Share

Chapter 2

last update publish date: 2026-03-04 10:06:39

"Kamu yang harus menggugat cerai dia."

Melan terpaku beberapa saat. Kemudian, ia mengubah posisi duduk dengan benar sambil menatap laki-laki di sampingnya. Saran Ferdi terdengar gila, tapi cukup menarik untuk dicoba.

"Jadi, apa yang harus—"

"Jadi begini kelakuan kalian di belakangku?"

Suara itu tiba-tiba muncul dari arah depan, membuat tubuh Melan seketika membeku. Matanya membulat melihat sosok Ardian tengah berdiri tegak beberapa meter dari tempat ia dan Ferdi duduk.

Mata Ardian menyorot tajam pada tangan Ferdi yang masih merangkul Melan. Ia berdecih sinis. "Ternyata kita sama, Melan."

Mulut Melan seketika menganga. Meski hanya sebuah kalimat yang ambigu, tapi ia tahu persis apa maksud Ardian. Tanpa menunggu lagi, ia berdiri dan berjalan menghampiri sang suami. "Sama denganmu maksudnya, Mas? Maaf, aku gak segila itu," katanya yang kemudian berbalik, hendak meninggalkan laki-laki itu.

Akan tetapi, belum sempat Melan melangkah, Ardian sudah lebih dulu menahan tangannya. "Terus apa ini? Masih mau mengelak, huh? Buat apa dia datang dan rangkul-rangkul kamu seperti itu? Aku curiga kamu minta pisah supaya bisa berhubungan dengan Ferdi secara terang-terangan. Iya, kan?"

"Stop, Mas Ardian!"

Mata Melan menatap Ardian tajam. Dadanya bergemuruh hebat, tak terima dicap sebagai perempuan seperti itu. "Aku sama Ferdi gak ada hubungan apa-apa. Dia ke sini cuma mau kasih aku solusi! Harusnya kamu belajar dari dia supaya bisa mengatasi masalah rumah tangga kita dengan bijak, Mas!"

Ardian melirik Ferdi sekilas yang tengah tersenyum tipis di belakang sana. Kemudian, ia kembali menatap Melan. "Kamu salah kalau mau aku seperti dia, Melan."

Setelah mengatakan itu, Ardian melepas cekalannya dari tangan Melan, lalu berlalu begitu saja. Kaki jenjangnya melangkah tegas menaiki tangga untuk menuju kamar.

Sementara di bawah, Ferdi segera mendekati Melan setelah Ardian pergi. Tangannya terulur hendak merangkul, tapi perempuan itu malah menjauh. "Pergi, Fer. Jangan ada di sini."

"Tapi ...."

"Aku bilang pergi, Ferdi ...," pinta Melan dengan suara lirih.

Ferdi tak bisa lagi memaksa jika Melan sudah seperti ini. Dengan langkah berat ia berjalan menuju pintu utama, meninggalkan Melan yang kini menangis sendirian di tengah luasnya ruangan.

Sementara itu tanpa Melan tahu, Ardian menyaksikan semuanya dari atas. Ia baru memasuki kamar setelah Ferdi benar-benar meninggalkan istrinya.

Laki-laki dengan kancing kemeja bagian atas yang terbuka itu menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang dengan posisi terlentang. Tatapannya tertuju pada langit-langit kamar. Sekilas, ia seperti melihat pantulan wajah Melan di atas sana—perempuan yang dua tahun lalu ia nikahi benar-benar tanpa cinta.

Memang malang nasibnya. Setelah separuh usianya menjadi yatim piatu, ia malah menikah dengan laki-laki yang tak pernah sedikit pun memberi cinta. Tak dipungkiri, sesekali Ardian merasa bersalah. Namun, di sisi lain rasa penolakannya lebih besar terhadap Melan.

'Entah apa yang salah sampai aku sama sekali gak bisa menerimanya.'

***

Malam ini harusnya Melan kembali ke rumah kecil peninggalan kedua orang tua, jika saja tadi siang Ardian menyetujui perceraian mereka. Namun, kini mau tak mau ia harus tetap terperngkap di rumah besar nan mewah yang dingin ini. Entah sampai kapan.

Perempuan dengan mata yang masih sembab itu coba menenangkan diri dengan memejamkan mata. Namun, tak berhasil. Ia coba mengubah posisi tidur jadi menyamping, tetap saja sama. Lagi-lagi hanya bayangan Ardian yang menari di kepala.

Entah memang bodoh atau bagaimana, bisa-bisanya Melan memiliki rasa cinta untuk laki-laki yang tidak pernah mencintainya. Seorang suami yang bahkan tak segan menyuruhnya tidur di sofa kamar agar mereka tidak satu ranjang. Bahkan setelah Oma Risma meninggal, laki-laki itu mengusirnya dari kamar tanpa belas kasihan.

"Aku emang bodoh. Harusnya dari awal aku jangan menaruh hati sama Mas Ardian," gumamnya dengan suara lirih.

Cairan bening yang semula sudah berhasil ditahan, kini kembali meluncur tanpa permisi di pipi mulus Melan. Ia terisak dalam keheningan malam. Hingga setelah beberapa lama, tenggorannya terasa kering. Meski malas, Melan tetap berjalan keluar kamar untuk mencari segelas air karena teko di kamarnya telah kosong sejak kemarin.

Kaki perempuan itu melangkah pelan, melewati ruangan yang gelap, lalu berbelok menuju dapur. Namun, langkahnya terhenti seketika saat melihat lampu dapur menyala.

"Siapa yang lagi di dapur malam-malam begini?" gumamnya.

Melan sempat merasa takut dan urung untuk menuju dapur. Ia takut kejadian 1 tahun lalu terulang kembali saat rumah ini dimasuki penyusup. Namun, sebuah suara familiar yang muncul dari sana membuat ia yakin jika itu adalah suaminya.

Perempuan itu kembali melanjutkan langkah. Benar saja, di dekat meja makan sana, tampak Ardian tengah berbicara lewat telpon dengan seseorang.

"Tapi aku lagi gak mau liburan, La. Kapan-kapan aja bisa, Kan?"

Melan tersenyum perih mendengar kalimat itu. Jelas ia bisa menebak jika lawan bicara sang suami adalah Lila.

'Mereka mau liburan? Hah, benar-benar gila,' batinnya.

"Oke, fine. Aku akan pesan tiket sekarang!" ucap Ardian dengan nada sedikit tinggi.

Laki-laki itu memutus panggilan sepihak, lalu memutar badan. Namun, siapa sangka matanya malah berselobok dengan mata sembab Melan.

Melan tampak berjalan tenang melewati Ardian begitu saja. Tangannya menarik pintu kulkas dan mengeluarkan sebotol minuman dingin dari sana. Sembari mengisi gelasnya, ia bertanya, "Mau liburan, Mas?"

"Kamu dengar?"

Perempuan itu hanya menganggguk.

Tatapan Ardian masih belum lepas dari wajah Melan yang tenang. "Kamu sengaja nguping, Mel? Kurang kerjaan!"

"Buat apa?" Melan balik menatap sang suami dengan berani. "Bukannya ini udah biasa, ya?"

Ardian diam. Kali ini ia seolah menemukan sosok yang berbeda di diri Melan. Hingga tiba-tiba perempuan itu melontarkan kalimat yang berhasil membuatnya tercengang.

"Pergilah. Mulai sekarang aku gak akan peduli lagi kamu mau melakukan apa pun sama Lila."

Degh!

Tubuh Ardian seketika membeku. Dadanya terasa nyeri, entah karena apa. Yang jelas, selama ini Melan belum pernah bersikap demikian. Perempuan itu pasti akan menahannya dengan berbagai alasan, meski tetap berujung penolakan.

'Sepertinya ada yang gak beres. Apa Ferdi berhasil meracuni pikirannya lagi?'

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 39

    "Dasar ga tahu malu!" teriak Hera yang langsung mengundang tatapan banyak pasang mata.Melihat itu, Melan dan Ferdi sontak berdiri. "Ada apa, sih, Ma? Malu dilihat orang," tegur Ferdi dengan suara pelan, tapi tajam. Ia tahu maksud teriakan sang mama tadi adalah untuk Melan. Karena itu ia harus segera mengambil tindakan agar tidak sampai terjadi keributan besar."Diam kamu, Ferdi! Ini urusan Mama sama dia!" Hera mengarahkan telunjuknya ke depan wajah Melan.Melan yang bingung hanya diam sambil sesekali melirik orang sekitar yang tampak keheranan. Sementara Ferdi segera menurunkan tangan sang mama dan coba bicara baik-baik dengannya."Tolong jangan buat keributan di sini, Ma. Gak enak—""Mama bilang diam!" Hera berteriak lagi hingga memotong ucapan Ferdi. Ia menatap tajam putra satu-satunya itu. "Cukup kamu bela dia terus, Fer! Dia cuma mau memanfaatkan kamu biar bisa lepas dari Ardian! Iya, kan?!"Melan segera menggeleng saat Hera mengalihkan tatapan padanya. Tentu itu fitnah, karena

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 38

    "Tolong izinkan Ardian menikah dengan Lila." Kalimat itu masih terus terngiang di telinga Melan. Ia berusaha mengusirnya, tapi tak bisa. Kenapa dunia begitu tega padanya? Kenapa semua orang selalu bersikap egois dan tidak memikirkan perasaannya? Tadi di rumah sakit, Opa Hendra baru saja memintanya untuk mengizinkn Ardian menikahi Lila. Gila! Ini sungguh gila! Padahal, ia kira pria tua itu sama baiknya dngan Oma Risma. Ternyata tidak. Melan meenghapus kasar air mata di wajahnya ketika mendengar ponselnya berbunyi pertanda panggilan masuk. Ternyata dari Ferdi. "Halo, Fer." Ia berusaha menormalkan suaranya. Namun, sepertinya telinga Ferdi memang terlalu tajam. "Mel? Kamu nangis?" Perempuan itu terdiam sebentar. Sebenarnya ia tidak ingin melibatkan Ferdi dalam masalah malam ini. Ia takut laki-laki itu tidak bisa menahan emosi lagi. "Enggak." Akhirnya Melan memilih berdusta. "Ada apa?" tanyanya kemudian. "Aku udah cari Ardian ke rumah Lila tapi gak ada. Satpam bilang, Lila lagi d

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 37

    Darah Ferdi langsung mendidih ketika mendengar cerita Melan tentang Lila yang tengah mengandung anak Ardian. Ia ingin sekali membalik meja kafe saat itu juga, tapi tidak ingin membuat keributan di luar. Terlebih, Melan sudah lebih dulu memintanya untuk tidak terpancingg emosi.Beberapa jam Ferdi bisa diam dan mengubur amarahnya dalam-dalam. Namun, tidak ketika sudah tak ada Melan di sisinya. Setelah mengantar peerempua itu pulang, ia langsung melajukan mobilnya menuju rumah Ardian tanpa pikir panjang.Ferdi tidak mau tahu. Pokoknya Ardian harus membayar rasa sakit hati Melan malam ini juga.Laju mobil yang dikemudikan Ferdi makin menggila. Beberapa pengendara yang dilewati, sampai mengumpat karena ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Saking tingginya, untuk tiba di depan rumah Ardian saja hanya memerlukan waktu 30 menit. Padahal normalnya bisa menghabiskan waktu hingga 1 jam perjalanan.Ferdi gegas turun dari mobil dan melangkah tegas menuju teras. Begitu pintu utama dibuka

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 36

    "Opa ...." Lila berbisik lirih. Hatinya hancur melihat sang opa terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Pria yang satu-satunyan ia miliki itu bahkan belum membuka mata semenjak tak sadarkan diri di restoran."Ke-kenapa bisa sampai begini, Mas?" tanyanya pada Ardian, sebab laki-laki itu yang mengabarinya dan membawa Opa Hendra ke rumah sakit.Ardian lebih dulu mendekat pada sang kekasih dan mengusap pundaknya pelan. "Tadi aku datang ke restoran buat makan siang. Begitu keluar, Opa tiba-tiba tampar aku dan dia pingsan. Mungkin ... Opa masih belum terima kalau kita punya hubungan, La."Lila terdiam. Memang semalam ia sempat beradu mulut dengan sang opa ketika mengatakann hubungannya dengan Ardian. Apalagi ketika ia bilang tengah meengandung anak dari laki-laki itu.Opa Hendra benar-benar marah besar. Bahkan tangannya hampir saja mendarat di pipi Lila kalau tidak segera tersadar. Pria itu tidak terima bahwa selama ini ia menjadi simpanan Ardian.Tangis Lila makin pecah mengingat kejadian

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 35

    "Aku lagi meengandung anak Mas Ardian."Dunia Melan seketika runtuh mendengar pengkuan Lila yang tidak dibantah oleh Ardian. Laki-laki itu hanya diam, tanpa menjelaskan apa-apa.Meski hatinya hancur, Melan tetap tersenyum di depan mereka. Ia tidak ingin terlihat lemah, apalagi di depan Lila."Selamat, ya," ucapnya tanpa melunturkan senyuman. Ia kemudian beralih menatap suaminya. "Aku pulang, Mas."Ardian ingin menahan, tapi rasanya percuma karena Melan pasti akan tetap pergi sekarang. Akhirnya ia hanya diam, menatap punggung sang istri hingga hilang dari pandangan.Sementara itu, Melan langsung memasuki taksi setelah memberhentikannya. Ia memejamkan mata sembari menahan sesak yang terus menghantam dada.Tuhan ... baru kali ini Melan merasakan sakit yang amat sangat atas pengkhianatan suaminya.'Ini yang kamu bilang terpaksa, Mas?' batin perempuan itu melirih.Sungguh tidak masuk logika. Mana mungkin Ardian terpaksa jika sampai bisa menghamili Lila?'Kalian berdua memang bajingan!'Per

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 34

    "Kenapa kamu bawa dia, Mel?" Ardian bertanya sembari menatap tajam pada laki-laki yang berdiri di belakang Melan."Aku mau membersihkan namaku. Jadi Ferdi harus ikut," jawab Melan.Ia mempersilakan Ferdi untuk masuk ke ruangan Ardian meski laki-laki itu tampak masih menatap tajam."Aku ke sini cuma buaat bantu Melan," cetus Ferdi. "Jadi, kapan konferensi persnya dimulai?" tanyanya yang ditujukan pada Ardian.Laki-laki itu tak menjawab. Ia malah menghampiri Melan dan meminta perempuan itu duduk di sofa bersamanya. "Siska masih siapkan tempatnya."Sontak saja kening Melan mengerut. Ferdi yang bertanya, tapi Ardian malah berkata padanya. Namun, ia memilih diam dan menunggu Siska datang.Melihat sikap Ardian yang seolah sengaja mendekati Melan, Ferdi jelas geram. Namun, ia tak bisa melakukan apa-apa selain memantau dari jarak setengah meter.Ya, ia lebih memilih duduk di kursi yang berada di depan meja kerja Ardian."Berapa lama lagi, Mas?" tanya Melan yang sudah mulai bosan.Sudah 15 men

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 25

    Melan segera membuka aplikasi sosial media miliknya begitu tiba di kamar. Ia menelusuri informasi mengenai lowongan kerja yang sempat ia lihat sebelumnya. Dan ... dapat! Melan berhasil menemukan akun yang memposting informasi tersebut.Perempuan itu langsung mengunduh banner informasi agar bisa dis

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 24

    "Ada apa, Sus?" tanya Melan pada seorang perawat yang baru saja keluar dari ruangan Ardan.Perempuan itu memaksakan diri datang ke rumah sakit meski rasanya sangat malas."Oh, ini ... pasien yang minta saya kirim pesan, Bu."Huft!Melan menghela napas kesal. Untuk apa Ardian menyuruhnya datang?"Ok

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 23

    "Pasien hanya kelelahan. Cukup istirahat untuk beberapa hari, nanti akan pulih. Hanya saja tetap harus menjaga pola tidur dan jangan terlalu memikirkan hal berat setelah ini," ucap dokter yang baru selesai menangani Ardian.Melan mengangguk, lalu mengucapkan terima kasih. Setelah dokter tersebut ke

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 22

    "Karena percuma, Mel. Dokumen aslinya memang yang sekarang kamu pegang ini."Begitulah jawaban Ferdi ketika Melan mengajukan pertanyaan tadi. Jujur saja, sampai sekarang Melan masih merasa ada yang janggal. Namun, hanya akan membuang waktu saja jika terus dipikirkan. Lebih baik Melan segera ke ruan

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status