ログイン"Jangan bergerak! Angkat tangan di atas kepala!"
Suara peringatan dari pengeras suara mobil polisi memecah deru baling-baling helikopter. Puluhan lampu sorot berkuatan tinggi menusuk tajam, membuat lapangan udara darurat itu seketika terang benderang. Pasukan taktis dengan senjata lengkap mulai bergerak taktis, mengunci seluruh sudut pelarian.
Wajah Lucien Ardent mengeras. Skenario sempurna yang ia susun selama tiga lini masa hancur berantakan dalam hitungan detik akibat ulah Ka
Uhuk! Uhuk!Asap hitam pekat berbau sangit menyengat paru-paru Braelyn, memaksanya tersedak di tengah rasa pening yang luar biasa. Pandangannya berbayang, terdistorsi oleh darah segar yang mengalir dari pelipis dan memerahkan sudut matanya. Di dalam kabin SUV yang terbalik, dunia terasa berputar jungkir balik. Setiap tarikan napasnya memicu rasa sakit yang menusuk di area tulang rusuk.Bergerak, Braelyn! Jangan mati di sini! jerit inner monologue-nya, mencoba mencambuk kesadarannya yang kian menipis.Ia melirik ke samping. Kael masih tak bergerak, kepalanya terkulai di atas kantung udara yang mengempis dengan luka robek cukup dalam di dahi. Bau bensin semakin menyengat, bercampur dengan percikan api kecil yang mulai merayap dari kap mesin yang ringsek. Kematian terasa begitu dekat, bersiap menjemput mereka bahkan sebelum angka digital di laptop Kael yang terlempar di lantai menyentuh titik nol.01:15... 01:14...
"Eryx, jangan buat aku memilih!" jerit Braelyn di tengah raungan angin yang mendadak menderu kencang di area parkir gedung Wilson Group. Rambutnya berkibar liar, menutupi sebagian wajahnya yang kini basah oleh keringat dingin. Inner monologue-nya menjerit histeris. Bagaimana bisa takdir mempermainkannya sekejam ini lagi? Kehadiran Adrian di gedung ini adalah satu-satunya alasan mengapa Braelyn bersumpah untuk memenangkan lini masa ketiga, namun kini ayahnya terjebak di dalam lift besi yang lumpuh di lantai atas, sementara hitungan mundur kematian terus berkedip tanpa ampun di layar laptop Kael.08:42... 08:41..."Kael! Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk membongkar pintu lift eksekutif jika kita menggunakan sistem manual?!" Eryx berbalik cepat, mencengkeram kerah jaket Kael hingga peretas itu hampir tersedak di tengah kepanikannya sendiri."Paling cepat lima menit, Eryx! Itu pun kalau sistem hidroliknya tidak mengunci otomatis karena lonjak
"Kamu pikir kedamaian ini nyata, Braelyn?" suara itu berbisik begitu dekat, begitu dingin, sampai-sampai sendok perak di tangan Braelyn terlepas dan berdenting nyaring di atas piring porselen.Braelyn tersentak, napasnya tertahan di kerongkongan. Ia menatap Eryx yang duduk di hadapannya, tetapi anehnya, bibir Eryx tidak bergerak. Pria itu masih menatapnya dengan binar mata penuh kehangatan, menggenggam jemarinya yang mendadak berubah sedingin es. Suasana restoran semi-terbuka di lobi gedung Wilson Group masih tampak normal. Pelayan berlalu-lalang, denting garpu dan pisau beradu dengan obrolan ringan para eksekutif, dan sinar matahari siang menerpa wajah mereka dengan kehangatan yang seharusnya menenangkan. Namun, bagi Braelyn, dunia seakan melambat secara tidak wajar. Suara bising di sekitarnya perlahan meredup, tergantikan oleh suara detak jantungnya sendiri yang berdegup terlalu kencang, terlalu berisik.Apa itu tadi? Kenapa suara Lucien terdengar lagi di kepalak
Suara sirine kapal kepolisian air semakin nyaring menggema, memecah kesunyian laut distrik selatan yang perlahan kembali tenang. Beberapa kapal patroli bergerak cepat mengepung kapal pesiar Lucien, menyorotkan lampu-lampu terang yang kini terasa melegakan, bukan lagi mengancam.Pasukan polisi bersenjata lengkap segera melompat ke atas dek, langsung memborgol anak buah Lucien yang sudah tidak memiliki daya perlawanan. Dua petugas polisi mendekati Lucien yang masih terkapar lemas di lantai dek, lalu menariknya berdiri dengan kasar.Lucien mendongak, menatap Braelyn dan Eryx untuk terakhir kalinya dengan tatapan yang kosong dan hancur. Tidak ada lagi kilat kegilaan atau ambisi seorang penguasa waktu di matanya; ia kini hanyalah seorang kriminal biasa yang harus mempertanggungjawabkan perbuatannya di hadapan hukum dunia nyata."Kalian pikir kalian menang?" bisik Lucien serak saat tubuhnya diseret menjauh. "Kalian hanya beruntung takdir berpihak pada kalian kali ini.
Cahaya lampu sorot dari kapal eksplorasi Wilson Group seakan menguliti kegelapan di atas dek kapal milik Lucien. Lucien terpaksa mengangkat tangan kanan untuk menghalau silau yang menusuk matanya, sementara tangan kirinya refleks mencengkeram pembatas besi kapal."Braelyn..." desis Lucien, suaranya parau menahan geram yang teramat sangat."Senjata di bawah! Jangan ada yang bergerak!" suara Eryx menggelegar lewat pengeras suara kapal, memberi komando yang mutlak. Di bawah siraman cahaya, pasukan taktis bentukan Eryx sudah membidikkan moncong laras panjang mereka ke arah anak buah Lucien yang kini mati kutu akibat sistem kapal yang lumpuh total.Satu per satu, anak buah Lucien menjatuhkan senapan mereka ke atas dek kayu dengan bunyi dentang yang pasrah. Mereka tahu, melawan dalam kondisi buta dan terkunci sama saja dengan bunuh diri.Braelyn menurunkan sedikit senapan laras panjangnya, namun pandangannya tetap mengunci sosok Lucien yang kini tampak rapuh ta
Deru ombak distrik selatan di malam hari terdengar jauh lebih ganas dari biasanya. Angin laut yang dingin menusuk hingga ke tulang, menerbangkan beberapa helai rambut Braelyn yang berdiri tegap di tepi geladak kapal eksplorasi milik Wilson Group. Matanya lurus menatap permukaan air laut yang hitam pekat, memantulkan cahaya lampu sorot kapal yang bergerak gelisah.Di bawah sana, puluhan meter di dasar laut, sebuah robot penyelam tanpa awak (ROV) sedang menyisir sisa-sisa reruntuhan gudang tua yang amblas di lini masa lalu."Grafik energinya naik lagi, Braelyn," suara Kael memecah keheningan dari dalam kabin kendali yang dipenuhi monitor digital. "Sinyal anomali dari serpihan safir hitam itu menguat setiap kali arus laut bergeser. Tapi ada satu masalah."Braelyn membalikkan tubuh, melangkah masuk ke dalam kabin yang hangat. "Apa?""Seseorang sedang mencoba membajak umpan data yang sengaja kita sebar ke server Ardent Corp," Kael menyeringai, memperlihatkan b







