Share

Bab 78: Bunga Mawar

Author: Celyn
last update publish date: 2026-10-01 13:30:01

Aeri sedikit tersentak, matanya membesar tanpa sadar. Tapi ia tetap mengulas senyum tipis. “Tidak … aku hanya sedikit lelah.”

Leo menatap Aeri lebih lama dari yang diperlukan. Senyum yang lebar tadi kini sudah menghilang sepenuhnya, seolah senyum itu milik orang lain.

“Aku ingin istirahat di kamar saja,” Aeri bangkit berdiri, matanya tak lagi menoleh ke Leo, melainkan menuju ke arah pintu keluar.

“Biar aku antar.”

Baru beberapa langkah, kaki Aeri berhenti. Ia menoleh, berbalik menatap Leo. Wani
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aku Kembali Bukan Untuk Mencintai   Bab 132: Menahan Diri

    “Aku rasa itu tidak masuk akal. Apa otak Mikael sudah rusak?” wanita itu menyeringai lebar, senyum yang meremehkan.Hening lama. Fero tidak juga menjawab, matanya hanya menatap Celine lama.Dahi wanita itu mulai berkerut, ia menelengkan kepala sedikit. “Fero?”Mata pria itu tetap kosong di sana, dan Celine tahu persis ada sesuatu yang salah di sana. Wanita itu ingin menaikkan nada suaranya, tapi mengingat Aeri dan Mikael yang mungkin saja mendengar, ia berubah pikiran.Tanpa perintah, Celine menggenggam pergelangan Fero, menariknya menjauh dari sana.Setelah cukup jauh, Celine berhenti. Tubuhnya berbalik perlahan. “Hei, Fero. Kau kenapa?”Pria itu akhirnya tersadar, matanya berkedip beberapa kali, mencoba mencerna apa yang sedang terjadi.Kesabaran Celine mulai habis, wajahnya kian mendekat. “Hei!”Seketika mata Celine melebar. Amarah tadi reda, digantikan oleh raut cemas. “Eh? Wajahmu merah.”Tangan Celine terulur, hendak menyentuh wajah Fero. “Apa kau sakit—”Belum sempat tangan Cel

  • Aku Kembali Bukan Untuk Mencintai   Bab 131: Perasaan Baru

    Brak!“Apa maksudnya ini, Kak Ivy!”Langkah adiknya berhenti tepat di depan Aeri. Napasnya tersengal, tampak sepertinya habis berlari.Aeri tidak menoleh, bahkan melirik pun tidak. Matanya hanya menetap pada buku di pangkuannya.Melihat wajah tenang wanita itu, membuat darah Mikael mendidih seketika. Bagaimana bisa kakaknya begitu tenang setelah membuat semua kekacauan ini?Kepalan tangan pria itu mengerat, tatapannya melotot ke arah Aeri.“Kak Ivy!” suara itu meninggi, bahkan tanpa disadari oleh pemiliknya.Aeri masih tidak melirik, tapi kali ini ia menjawabnya. “Kau mengganggu pagiku, Mikael.”Pria itu menyeringai tipis, tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. “Apa aku tidak salah dengar? Bagaimana kau bisa tenang seperti ini?”Gerakan tangan Aeri yang hendak membalik kertas, kini berhenti. Bahkan matanya menatap kosong ke huruf-huruf itu.“Kak, katakan kau tidak serius? Kenapa kau memberi posisi kepala keluarga padaku? Apa yang kau rencanakan, Kak?”Aeri menutup bukunya, b

  • Aku Kembali Bukan Untuk Mencintai   Bab 130: Sesuai Dugaan

    “Ivy, tenanglah di sana, karena Ayah juga akan mengirim Ibumu.” Senyum pria tua itu masih tidak luntur.Ia terus mencekik, mencekik, dan mengerahkan tenaganya di sana.Tanpa aba-aba, genggaman itu melonggar, dan pria tua itu kini memegang lehernya sendiri.Bibirnya terbuka, tapi tak ada suara yang keluar.Aeri hanya mengulas senyum tipis melihat reaksi ayahnya. Tapi tidak sekali pun ia berniat membantu.“Ayah, aku yang menang kali ini.”“Kau—”Suara pria tua itu terputus sendiri, ia mulai melangkah meski langkahnya kian memberat. Pria tua itu berhenti di depan Aeri, dan mencengkeram bahu wanita itu kuat.“Apa—yang kau lakukan—padaku?”Aeri hanya mengulas senyum tipis, senyum penuh kemenangan. Matanya beralih ke cangkir teh yang tergeletak di lantai marmer.Tanpa siapa pun yang memberitahu, pria tua itu akhirnya mengerti. Sesuatu sudah dicampurkan ke dalam teh itu, dan itu mengartikan akhir dari hidupnya.“Dasar—sialan—”Ucapan itu selesai, begitu juga dengan nyawa pria tua itu. Tubuh

  • Aku Kembali Bukan Untuk Mencintai   Bab 129: Kematian

    “Kenapa kau penasaran dengan hal itu?” pria tua itu menatap tajam Aeri. Ia tak sekali pun mengalihkan pandangannya.Aeri bertopang dagu, tidak menganggap serius pertanyaan itu. “Jangan terlalu serius. Aku hanya ingin tahu saja.”Genggaman pria tua itu mengerat di gagang cangkir. Pria tua itu tidak ingin menjelaskan dan itu terlihat jelas di mata Aeri.Aeri mengulas senyum tipis. Wanita itu masih tak ingin menyerah. “Ayah … jangan diam saja.”Pria tua itu meneguk sekali teh itu, sebelum berkata. “Jangan membicarakan hal itu, Ivy.”Senyum di wajah Aeri hilang sesaat, tapi hanya sesaat. Senyum itu kini kembali.“Kalau begitu, izinkan aku bertanya satu hal. Kenapa Ayah memperlakukanku seperti ini?”Pria tua itu tertawa kecil. “Kenapa kau masih bertanya hal itu? Sudah pasti karena kau hanya anak terlantar yang aku pungut.”Wanita itu menelengkan kepala, ia sudah menebak pria tua itu akan tertawa. Tapi, itu juga berarti pria tua itu sudah masuk dalam perangkapnya.“Anak pungut? Kenapa Ayah

  • Aku Kembali Bukan Untuk Mencintai   Bab 128: Ajakan Janggal

    Fero hanya berdiri di sana, tidak menjawab, bahkan tidak berkedip.Hening lama mengisi ruangan itu, hingga akhirnya Fero membuka suaranya. “Apa Anda serius dengan ucapan Anda?”Alis Mikael terangkat sebelah. “Apa maksudmu? Sudah pasti aku serius mengatakannya.”Kepalan tangan Fero mengerat tanpa ia sadari. Tatapan pria itu berubah tajam ke arah Mikael.“Lucu sekali. Padahal menurut saya apa yang Tuan Besar lakukan sudah melewati batas. Jadi apakah menurut Anda … tindakan Tuan Besar sekarang masih belum melewati batas?”Deg!Kalimat itu menghantam Mikael telak. Perkataan Fero benar, selama ini ia hanya mencari-cari alasan agar tidak melawan kedua orang tuanya. Tapi mendengar kenyataan itu dari pengawal rendahan, entah kenapa ia tidak ingin menerimanya.“Apa kau sekarang berani melawanku?”Dahi Fero berkerut dalam. Wajahnya ia pasang datar seperti biasanya. “Kalau begitu … buktikan itu semua, Tuan Muda.”Tubuh Mikael membeku, ia tidak lagi mengatakan apa-apa. Mungkin lebih tepatnya, ia

  • Aku Kembali Bukan Untuk Mencintai   Bab 127: Tidak Nyaman

    “I-ini—”Fero melangkah mendekat dan berdiri tepat di samping Aeri. Pria itu buru-buru menutup hidung untuk menghalau bau busuk itu, meski sia-sia.Aeri tidak bergerak. Matanya terpaku pada isi kotak. Kepala pria yang kemarin melecehkannya ada di sana, dengan mata yang masih terbuka.Wanita itu bahkan tidak menutup hidung, seakan indranya sudah berhenti bekerja.“Nona, biar saya membuangnya.”Tangan Fero terulur. Sebelum menyentuh kotak itu, Aeri menariknya menjauh dari jangkauan pria itu.Aeri mendekap erat-erat kotak itu.“Nona?”“Bisa kau keluar sebentar.”Fero berkedip beberapa kali, mencoba menangkap maksudnya. “Ya?”Aeri menatapnya tajam. Kali ini tidak ada celah untuk membantah. “Keluar.”Fero masih terdiam beberapa detik, mencari tanda bahwa perintah itu tidak sungguh-sungguh. Tidak ada.Pria itu menunduk. “Baik, Nona.”Pintu tertutup pelan. Aeri duduk di kursi dengan kotak itu di pangkuannya. Ia tidak melakukan apa-apa, hanya menatap isinya dengan wajah datar.Di dalam dadany

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status