir di bibirnya.Hiromi lalu membawa buku itu ke tempat tidur. Ia tengkurap di atas kasur sambil membaca isi buku tersebut, ditemani cahaya hangat lampu tidur di atas nakas.Tulisan-tulisan lama itu menceritakan awal mula kedekatannya dengan Ace, ketika ia masih menganggap pria itu hanya sebagai teman
Setelah puas meluapkan hasrat di kamar mandi, Felisha dan Ace membersihkan diri bersama.Kini Felisha duduk di depan meja rias, mengeringkan rambutnya dengan pengering rambut. Sementara itu, Ace tengah mengancingkan kemeja rumahnya, sesekali melirik ke arah istrinya melalui pantulan cermin.Senyum lembut tersungging di bibirnya.Ace lalu berjalan mendekat, mengambil alih pengering rambut dari tangan Felisha, dan mulai membantu mengeringkan rambut wanita itu dengan hati-hati."Apa kau baik-baik saja?" tanyanya setengah berbisik. Ujung jemarinya yang dingin sempat menyentuh tengkuk Felisha, membuat wanita itu sedikit bergidik."Apa maksudmu?" balas Felisha, bingung."Perutmu. Masih mual?""Hm..." Felisha terdiam sejenak, mencoba merasakan kondisi tubuhnya. Sejak percakapan tentang penculikan tadi hingga momen mereka di kamar mandi, rasa mual itu memang tidak terasa lagi."Sepertinya sudah tidak," jawabnya jujur."Kau yakin?" Ace memastikan.Felisha mengangguk pelan sambil tersenyum, men
Ingin melihat lebih jelas, Ace pun berlutut di hadapan Felisha. Perut istrinya tampak sedikit menonjol. Belum besar, namun cukup jelas menunjukkan perubahan.Dengan penuh kelembutan, ia mengecup perut itu.Felisha tersipu. Perlakuan itu membuatnya merasa begitu dicintai. Perlahan, luka dari pertengkaran mereka seakan menghilang. Kehangatan di antara mereka kembali pulih seperti semula.Tak lama, Ace bangkit lagi. Tanpa banyak kata, ia menggendong Felisha dan membaringkannya di atas kasur.Dari tatapannya, keinginannya sudah sangat jelas.Ia rindu ingin menggagahi tubuh indah wanita itu.Saat Ace mengangkat sedikit gaun santai Felisha sampai dada dan menyingkap bagian bra-nya, ia menyadari perubahan lain-payudara istrinya tampak semakin berisi, semakin memikat di matanya.Hanya beberapa hari tidak menyentuh Felisha, namun kerinduan itu terasa begitu kuat. Segala emosi yang sebelumnya menguasainya seolah runtuh begitu saja. Di hadapannya kini hanya ada Felisha-wanita yang mampu melemahk
Setelah mengetahui kabar tentang percobaan penculikan dari Yoko, Ace segera bergegas menuju kamar untuk menanyakan langsung perihal itu Felisha.Begitu membuka pintu, ia mendapati Felisha yang sebelumnya sedang berbaring di atas kasur, kini sudah berdiri. Sepertinya ia juga hendak keluar untuk menemui Ace.Keduanya lalu terdiam sejenak.Tatapan mereka bertemu, sama-sama menyimpan kebingungan—dan sesuatu yang belum terucap. Hingga akhirnya Felisha lebih dulu membuka suara.“Ace… aku lupa memberitahumu sesuatu,” ucapnya ragu. Nada suaranya berat, seolah setiap kata yang akan keluar membawa risiko. Namun ia tahu, kali ini ia tidak boleh menyembunyikan apa pun.Ace menatapnya serius, memberi isyarat agar ia melanjutkan.“Tadi pagi, Bibi bilang ingin ke rumah Hiromi. Jadi aku berniat mengantarnya naik taksi,” lanjut Felisha hati-hati.Ace mendengarkan tanpa menyela.“Tapi tiba-tiba ada seseorang yang menarik tangan Bibi,” katanya, suaranya sedikit bergetar saat mengingat kejadian itu. “Aku
Felisha yang sebelumnya tak pernah mencicipi hidangan Jepang seperti itu, mencoba menyendok sedikit sup oden ke mulutnya. Sejak tadi ia hanya membantu Yoko menyiapkan bahan sesuai instruksi. Saat Yoko meracik hidangan tersebut, ia sudah merasa aromanya cukup asing.Begitu kuah itu menyentuh lidahnya, Felisha langsung menyadari rasanya tidak cocok. Aneh.Lebih dari itu, perutnya seakan menolak. Rasa mual datang tiba-tiba, menekan dari dalam. Jika tidak ditahan, ia merasa akan memuntahkannya.Namun, karena tidak enak hati pada Yoko, Felisha berusaha tetap tenang, seolah menikmatinya.Sayangnya, usaha itu tidak luput dari perhatian Ace.“Kenapa? Rasanya tidak cocok, ya?” tanya Ace pelan, suaranya lembut dan penuh perhatian.Felisha menggeleng ragu, menutup mulutnya dengan tangan, memaksakan senyum.“Tidak… tidak apa-apa,” jawabnya pelan.Yoko memperhatikan, begitu juga Hiromi.“Kalau tidak suka, jangan dipaksakan,” ujar Ace lagi.Namun sebelum Felisha sempat menjawab, Hiromi menyela deng
Untuk yang kesekian kalinya, Ace menghentakkan tubuh Felisha di atas kasur yang masih basah. Waktu seakan berhenti, dan dunia terasa hanya milik mereka berdua. Tidak ada lagi keraguan untuk meluapkan hasrat yang selama ini tertahan.Felisha, dengan desahan merdunya, hanya bisa pasrah menerima buasn
Hari itu, Felisha pulang kantor lebih larut dari biasanya. Jarum jam telah menunjukkan pukul tujuh malam ketika mobil Ace berhenti tepat di depan apartemen barunya. Dari balik kemudi, Ace mengamati bangunan itu dengan saksama, sorot matanya waspada namun tenang.“Jadi sekarang kau tingga
Hujan turun sejak pagi ketika Felisha tiba di kantor.Ia menutup payungnya di area masuk, menatap kain payung yang masih basah kuyup. Air menetes perlahan ke lantai marmer. Felisha ragu sejenak—ia tidak ingin membawa benda basah itu ke ruang kerja.Akhirnya ia melangkah ke toilet wanita di lantai i
Cukup lama Felisha terdiam di dalam toilet, ragu untuk melangkah keluar. Jam kerja terus berjalan tanpa menunggunya. Ia tak mungkin meninggalkan pekerjaannya begitu saja—terlebih setelah baru saja menerima penghargaan sebagai karyawan terbaik. Ketidakhadirannya justru akan semakin mencolok.Namun,







