Home / Romansa / Aku Mati di Pernikahanku / Lingkar Api di Angkasa

Share

Lingkar Api di Angkasa

Author: qia
last update publish date: 2026-08-27 15:09:28

"Ribuan kapal perang itu membentuk formasi blokade total, kita tidak akan pernah bisa menembus orbit bumi hidup-hidup!" seru Kael histeris, jemarinya menekan tombol kontrol modul luncur yang berkedip merah.

Modul darurat berukuran kecil itu bergetar hebat di tengah terjangan badai radiasi kosmik. Layar proyektor utama menampilkan titik-titik merah yang merayap mendekat dari segala penjuru galaksi. Suara dengung mesin pendorong berdengking nyaring menahan tekanan gravitasi planet di baw

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aku Mati di Pernikahanku   Monumen Harapan

    "Tepat di titik persimpangan utama antara jalur timur, barat, dan utara ini, monumen ini akan berdiri sebagai saksi bisu perjalanan panjang umat manusia," ujar Kael mantap, menepuk permukaan batu besar yang baru saja selesai ditegakkan.Di titik temu ketiga wilayah aliansi tersebut, para pekerja dari lembah, pesisir, dan dataran utara bergotong royong mendirikan sebuah tugu peringatan. Materialnya bukan lagi baja dingin dari menara tirani, melainkan batu alam yang kokoh dan lempengan logam sisa reruntuhan yang telah dilebur ulang menjadi simbol perdamaian. Braelyn memahat goresan garis peta tiga penjuru di permukaan tugu tersebut dengan ujung pisau belatinya, mengabadikan persatuan yang berhasil direbut melalui darah dan air mata."Setiap orang yang melintas di sini kelak akan tahu bahwa dunia ini tidak diperoleh secara cuma-cuma," ucap Braelyn lirih, menyeka debu batu dari telapak tangannya.Aris, Rian, dan Kirana berdiri berdampingan di dekat tugu tersebut, me

  • Aku Mati di Pernikahanku   Aliansi Tiga Penjuru

    "Kehangatan api di balai desa ini jauh lebih berharga daripada seluruh sistem pemanas otomatis yang dulu dibangga-banggakan peradaban lama," ucap Kirana tersenyum, menuangkan semangkuk kuah kaldu panas ke hadapan Braelyn dan Kael.Balai utama permukiman Dataran Utara dibangun dari kayu pinus tebal dengan arsitektur melingkar yang dirancang khusus untuk menahan terpaan angin dingin pegunungan. Di tengah ruangan, perapian batu besar menyala terang, memancarkan kehangatan yang merata ke seluruh sudut ruangan. Para warga utara duduk berdampingan dengan rombongan dari lembah timur dan pesisir barat, menciptakan suasana kekeluargaan yang begitu erat di balik benteng alam Gunung Kendeng.Kael mengeluarkan gulungan peta perkamen miliknya di atas meja kayu yang luas, lalu menambahkan garis penghubung baru berwarna hitam arang yang menyatukan sisi utara ke dalam jaringan rute perdagangan. Matanya berbinar puas melihat peta tersebut kini mencakup tiga wilayah besar yang saling te

  • Aku Mati di Pernikahanku   Pendaki Tebing Utara

    "Pola asap itu semakin jelas, artinya mereka sengaja menunggu kedatangan kita di seberang tebing ini," ujar Rian, merapatkan jubah wolnya untuk menahan terpaan angin gunung yang bertiup kencang.Rombongan kecil Braelyn kini berdiri di tepi jurang batu yang memisahkan bukit tempat mereka berpijak dengan tebing curam Gunung Kendeng. Di seberang jurang, jalur setapak yang melingkar naik ke puncak tampak jelas, dihiasi oleh beberapa orang pengawas bersenjatakan busur tradisional yang melambaikan tangan ke arah mereka. Tidak ada permusuhan atau tanda-tanda ancaman yang ada hanyalah isyarat sambutan hangat dari para penyintas dataran utara."Ada jembatan gantung tua di sisi barat lembah ini, kurasa itu satu-satunya akses aman untuk menyeberang tanpa harus turun ke dasar jurang," seru Kael sambil menunjuk struktur tali dan papan kayu yang membentang di antara dua tebing batu.Braelyn mengangguk mantap, mengawasi kondisi jembatan gantung yang tampak kokoh meskipun sudah

  • Aku Mati di Pernikahanku   Pendakian Menuju Gunung Kendeng

    "Kita harus memastikan perbekalan pakaian hangat cukup untuk perjalanan ke utara, karena suhu di sekitar lereng Gunung Kendeng jauh lebih dingin dibandingkan lembah kita," ujar Aris sambil menyerahkan beberapa jubah wol tebal kepada Braelyn dan Kael.Pagi itu, suasana di gerbang Lembah Timur kembali dipenuhi kesibukan yang membuncah semangat. Rombongan kecil ekspedisi utara telah siap dengan ransel tebal dan perlengkapan bertahan hidup terbaik mereka. Selain Braelyn dan Kael, dua pemuda lembah yang terbiasa dengan medan terjal serta Rianyang ingin memastikan jalur perdagangan antarwilayah terhubung seutuhnya turut bergabung dalam tim tersebut. Setelah berpamitan dan menerima restu dari para warga yang berkumpul, mereka melangkah mantap meninggalkan gerbang permukiman, menyusuri jalan setapak menuju utara.Perjalanan hari pertama diisi dengan derap langkah yang bersemangat di bawah naungan kanopi hutan pinus yang lebat. Tidak ada lagi rasa waswas akan serangan drone ata

  • Aku Mati di Pernikahanku   Sinyal dari Dataran Utara

    "Pagi yang tenang setelah malam yang luar biasa panjang," gumam Kael pelan, meregangkan otot-otot lengannya di ambang pintu balai desa Lembah Timur.Sisa-sisa kehangatan api unggun semalam masih mengepulkan asap tipis ke udara pagi yang sejuk. Di lapangan utama, beberapa warga pesisir barat dan lembah timur tampak bergotong royong merapikan meja-meja kayu dan sisa perbekalan pesta. Di tengah suasana damai itu, Kael membentangkan gulungan peta baru di atas meja panjang, menunjukkan garis-garis wilayah yang kini terhubung dari ujung timur hingga pesisir barat.Aris dan Rian melangkah mendekat, membawa mangkuk berisi buah segar dan air hangat. Perhatian Aris seketika tertuju pada sudut utara peta yang masih kosong, di mana sebuah tanda silang kecil digambar dengan arang."Semalam, sebelum tidur, aku sempat mengobrol dengan beberapa pedagang yang datang dari arah perbatasan bukit utara," kata Rian membuka percakapan, menunjuk titik utara pada peta. "Mereka melihat k

  • Aku Mati di Pernikahanku   Pesta Persatuan Lembah

    "Mana mungkin gandum lembah timur ini bisa terasa begitu lezat jika tidak dipadukan dengan garam laut murni dari pesisir barat?" seru Aris tertawa lepas, mengangkat mangkuk kayunya tinggi-tinggi di tengah kerumunan warga yang bersorak riuh.Malam perayaan penyambutan utusan pesisir barat di Lembah Timur berlangsung sangat meriah. Nyala api unggun besar memantulkan cahaya keemasan di wajah puluhan orang yang duduk melingkar di lapangan utama permukiman. Aroma harum daging panggang berpadu sempurna dengan harumnya rempah-rempah hutan dan bumbu garam khas pesisir. Di sudut lapangan, beberapa pemuda memainkan alat musik tradisional dari kayu dan senar kawat daur ulang, mengalunkan melodi riang yang membakar semangat kebersamaan.Rian dan rekan-rekannya tampak sudah membaur akrab dengan warga lokal. Mereka saling bertukar cerita tentang cara bertahan hidup, teknik berburu di hutan lebat, hingga keindahan ombak laut barat yang belum pernah dilihat oleh warga lembah. Gelak tawa d

  • Aku Mati di Pernikahanku   Braelyn Tidak Akan Menjadi Korban Lagi

    “Siapa kamu sebenarnya?”Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Braelyn, pelan namun penuh tekanan, seolah ditujukan pada bayangan di luar jendela yang sudah lama menghilang. Ia sendiri tidak tahu kepada siapa kalimat itu ditujukan. Pada orang di dalam mobil hitam itu, at

  • Aku Mati di Pernikahanku   Kematian Braelyn di Hari Pernikahannya

    “Minum ini dulu, Braelyn. Kamu pasti lelah.”Suara Nevan Conner terdengar lembut, nyaris terlalu sempurna untuk dipercaya. Senyum di wajahnya tetap sama—hangat, penuh perhatian, seperti pria yang selama ini ia cintai tanpa ragu. Gelas kristal itu terulur di hadapannya, berisi cairan berwarna bening

  • Aku Mati di Pernikahanku   Pertemuan Pertama dengan Eryx Caspian

    “Apa maksudmu dengan pesan ini?”Braelyn menatap layar ponselnya sambil berbicara pelan, seolah pengirimnya bisa langsung menjawab dari seberang sana. Ujung jarinya masih menggantung di atas layar, ragu apakah harus membalas atau tidak. Kalimat itu terlalu tepat, terlalu tajam,

  • Aku Mati di Pernikahanku   Braelyn Kembali ke Tiga Tahun Lalu

    “Bangun, Braelyn. Kau baik-baik saja?”Suara itu terasa begitu nyata, begitu dekat, hingga membuat Braelyn tersentak. Ia membuka mata lebih lebar, menatap sosok pria paruh baya yang berdiri di samping tempat tidurnya. Wajah itu tidak asing. Justru terlalu ia kenal.Ayahn

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status