ANMELDEN"Jangan pernah coba-coba buat kabur, Melan!"
Suara Ardian terdengar dingin dan menusuk, membuat tubuh Melan kian membeku. Ia tak tahu harus bereaksi seperti apa. Berusaha tetap kabur pun percuma karena ternyata di luar rumah sudah berdiri beberapa orang pria yang ia yakini adalah orang suruhan sang suami. Meski begitu, hatinya tetap menolak untuk bertahan di rumah yang bak neraka ini. Belum habis keterkejutan Melan, Ardian tiba-tiba menyeret paksa lengannya untuk lebih masuk ke dalam rumah. Dengan tanpa belas kasihan laki-laki itu mencengkram lengan Melan kuat hingga sang istri terus meringis sepanjang berjalan paksa menuju kamar. Sementara itu, Melan benar-benar terkejut dengan perlakuan Ardian. Selama pernikahan, laki-laki itu belum pernah melakukan kekerasan fisik terhadapnya, meskipun hubungan mereka memang tidak harmonis sejak awal. Namun, kini Ardian tega dan berani memperlakukannnya seperti ini. 'Apa-apaan ini? Kamu berani menindasku, Ardian?' batin perempuan itu geram. Ia berusaha melepas cekalan sang suami ketika laki-laki itu berhasil membawanya masuk ke dalam kamar. Namun, sama sekali tak berhasil. Malah kini Ardian dengan tega mendorong kasar tubuh Melan hingga tersungkur ke atas ranjang. "Akh!" Melan memekik karena terkejut. Sesaat kemudian, ia menoleh pada Ardian dan memberi laki-laki itu tatapan tajam. "Punya hak apa kamu lakukan ini sama aku, Mas?" tanyanya geram. Ardian tersenyum miring. Ia melangkah lebih dekat hingga benar-benar ada di depan Melan. Wajahnya menunduk sampai hampir tak ada jarak lagi dengan wajah cantik Melan. Ia bahkan bisa merasakan embusan napas perempuan itu yang masih memburu. "Karena aku suamimu. Aku punya hak atas semua yang ada di kamu, Melan," bisiknya yang membuat Melan seketika memundurkan wajah. Perempuan itu menggeleng pelan dengan tatapan bengis yang tertuju pada Ardian. "Suami? Suami macam apa dulu? Gak usah merasa paling berhak dan paling memiliki kalau kamu aja belum jadi suami yang baik buatku, Mas." Jleb! Perkataan Melan jelas menggores harga diri Ardian, membuat wajah laki-laki itu seketika merah padam. Kemudian, dalam kondisi dada yang masih dipenuhi emosi, ia mendorong tubuh sang istri dan mengukungnya hingga terlentang di atas ranjang. Posisi seperti ini jelas membuat Melan ketakutan dan kesulitan bergerak. Apalagi Ardian begitu kuat menahan kedua tangannya. Sementara kedua kakinya pun ditahan oleh tubuh laki-laki itu. "Malam ini akan kubuktikan kalau aku memang punya hak atas kamu, Melan," bisik Ardian yang malah terdengar menakutkan di telinga Melan. Perempuan itu menggeleng kuat. Air matanya mulai mengalir di kedua pipi ketika Ardian melancarkan aksi menggunakan mulutnya. Laki-laki itu benar-benar bertindak seperti pemiliknya sepenuhnya. Padahal dalam kondisi seperti ini, Melan tidak sudi untuk disentuh. Melan terus berontak, tapi hanya menghabiskan sisa tenaganya yang sudah tak seberapa. Hingga ketika Ardian melepas bibirnya, ia coba berucap lirih, "To-tolong jangan. Ja-jangan seperti ini, Mas. A-aku—hmmph!" Sial! 'Ini gak boleh terjadi. Gak boleh! Tolong singkirkan manusia ini dari tubuhku, Tuhan ....' Sementara itu di lain tempat, Lila tengah berusaha menghubungi nomor ponsel Ardian. Namun, tidak pernah mendapat jawaban. Laki-laki itu seolah sengaja menghindarinya semenjak membatalkan kepergian mereka secara tiba-tiba. Ya, tadi saat telah tiba di bandara, Ardian tiba-tiba membatalkan agenda mereka secara sepihak. Jelas Lila tak terima dan sempat marah besar pada Ardian. Namun, laki-laki itu malah bersikap seolah tak peduli. Sungguh Lila bingung, apa yang terjadi dengan sang kekasih? Bahkan laki-laki itu langsung memutuskan untuk pulang tanpa mau mengantar Lila atau memberi sedikit penjelasan tentang keputusan gilanya itu. Alhasil, Lila harus pulang diantar sopir dengan amarah yang masih membara dalam dada. Lila sadar selama perjalanan menuju bandara, Ardian memang selalu fokus pada ponselnya. Beberapa kali ia mengajak bicara pun, laki-laki itu hanya menjawab seadanya. Sangat berbeda dari biasa. "Jangan-jangan, Mas Ardian pulang gara-gara Melan?" gumamnya. "Gak! Gak mungkin!" Ia menggelengkan kepala cepat. Memangnya apa peduli Ardian pada Melan? "Tapi, kalau bener Mas Ardian pulang karena Melan ..." "Aku gak bisa diam aja!" ucapnya geram. Ia segera meraih tas yang tergeletak di atas meja, lalu berjalan keluar rumah. Hanya dengan satu perintah, mobil yang ia tumpangi langsung melaju menuju rumah Ardian. Ya, ia harus memastikan kekasihnya sedang apa sekarang. Dan yang terpenting, alasan laki-laki itu tega membatalkan agenda jalan-jalan dengannya bukan karena Melan. "Cepet, Pak!" suruhnya pada sang sopir. Ia tak bisa menunggu lebih lama lagi untuk bertemu dengan sang kekasih. Beruntung kondisi lalu lintas tidak terlalu padat malam ini, sehingga hanya memerlukan belasan menit untuk Lila tiba di depan rumah megah bernuansa putih itu. Tanpa menunggu lama, ia merangsek masuk ke dalam rumah itu. Tentu tak ada satu pun yang berani melarang meski di sana berdiri beberapa anak buah Ardian. Namun, hal pertama yang Lila temukan hanyalah kesunyian. Bahkan tak ada seorang pun asisten rumah tangga yang melintas. Rumah ini seolah sengaja dibuat sesepi mungkin dan semua orang berpindah di ruangan lain. Kondisi ini tentu membuat perasaan Lila makin tak karuan. Dengan emosi yang memenuhi dada, ia menaiki tangga menuju kamar Ardian. Ketika tiba di depan kamar dengan pintu paling megah itu, tanpa aba-aba ia mendorongnya sekuat tenaga. Namun, apa yang ia dapati di dalam sana sungguh membuat tubuhnya membeku seketika.Hari sudah berganti, dan Ardian masih belum menemukan jejak sang istri. Orang-orang suruhannya belum berhasil melacak keberadaan Melan. Meski begitu, Ardian tidak tinggal diam. Ia terus mencari informasi tentang perempuan misterius itu sendiri."Ini kopinya, Tuan." Suara Bi Tin berhasil membuyarkan lamunan Ardian."Makasih," ucap laki-laki itu singkat.Bi Tin mengangguk, tapi belum lekas pergi. Ia masih berdiri di samping sofa yang majikannya duduki."Ada apa, Bi?" tanya Ardian heran."Uhm ... apa sudah ada kabar tentang Nyonya, Tuan?"Jujur saja, Bi Tin kesulitan tidur karena terus teringat Melan. Sungguh perempuan malang. Hidup sebagai yatim piatu, lalu malah menikah dengan laki-laki yang sama sekali tidak mencintainya."Belum."Bi Tin mengangguk singkat. Namun, masih ada satu pertanyaan yang mengganjal di hatinya. "Maaf, Tuan. Kenapa Tuan gak membolehkan Nyonya pergi? Bukannya karena itu, Tuan bisa menikah—""Ada sesuatu yang gak harus semua orang tahu, Bi," potong Ardian. "Termasu
Bayang matahari sudah berada tepat di atas kepala, tapi Ardian sama sekali belum melihat batang hidung istrinya. Ia sampai lelah menunggu di ruangan dekat kolam renang. Bi Tin pun sebenarnya sudah ia lepaskan dan kini tengah diam di atas kursi yang sejak tadi tak berubah posisi."Apa Nyonya gak kasih kabar lagi, Tuan?"Pertanyaan Bi Tin membuat Ardian yang semula fokus pada ponsel, mengalihkan pandangan. Laki-laki itu lalu menggeleng pelan. "Gak ada," jawabnya singkat.Terakhir kali, Ardian mendapat pesan dari Melan yang bilang bahwa ia akan datang ke sini. Tapi kenyataannya, sampai waktu sesiang ini, belum muncul tanda-tanda kedatangan sang istri."Apa tadi Nyonya sudah datang, tapi pergi lagi, ya, Tuan?"Pertanyaan Bi Tin kali ini cukup membuat kening Ardian mengkerut. "Kenapa begitu?"Bi Tin tampak menghela napas pelan. Jemarinya saling bertaut di atas paha. Raut cemas di wajahnya tidak bisa lagi disembunyikan. "Mu-mungkin Nyonya kira, kita gak ada di rumah, Tuan. Dari depan, kan,
Senyum miring tercetak di bibir Ardian saat melihat nama sang istri memenuhi layar panggilan. Tampaknya perempuan itu takut dengan ancamannya untuk membuat Bi Tin terluka.Tak menunggu waktu lama, Ardian menggeser ikon hijau hingga suara panik Melan terdengar di seberang panggilan."Jangan sakiti Bi Tin, Mas! Dia gak salah!"Ardian semakin menarik bibirnya ke atas. "Jadi, kamu tahu, kan, apa yang harus kamu lakukan sekarang, Melan?"Hening.Beberapa saat hanya terdengar suara deru napas Melan yang tak beraturan dari seberang panggilan. Dan tentu, itu membuat Ardian kesal. Tanpa berkata lagi, ia langsung mengubah panggilan suara ke panggilan video. Tak lama, wajah resah Melan tampak memenuhi layar."A-apa yang kamu mau, Mas?""Pulang sekarang."Tentu. Memangnya apa lagi yang Ardian inginkan selain Melan kembali ke rumah ini?"Kalau kamu gak mau kembali ke rumah ini ..."Ardian menjeda ucapannya sembari mengubah kamera ponsel ke kamera belakang, lalu tampaklah Bi Tin di layar. Wanita p
Pagi sekali Ardian sudah berada di ruang makan. Kedua siku tangannya bertempu di meja, sementara jemarinya saling bertautan di bawah dagu. Laki-laki itu tampak tenang, seolah tidak ada apa pun yang terjadi semalam. Roti lapis juga segelas susu hangat di depannya masih belum disentuh sejak tadi. Bahkan mungkin, susu hangat itu kini sudah berubah jadi dingin. Entahlah. Dia merasa malas menyentuh sarapannya pagi ini."Mana Melan?" tanyanya pada Bi Tin—asisten rumah tangga kepercayaannya.Sudah 30 menit Ardian diam di meja makan, tapi Melan belum juga muncul. Sangat membosankan!Ya, meski hubungan mereka sangat buruk, tapi saat waktu makan begini mereka akan berkumpul di meja makan. Walau kegiatan itu selalu dilalui dengan keheningan."Dari tadi Bibi belum lihat Nyonya turun, Tuan," jawab Bi Tin yang sangat tidak memuaskan bagi Ardian.Laki-laki itu berdecak kesal. "Periksa dia sekarang! Suruh turun buat sarapan," katanya.Bi Tin segera berjalan meninggalkan ruang makan, sedangkan Ardian
"Mas Ardian!" Teriakan itu terdengar memenuhi kamar. Melan tahu itu adalah suara Lila. Namun, tak ada niat untuknya menoleh barang sedikit saja.Melan masih tetap membelakangi Ardian sembari membungkus tubuh polosnya menggunakan selimut. Sementara matanya yang basah menatap nanar ke luar jendela.Untuk pertama kalinya, Ardian menjadikan Melan istri seutuhnya. Namun, alih-alih menikmati dan bahagia, perempuan itu justru merasa tersiksa karena sang suami benar-benar melakukannya dengan kasar dan penuh paksaan. Jika saja memiliki tenaga untuk melawan, rasanya Melan ingin sekali menendang tubuh Ardian ke lantai, kemudian ia lari sejauh mungkin.Sayang, kini semua sudah terjadi dan Melan tidak bisa mengembalikan apa yang telah hilang dari dirinya malam ini.Berbeda dengan Melan yang tidak memedulikan kehadiran Lila, Ardian justru dibuat terkejut. Laki-laki itu langsung bangkit dari atas ranjang dengan hanya mengenakan celana pendek. Sementara bagian atas tubuhnya dibiarkan polos tanpa seh
"Jangan pernah coba-coba buat kabur, Melan!"Suara Ardian terdengar dingin dan menusuk, membuat tubuh Melan kian membeku. Ia tak tahu harus bereaksi seperti apa. Berusaha tetap kabur pun percuma karena ternyata di luar rumah sudah berdiri beberapa orang pria yang ia yakini adalah orang suruhan sang suami. Meski begitu, hatinya tetap menolak untuk bertahan di rumah yang bak neraka ini.Belum habis keterkejutan Melan, Ardian tiba-tiba menyeret paksa lengannya untuk lebih masuk ke dalam rumah. Dengan tanpa belas kasihan laki-laki itu mencengkram lengan Melan kuat hingga sang istri terus meringis sepanjang berjalan paksa menuju kamar.Sementara itu, Melan benar-benar terkejut dengan perlakuan Ardian. Selama pernikahan, laki-laki itu belum pernah melakukan kekerasan fisik terhadapnya, meskipun hubungan mereka memang tidak harmonis sejak awal. Namun, kini Ardian tega dan berani memperlakukannnya seperti ini.'Apa-apaan ini? Kamu berani menindasku, Ardian?' batin perempuan itu geram.Ia beru







