Share

Chapter 6

last update publish date: 2026-04-02 11:11:11

"Jangan pernah coba-coba buat kabur, Melan!"

Suara Ardian terdengar dingin dan menusuk, membuat tubuh Melan kian membeku. Ia tak tahu harus bereaksi seperti apa. Berusaha tetap kabur pun percuma karena ternyata di luar rumah sudah berdiri beberapa orang pria yang ia yakini adalah orang suruhan sang suami. Meski begitu, hatinya tetap menolak untuk bertahan di rumah yang bak neraka ini.

Belum habis keterkejutan Melan, Ardian tiba-tiba menyeret paksa lengannya untuk lebih masuk ke dalam rumah. Dengan tanpa belas kasihan laki-laki itu mencengkram lengan Melan kuat hingga sang istri terus meringis sepanjang berjalan paksa menuju kamar.

Sementara itu, Melan benar-benar terkejut dengan perlakuan Ardian. Selama pernikahan, laki-laki itu belum pernah melakukan kekerasan fisik terhadapnya, meskipun hubungan mereka memang tidak harmonis sejak awal. Namun, kini Ardian tega dan berani memperlakukannnya seperti ini.

'Apa-apaan ini? Kamu berani menindasku, Ardian?' batin perempuan itu geram.

Ia berusaha melepas cekalan sang suami ketika laki-laki itu berhasil membawanya masuk ke dalam kamar. Namun, sama sekali tak berhasil. Malah kini Ardian dengan tega mendorong kasar tubuh Melan hingga tersungkur ke atas ranjang.

"Akh!" Melan memekik karena terkejut. Sesaat kemudian, ia menoleh pada Ardian dan memberi laki-laki itu tatapan tajam. "Punya hak apa kamu lakukan ini sama aku, Mas?" tanyanya geram.

Ardian tersenyum miring. Ia melangkah lebih dekat hingga benar-benar ada di depan Melan. Wajahnya menunduk sampai hampir tak ada jarak lagi dengan wajah cantik Melan. Ia bahkan bisa merasakan embusan napas perempuan itu yang masih memburu.

"Karena aku suamimu. Aku punya hak atas semua yang ada di kamu, Melan," bisiknya yang membuat Melan seketika memundurkan wajah.

Perempuan itu menggeleng pelan dengan tatapan bengis yang tertuju pada Ardian. "Suami? Suami macam apa dulu? Gak usah merasa paling berhak dan paling memiliki kalau kamu aja belum jadi suami yang baik buatku, Mas."

Jleb!

Perkataan Melan jelas menggores harga diri Ardian, membuat wajah laki-laki itu seketika merah padam. Kemudian, dalam kondisi dada yang masih dipenuhi emosi, ia mendorong tubuh sang istri dan mengukungnya hingga terlentang di atas ranjang.

Posisi seperti ini jelas membuat Melan ketakutan dan kesulitan bergerak. Apalagi Ardian begitu kuat menahan kedua tangannya. Sementara kedua kakinya pun ditahan oleh tubuh laki-laki itu.

"Malam ini akan kubuktikan kalau aku memang punya hak atas kamu, Melan," bisik Ardian yang malah terdengar menakutkan di telinga Melan.

Perempuan itu menggeleng kuat. Air matanya mulai mengalir di kedua pipi ketika Ardian melancarkan aksi menggunakan mulutnya. Laki-laki itu benar-benar bertindak seperti pemiliknya sepenuhnya. Padahal dalam kondisi seperti ini, Melan tidak sudi untuk disentuh.

Melan terus berontak, tapi hanya menghabiskan sisa tenaganya yang sudah tak seberapa. Hingga ketika Ardian melepas bibirnya, ia coba berucap lirih, "To-tolong jangan. Ja-jangan seperti ini, Mas. A-aku—hmmph!"

Sial!

'Ini gak boleh terjadi. Gak boleh! Tolong singkirkan manusia ini dari tubuhku, Tuhan ....'

Sementara itu di lain tempat, Lila tengah berusaha menghubungi nomor ponsel Ardian. Namun, tidak pernah mendapat jawaban. Laki-laki itu seolah sengaja menghindarinya semenjak membatalkan kepergian mereka secara tiba-tiba.

Ya, tadi saat telah tiba di bandara, Ardian tiba-tiba membatalkan agenda mereka secara sepihak. Jelas Lila tak terima dan sempat marah besar pada Ardian. Namun, laki-laki itu malah bersikap seolah tak peduli.

Sungguh Lila bingung, apa yang terjadi dengan sang kekasih? Bahkan laki-laki itu langsung memutuskan untuk pulang tanpa mau mengantar Lila atau memberi sedikit penjelasan tentang keputusan gilanya itu. Alhasil, Lila harus pulang diantar sopir dengan amarah yang masih membara dalam dada.

Lila sadar selama perjalanan menuju bandara, Ardian memang selalu fokus pada ponselnya. Beberapa kali ia mengajak bicara pun, laki-laki itu hanya menjawab seadanya. Sangat berbeda dari biasa.

"Jangan-jangan, Mas Ardian pulang gara-gara Melan?" gumamnya.

"Gak! Gak mungkin!" Ia menggelengkan kepala cepat. Memangnya apa peduli Ardian pada Melan?

"Tapi, kalau bener Mas Ardian pulang karena Melan ..."

"Aku gak bisa diam aja!" ucapnya geram.

Ia segera meraih tas yang tergeletak di atas meja, lalu berjalan keluar rumah. Hanya dengan satu perintah, mobil yang ia tumpangi langsung melaju menuju rumah Ardian. Ya, ia harus memastikan kekasihnya sedang apa sekarang. Dan yang terpenting, alasan laki-laki itu tega membatalkan agenda jalan-jalan dengannya bukan karena Melan.

"Cepet, Pak!" suruhnya pada sang sopir. Ia tak bisa menunggu lebih lama lagi untuk bertemu dengan sang kekasih.

Beruntung kondisi lalu lintas tidak terlalu padat malam ini, sehingga hanya memerlukan belasan menit untuk Lila tiba di depan rumah megah bernuansa putih itu. Tanpa menunggu lama, ia merangsek masuk ke dalam rumah itu. Tentu tak ada satu pun yang berani melarang meski di sana berdiri beberapa anak buah Ardian.

Namun, hal pertama yang Lila temukan hanyalah kesunyian. Bahkan tak ada seorang pun asisten rumah tangga yang melintas. Rumah ini seolah sengaja dibuat sesepi mungkin dan semua orang berpindah di ruangan lain.

Kondisi ini tentu membuat perasaan Lila makin tak karuan. Dengan emosi yang memenuhi dada, ia menaiki tangga menuju kamar Ardian. Ketika tiba di depan kamar dengan pintu paling megah itu, tanpa aba-aba ia mendorongnya sekuat tenaga. Namun, apa yang ia dapati di dalam sana sungguh membuat tubuhnya membeku seketika.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 39

    "Dasar ga tahu malu!" teriak Hera yang langsung mengundang tatapan banyak pasang mata.Melihat itu, Melan dan Ferdi sontak berdiri. "Ada apa, sih, Ma? Malu dilihat orang," tegur Ferdi dengan suara pelan, tapi tajam. Ia tahu maksud teriakan sang mama tadi adalah untuk Melan. Karena itu ia harus segera mengambil tindakan agar tidak sampai terjadi keributan besar."Diam kamu, Ferdi! Ini urusan Mama sama dia!" Hera mengarahkan telunjuknya ke depan wajah Melan.Melan yang bingung hanya diam sambil sesekali melirik orang sekitar yang tampak keheranan. Sementara Ferdi segera menurunkan tangan sang mama dan coba bicara baik-baik dengannya."Tolong jangan buat keributan di sini, Ma. Gak enak—""Mama bilang diam!" Hera berteriak lagi hingga memotong ucapan Ferdi. Ia menatap tajam putra satu-satunya itu. "Cukup kamu bela dia terus, Fer! Dia cuma mau memanfaatkan kamu biar bisa lepas dari Ardian! Iya, kan?!"Melan segera menggeleng saat Hera mengalihkan tatapan padanya. Tentu itu fitnah, karena

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 38

    "Tolong izinkan Ardian menikah dengan Lila." Kalimat itu masih terus terngiang di telinga Melan. Ia berusaha mengusirnya, tapi tak bisa. Kenapa dunia begitu tega padanya? Kenapa semua orang selalu bersikap egois dan tidak memikirkan perasaannya? Tadi di rumah sakit, Opa Hendra baru saja memintanya untuk mengizinkn Ardian menikahi Lila. Gila! Ini sungguh gila! Padahal, ia kira pria tua itu sama baiknya dngan Oma Risma. Ternyata tidak. Melan meenghapus kasar air mata di wajahnya ketika mendengar ponselnya berbunyi pertanda panggilan masuk. Ternyata dari Ferdi. "Halo, Fer." Ia berusaha menormalkan suaranya. Namun, sepertinya telinga Ferdi memang terlalu tajam. "Mel? Kamu nangis?" Perempuan itu terdiam sebentar. Sebenarnya ia tidak ingin melibatkan Ferdi dalam masalah malam ini. Ia takut laki-laki itu tidak bisa menahan emosi lagi. "Enggak." Akhirnya Melan memilih berdusta. "Ada apa?" tanyanya kemudian. "Aku udah cari Ardian ke rumah Lila tapi gak ada. Satpam bilang, Lila lagi d

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 37

    Darah Ferdi langsung mendidih ketika mendengar cerita Melan tentang Lila yang tengah mengandung anak Ardian. Ia ingin sekali membalik meja kafe saat itu juga, tapi tidak ingin membuat keributan di luar. Terlebih, Melan sudah lebih dulu memintanya untuk tidak terpancingg emosi.Beberapa jam Ferdi bisa diam dan mengubur amarahnya dalam-dalam. Namun, tidak ketika sudah tak ada Melan di sisinya. Setelah mengantar peerempua itu pulang, ia langsung melajukan mobilnya menuju rumah Ardian tanpa pikir panjang.Ferdi tidak mau tahu. Pokoknya Ardian harus membayar rasa sakit hati Melan malam ini juga.Laju mobil yang dikemudikan Ferdi makin menggila. Beberapa pengendara yang dilewati, sampai mengumpat karena ia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Saking tingginya, untuk tiba di depan rumah Ardian saja hanya memerlukan waktu 30 menit. Padahal normalnya bisa menghabiskan waktu hingga 1 jam perjalanan.Ferdi gegas turun dari mobil dan melangkah tegas menuju teras. Begitu pintu utama dibuka

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 36

    "Opa ...." Lila berbisik lirih. Hatinya hancur melihat sang opa terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Pria yang satu-satunyan ia miliki itu bahkan belum membuka mata semenjak tak sadarkan diri di restoran."Ke-kenapa bisa sampai begini, Mas?" tanyanya pada Ardian, sebab laki-laki itu yang mengabarinya dan membawa Opa Hendra ke rumah sakit.Ardian lebih dulu mendekat pada sang kekasih dan mengusap pundaknya pelan. "Tadi aku datang ke restoran buat makan siang. Begitu keluar, Opa tiba-tiba tampar aku dan dia pingsan. Mungkin ... Opa masih belum terima kalau kita punya hubungan, La."Lila terdiam. Memang semalam ia sempat beradu mulut dengan sang opa ketika mengatakann hubungannya dengan Ardian. Apalagi ketika ia bilang tengah meengandung anak dari laki-laki itu.Opa Hendra benar-benar marah besar. Bahkan tangannya hampir saja mendarat di pipi Lila kalau tidak segera tersadar. Pria itu tidak terima bahwa selama ini ia menjadi simpanan Ardian.Tangis Lila makin pecah mengingat kejadian

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 35

    "Aku lagi meengandung anak Mas Ardian."Dunia Melan seketika runtuh mendengar pengkuan Lila yang tidak dibantah oleh Ardian. Laki-laki itu hanya diam, tanpa menjelaskan apa-apa.Meski hatinya hancur, Melan tetap tersenyum di depan mereka. Ia tidak ingin terlihat lemah, apalagi di depan Lila."Selamat, ya," ucapnya tanpa melunturkan senyuman. Ia kemudian beralih menatap suaminya. "Aku pulang, Mas."Ardian ingin menahan, tapi rasanya percuma karena Melan pasti akan tetap pergi sekarang. Akhirnya ia hanya diam, menatap punggung sang istri hingga hilang dari pandangan.Sementara itu, Melan langsung memasuki taksi setelah memberhentikannya. Ia memejamkan mata sembari menahan sesak yang terus menghantam dada.Tuhan ... baru kali ini Melan merasakan sakit yang amat sangat atas pengkhianatan suaminya.'Ini yang kamu bilang terpaksa, Mas?' batin perempuan itu melirih.Sungguh tidak masuk logika. Mana mungkin Ardian terpaksa jika sampai bisa menghamili Lila?'Kalian berdua memang bajingan!'Per

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 34

    "Kenapa kamu bawa dia, Mel?" Ardian bertanya sembari menatap tajam pada laki-laki yang berdiri di belakang Melan."Aku mau membersihkan namaku. Jadi Ferdi harus ikut," jawab Melan.Ia mempersilakan Ferdi untuk masuk ke ruangan Ardian meski laki-laki itu tampak masih menatap tajam."Aku ke sini cuma buaat bantu Melan," cetus Ferdi. "Jadi, kapan konferensi persnya dimulai?" tanyanya yang ditujukan pada Ardian.Laki-laki itu tak menjawab. Ia malah menghampiri Melan dan meminta perempuan itu duduk di sofa bersamanya. "Siska masih siapkan tempatnya."Sontak saja kening Melan mengerut. Ferdi yang bertanya, tapi Ardian malah berkata padanya. Namun, ia memilih diam dan menunggu Siska datang.Melihat sikap Ardian yang seolah sengaja mendekati Melan, Ferdi jelas geram. Namun, ia tak bisa melakukan apa-apa selain memantau dari jarak setengah meter.Ya, ia lebih memilih duduk di kursi yang berada di depan meja kerja Ardian."Berapa lama lagi, Mas?" tanya Melan yang sudah mulai bosan.Sudah 15 men

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 9

    Senyum miring tercetak di bibir Ardian saat melihat nama sang istri memenuhi layar panggilan. Tampaknya perempuan itu takut dengan ancamannya untuk membuat Bi Tin terluka.Tak menunggu waktu lama, Ardian menggeser ikon hijau hingga suara panik Melan terdengar di seberang panggilan."Jangan sakiti B

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 8

    Pagi sekali Ardian sudah berada di ruang makan. Kedua siku tangannya bertempu di meja, sementara jemarinya saling bertautan di bawah dagu. Laki-laki itu tampak tenang, seolah tidak ada apa pun yang terjadi semalam. Roti lapis juga segelas susu hangat di depannya masih belum disentuh sejak tadi. Ba

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 7

    "Mas Ardian!" Teriakan itu terdengar memenuhi kamar. Melan tahu itu adalah suara Lila. Namun, tak ada niat untuknya menoleh barang sedikit saja.Melan masih tetap membelakangi Ardian sembari membungkus tubuh polosnya menggunakan selimut. Sementara matanya yang basah menatap nanar ke luar jendela.

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 5

    Tatapan Melan menajam. Tangannya terkepal melihat Ferdi berdiri di depan pintu rumahnya. Tanpa berkata apa pun, ia melewati laki-laki itu begitu saja.Tentu Ferdi tidak tinggal diam. Ia pun bingung dengan sikap melan. Gegas laki-laki itu masuk ke rumah dan mengejar langkah Melan yang sudah hendak m

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status