LOGIN“Bukaan delapan, Bu Zalina! Sebentar lagi kita mulai, atur napasnya ya!” Suara bidan di ruang bersalin bersahut-sahutan dengan bunyi monitor detak jantung janin yang berdentum cepat. Jam dinding rumah sakit menunjukkan pukul dua dini hari. Hawa dingin pendingin ruangan sama sekali tidak mampu mengusir hawa panas dari perjuangan hidup dan mati yang sedang berlangsung di atas ranjang persalinan. Zalina mencengkeram tangan Naradhiya sekuat tenaga. Telapak tangannya memutih, kuku-kukunya menekan pergelangan tangan sang suami hingga membekas merah. Keringat membasahi seluruh wajahnya, rambutnya lepek menempel di dahi, dan bibirnya bergetar menahan gelombang rasa sakit yang datang tanpa jeda. “Mas, sakit banget, Mas,” rintih Zalina dengan suara serak, air matanya meleleh ke bantal rumah sakit. Naradhiya membungkuk, tidak melepaskan genggaman tangannya sedetik pun. Ia mengusap peluh di dahi Zalina dengan tisu basah, lalu mengecup kening istrinya berkali-kali. Pria itu menatap Zalina d
“Kalian ngapain?” tanya Zalina pada Nakara, Teguh dan Praja yang duduk di depan ruang tengah, ditambah ada Sartika dan Widya sedang mengacak dapurnya.Zalina menoleh pada Naradhiya, melirik jam yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia menghela napas panjang, sejak mengadu kalau sering kontraksi, ia memang seperti mendapatkan teror dari mereka.“Loh, kami mau jadi kakek siaga, Za. Pokoknya kami nggak mau melewatkan launchingnya cucu pertama kami,” sahut Praja semangat. “Betul kan, Pak Teguh.“Betul sekali, Pak Praja!” sahut Teguh tak kalah bersemangat seraya menyesap teh hangatnya. “Pokoknya malam ini kita begadang. Kunci mobil saya sudah di kantong, siap tancap gas kalau sewaktu-waktu ketubannya pecah.”Zalina menepuk jidatnya pelan, rasanya ingin tertawa tapi pinggangnya yang ngilu menahan gelak tawanya. Ia melirik Naradhiya yang berdiri di sampingnya sambil membawa segelas susu hamil hangat. Suaminya itu hanya tersenyum pasrah, mengangkat bahu tanda bahwa ia sendiri sudah angk
“Janinnya sangat sehat, Pak. Sepertinya kalian menjaga dengan baik,” kata dokter Sarah ketika mereka memeriksa kandungan Zalina yang sudah masuk ke bulan delapan.“Istri saya sudah mulai merasa kontraksi katanya, dok. Apa aman?” Naradhiya melirik istrinya yang sedang mengelus perutnya yang mulai membuncit.Dokter Sarah tersenyum maklum seraya meletakkan kembali alat USG ke dudukannya. Pandangannya beralih menatap Naradhiya yang duduk di samping ranjang periksa dengan raut wajah yang selalu sama di setiap jadwal kontrol bulanan, tegang, waspada, dan penuh kehati-hatian.“Itu namanya kontraksi palsu, Pak Naradhiya,” jelas Dokter Sarah dengan nada menenangkan. “Istilah medisnya Braxton Hicks. Wajar sekali dialami ibu hamil yang kandungannya sudah masuk trimester akhir. Rahim Bu Zalina sedang latihan mempersiapkan persalinan nanti.”Dokter Sarah menoleh ke arah Zalina, lalu membantu menyeka sisa gel di perut buncit wanita itu dengan selembar tisu kering. “Rasanya seperti perut mengencang
Kehamilan Zalina tidak menunjukkan ngidam yang terlalu berat, meski masih merasakan mual, tapi tidak parah dan untungnya masih bisa makan. Naradhiya bersiap menjadi suami siaga, begitu juga dengan kedua orang tua mereka yang bergantian menginap.Mereka sama-sama menantikan cucu pertama, baik orang tua Zalina, maupun Naradhiya.“Na, jangan lupa vitamin Zalina harus diminum,” pesan Sartika. “Oh iya, kalau nggak mau makan, jangan dipaksakan. Makan nggak selalu harus nasi, kamu jangan lupa tanya Zalina pengen makan apa ya.”“Iya, Ma. Nara catat semuanya di meja makan,” jawab Naradhiya seraya membetulkan tali tas kerja di pundaknya.Pria itu melirik ke arah dapur, tempat ibunya sibuk menyusun wadah-wadah kaca berisi potongan buah apel dan melon yang sudah dikupas rapi ke dalam kulkas. Perubahan sikap Sartika yang kini begitu perhatian pada Zalina selalu menghangatkan dadanya. Tidak ada lagi sindiran dingin atau tuntutan keluarga, hanya seorang calon nenek yang ingin memastikan menantu dan
“Gimana kondisinya, Dok? Kantungnya menempel kuat, kan?”Pertanyaan Naradhiya meluncur cepat bahkan sebelum Dokter Sarah selesai menyeka gel bening dari permukaan kulit perut Zalina. Tangan pria itu mencengkeram erat jemari istrinya, berdiri membungkuk di samping ranjang periksa dengan sorot mata yang dipenuhi kecemasan luar biasa. Trauma dua tahun lalu saat melihat darah mengalir di tempat ini masih terlalu nyata di ingatannya.Dokter Sarah menoleh, tersenyum hangat melihat raut tegang yang terpatri kaku di wajah sang suami. Ia merapikan kembali selimut tipis yang menutupi bagian bawah tubuh Zalina, lalu mengarahkan layar monitor USG sedikit condong ke arah mereka berdua.“Tarik napas dulu, Pak Naradhiya. Jangan tegang begitu mukanya,” gurau Dokter Sarah santai, mencoba mencairkan suasana bilik periksa yang mendadak beku. Dokter Sarah menunjuk titik kecil menyerupai lingkaran hitam sempurna di layar monitor. “Lihat ini. Kantung kehamilannya sudah terbentuk sangat bagus di dalam rahim
“Ya Allah.”Zalina membekap mulutnya sendiri setelah melihat hasil tespack-nya pagi ini. Dua garis merah setelah dua tahun perjuangan mereka pasca keguguran. Akhirnya Tuhan kembali menitipkan amanahnya.Tangisnya tidak bisa lagi ditahan, Naradhiya yang menunggu di depan pintu sontak membuka karena tidak sabar. Sudah hampir setengah jam Zalina di dalam dan tidak ada tanda-tanda akan keluar.“Nggak apa-apa, Sayang. Kita coba lagi, ya? Mas masih punya banyak tenaga untuk membuat anak,” ucap Naradhiya berusaha menghibur.Selama dua tahun ini, hasilnya sama satu garis merah dan Zalina akan terlihat kecewa. Dan seharusnya, pagi ini Naradhiya tidak mengizinkan istrinya melakukan tes kembali kalau ujungnya akan menangis lagi.“Mas ….”Naradhiya langsung memeluk istrinya. “Kita coba lagi ya, Sayang.”Zalina tidak langsung membalas pelukan suaminya. Tangannya yang masih gemetar terangkat pelan, menyodorkan benda putih bergaris itu tepat di depan dada Naradhiya. Isak tangisnya makin menjadi-jadi







