แชร์

Jujur Saja

ผู้เขียน: Mumtaza wafa
last update วันที่เผยแพร่: 2026-09-10 23:55:46
“Nara, tadi ibu dengar kalian bertengkar, sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Widya sembari mengelus punggung menantunya yang membungkuk dengan kepala bersandar pada tembok rumah sakit.

Ya, setelah Zalina berteriak kesakitan, Naradhiya langsung membawa istrinya ke rumah sakit karena panik. Ia tidak mau terjadi sesuatu lagi pada istrinya, apalagi sampai membuat kondisi Zalina semakin buruk.

“Zalina menemukan berkas perceraian kami, Bu,” jawab Naradhiya dengan suara parau. “Dia minta penjelasan,
Mumtaza wafa

Hai teman-teman, mohon maaf yang merasa bab ini nggak nyambung dengan sebelumnya. itu karena bab sebelumnya aku revisi ya, bisa dibaca ulang setelah lolos revisi dari editor. terima kasih.

| 2
อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป
บทที่ถูกล็อก

บทล่าสุด

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai    Dia Lagi

    “Za, jujur saja Ibu nggak begitu kenal sama dia. Waktu itu dia cuma datang ke lorong ICU, tiba-tiba nyodorin permen kapas, katanya itu dari kamu,” kata Widya sambil menggenggam tangan Zalina.“Sejak itu dia jadi sering datang, katanya kamu masih ingin hidup, kamu sedang mencari cara buat kembali. Bahkan … dia bilang kamu selalu berdiri di samping Naradhiya,” lanjut Widya membuat Zalina semakin tidak paham.“Dia waras, Bu?”Widya menggeleng pelan. “Ibu nggak tau, Za. Tapi dia seperti nggak sedang berbohong, Za.”Zalina terdiam, mencoba mencerna kalimat ibunya yang justru membuat kepalanya semakin dipenuhi tanya. Ada rasa geli yang aneh menyelinap di dadanya. Bukan karena lucu, tapi seperti ketika seseorang menyentuh luka yang belum sempat sembuh, tanpa tahu di mana letak pastinya.“Maksud Ibu apa? Kalau dia bilang jujur, berarti dia beneran bisa lihat aku waktu koma?” tanya Zalina ragu, antara tidak percaya dan takut kalau-kalau itu benar. “Itu nggak masuk akal, Bu.”“Ibu tau, Za. Ibu

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai    Mimpi

    “Ayo bercerai.”“Cinta seperti apa yang kamu inginkan, Zalina! Apa yang kulakukan selama ini nggak cukup membuktikan semuanya?”Zalina tercekat, bayangan itu muncul dengan samar-samar dalam kepalanya setiap kali ia memejamkan mata. Kamarnya dan Naradhiya, dalam keadaan lampu temaram, dan keadaan mereka yang baru saja melakukan hubungan suami istri.“Za.”Ia mendengar suara familiar, Naradhiya.“Mbak, kalau kamu bangun nanti, aku bakal tagih utangku, ya.”Zalina membuka matanya dengan cepat, napasnya memburu, keringat membanjiri dari dahi hingga lehernya. Matanya membeliak, menatap langit-langit kamar rumah sakit.“Za?”Ia menoleh, bukan Naradhiya, melainkan ibunya yang duduk di sebelah ranjangnya. Widya tampak khawatir melihat kondisi Zalina, lalu mengambil air mineral dari atas nakas.“Minum dulu,” katanya membantu Zalina duduk. Setelah anaknya sudah terlihat lebih tenang, Widya duduk kembali dan menatap Zalina prihatin. “Za? IBu panggilkan dokter, ya?”Zalina menggeleng pelan, ia ha

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai    Yang Tertunda

    “Sayang.”Naradhiya menggenggam erat tangan Zalina yang tertidur efek obat yang disuntikkan oleh dokter beberapa jam yang lalu. Ia menghela napas berat, lalu menatap wajah Zalina yang tampak damai dalam tidurnya.Ia memikirkan ucapan Widya. Benar, seharusnya Naradhiya tidak berbohong terlalu jauh hanya karena ingin hubungan mereka kembali seperti semula. Hanya saja, ia terlalu takut Zalina akan meninggalkannya lagi.“Kalau bohongku malah malah membuat kamu tersiksa, aku minta maaf. Tapi tolong jangan tinggalkan aku,” tutur Naradhiya pelan.Ia mengusap dahi Zalina, rambutnya sedikit menutup dahinya. Baru saja hubungan mereka kembali baik-baik saja setelah Zalina koma. Naradhiya pikir ini akan menjadi kesempatannya untuk memperbaiki semuanya.Namun benar kata Widya, sesuatu yang dibangun di atas kebohongan demi menutupi kesalahan di masa lalu, tidak akan membuat hubungan yang lebih baik. Justru yang terjadi adalah sebaliknya, mungkin hubungan mereka kelak akan baik-baik saja, tapi jika

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai    Jujur Saja

    “Nara, tadi ibu dengar kalian bertengkar, sebenarnya apa yang terjadi?” tanya Widya sembari mengelus punggung menantunya yang membungkuk dengan kepala bersandar pada tembok rumah sakit. Ya, setelah Zalina berteriak kesakitan, Naradhiya langsung membawa istrinya ke rumah sakit karena panik. Ia tidak mau terjadi sesuatu lagi pada istrinya, apalagi sampai membuat kondisi Zalina semakin buruk. “Zalina menemukan berkas perceraian kami, Bu,” jawab Naradhiya dengan suara parau. “Dia minta penjelasan, dan aku belum sanggup.” Widya terdiam, ia turut sedih dengan apa yang menimpa rumah tangga anak dan menantunya tersebut. Ia juga tidak akan menyalahkan Naradhiya sepenuhnya karena tahu kalau menantunya sudah banyak berusaha dan berjuang untuk Zalina. “Bukannya kamu sudah membatalkan prosesnya, Na?” tannya Widya yang sempat terkejut. “Berkas itu salinan milik Zalina, Bu.” Hanya helaan napas berat yang lolos dari Widya setelah mendengar penjelasan Naradhiya. “Apa … nggak sebaiknya kamu jujur

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai    Meminta Penjelasan

    “Za ….” Zalina hanya tersenyum. Ia sudah bertekad, sampai suaminya benar-benar jujur padanya, baru ia akan menunaikan kewajibannya sebagai istri. Ia ingin tahu, sampai mana Naradhiya akan menutupi kebenaran darinya. Juga tentang gugatan cerai di lemari mereka. Naradhiya mengangguk, masih dengan senyum yang terpatri di bibirnya sampai akhirnya lelaki itu beranjak dan masuk ke dalam kamar mandi tanpa mengatakan sepatah kata pun. Zalina masih menunggu, ia memilin jari-jarinya sendiri. Ia menghitung detik demi detik yang terus berjalan seolah terasa sangat lama baginya, juga suara keran yang terdengar dari arah kamar mandi terasa begitu lambat. Tak lama, suara keran air berhenti. Ia mulai menegakkan punggungnya, bersiap mendengar penjelasan suaminya yang sempat tertunda, setidaknya begitu yang rasakan setelah bangun dari komanya. Pintu kamar mandi terbuka, Naradhiya keluar dengan rambut basah dan handuk yang melilit pinggangnya. Zalina berusaha memalingkan wajahnya yang memerah mel

  • Aku Kembali Sebelum Bercerai    Ceritakan Dulu

    “Apa itu?”Naradhiya yang Zalina melonjak kaget bersamaan. Lelaki itu bangun dari duduknya, berjalan ke arah sumber suara. Jendela yang terbuka menjadi perantara ia melihat Arash yang menendang pot bunga di halaman samping, tepat di dekat kamar tidur mereka.“Arash? Apa yang dia lakukan di sana?” gumam Naradhiya bertanya-tanya.Naradhiya baru akan keluar dari kamar, tapi Zalina menahan tangannya.“Mas,” panggilnya lalu menggeleng pelan seolah memberi kode kalau ia lelah dengan keributan yang terjadi akhir-akhir ini.“Sayang ….”“Temenin aku di sini.” Zalina menepuk sisi ranjangnya yang kosong.Naradhiya mendesah berat, mau tak mau ia menuruti kemauan istrinya meski masih ada yang mengganjal dalam hatinya. Ia menoleh ke arah jendela, siluet Arash sudah tidak lagi di sana hingga beberapa menit kemudian terdengar suara kendaraan yang menjauh.“Dia pergi.” Zalina menyentuh tangannya.Naradhiya hanya menganggukkan kepalanya. Zalina tahu, suaminya masih ingin mendatangi Arash. Setiap kali

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status