Se connecter"Kamu nggak lagi menipuku, kan?" Ferdi menatap Ardian tajam."Apa untungnya buatku?"Ferdi diam dengan mata yang tetap tertuju pada Ardian. Ia takut saja laki-laki itu masih dendam dan berniat mempermainkannya."Aku tahu kota tempat kerabat jauhnya tinggal. Katanya, cuma mereka kerabat yang dia tahu," papar Ardian. Suaranya terdengar tenang. "Aku bisa antar kamu ke sana."Kening Ferdi mengkerut seketika, masih tak percaya pada sepupunya."Kalau kamu nggak percaya ya sudah. Aku akan cari Melan sendiri ke sana."Tentu Ferdi tidak setuju. Ia segera menahan sang sepupu saat hendak pergi, dan akhirnya setuju untuk mencari Melan sama-sama.Sungguh, bukannya Ferdi tidak menghargai keputusan Melan, ia hanya ingin melihat apakah perempuan itu baik-baik saja, apakah di sana ia hidup layak, apakah ada yang menemani atau hanya sendirian di sana. Mungkin setelah pertanyaannya terjawab, Ferdi akan kembali ke kota ini meski dengan keadaan hati yang hancur dua kali.Kedua laki-laki bersaudara itu geg
Hari-hari menuju pernikahan yang diharapkan akan menjadi hari yang indah, malah sebaliknya. Setiap hari Lila diliputi kekesalan atas sikap Ardian yang menurutnya sangat menyebalkan dan suka semena-mena membuat keputusan. Seperti resepsi pernikahan mereka yang benar-benar terpaksa dibatalkan.Lila jadi harus menanggung malu di depan kerabat, kolega dan para sahabatnya. Jika ia memaksakan keinginan, maka akan sangat buruk dampaknya.Ia menyadari emosi Ardian sering tidak stabil setelah perceraiannya dengan Melan. Jujur saja, ia kesal karena merasa laki-laki itu masih terus memikirkan mantan istrinya. Tapi ia tidak memiliki pilihan selain mengalah untuk sementara waktu."Jangan sampai pernikahan ini batal, karena akan semakin membuat nama keluarga kita tercoreng. Apalagi publik sudah tahu kalau kamu simpanan Ardian." Begitulah nasihat sang opa yang akhirnya ia pegang, meskipun sesekali membuat ia hampir gila.Namun kembali lagi. Semua demi misinya memiliki Ardian, menjadi satu-satunya is
Ucapan resepsionis di depannya bukanlah kenyataan bagi Ferdi. Ia segera menggelengkan kepala tak percaya dan meminta salah seorang petugas apartemen menemaninya untuk memeriksa unit tersebut.Sang resepsionis akhirnya menuruti keinginan itu. Dan tanpa menunggu lama, Ferdi segera memasuki lift. Ia bahkan berjalan setengah berlari, meninggalkan resepsionis di belakangnya tanpa sedikit pun peduli.Ketika tiba di depan unit Melan, jantungnya makin berdebar. Ia memerhatikan resepsionis tadi memasukkan sandi untuk membuka pintu."Itu sandi yang beda," bisiknya.Wanita di depannya menoleh dengan wajah sedikit kesal. "Sudah saya bilang, unit ini kosong dan sudah dijual. Jadi sandinya tentu baru. Bapak saja yang tidak percaya.""Saya nggak akan percaya sebelum lihat sendiri isinya," cetus Ferdi.Maka saat pintu sudah terbuka, ia segera melangkah masuk. Matanya mengedar ke sekeliling.Kosong.Tidak ada barang-barang milik Melan. Hanya ada sofa, meja, dan barang-barang lain yang memang sudah ada
Pagi-pagi sekali Ferdi sudah tampak rapi. Ia berdiri di depan cermin besar lemari sambil menyisir rambut yang entah sudah dilakukan berapa kali. Ia harus tampil sempurna karena ini pertama kalinya ia bertemu Melan setelah perempuan itu bercerai dengan Ardian."Huh! Rasanya seperti mau kencan," gumamnya yang terdengar menggelikan di telinganya sendiri.Bisa-bisanya ia berpikir seperti itu.Setelah memastikan penampilannya sempurna, gegas Ferdi meraih tas kerjanya dan berjalan ke luar rumah. Ia harus tiba lebih dulu di kantor sebelum Melan. Beruntung karena masih pagi, kendaraan yang berlalu-lalang tidak terlalu padat sehingga perjalanannya lancar. Hanya memerlukan waktu 30 menit lebih, Ferdi sudah tiba di depan calon kantornya.Agenda hari ini adalah mengurus berkas untuk mengesahkan posisi Melan di perusahaan. Ferdi berharap semoga tidak ada hambatan dan tidak lama lagi bisnis ini akan berjalan.Sudah lama sekali ia memimpikan bisa bekerja sama dengan Melan. Meski perempuan itu tidak
"Majelis hakim memutuskan untuk mengabulkan permohonan Penggugat terhadap Tergugat."Tuk, tuk, tuk!Ketukan palu hakim menjadi penanda bahwa kini Melan bukan lagi milik Ardian. Mereka tak lebih dari sekadar orang asing yang pernah membina rumahh tangga tanpa arah selama beberapa tahun ke belakang.Melan berdiri lebih dulu dan membungkuk hormat saat para hakim meninggalkan ruangan. Ardian pun melakukan hal yang sama. Sekarang hanya tersisa keduanya dan pengacara masing-masing di dalam ruangan yang mulai hening.Kedua pengacara tersebut seolah tahu bahwa sepasang manusia yang baru saja melepas status itu perlu waktu bedua untuk berbicara, maka mereka keluar meninggalkan Ardian dan Melan yang masih di sana.Ardian melangkah lebih dulu, berdiri di dekat Melan. Kedua tangannya terbuka dengan senyum yang dipaksakan.Awalnya Melan ragu. Namun, perlahan ia mendekat dan masuk ke dalam pelukan mantan suaminya itu."Maafkan semua kesalahanku selama ini, Mel. Semoga setelah ini kamu akan selalu b
Ardian sangat berharap ketika sang mediator bertanya, Melan akan menjawab bahwa ia ragu umtuk berpisah. Tapi ternyata sebaliknya, perempuan itu justru dengan tegas mengatakan bahwa keputusannya untuk bercerai sudah bulat. Mau tak mau, Ardian pun menjawab hal yang sama meski dalam hati berkata sebaliknya.Kini mediasi sudah lewat dan tidak menghasilkan apa-apa. Ardian hanya tinggal menunggu sidang keputusan, dan setelah itu ia resmi melepas Melan.Tuhan ... membayangkannya saja hati Ardian sangat sakit."Jika ada kehidupan lain, aku mau jadi suamimu lagi, Mel. Dan saat itu aku nggak akan menjadi Ardian yang bodoh seperti sekarang," gumamnya pada diri sndiri.Tangan Ardian mencengkeram kemudi kuat-kuat, sekuat bayangan senyum Melan ketika keluar dari ruang mediasi tadi. Perempuan itu mengulurkan tangan sambil berkata, "Terima kasih atas pengertiannya, Mas."Ardian menjabat tangan halus itu dengan gemetar. Menggenggamnya sebentar sebelum ditarik sang empunya tangan."Aaargh!"Ia tidak ta
"Melan, tunggu!"Suara Ardian berhasil menghentikan langkah kaki Melan yang hendak menaiki anak tangga. Perempuan itu menoleh sedikit pada sang suami. "Apa?" tanyanya datar."Apa yang Ferdi bilang sama kamu?"Kening Melan jelas mengkerut mendengar pertanyaan itu. "Maksudnya?"Ardian maju selangkah
"Jangan pernah coba-coba buat kabur, Melan!"Suara Ardian terdengar dingin dan menusuk, membuat tubuh Melan kian membeku. Ia tak tahu harus bereaksi seperti apa. Berusaha tetap kabur pun percuma karena ternyata di luar rumah sudah berdiri beberapa orang pria yang ia yakini adalah orang suruhan sang
Tatapan Melan menajam. Tangannya terkepal melihat Ferdi berdiri di depan pintu rumahnya. Tanpa berkata apa pun, ia melewati laki-laki itu begitu saja.Tentu Ferdi tidak tinggal diam. Ia pun bingung dengan sikap melan. Gegas laki-laki itu masuk ke rumah dan mengejar langkah Melan yang sudah hendak m
Ketukan pintu kamar terdengar saat Melan tengah menyisir rambut panjangnya di depan meja rias. Ia letakkan sejenak sisir tersebt pada tempatnya, lalu berjalan ke dekat pintu. Dibukanya pintu kamar yang semula masih dikunci itu."Mas Ardian?"Ya, ternyata Ardian yang menyambangi kamarnya pagi-pagi b







