Mag-log inFerdi berdecak kesal karena hari-harinya malah digunakan untuk menunggu Ardian yang belum sadar, alih-alih mencari Melan. Padahal ia sudah merancang beberapa persiapan dengan matang. Sayangnya, semua itu harus terkubur sia-sia karena kebodohan sepupunya.Saat itu kota diguyur hujan deras, nyaris tanpa henti sejak sore hari. Namun, ia harus tetap mengantar Ardian ke bandara untuk pulang dan menikah esoknya dengan Lila. Ferdi harus memastikan sang sepupu benar-benar pulang, karena itu ia rela pergi meski malam masih diguyur hujan.Awalnya perjalanan mereka menggunaakan angkutan khusus dari desa ke kota aman-aman saja. Hingga saat baru tiba di kota, mesin mobil tersebut mendadak tidak mau menyala. Ferdi dan Ardian yang tidak bisa lagi membuang waktu, memutuskan untuk mencari kendaraan umum lain. Mungkin taksi jika ada yang melintas.Keduanya turun dari mobil dan memilih berteduh di sebuah halte sembari menunggu taksi. Hanya beberapa saat mereka menunggu karena tenyata sebuah taksi melint
Pernikahan itu tidak pernah terjadi. Hari yang harusnya penuh kebahagiaan malah berubah jadi ajang bisik-bisik karena pengantin pria tidak pernah datang.Suasana kediaman Opa Hendra berubah jadi kacau. Setelah menunggu Ardian sampai satu jam dan mulai mendengar bisik-bisik tak mengenakan, Lila segera berlari menaiki tangga menju kamarnya, tanpa memedulikan apa-apa. Sementara Opa Hendra berusaha menenangkan suasana dan menyatakan pernikahan Lila dan Ardian batal digelar hari ini, dan akan secepatnya digelar di hari lain. Meskipun ia sendiri tidak tahu laki-laki itu ada di mana sekarang.Setelah semua orang bubar, Opa Hendra murka. Pria tua itu menghancurkan apa pun yang ada di dekatnya dengan sekuat tenaga yang ia punya. Tak peduli meski tangannya terasa sakit setelahnya.Ia benar-benar marah. Ia ingin menghajar Ardian jika saja laki-laki itu ada di hadapannya."Cari Ardian sekarang dan bawa ke hadapanku! Jangan kembali sebelum kalian berhasil menyeretnya ke sini!" perintahnya dengan s
"Mas Ardian nggak bisa dihubungi, Opa!" Lila berteriak frustasi karena sudah dua hari ini tidak ada kabar dari sang calon suami, sementara pernikahan mereka akan digelar esok hari.Pyaar!Perempaun itu melempar benda apa pun yang ada di dekatnya, hingga kini ruang tengah sudah penuh dengan pecahan kaca dan barang-barang lain.Belum puas melampiaskan emosi dengan melempar barang-barang, ia mengambil ponselnya dan membuat rekaman suara untuk Ardian."Kamu pikir bisa kabur dari tanggung jawab, Mas?! Kamu pikir bisa kabur dengan tenang sama perempuan sialan itu?! Aku nggak akan biarkan kalian hidup tenang! Kalau sampai besok nggak datang ke acara pernikahan kita, aku pastikan kamu nggak akan pernah lihat anak ini lahir, Mas! Aku akan bunuh dia!"Ia mengirim rekaman suara itu pada Ardian, berharap ketika dibuka nanti, laki-laki itu akan sadar dan kembali padanya. "Jangan bicara sembarangan, Lila. Ardian pasti datang," tegur Opa Hendra.Jujur saja, ia pun ikut pusing dan risau atas perginy
Ardian dan Ferdi tiba di Kota X tepat pukul 12 malam. Mereka langsung menuju lokasi perkampungan yang cukup jauh dari bandara dan pusat kota. Dengan menggunakan angkutan khusus, butuh waktu sekitar 2 jam agar mereka tiba di sana.Lelah memang. Tapi Ardian dan Ferdi tampak tak mau kehilangan waktu satu detik pun sehingga mereka sama sekali tidak beristirahat sejak semalam. Baru ketika mobil angkutan yang membawa mereka berhenti di sebuah kedai yang masih buka, mereka beristirahat sejenak.kali ini Ardian duduk di kursi kedai yang reyot, nyaris rubuh saat ia duduki. Di depannya, kursi yang diduduki Ferdi tampaknya bernasib sama. Di tengah mereka, sebuah meja kayu yang kusam dan sedikit bedebu menjadi satu-satunya tempat untuk mereka meletakkan kepala.Tidak ada piliha. Semua ini demi Melan."Kopinya, Tuan."Keduanya terpaksa mengangkat kpala saat pemilik warung mengantarkan dua cangkir kopi. Mereka mengambil bagian masing-masing, lalu meneguknya sedikit."Apa tempatnya masih jauh?" tany
"Kamu nggak lagi menipuku, kan?" Ferdi menatap Ardian tajam."Apa untungnya buatku?"Ferdi diam dengan mata yang tetap tertuju pada Ardian. Ia takut saja laki-laki itu masih dendam dan berniat mempermainkannya."Aku tahu kota tempat kerabat jauhnya tinggal. Katanya, cuma mereka kerabat yang dia tahu," papar Ardian. Suaranya terdengar tenang. "Aku bisa antar kamu ke sana."Kening Ferdi mengkerut seketika, masih tak percaya pada sepupunya."Kalau kamu nggak percaya ya sudah. Aku akan cari Melan sendiri ke sana."Tentu Ferdi tidak setuju. Ia segera menahan sang sepupu saat hendak pergi, dan akhirnya setuju untuk mencari Melan sama-sama.Sungguh, bukannya Ferdi tidak menghargai keputusan Melan, ia hanya ingin melihat apakah perempuan itu baik-baik saja, apakah di sana ia hidup layak, apakah ada yang menemani atau hanya sendirian di sana. Mungkin setelah pertanyaannya terjawab, Ferdi akan kembali ke kota ini meski dengan keadaan hati yang hancur dua kali.Kedua laki-laki bersaudara itu geg
Hari-hari menuju pernikahan yang diharapkan akan menjadi hari yang indah, malah sebaliknya. Setiap hari Lila diliputi kekesalan atas sikap Ardian yang menurutnya sangat menyebalkan dan suka semena-mena membuat keputusan. Seperti resepsi pernikahan mereka yang benar-benar terpaksa dibatalkan.Lila jadi harus menanggung malu di depan kerabat, kolega dan para sahabatnya. Jika ia memaksakan keinginan, maka akan sangat buruk dampaknya.Ia menyadari emosi Ardian sering tidak stabil setelah perceraiannya dengan Melan. Jujur saja, ia kesal karena merasa laki-laki itu masih terus memikirkan mantan istrinya. Tapi ia tidak memiliki pilihan selain mengalah untuk sementara waktu."Jangan sampai pernikahan ini batal, karena akan semakin membuat nama keluarga kita tercoreng. Apalagi publik sudah tahu kalau kamu simpanan Ardian." Begitulah nasihat sang opa yang akhirnya ia pegang, meskipun sesekali membuat ia hampir gila.Namun kembali lagi. Semua demi misinya memiliki Ardian, menjadi satu-satunya is
"Mas Ardian!" Teriakan itu terdengar memenuhi kamar. Melan tahu itu adalah suara Lila. Namun, tak ada niat untuknya menoleh barang sedikit saja.Melan masih tetap membelakangi Ardian sembari membungkus tubuh polosnya menggunakan selimut. Sementara matanya yang basah menatap nanar ke luar jendela.
"Melan, tunggu!"Suara Ardian berhasil menghentikan langkah kaki Melan yang hendak menaiki anak tangga. Perempuan itu menoleh sedikit pada sang suami. "Apa?" tanyanya datar."Apa yang Ferdi bilang sama kamu?"Kening Melan jelas mengkerut mendengar pertanyaan itu. "Maksudnya?"Ardian maju selangkah
"Kamu yang harus menggugat cerai dia." Melan terpaku beberapa saat. Kemudian, ia mengubah posisi duduk dengan benar sambil menatap laki-laki di sampingnya. Saran Ferdi terdengar gila, tapi cukup menarik untuk dicoba. "Jadi, apa yang harus—" "Jadi begini kelakuan kalian di belakangku?" Suara it
"Aku mau kita pisah!"Satu kalimat itu berhasil membuat tatapan Ardian menajam. Kedua tangannya terkepal erat di samping tubuh hingga urat-uratnya terlihat."Bisa ulangi sekali lagi?""Aku mau kita pisah, Mas Ardian!"Brak!Teriakan Melan terdengar bersamaan dengan suara gebrakan meja yang sangat k







