Share

Chapter 3

last update publish date: 2026-03-04 10:10:12

"Melan, tunggu!"

Suara Ardian berhasil menghentikan langkah kaki Melan yang hendak menaiki anak tangga. Perempuan itu menoleh sedikit pada sang suami. "Apa?" tanyanya datar.

"Apa yang Ferdi bilang sama kamu?"

Kening Melan jelas mengkerut mendengar pertanyaan itu. "Maksudnya?"

Ardian maju selangkah hingga jaraknya sangat dekat dengan Melan. Kemudian, ia tarik tangan perempuan itu hingga berbalik menghadapnya.

"Aku tahu dia pasti meracuni otakmu biar melawanku, kan? Karena dia suka sama kamu, Melan. Dari dulu dia selalu—"

"Stop, Mas! Kamu gak perlu menjelekkan nama orang lain demi menutupi kebusukanmu sendiri" Melan benar-benar muak tiap kali Ardian menjadikan orang lain sebagai kambing hitam.

Perempuan itu segera melepaskan tangan Ardian dan menaiki anak tangga tanpa memberi sang suami kesempatan bicara.

Sementara itu, Ardian masih terpaku di tempatnya. Ia benar-benar terkejut dengan perubahan sikap Melan yang kini suka membangkang. Dan ya, ia tetap mencurigai Ferdi sebagai penyebab perubahan perempuan itu.

Ardian masih berdiri di dekat anak tangga terakhir sambil mengeluarkan ponsel dari saku celana. Jemarinya dengan cepat menekan ikon panggil pada kontak Ferdi. Ia harus segera memberi laki-laki itu peringatan sebelum lebih jauh mencampuri rumah tanggannya dan Melan.

Tak lama, panggilan pun tersambung. Suara Ferdi terdengar tanpa minat di seberang sana. Namun, Adrian tak peduli itu.

"Kita ketemu di Luxy Coffee sekarang!"

Permintaan yang terdengar gila. Namun, bukan Ardian namanya jika suka dibantah. Maka ia langsung memutus panggilan sepihak sebelum Ferdi mengeluarkan kata yang entah akan berupa penolakan, atau hanya sekadar keterkejutan.

Lihatlah, waktu sudah menujukkan pukul 10 malam, tapi Ardian tetap memilih keluar dari rumah. Dengan hanya mengenakan kaos pendek dan celana panjang, ia menyetir mobil hitamnya menuju sebuah kafe 24 jam yang tidak terlalu jauh dari komplek.

'Aku harus menyelesaikan ini sebelum pergi dengan Lila,' batinnya.

Tentu ia tidak ingin Ferdi mencari kesempatan ketika ia sedang tidak bersama Melan.

Sementara itu, Melan yang baru saja hendak menjatuhkan diri di atas kasur, urung saat mendapat pesan dari Ferdi. Matanya membelalak dengn mulut yang menganga.

"Buat apa Mas Ardian ngajak Ferdi ketemuan semalam ini?"

Tring!

[Kamu gak usah khawatir, Mel. Aku pasti bisa atasi Ardian. Kamu tidur aja.]

Melan hanya terkekeh perih membaca pesan kedua dari Ferdi. Tidur katanya? Mana bisa?

***

Mobil hitam Ardian berhenti tepat di depan kafe yang masih terlihat ramai. Ia keluar dari mobil, lalu berjalan masuk sambil mengedarkan pandangan untuk mencari tempat kosong. Namun, siapa sangka matanya malah menangkap sosok Ferdi yang duduk di kursi paling belakang sana.

Ardian terkekeh sinis. Ternyata laki-laki itu justru lebih bersemangat datang, tidak seperti yang ada di pikiran Ardian.

"Langusung aja. Aku gak punya banyak waktu," kata Ferdi setelah Ardian duduk di depannya.

Ardian masih menatap Ferdi tajam. "Mulai sekarang, jangan pernah ikut cmpur lagi dalam rumah tanggaku dan Melan!" ucapnya penuh penekanan. "Aku gak tahu apa yang udah kamu bilang sama Melan. Tapi kamu harus tahu, sampai kapan pun aku gak akan pernah menceraikan dia!"

Sontak saja rahang Ferdi mengeras setelah mendengar ucapan Ardian. "Kenapa, huh? Jangan rakus kamu, Ardian! Lagipula, Melan gak pernah mencintaimu!"

"Gak pernah mencintaiku?" Ardian tersenyum miring. "Dari mana kamu tahu, Fer? Atau kamu pikir, dia mencintaimu? Dasar, laki-laki bodoh!"

Ingin sekali rasanya Ardian tertawa keras jika saja tidak ingat ia sedang berada di luar sekarang. Ferdi memang terlampau percaya diri. Meskipun belum pernah mengatakannya secara gamblang, tapi Ardian sangat yakin bahwa Melan mencintainya.

Ardian tak asal menyimpulkan. Dari sekian lama waktu yang ia lewati bersama Melan, ada beberapa momen di mana perempuan itu benar-benar menujukkan rasa cintanya lewat tindakan. Hanya saja, selalu ia abaikan.

"Jaga mulutmu, Ardian!" ujar Ferdi geram. Matanya menatap tajam pada Ardian.

Sementara itu Ardian masih bersikap santai. Ia kemudian memperlihatkan layar ponselnya pada Ferdi sambil berkata, "Dari dulu kamu mau bagian saham dari perusahaan ini, kan? Aku akan alihkan 10% saham di perusahaan ini atas namamu, dengan syarat ..."

"Jauhi Melan mulai sekarang!"

Ferdi menatap layar ponsel dan pemiliknya bergantian. Saham? Ya, ia akui dulu memang sangat berambisi untuk mendapatkan saham di perusahaan peninggalan sang kakek dan ingin menggeser posisi Ardian. Namun, sekarang sudah berbeda. Ia tak lagi menginginkan itu.

Laki-laki itu meraih ponsel Ardian, lalu ia kembalikan pada pemiliknya. "Sayangnya aku udah gak tertarik saham itu," katanya. Ia sedikit mencondongkan wajah ke depan hingga sangat dekat dengan Ardian. "Yang kumau sekarang cuma istrimu, Ardian!"

Degh!

"Sialan!"

Tanpa Ferdi dan Ardian tahu, seseorang sejak tadi mendengar percakapan mereka dari kursi lain. Tubuhnya seketika membeku. Tangannya terkepal kuat mendengar kalimat terakhir yang keluar dari mulut Ferdi.

'Sama-sama bajingan!'

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 39

    "Dasar ga tahu malu!" teriak Hera yang langsung mengundang tatapan banyak pasang mata.Melihat itu, Melan dan Ferdi sontak berdiri. "Ada apa, sih, Ma? Malu dilihat orang," tegur Ferdi dengan suara pelan, tapi tajam. Ia tahu maksud teriakan sang mama tadi adalah untuk Melan. Karena itu ia harus segera mengambil tindakan agar tidak sampai terjadi keributan besar."Diam kamu, Ferdi! Ini urusan Mama sama dia!" Hera mengarahkan telunjuknya ke depan wajah Melan.Melan yang bingung hanya diam sambil sesekali melirik orang sekitar yang tampak keheranan. Sementara Ferdi segera menurunkan tangan sang mama dan coba bicara baik-baik dengannya."Tolong jangan buat keributan di sini, Ma. Gak enak—""Mama bilang diam!" Hera berteriak lagi hingga memotong ucapan Ferdi. Ia menatap tajam putra satu-satunya itu. "Cukup kamu bela dia terus, Fer! Dia cuma mau memanfaatkan kamu biar bisa lepas dari Ardian! Iya, kan?!"Melan segera menggeleng saat Hera mengalihkan tatapan padanya. Tentu itu fitnah, karena

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 38

    "Tolong izinkan Ardian menikah dengan Lila." Kalimat itu masih terus terngiang di telinga Melan. Ia berusaha mengusirnya, tapi tak bisa. Kenapa dunia begitu tega padanya? Kenapa semua orang selalu bersikap egois dan tidak memikirkan perasaannya? Tadi di rumah sakit, Opa Hendra baru saja memintanya untuk mengizinkn Ardian menikahi Lila. Gila! Ini sungguh gila! Padahal, ia kira pria tua itu sama baiknya dngan Oma Risma. Ternyata tidak. Melan meenghapus kasar air mata di wajahnya ketika mendengar ponselnya berbunyi pertanda panggilan masuk. Ternyata dari Ferdi. "Halo, Fer." Ia berusaha menormalkan suaranya. Namun, sepertinya telinga Ferdi memang terlalu tajam. "Mel? Kamu nangis?" Perempuan itu terdiam sebentar. Sebenarnya ia tidak ingin melibatkan Ferdi dalam masalah malam ini. Ia takut laki-laki itu tidak bisa menahan emosi lagi. "Enggak." Akhirnya Melan memilih berdusta. "Ada apa?" tanyanya kemudian. "Aku udah cari Ardian ke rumah Lila tapi gak ada. Satpam bilang, Lila lagi d

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 37

    Darah Ferdi langsung mendidih ketika mendengar cerita Melan tentang Lila yang tengah mengandung anak Ardian. Ia ingin sekali membalik meja kafe saat itu juga, tapi tidak ingin membuat keributan di luar. Terlebih, Melan sudah lebih dulu memintanya untuk tidak terpancingg emosi.Beberapa jam Ferdi bisa diam dan mengubur amarahnya dalam-dalam. Namun, tidak ketika sudah tak ada Melan di sisinya. Setelah mengantar peerempua itu pulang, ia langsung melajukan mobilnya menuju rumah Ardian tanpa pikir panjang.Ferdi tidak mau tahu. Pokoknya Ardian harus membayar rasa sakit hati Melan malam ini juga.Laju mobil yang dikemudikan Ferdi makin menggila. Beberapa pengendara yang dilewati, sampai mengumpat karena ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Saking tingginya, untuk tiba di depan rumah Ardian saja hanya memerlukan waktu 30 menit. Padahal normalnya bisa menghabiskan waktu hingga 1 jam perjalanan.Ferdi gegas turun dari mobil dan melangkah tegas menuju teras. Begitu pintu utama dibuka

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 36

    "Opa ...." Lila berbisik lirih. Hatinya hancur melihat sang opa terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Pria yang satu-satunyan ia miliki itu bahkan belum membuka mata semenjak tak sadarkan diri di restoran."Ke-kenapa bisa sampai begini, Mas?" tanyanya pada Ardian, sebab laki-laki itu yang mengabarinya dan membawa Opa Hendra ke rumah sakit.Ardian lebih dulu mendekat pada sang kekasih dan mengusap pundaknya pelan. "Tadi aku datang ke restoran buat makan siang. Begitu keluar, Opa tiba-tiba tampar aku dan dia pingsan. Mungkin ... Opa masih belum terima kalau kita punya hubungan, La."Lila terdiam. Memang semalam ia sempat beradu mulut dengan sang opa ketika mengatakann hubungannya dengan Ardian. Apalagi ketika ia bilang tengah meengandung anak dari laki-laki itu.Opa Hendra benar-benar marah besar. Bahkan tangannya hampir saja mendarat di pipi Lila kalau tidak segera tersadar. Pria itu tidak terima bahwa selama ini ia menjadi simpanan Ardian.Tangis Lila makin pecah mengingat kejadian

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 35

    "Aku lagi meengandung anak Mas Ardian."Dunia Melan seketika runtuh mendengar pengkuan Lila yang tidak dibantah oleh Ardian. Laki-laki itu hanya diam, tanpa menjelaskan apa-apa.Meski hatinya hancur, Melan tetap tersenyum di depan mereka. Ia tidak ingin terlihat lemah, apalagi di depan Lila."Selamat, ya," ucapnya tanpa melunturkan senyuman. Ia kemudian beralih menatap suaminya. "Aku pulang, Mas."Ardian ingin menahan, tapi rasanya percuma karena Melan pasti akan tetap pergi sekarang. Akhirnya ia hanya diam, menatap punggung sang istri hingga hilang dari pandangan.Sementara itu, Melan langsung memasuki taksi setelah memberhentikannya. Ia memejamkan mata sembari menahan sesak yang terus menghantam dada.Tuhan ... baru kali ini Melan merasakan sakit yang amat sangat atas pengkhianatan suaminya.'Ini yang kamu bilang terpaksa, Mas?' batin perempuan itu melirih.Sungguh tidak masuk logika. Mana mungkin Ardian terpaksa jika sampai bisa menghamili Lila?'Kalian berdua memang bajingan!'Per

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 34

    "Kenapa kamu bawa dia, Mel?" Ardian bertanya sembari menatap tajam pada laki-laki yang berdiri di belakang Melan."Aku mau membersihkan namaku. Jadi Ferdi harus ikut," jawab Melan.Ia mempersilakan Ferdi untuk masuk ke ruangan Ardian meski laki-laki itu tampak masih menatap tajam."Aku ke sini cuma buaat bantu Melan," cetus Ferdi. "Jadi, kapan konferensi persnya dimulai?" tanyanya yang ditujukan pada Ardian.Laki-laki itu tak menjawab. Ia malah menghampiri Melan dan meminta perempuan itu duduk di sofa bersamanya. "Siska masih siapkan tempatnya."Sontak saja kening Melan mengerut. Ferdi yang bertanya, tapi Ardian malah berkata padanya. Namun, ia memilih diam dan menunggu Siska datang.Melihat sikap Ardian yang seolah sengaja mendekati Melan, Ferdi jelas geram. Namun, ia tak bisa melakukan apa-apa selain memantau dari jarak setengah meter.Ya, ia lebih memilih duduk di kursi yang berada di depan meja kerja Ardian."Berapa lama lagi, Mas?" tanya Melan yang sudah mulai bosan.Sudah 15 men

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 5

    Tatapan Melan menajam. Tangannya terkepal melihat Ferdi berdiri di depan pintu rumahnya. Tanpa berkata apa pun, ia melewati laki-laki itu begitu saja.Tentu Ferdi tidak tinggal diam. Ia pun bingung dengan sikap melan. Gegas laki-laki itu masuk ke rumah dan mengejar langkah Melan yang sudah hendak m

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 4

    Ketukan pintu kamar terdengar saat Melan tengah menyisir rambut panjangnya di depan meja rias. Ia letakkan sejenak sisir tersebt pada tempatnya, lalu berjalan ke dekat pintu. Dibukanya pintu kamar yang semula masih dikunci itu."Mas Ardian?"Ya, ternyata Ardian yang menyambangi kamarnya pagi-pagi b

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 2

    "Kamu yang harus menggugat cerai dia." Melan terpaku beberapa saat. Kemudian, ia mengubah posisi duduk dengan benar sambil menatap laki-laki di sampingnya. Saran Ferdi terdengar gila, tapi cukup menarik untuk dicoba. "Jadi, apa yang harus—" "Jadi begini kelakuan kalian di belakangku?" Suara it

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 1

    "Aku mau kita pisah!"Satu kalimat itu berhasil membuat tatapan Ardian menajam. Kedua tangannya terkepal erat di samping tubuh hingga urat-uratnya terlihat."Bisa ulangi sekali lagi?""Aku mau kita pisah, Mas Ardian!"Brak!Teriakan Melan terdengar bersamaan dengan suara gebrakan meja yang sangat k

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status