LOGIN"Mas Ardian!"
Teriakan itu terdengar memenuhi kamar. Melan tahu itu adalah suara Lila. Namun, tak ada niat untuknya menoleh barang sedikit saja. Melan masih tetap membelakangi Ardian sembari membungkus tubuh polosnya menggunakan selimut. Sementara matanya yang basah menatap nanar ke luar jendela. Untuk pertama kalinya, Ardian menjadikan Melan istri seutuhnya. Namun, alih-alih menikmati dan bahagia, perempuan itu justru merasa tersiksa karena sang suami benar-benar melakukannya dengan kasar dan penuh paksaan. Jika saja memiliki tenaga untuk melawan, rasanya Melan ingin sekali menendang tubuh Ardian ke lantai, kemudian ia lari sejauh mungkin. Sayang, kini semua sudah terjadi dan Melan tidak bisa mengembalikan apa yang telah hilang dari dirinya malam ini. Berbeda dengan Melan yang tidak memedulikan kehadiran Lila, Ardian justru dibuat terkejut. Laki-laki itu langsung bangkit dari atas ranjang dengan hanya mengenakan celana pendek. Sementara bagian atas tubuhnya dibiarkan polos tanpa sehelai kain pun. "Lila? Ngapain kamu ke sini?" tanya Ardian sembari melangkah tergesa menuju pintu sebelum sang kekasih melangkah masuk. Lila mengepalkan kedua tangannya di samping tubuh. Matanya menatap tajam pada punggung Melan yang terbungkus selimut, kemudian beralih menatap Ardian tak kalah tajam. "Habis ngapain kalian?!" Ardian berdecak pelan. Ia segera meraih lengan perempuan itu dan membawanya menjauh dari kamar. "Lepas! Kamu harus jelasin sama aku, Mas! Apa yang kamu lakukan sama Melan?" Lila masih menutut jawaban, meskipun sebenarnya ia sudah bisa menebak apa yang dua orang itu lakukan. Tentu saja sedikit pun ia tak rela Ardian memadu cinta dengan Melan. Laki-laki itu hanya miliknya. Hanya miliknya! Ardian melepas cekalannya dari tangan Lila setelah sampai di anak tangga paling bawah. "Pulang," katanya dingin. Tentu satu kata itu berhasil membuat mata Lila melebar. Ardian menyuruhnya pulang? Apa-apaan ini? "Aku baru aja datang dan malah dikasih pemandangan menjijikan kalian, terus kamu suruh aku pulang? Mas, harusnya kamu—" "Gak ada yang minta kamu datang ke sini, Lila," potong Ardian dengan suara datar. Matanya kemudian mengarah ke pintu utama sambil berkata, "Pulang. Aku mau istirahat." "Mas!" pekik Lila tak terima. Ia sungguh merasa dipermainkan oleh janji yang pernah Ardian ucapkan. Laki-laki itu berjanji tidak akan menyentuh Melan atau mencintai perempuan itu meski status mereka adalah suami-istri yang sah di mata hukum. Ardian hanya mencintainya. Namun, apa yang terjadi malam ini sungguh menjijikan dan membuat ia geram. "Pulang," kata Ardian lagi. "Kita bicara besok." Ia terlalu malas untuk berdebat malam-malam begini. Lila benar-benar ingin meluapkan emosinya sekarang juga. Tetapi, ia sadar itu hanya akan membuat Ardian terbawa emosi dan melalukan sesuatu yang dapat merugikannya. Tidak! Lila harus tetap mempertahankan Ardian di sisinya. "Oke, aku pulang. Aku tunggu penjelasanmu besok pagi di rumah, Mas," ucapnya meski berat. Ardian hanya mengangguk pelan sembari memperhatikan langkah sang kekasih. Setelah perempuan itu tak terlihat lagi, ia menarik rambutnya frustasi. "Gila! Ini gila! Apa yang kulakukan tadi?" gumamnya kesal. Sungguh ia sangat terbawa emosi oleh ucapan Melan hingga merenggut paksa apa yang ada pada diri sang istri. Meski tahu itu memang haknya, tetapi Ardian sama sekali tak berniat dan tidak pernah ingin melakukannya. "Apa yang harus kulakukan sekarang?" Ia merasa telah menjadi monster yang menjijikan di depan Melan. "Pak Ardian? Maaf, tadi ponsel Anda tertinggal di mobil, Pak." Ardian menoleh saat mendengar suara sang sopir yang muncul tiba-tiba sembari menyerahkan benda pipih miliknya. "Makasih," ujarnya sambil kembali menaiki tangga. Dari layar ponsel yang kini digenggam, ia bisa melihat banyak panggilan tak terjawab dan pesan masuk dari Lila. Sontak saja helaan napas pendek keluar dari mulutnya. "Dia selalu memusingkan." *** Di dalam kamar, Melan masih di posisi yang sama. Pikirannya jauh melayang entah ke mana. Hingga suara notifikasi pesan masuk di ponsel berhasil menyadarkannya. Perempuan itu menoleh ke meja nakas di mana ponsel miliknya berada. Perlahan tangannya meraih benda pipih tersebut. Namun, sesaat kemudian bibirnya berdecak kesal ketika melihat nama Ferdi di layar. "Mau apa lagi dia?" Melan hendak meletakkan kembali ponselnya ke atas nakas, tapi tiba-tiba di ia teringat akan sesuatu. Demi apa pun, ia tidak ingin semakin lama terkurung di rumah ini. Melan ingin segera pergi sejauh mungkin dari sang suami. Bertepatan saat ia menggeser layar ponsel, nama Ferdi muncul sebagai pemanggil. Sejenak Melan terdiam. Haruskah kali ini ia meminta bantuan laki-laki itu agar bisa pergi dari rumah ini?"Dasar ga tahu malu!" teriak Hera yang langsung mengundang tatapan banyak pasang mata.Melihat itu, Melan dan Ferdi sontak berdiri. "Ada apa, sih, Ma? Malu dilihat orang," tegur Ferdi dengan suara pelan, tapi tajam. Ia tahu maksud teriakan sang mama tadi adalah untuk Melan. Karena itu ia harus segera mengambil tindakan agar tidak sampai terjadi keributan besar."Diam kamu, Ferdi! Ini urusan Mama sama dia!" Hera mengarahkan telunjuknya ke depan wajah Melan.Melan yang bingung hanya diam sambil sesekali melirik orang sekitar yang tampak keheranan. Sementara Ferdi segera menurunkan tangan sang mama dan coba bicara baik-baik dengannya."Tolong jangan buat keributan di sini, Ma. Gak enak—""Mama bilang diam!" Hera berteriak lagi hingga memotong ucapan Ferdi. Ia menatap tajam putra satu-satunya itu. "Cukup kamu bela dia terus, Fer! Dia cuma mau memanfaatkan kamu biar bisa lepas dari Ardian! Iya, kan?!"Melan segera menggeleng saat Hera mengalihkan tatapan padanya. Tentu itu fitnah, karena
"Tolong izinkan Ardian menikah dengan Lila." Kalimat itu masih terus terngiang di telinga Melan. Ia berusaha mengusirnya, tapi tak bisa. Kenapa dunia begitu tega padanya? Kenapa semua orang selalu bersikap egois dan tidak memikirkan perasaannya? Tadi di rumah sakit, Opa Hendra baru saja memintanya untuk mengizinkn Ardian menikahi Lila. Gila! Ini sungguh gila! Padahal, ia kira pria tua itu sama baiknya dngan Oma Risma. Ternyata tidak. Melan meenghapus kasar air mata di wajahnya ketika mendengar ponselnya berbunyi pertanda panggilan masuk. Ternyata dari Ferdi. "Halo, Fer." Ia berusaha menormalkan suaranya. Namun, sepertinya telinga Ferdi memang terlalu tajam. "Mel? Kamu nangis?" Perempuan itu terdiam sebentar. Sebenarnya ia tidak ingin melibatkan Ferdi dalam masalah malam ini. Ia takut laki-laki itu tidak bisa menahan emosi lagi. "Enggak." Akhirnya Melan memilih berdusta. "Ada apa?" tanyanya kemudian. "Aku udah cari Ardian ke rumah Lila tapi gak ada. Satpam bilang, Lila lagi d
Darah Ferdi langsung mendidih ketika mendengar cerita Melan tentang Lila yang tengah mengandung anak Ardian. Ia ingin sekali membalik meja kafe saat itu juga, tapi tidak ingin membuat keributan di luar. Terlebih, Melan sudah lebih dulu memintanya untuk tidak terpancingg emosi.Beberapa jam Ferdi bisa diam dan mengubur amarahnya dalam-dalam. Namun, tidak ketika sudah tak ada Melan di sisinya. Setelah mengantar peerempua itu pulang, ia langsung melajukan mobilnya menuju rumah Ardian tanpa pikir panjang.Ferdi tidak mau tahu. Pokoknya Ardian harus membayar rasa sakit hati Melan malam ini juga.Laju mobil yang dikemudikan Ferdi makin menggila. Beberapa pengendara yang dilewati, sampai mengumpat karena ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Saking tingginya, untuk tiba di depan rumah Ardian saja hanya memerlukan waktu 30 menit. Padahal normalnya bisa menghabiskan waktu hingga 1 jam perjalanan.Ferdi gegas turun dari mobil dan melangkah tegas menuju teras. Begitu pintu utama dibuka
"Opa ...." Lila berbisik lirih. Hatinya hancur melihat sang opa terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Pria yang satu-satunyan ia miliki itu bahkan belum membuka mata semenjak tak sadarkan diri di restoran."Ke-kenapa bisa sampai begini, Mas?" tanyanya pada Ardian, sebab laki-laki itu yang mengabarinya dan membawa Opa Hendra ke rumah sakit.Ardian lebih dulu mendekat pada sang kekasih dan mengusap pundaknya pelan. "Tadi aku datang ke restoran buat makan siang. Begitu keluar, Opa tiba-tiba tampar aku dan dia pingsan. Mungkin ... Opa masih belum terima kalau kita punya hubungan, La."Lila terdiam. Memang semalam ia sempat beradu mulut dengan sang opa ketika mengatakann hubungannya dengan Ardian. Apalagi ketika ia bilang tengah meengandung anak dari laki-laki itu.Opa Hendra benar-benar marah besar. Bahkan tangannya hampir saja mendarat di pipi Lila kalau tidak segera tersadar. Pria itu tidak terima bahwa selama ini ia menjadi simpanan Ardian.Tangis Lila makin pecah mengingat kejadian
"Aku lagi meengandung anak Mas Ardian."Dunia Melan seketika runtuh mendengar pengkuan Lila yang tidak dibantah oleh Ardian. Laki-laki itu hanya diam, tanpa menjelaskan apa-apa.Meski hatinya hancur, Melan tetap tersenyum di depan mereka. Ia tidak ingin terlihat lemah, apalagi di depan Lila."Selamat, ya," ucapnya tanpa melunturkan senyuman. Ia kemudian beralih menatap suaminya. "Aku pulang, Mas."Ardian ingin menahan, tapi rasanya percuma karena Melan pasti akan tetap pergi sekarang. Akhirnya ia hanya diam, menatap punggung sang istri hingga hilang dari pandangan.Sementara itu, Melan langsung memasuki taksi setelah memberhentikannya. Ia memejamkan mata sembari menahan sesak yang terus menghantam dada.Tuhan ... baru kali ini Melan merasakan sakit yang amat sangat atas pengkhianatan suaminya.'Ini yang kamu bilang terpaksa, Mas?' batin perempuan itu melirih.Sungguh tidak masuk logika. Mana mungkin Ardian terpaksa jika sampai bisa menghamili Lila?'Kalian berdua memang bajingan!'Per
"Kenapa kamu bawa dia, Mel?" Ardian bertanya sembari menatap tajam pada laki-laki yang berdiri di belakang Melan."Aku mau membersihkan namaku. Jadi Ferdi harus ikut," jawab Melan.Ia mempersilakan Ferdi untuk masuk ke ruangan Ardian meski laki-laki itu tampak masih menatap tajam."Aku ke sini cuma buaat bantu Melan," cetus Ferdi. "Jadi, kapan konferensi persnya dimulai?" tanyanya yang ditujukan pada Ardian.Laki-laki itu tak menjawab. Ia malah menghampiri Melan dan meminta perempuan itu duduk di sofa bersamanya. "Siska masih siapkan tempatnya."Sontak saja kening Melan mengerut. Ferdi yang bertanya, tapi Ardian malah berkata padanya. Namun, ia memilih diam dan menunggu Siska datang.Melihat sikap Ardian yang seolah sengaja mendekati Melan, Ferdi jelas geram. Namun, ia tak bisa melakukan apa-apa selain memantau dari jarak setengah meter.Ya, ia lebih memilih duduk di kursi yang berada di depan meja kerja Ardian."Berapa lama lagi, Mas?" tanya Melan yang sudah mulai bosan.Sudah 15 men
Senyum miring tercetak di bibir Ardian saat melihat nama sang istri memenuhi layar panggilan. Tampaknya perempuan itu takut dengan ancamannya untuk membuat Bi Tin terluka.Tak menunggu waktu lama, Ardian menggeser ikon hijau hingga suara panik Melan terdengar di seberang panggilan."Jangan sakiti B
Pagi sekali Ardian sudah berada di ruang makan. Kedua siku tangannya bertempu di meja, sementara jemarinya saling bertautan di bawah dagu. Laki-laki itu tampak tenang, seolah tidak ada apa pun yang terjadi semalam. Roti lapis juga segelas susu hangat di depannya masih belum disentuh sejak tadi. Ba
"Jangan pernah coba-coba buat kabur, Melan!"Suara Ardian terdengar dingin dan menusuk, membuat tubuh Melan kian membeku. Ia tak tahu harus bereaksi seperti apa. Berusaha tetap kabur pun percuma karena ternyata di luar rumah sudah berdiri beberapa orang pria yang ia yakini adalah orang suruhan sang
Tatapan Melan menajam. Tangannya terkepal melihat Ferdi berdiri di depan pintu rumahnya. Tanpa berkata apa pun, ia melewati laki-laki itu begitu saja.Tentu Ferdi tidak tinggal diam. Ia pun bingung dengan sikap melan. Gegas laki-laki itu masuk ke rumah dan mengejar langkah Melan yang sudah hendak m







