LOGIN"Kamu yang harus menggugat cerai dia."
Melan terpaku beberapa saat. Kemudian, ia mengubah posisi duduk dengan benar sambil menatap laki-laki di sampingnya. Saran Ferdi terdengar gila, tapi cukup menarik untuk dicoba. "Jadi, apa yang harus—" "Jadi begini kelakuan kalian di belakangku?" Suara itu tiba-tiba muncul dari arah depan, membuat tubuh Melan seketika membeku. Matanya membulat melihat sosok Ardian tengah berdiri tegak beberapa meter dari tempat ia dan Ferdi duduk. Mata Ardian menyorot tajam pada tangan Ferdi yang masih merangkul Melan. Ia berdecih sinis. "Ternyata kita sama, Melan." Mulut Melan seketika menganga. Meski hanya sebuah kalimat yang ambigu, tapi ia tahu persis apa maksud Ardian. Tanpa menunggu lagi, ia berdiri dan berjalan menghampiri sang suami. "Sama denganmu maksudnya, Mas? Maaf, aku gak segila itu," katanya yang kemudian berbalik, hendak meninggalkan laki-laki itu. Akan tetapi, belum sempat Melan melangkah, Ardian sudah lebih dulu menahan tangannya. "Terus apa ini? Masih mau mengelak, huh? Buat apa dia datang dan rangkul-rangkul kamu seperti itu? Aku curiga kamu minta pisah supaya bisa berhubungan dengan Ferdi secara terang-terangan. Iya, kan?" "Stop, Mas Ardian!" Mata Melan menatap Ardian tajam. Dadanya bergemuruh hebat, tak terima dicap sebagai perempuan seperti itu. "Aku sama Ferdi gak ada hubungan apa-apa. Dia ke sini cuma mau kasih aku solusi! Harusnya kamu belajar dari dia supaya bisa mengatasi masalah rumah tangga kita dengan bijak, Mas!" Ardian melirik Ferdi sekilas yang tengah tersenyum tipis di belakang sana. Kemudian, ia kembali menatap Melan. "Kamu salah kalau mau aku seperti dia, Melan." Setelah mengatakan itu, Ardian melepas cekalannya dari tangan Melan, lalu berlalu begitu saja. Kaki jenjangnya melangkah tegas menaiki tangga untuk menuju kamar. Sementara di bawah, Ferdi segera mendekati Melan setelah Ardian pergi. Tangannya terulur hendak merangkul, tapi perempuan itu malah menjauh. "Pergi, Fer. Jangan ada di sini." "Tapi ...." "Aku bilang pergi, Ferdi ...," pinta Melan dengan suara lirih. Ferdi tak bisa lagi memaksa jika Melan sudah seperti ini. Dengan langkah berat ia berjalan menuju pintu utama, meninggalkan Melan yang kini menangis sendirian di tengah luasnya ruangan. Sementara itu tanpa Melan tahu, Ardian menyaksikan semuanya dari atas. Ia baru memasuki kamar setelah Ferdi benar-benar meninggalkan istrinya. Laki-laki dengan kancing kemeja bagian atas yang terbuka itu menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang dengan posisi terlentang. Tatapannya tertuju pada langit-langit kamar. Sekilas, ia seperti melihat pantulan wajah Melan di atas sana—perempuan yang dua tahun lalu ia nikahi benar-benar tanpa cinta. Memang malang nasibnya. Setelah separuh usianya menjadi yatim piatu, ia malah menikah dengan laki-laki yang tak pernah sedikit pun memberi cinta. Tak dipungkiri, sesekali Ardian merasa bersalah. Namun, di sisi lain rasa penolakannya lebih besar terhadap Melan. 'Entah apa yang salah sampai aku sama sekali gak bisa menerimanya.' *** Malam ini harusnya Melan kembali ke rumah kecil peninggalan kedua orang tua, jika saja tadi siang Ardian menyetujui perceraian mereka. Namun, kini mau tak mau ia harus tetap terperngkap di rumah besar nan mewah yang dingin ini. Entah sampai kapan. Perempuan dengan mata yang masih sembab itu coba menenangkan diri dengan memejamkan mata. Namun, tak berhasil. Ia coba mengubah posisi tidur jadi menyamping, tetap saja sama. Lagi-lagi hanya bayangan Ardian yang menari di kepala. Entah memang bodoh atau bagaimana, bisa-bisanya Melan memiliki rasa cinta untuk laki-laki yang tidak pernah mencintainya. Seorang suami yang bahkan tak segan menyuruhnya tidur di sofa kamar agar mereka tidak satu ranjang. Bahkan setelah Oma Risma meninggal, laki-laki itu mengusirnya dari kamar tanpa belas kasihan. "Aku emang bodoh. Harusnya dari awal aku jangan menaruh hati sama Mas Ardian," gumamnya dengan suara lirih. Cairan bening yang semula sudah berhasil ditahan, kini kembali meluncur tanpa permisi di pipi mulus Melan. Ia terisak dalam keheningan malam. Hingga setelah beberapa lama, tenggorannya terasa kering. Meski malas, Melan tetap berjalan keluar kamar untuk mencari segelas air karena teko di kamarnya telah kosong sejak kemarin. Kaki perempuan itu melangkah pelan, melewati ruangan yang gelap, lalu berbelok menuju dapur. Namun, langkahnya terhenti seketika saat melihat lampu dapur menyala. "Siapa yang lagi di dapur malam-malam begini?" gumamnya. Melan sempat merasa takut dan urung untuk menuju dapur. Ia takut kejadian 1 tahun lalu terulang kembali saat rumah ini dimasuki penyusup. Namun, sebuah suara familiar yang muncul dari sana membuat ia yakin jika itu adalah suaminya. Perempuan itu kembali melanjutkan langkah. Benar saja, di dekat meja makan sana, tampak Ardian tengah berbicara lewat telpon dengan seseorang. "Tapi aku lagi gak mau liburan, La. Kapan-kapan aja bisa, Kan?" Melan tersenyum perih mendengar kalimat itu. Jelas ia bisa menebak jika lawan bicara sang suami adalah Lila. 'Mereka mau liburan? Hah, benar-benar gila,' batinnya. "Oke, fine. Aku akan pesan tiket sekarang!" ucap Ardian dengan nada sedikit tinggi. Laki-laki itu memutus panggilan sepihak, lalu memutar badan. Namun, siapa sangka matanya malah berselobok dengan mata sembab Melan. Melan tampak berjalan tenang melewati Ardian begitu saja. Tangannya menarik pintu kulkas dan mengeluarkan sebotol minuman dingin dari sana. Sembari mengisi gelasnya, ia bertanya, "Mau liburan, Mas?" "Kamu dengar?" Perempuan itu hanya menganggguk. Tatapan Ardian masih belum lepas dari wajah Melan yang tenang. "Kamu sengaja nguping, Mel? Kurang kerjaan!" "Buat apa?" Melan balik menatap sang suami dengan berani. "Bukannya ini udah biasa, ya?" Ardian diam. Kali ini ia seolah menemukan sosok yang berbeda di diri Melan. Hingga tiba-tiba perempuan itu melontarkan kalimat yang berhasil membuatnya tercengang. "Pergilah. Mulai sekarang aku gak akan peduli lagi kamu mau melakukan apa pun sama Lila." Degh! Tubuh Ardian seketika membeku. Dadanya terasa nyeri, entah karena apa. Yang jelas, selama ini Melan belum pernah bersikap demikian. Perempuan itu pasti akan menahannya dengan berbagai alasan, meski tetap berujung penolakan. 'Sepertinya ada yang gak beres. Apa Ferdi berhasil meracuni pikirannya lagi?'Hari sudah berganti, dan Ardian masih belum menemukan jejak sang istri. Orang-orang suruhannya belum berhasil melacak keberadaan Melan. Meski begitu, Ardian tidak tinggal diam. Ia terus mencari informasi tentang perempuan misterius itu sendiri."Ini kopinya, Tuan." Suara Bi Tin berhasil membuyarkan lamunan Ardian."Makasih," ucap laki-laki itu singkat.Bi Tin mengangguk, tapi belum lekas pergi. Ia masih berdiri di samping sofa yang majikannya duduki."Ada apa, Bi?" tanya Ardian heran."Uhm ... apa sudah ada kabar tentang Nyonya, Tuan?"Jujur saja, Bi Tin kesulitan tidur karena terus teringat Melan. Sungguh perempuan malang. Hidup sebagai yatim piatu, lalu malah menikah dengan laki-laki yang sama sekali tidak mencintainya."Belum."Bi Tin mengangguk singkat. Namun, masih ada satu pertanyaan yang mengganjal di hatinya. "Maaf, Tuan. Kenapa Tuan gak membolehkan Nyonya pergi? Bukannya karena itu, Tuan bisa menikah—""Ada sesuatu yang gak harus semua orang tahu, Bi," potong Ardian. "Termasu
Bayang matahari sudah berada tepat di atas kepala, tapi Ardian sama sekali belum melihat batang hidung istrinya. Ia sampai lelah menunggu di ruangan dekat kolam renang. Bi Tin pun sebenarnya sudah ia lepaskan dan kini tengah diam di atas kursi yang sejak tadi tak berubah posisi."Apa Nyonya gak kasih kabar lagi, Tuan?"Pertanyaan Bi Tin membuat Ardian yang semula fokus pada ponsel, mengalihkan pandangan. Laki-laki itu lalu menggeleng pelan. "Gak ada," jawabnya singkat.Terakhir kali, Ardian mendapat pesan dari Melan yang bilang bahwa ia akan datang ke sini. Tapi kenyataannya, sampai waktu sesiang ini, belum muncul tanda-tanda kedatangan sang istri."Apa tadi Nyonya sudah datang, tapi pergi lagi, ya, Tuan?"Pertanyaan Bi Tin kali ini cukup membuat kening Ardian mengkerut. "Kenapa begitu?"Bi Tin tampak menghela napas pelan. Jemarinya saling bertaut di atas paha. Raut cemas di wajahnya tidak bisa lagi disembunyikan. "Mu-mungkin Nyonya kira, kita gak ada di rumah, Tuan. Dari depan, kan,
Senyum miring tercetak di bibir Ardian saat melihat nama sang istri memenuhi layar panggilan. Tampaknya perempuan itu takut dengan ancamannya untuk membuat Bi Tin terluka.Tak menunggu waktu lama, Ardian menggeser ikon hijau hingga suara panik Melan terdengar di seberang panggilan."Jangan sakiti Bi Tin, Mas! Dia gak salah!"Ardian semakin menarik bibirnya ke atas. "Jadi, kamu tahu, kan, apa yang harus kamu lakukan sekarang, Melan?"Hening.Beberapa saat hanya terdengar suara deru napas Melan yang tak beraturan dari seberang panggilan. Dan tentu, itu membuat Ardian kesal. Tanpa berkata lagi, ia langsung mengubah panggilan suara ke panggilan video. Tak lama, wajah resah Melan tampak memenuhi layar."A-apa yang kamu mau, Mas?""Pulang sekarang."Tentu. Memangnya apa lagi yang Ardian inginkan selain Melan kembali ke rumah ini?"Kalau kamu gak mau kembali ke rumah ini ..."Ardian menjeda ucapannya sembari mengubah kamera ponsel ke kamera belakang, lalu tampaklah Bi Tin di layar. Wanita p
Pagi sekali Ardian sudah berada di ruang makan. Kedua siku tangannya bertempu di meja, sementara jemarinya saling bertautan di bawah dagu. Laki-laki itu tampak tenang, seolah tidak ada apa pun yang terjadi semalam. Roti lapis juga segelas susu hangat di depannya masih belum disentuh sejak tadi. Bahkan mungkin, susu hangat itu kini sudah berubah jadi dingin. Entahlah. Dia merasa malas menyentuh sarapannya pagi ini."Mana Melan?" tanyanya pada Bi Tin—asisten rumah tangga kepercayaannya.Sudah 30 menit Ardian diam di meja makan, tapi Melan belum juga muncul. Sangat membosankan!Ya, meski hubungan mereka sangat buruk, tapi saat waktu makan begini mereka akan berkumpul di meja makan. Walau kegiatan itu selalu dilalui dengan keheningan."Dari tadi Bibi belum lihat Nyonya turun, Tuan," jawab Bi Tin yang sangat tidak memuaskan bagi Ardian.Laki-laki itu berdecak kesal. "Periksa dia sekarang! Suruh turun buat sarapan," katanya.Bi Tin segera berjalan meninggalkan ruang makan, sedangkan Ardian
"Mas Ardian!" Teriakan itu terdengar memenuhi kamar. Melan tahu itu adalah suara Lila. Namun, tak ada niat untuknya menoleh barang sedikit saja.Melan masih tetap membelakangi Ardian sembari membungkus tubuh polosnya menggunakan selimut. Sementara matanya yang basah menatap nanar ke luar jendela.Untuk pertama kalinya, Ardian menjadikan Melan istri seutuhnya. Namun, alih-alih menikmati dan bahagia, perempuan itu justru merasa tersiksa karena sang suami benar-benar melakukannya dengan kasar dan penuh paksaan. Jika saja memiliki tenaga untuk melawan, rasanya Melan ingin sekali menendang tubuh Ardian ke lantai, kemudian ia lari sejauh mungkin.Sayang, kini semua sudah terjadi dan Melan tidak bisa mengembalikan apa yang telah hilang dari dirinya malam ini.Berbeda dengan Melan yang tidak memedulikan kehadiran Lila, Ardian justru dibuat terkejut. Laki-laki itu langsung bangkit dari atas ranjang dengan hanya mengenakan celana pendek. Sementara bagian atas tubuhnya dibiarkan polos tanpa seh
"Jangan pernah coba-coba buat kabur, Melan!"Suara Ardian terdengar dingin dan menusuk, membuat tubuh Melan kian membeku. Ia tak tahu harus bereaksi seperti apa. Berusaha tetap kabur pun percuma karena ternyata di luar rumah sudah berdiri beberapa orang pria yang ia yakini adalah orang suruhan sang suami. Meski begitu, hatinya tetap menolak untuk bertahan di rumah yang bak neraka ini.Belum habis keterkejutan Melan, Ardian tiba-tiba menyeret paksa lengannya untuk lebih masuk ke dalam rumah. Dengan tanpa belas kasihan laki-laki itu mencengkram lengan Melan kuat hingga sang istri terus meringis sepanjang berjalan paksa menuju kamar.Sementara itu, Melan benar-benar terkejut dengan perlakuan Ardian. Selama pernikahan, laki-laki itu belum pernah melakukan kekerasan fisik terhadapnya, meskipun hubungan mereka memang tidak harmonis sejak awal. Namun, kini Ardian tega dan berani memperlakukannnya seperti ini.'Apa-apaan ini? Kamu berani menindasku, Ardian?' batin perempuan itu geram.Ia beru







