Teilen

Chapter 5

last update Veröffentlichungsdatum: 04.03.2026 10:12:32

Tatapan Melan menajam. Tangannya terkepal melihat Ferdi berdiri di depan pintu rumahnya. Tanpa berkata apa pun, ia melewati laki-laki itu begitu saja.

Tentu Ferdi tidak tinggal diam. Ia pun bingung dengan sikap melan. Gegas laki-laki itu masuk ke rumah dan mengejar langkah Melan yang sudah hendak menaiki tangga.

"Mel, tunggu!" sergahnya saat berhasil meraih tangan perempuan itu.

Langkah Melan terhenti. Namun, ia sama sekali tak berbalik menghadap Ferdi. Ia masih ingat bagaimana ucapan laki-laki itu ketika bersama Ardian.

Hah, lucu sekali.

Melan kira, selama ini Ferdi tulus membantunya. Ternyata laki-laki itu sama saja bajingannya dengan Ardian. Jika Ardian bersedia menikahinya atas perintah Oma Risma dan sebagai cara menutupi hubungannya dengan Lila yang tidak pernah mendapat restu, maka Ferdi pun tidak berbeda jauh dengan laki-laki itu. Ia mau membantu Melan karena ingin merebutnya dari Ardian.

Sekarang Melan tahu, ternyata tidak ada satu pun orang yang benar-benar tulus di dunia ini. Dan tentu, hal ini memicu tekadnya untuk melakukan apa pun sendiri. Termasuk menolak pertolongan Ferdi.

"Pergi dari sini, Fer! Aku gak butuh bantuanmu lagi," tukas Melan sembari melepaskan tangan laki-laki itu.

Tentu Ferdi makin bingung. Ia tidak membiarkan Melan lepas begitu saja. Dengan sekali gerakan, ia berhasil menarik tangan perempuan itu hingga kini menghadapnya.

Ferdi menelisik mata Melan yang tampak menyala, tidak seperti biasa. "Ada apa?" tanyanya lembut.

Melan berdecih pelan. Senyumnya tampak meremehkan. "Ternyata selama ini aku salah sangka, Fer. Aku pikir, kamu jauh lebih baik dari Mas Ardian, makanya aku mau berteman. Bahkan di beberapa hal, aku lebih mendengar pendapatmu daripada suamiku sendiri. Tapi ternyata aku salah. Kalian sama aja!"

Ucapan Melan cukup membuat Ferdi tercengang hingga tanpa sadar cekalannya mengencang. "Apa maksudmu, Mel? Aku jelas beda dengan Ardian!"

"Aku udah dengar semuanya, Fer. Kamu gak perlu pasang topengmu lagi!"

Degh!

Mata Ferdi sontak membelalak. Otaknya bekerja keras memahami maksud Melan. Mendengar semua, apa maksudnya?

"Mulai sekarang tolong jangan ikut campur urusanku lagi. Aku bisa mengurus perceraian sendiri!"

Melan menepis cekalan Ferdi dengan sekali gerakan, lalu gegas menaiki anak tangga tanpa sedikit pun menoleh ke belakang.

Sementara di tempatnya, Ferdi mengepalkan kedua tangan kuat-kuat. Ia sangat yakin jika perubahan Ardian ada sangkut pautnya dengan Ardian.

'Ternyata kamu mau bermain licik, Ardian. Kita lihat aja siapa yang akan menang!'

***

Melan segera mengunci pintu setelah masuk kamar. Kakinya bergerak cepat ke segala sisi untuk mengumpulkan barang-barang yang akan dibawa pergi. Mulai dari pakaian hingga dokumen penting yang sangat ia butuhkan untuk perceraian. Semua harus ia bawa, tidak boleh ada yang tertinggal.

Tangan perempuan itu masih sibuk ketika terdengar suara notifikasi pesan masuk dari ponselnya. Merasa penasaran, ia hentikan kegiatannya sejenak dan mengeluarkan benda pipih itu dari dalam tas.

"Mas Ardian," gumamnya pelan setelah mendapati nama Ardian berada di posisi paling atas pada aplikasi pengirim pesan. Tanpa menunggu lama, segera ia buka pesan tersebut.

[Terima kasih atas kerjasamanya, Mel.]

Kening Melan mengkerut seketika. Kerja sama apa maksudnya?

Belum habis kebingungan Melan, satu pesan kembali masuk—masih dari Ardian.

[Sekarang kamu tahu sifat asli Ferdi, kan? Jangan pernah dekat-dekat dia lagi kalau mau hidupmu aman, Mel. Dia itu berbahaya.]

Melan berdecih. Menyesal rasanya membaca pesan tak penting dari sang suami.

Tapi, tunggu! Kenapa Ardian bisa tahu jika ia baru saja mengusir Ferdi?

"Apa mata-matanya sampai masuk ke dalam rumah?"

Argh! Jika begini, Melan akan kesulitan untuk keluar.

Sudahlah. Setelah selesai mengemas barang, perempuan itu memilih duduk di atas ranjang sembari memikirkan cara untuk keluar dari rumah itu nanti malam. Bahkan saat asisten rumah tangga memanggilnya untuk makan pun, ia tidak keluar. Hanya memberi alasan jika sedang kurang enak badan. Melan masih memerlukan banyak waktu untuk berpikir dengan matang.

Wajar, ia memang bukan perempuan pintar. Mengenyam pendidikan saja hanya sampai SMA. Itu pun dengan susah payah mencari uang sendiri agar tidak merepotkan sang bibi. Belum lagi pengalamannya yang nihil. Itu juga salah satu alasan ia hampir tidak memiliki teman. Maka ketika dalam kondisi seperti ini, Melan benar-benar harus memikirkannya sendiri.

"Apa ke luar kota aja, ya? Tapi ke mana?" Melan sama sekali tidak memiliki rencana mengunjungi kota lain.

Namun, sepertinya ide itu tidak buruk. Dengan begitu, bukannya Ardian jadi tidak akan mudah menemukannya?

Melan tersenyum senang, merasa idenya sudah sempurna. Hingga saat tengah malam tiba dan kondisi rumah sudah sepi, diam-diam ia keluar dari kamar sambil menarik sebuah koper berukuran sedang.

Kaki perempuan itu melangkah pelan dan hati-hati, takut mengenai sesuatu karena lampu di rumah sudah dimatikan. Jika ia hidupkan, pasti akan ada yang curiga. Maka dari itu, Melan memilih berjalan dalam kegelapan.

Senyum lega terukir di wajah Melan kala tangannya berhasil meraih gagang pintu utama. Namun, bersamaan dengan itu, pintu tiba-tiba ditarik dari luar, disusul semua lampu yang menyala serentak. Seketika itu juga jantung Melan berdetak lebih cepat melihat sosok yang berdiri di depannya dengan mata menyala.

"Mau ke mana? Mau kabur, huh?!"

Degh!

Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen

Aktuellstes Kapitel

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 11

    Hari sudah berganti, dan Ardian masih belum menemukan jejak sang istri. Orang-orang suruhannya belum berhasil melacak keberadaan Melan. Meski begitu, Ardian tidak tinggal diam. Ia terus mencari informasi tentang perempuan misterius itu sendiri."Ini kopinya, Tuan." Suara Bi Tin berhasil membuyarkan lamunan Ardian."Makasih," ucap laki-laki itu singkat.Bi Tin mengangguk, tapi belum lekas pergi. Ia masih berdiri di samping sofa yang majikannya duduki."Ada apa, Bi?" tanya Ardian heran."Uhm ... apa sudah ada kabar tentang Nyonya, Tuan?"Jujur saja, Bi Tin kesulitan tidur karena terus teringat Melan. Sungguh perempuan malang. Hidup sebagai yatim piatu, lalu malah menikah dengan laki-laki yang sama sekali tidak mencintainya."Belum."Bi Tin mengangguk singkat. Namun, masih ada satu pertanyaan yang mengganjal di hatinya. "Maaf, Tuan. Kenapa Tuan gak membolehkan Nyonya pergi? Bukannya karena itu, Tuan bisa menikah—""Ada sesuatu yang gak harus semua orang tahu, Bi," potong Ardian. "Termasu

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 10

    Bayang matahari sudah berada tepat di atas kepala, tapi Ardian sama sekali belum melihat batang hidung istrinya. Ia sampai lelah menunggu di ruangan dekat kolam renang. Bi Tin pun sebenarnya sudah ia lepaskan dan kini tengah diam di atas kursi yang sejak tadi tak berubah posisi."Apa Nyonya gak kasih kabar lagi, Tuan?"Pertanyaan Bi Tin membuat Ardian yang semula fokus pada ponsel, mengalihkan pandangan. Laki-laki itu lalu menggeleng pelan. "Gak ada," jawabnya singkat.Terakhir kali, Ardian mendapat pesan dari Melan yang bilang bahwa ia akan datang ke sini. Tapi kenyataannya, sampai waktu sesiang ini, belum muncul tanda-tanda kedatangan sang istri."Apa tadi Nyonya sudah datang, tapi pergi lagi, ya, Tuan?"Pertanyaan Bi Tin kali ini cukup membuat kening Ardian mengkerut. "Kenapa begitu?"Bi Tin tampak menghela napas pelan. Jemarinya saling bertaut di atas paha. Raut cemas di wajahnya tidak bisa lagi disembunyikan. "Mu-mungkin Nyonya kira, kita gak ada di rumah, Tuan. Dari depan, kan,

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 9

    Senyum miring tercetak di bibir Ardian saat melihat nama sang istri memenuhi layar panggilan. Tampaknya perempuan itu takut dengan ancamannya untuk membuat Bi Tin terluka.Tak menunggu waktu lama, Ardian menggeser ikon hijau hingga suara panik Melan terdengar di seberang panggilan."Jangan sakiti Bi Tin, Mas! Dia gak salah!"Ardian semakin menarik bibirnya ke atas. "Jadi, kamu tahu, kan, apa yang harus kamu lakukan sekarang, Melan?"Hening.Beberapa saat hanya terdengar suara deru napas Melan yang tak beraturan dari seberang panggilan. Dan tentu, itu membuat Ardian kesal. Tanpa berkata lagi, ia langsung mengubah panggilan suara ke panggilan video. Tak lama, wajah resah Melan tampak memenuhi layar."A-apa yang kamu mau, Mas?""Pulang sekarang."Tentu. Memangnya apa lagi yang Ardian inginkan selain Melan kembali ke rumah ini?"Kalau kamu gak mau kembali ke rumah ini ..."Ardian menjeda ucapannya sembari mengubah kamera ponsel ke kamera belakang, lalu tampaklah Bi Tin di layar. Wanita p

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 8

    Pagi sekali Ardian sudah berada di ruang makan. Kedua siku tangannya bertempu di meja, sementara jemarinya saling bertautan di bawah dagu. Laki-laki itu tampak tenang, seolah tidak ada apa pun yang terjadi semalam. Roti lapis juga segelas susu hangat di depannya masih belum disentuh sejak tadi. Bahkan mungkin, susu hangat itu kini sudah berubah jadi dingin. Entahlah. Dia merasa malas menyentuh sarapannya pagi ini."Mana Melan?" tanyanya pada Bi Tin—asisten rumah tangga kepercayaannya.Sudah 30 menit Ardian diam di meja makan, tapi Melan belum juga muncul. Sangat membosankan!Ya, meski hubungan mereka sangat buruk, tapi saat waktu makan begini mereka akan berkumpul di meja makan. Walau kegiatan itu selalu dilalui dengan keheningan."Dari tadi Bibi belum lihat Nyonya turun, Tuan," jawab Bi Tin yang sangat tidak memuaskan bagi Ardian.Laki-laki itu berdecak kesal. "Periksa dia sekarang! Suruh turun buat sarapan," katanya.Bi Tin segera berjalan meninggalkan ruang makan, sedangkan Ardian

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 7

    "Mas Ardian!" Teriakan itu terdengar memenuhi kamar. Melan tahu itu adalah suara Lila. Namun, tak ada niat untuknya menoleh barang sedikit saja.Melan masih tetap membelakangi Ardian sembari membungkus tubuh polosnya menggunakan selimut. Sementara matanya yang basah menatap nanar ke luar jendela.Untuk pertama kalinya, Ardian menjadikan Melan istri seutuhnya. Namun, alih-alih menikmati dan bahagia, perempuan itu justru merasa tersiksa karena sang suami benar-benar melakukannya dengan kasar dan penuh paksaan. Jika saja memiliki tenaga untuk melawan, rasanya Melan ingin sekali menendang tubuh Ardian ke lantai, kemudian ia lari sejauh mungkin.Sayang, kini semua sudah terjadi dan Melan tidak bisa mengembalikan apa yang telah hilang dari dirinya malam ini.Berbeda dengan Melan yang tidak memedulikan kehadiran Lila, Ardian justru dibuat terkejut. Laki-laki itu langsung bangkit dari atas ranjang dengan hanya mengenakan celana pendek. Sementara bagian atas tubuhnya dibiarkan polos tanpa seh

  • Aku Ingin Pisah   Chapter 6

    "Jangan pernah coba-coba buat kabur, Melan!"Suara Ardian terdengar dingin dan menusuk, membuat tubuh Melan kian membeku. Ia tak tahu harus bereaksi seperti apa. Berusaha tetap kabur pun percuma karena ternyata di luar rumah sudah berdiri beberapa orang pria yang ia yakini adalah orang suruhan sang suami. Meski begitu, hatinya tetap menolak untuk bertahan di rumah yang bak neraka ini.Belum habis keterkejutan Melan, Ardian tiba-tiba menyeret paksa lengannya untuk lebih masuk ke dalam rumah. Dengan tanpa belas kasihan laki-laki itu mencengkram lengan Melan kuat hingga sang istri terus meringis sepanjang berjalan paksa menuju kamar.Sementara itu, Melan benar-benar terkejut dengan perlakuan Ardian. Selama pernikahan, laki-laki itu belum pernah melakukan kekerasan fisik terhadapnya, meskipun hubungan mereka memang tidak harmonis sejak awal. Namun, kini Ardian tega dan berani memperlakukannnya seperti ini.'Apa-apaan ini? Kamu berani menindasku, Ardian?' batin perempuan itu geram.Ia beru

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status