共有

Chapter 10

last update 公開日: 2026-04-11 18:54:02

Bayang matahari sudah berada tepat di atas kepala, tapi Ardian sama sekali belum melihat batang hidung istrinya. Ia sampai lelah menunggu di ruangan dekat kolam renang. Bi Tin pun sebenarnya sudah ia lepaskan dan kini tengah diam di atas kursi yang sejak tadi tak berubah posisi.

"Apa Nyonya gak kasih kabar lagi, Tuan?"

Pertanyaan Bi Tin membuat Ardian yang semula fokus pada ponsel, mengalihkan pandangan. Laki-laki itu lalu menggeleng pelan. "Gak ada," jawabnya singkat.

Terakhir kali, Ardian men
この本を無料で読み続ける
コードをスキャンしてアプリをダウンロード
ロックされたチャプター

最新チャプター

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 11

    Hari sudah berganti, dan Ardian masih belum menemukan jejak sang istri. Orang-orang suruhannya belum berhasil melacak keberadaan Melan. Meski begitu, Ardian tidak tinggal diam. Ia terus mencari informasi tentang perempuan misterius itu sendiri."Ini kopinya, Tuan." Suara Bi Tin berhasil membuyarkan lamunan Ardian."Makasih," ucap laki-laki itu singkat.Bi Tin mengangguk, tapi belum lekas pergi. Ia masih berdiri di samping sofa yang majikannya duduki."Ada apa, Bi?" tanya Ardian heran."Uhm ... apa sudah ada kabar tentang Nyonya, Tuan?"Jujur saja, Bi Tin kesulitan tidur karena terus teringat Melan. Sungguh perempuan malang. Hidup sebagai yatim piatu, lalu malah menikah dengan laki-laki yang sama sekali tidak mencintainya."Belum."Bi Tin mengangguk singkat. Namun, masih ada satu pertanyaan yang mengganjal di hatinya. "Maaf, Tuan. Kenapa Tuan gak membolehkan Nyonya pergi? Bukannya karena itu, Tuan bisa menikah—""Ada sesuatu yang gak harus semua orang tahu, Bi," potong Ardian. "Termasu

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 10

    Bayang matahari sudah berada tepat di atas kepala, tapi Ardian sama sekali belum melihat batang hidung istrinya. Ia sampai lelah menunggu di ruangan dekat kolam renang. Bi Tin pun sebenarnya sudah ia lepaskan dan kini tengah diam di atas kursi yang sejak tadi tak berubah posisi."Apa Nyonya gak kasih kabar lagi, Tuan?"Pertanyaan Bi Tin membuat Ardian yang semula fokus pada ponsel, mengalihkan pandangan. Laki-laki itu lalu menggeleng pelan. "Gak ada," jawabnya singkat.Terakhir kali, Ardian mendapat pesan dari Melan yang bilang bahwa ia akan datang ke sini. Tapi kenyataannya, sampai waktu sesiang ini, belum muncul tanda-tanda kedatangan sang istri."Apa tadi Nyonya sudah datang, tapi pergi lagi, ya, Tuan?"Pertanyaan Bi Tin kali ini cukup membuat kening Ardian mengkerut. "Kenapa begitu?"Bi Tin tampak menghela napas pelan. Jemarinya saling bertaut di atas paha. Raut cemas di wajahnya tidak bisa lagi disembunyikan. "Mu-mungkin Nyonya kira, kita gak ada di rumah, Tuan. Dari depan, kan,

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 9

    Senyum miring tercetak di bibir Ardian saat melihat nama sang istri memenuhi layar panggilan. Tampaknya perempuan itu takut dengan ancamannya untuk membuat Bi Tin terluka.Tak menunggu waktu lama, Ardian menggeser ikon hijau hingga suara panik Melan terdengar di seberang panggilan."Jangan sakiti Bi Tin, Mas! Dia gak salah!"Ardian semakin menarik bibirnya ke atas. "Jadi, kamu tahu, kan, apa yang harus kamu lakukan sekarang, Melan?"Hening.Beberapa saat hanya terdengar suara deru napas Melan yang tak beraturan dari seberang panggilan. Dan tentu, itu membuat Ardian kesal. Tanpa berkata lagi, ia langsung mengubah panggilan suara ke panggilan video. Tak lama, wajah resah Melan tampak memenuhi layar."A-apa yang kamu mau, Mas?""Pulang sekarang."Tentu. Memangnya apa lagi yang Ardian inginkan selain Melan kembali ke rumah ini?"Kalau kamu gak mau kembali ke rumah ini ..."Ardian menjeda ucapannya sembari mengubah kamera ponsel ke kamera belakang, lalu tampaklah Bi Tin di layar. Wanita p

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 8

    Pagi sekali Ardian sudah berada di ruang makan. Kedua siku tangannya bertempu di meja, sementara jemarinya saling bertautan di bawah dagu. Laki-laki itu tampak tenang, seolah tidak ada apa pun yang terjadi semalam. Roti lapis juga segelas susu hangat di depannya masih belum disentuh sejak tadi. Bahkan mungkin, susu hangat itu kini sudah berubah jadi dingin. Entahlah. Dia merasa malas menyentuh sarapannya pagi ini."Mana Melan?" tanyanya pada Bi Tin—asisten rumah tangga kepercayaannya.Sudah 30 menit Ardian diam di meja makan, tapi Melan belum juga muncul. Sangat membosankan!Ya, meski hubungan mereka sangat buruk, tapi saat waktu makan begini mereka akan berkumpul di meja makan. Walau kegiatan itu selalu dilalui dengan keheningan."Dari tadi Bibi belum lihat Nyonya turun, Tuan," jawab Bi Tin yang sangat tidak memuaskan bagi Ardian.Laki-laki itu berdecak kesal. "Periksa dia sekarang! Suruh turun buat sarapan," katanya.Bi Tin segera berjalan meninggalkan ruang makan, sedangkan Ardian

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 7

    "Mas Ardian!" Teriakan itu terdengar memenuhi kamar. Melan tahu itu adalah suara Lila. Namun, tak ada niat untuknya menoleh barang sedikit saja.Melan masih tetap membelakangi Ardian sembari membungkus tubuh polosnya menggunakan selimut. Sementara matanya yang basah menatap nanar ke luar jendela.Untuk pertama kalinya, Ardian menjadikan Melan istri seutuhnya. Namun, alih-alih menikmati dan bahagia, perempuan itu justru merasa tersiksa karena sang suami benar-benar melakukannya dengan kasar dan penuh paksaan. Jika saja memiliki tenaga untuk melawan, rasanya Melan ingin sekali menendang tubuh Ardian ke lantai, kemudian ia lari sejauh mungkin.Sayang, kini semua sudah terjadi dan Melan tidak bisa mengembalikan apa yang telah hilang dari dirinya malam ini.Berbeda dengan Melan yang tidak memedulikan kehadiran Lila, Ardian justru dibuat terkejut. Laki-laki itu langsung bangkit dari atas ranjang dengan hanya mengenakan celana pendek. Sementara bagian atas tubuhnya dibiarkan polos tanpa seh

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 6

    "Jangan pernah coba-coba buat kabur, Melan!"Suara Ardian terdengar dingin dan menusuk, membuat tubuh Melan kian membeku. Ia tak tahu harus bereaksi seperti apa. Berusaha tetap kabur pun percuma karena ternyata di luar rumah sudah berdiri beberapa orang pria yang ia yakini adalah orang suruhan sang suami. Meski begitu, hatinya tetap menolak untuk bertahan di rumah yang bak neraka ini.Belum habis keterkejutan Melan, Ardian tiba-tiba menyeret paksa lengannya untuk lebih masuk ke dalam rumah. Dengan tanpa belas kasihan laki-laki itu mencengkram lengan Melan kuat hingga sang istri terus meringis sepanjang berjalan paksa menuju kamar.Sementara itu, Melan benar-benar terkejut dengan perlakuan Ardian. Selama pernikahan, laki-laki itu belum pernah melakukan kekerasan fisik terhadapnya, meskipun hubungan mereka memang tidak harmonis sejak awal. Namun, kini Ardian tega dan berani memperlakukannnya seperti ini.'Apa-apaan ini? Kamu berani menindasku, Ardian?' batin perempuan itu geram.Ia beru

続きを読む
無料で面白い小説を探して読んでみましょう
GoodNovel アプリで人気小説に無料で!お好きな本をダウンロードして、いつでもどこでも読みましょう!
アプリで無料で本を読む
コードをスキャンしてアプリで読む
DMCA.com Protection Status