Masuk"Jangan bergerak! Angkat tangan di atas kepala!"
Suara peringatan dari pengeras suara mobil polisi memecah deru baling-baling helikopter. Puluhan lampu sorot berkuatan tinggi menusuk tajam, membuat lapangan udara darurat itu seketika terang benderang. Pasukan taktis dengan senjata lengkap mulai bergerak taktis, mengunci seluruh sudut pelarian.
Wajah Lucien Ardent mengeras. Skenario sempurna yang ia susun selama tiga lini masa hancur berantakan dalam hitungan detik akibat ulah Ka
"Jangan mendekati ambang pintu itu, Kael!" seru Eryx tajam, menahan lengan peretas muda yang hendak melangkah lebih dulu ke pelataran struktur melayang.Kael mengurungkan niatnya, menarik kembali kakinya yang hampir menyentuh permukaan lantai transparan di depan gerbang utama. Layar gawainya mendadak memancarkan pendaran merah berkedip cepat disertai bunyi alarm peringatan bernada tinggi. Partikel cahaya biru lembut yang tadinya menyelimuti struktur megah itu berubah kelam menjadi kelabu pekat. Suara dengungan mekanik berfrekuensi rendah mulai bergetar dari balik dinding logam berat di hadapan mereka."Sistem pertahanan di dalam sana baru saja mendeteksi kehadiran kita," ujar Kael dengan napas memburu, jemarinya menari liar di atas papan ketik virtual.Braelyn menyipitkan mata, menatap lekat-lekat lambang siber asing yang kini berubah warna menjadi merah menyala di atas gerbang. Telapak tangan kanannya kembali memancarkan pendaran sirkuit emas yang berdenyut sel
"Siapa yang berani melangkah keluar dari garis takdir tanpa izin?" suara asing itu menggema tajam, memantul di dinding kehampaan tanpa batas.Eryx langsung merapatkan posisinya di depan Braelyn, mengangkat batangan besi berkilau emas untuk melindungi peretas muda di belakangnya. Kael menatap layar gawinya yang berkedip liar, memindai frekuensi suara yang baru saja mencabik keheningan dimensi asing tersebut. Partikel cahaya ungu dan emas di sekitar mereka berputar lambat, membentuk koridor transparan yang membentang menembus batas cakrawala."Lu tidak perlu tahu nama kami untuk menghentikan omong kosong ini," balas Eryx dingin, matanya menyipit menatap sosok berzirah perak yang perlahan keluar dari balik kabut cahaya.Figur misterius itu menyeringai di balik pelindung wajah transparan, mengacungkan bilah energi plasma biru yang mendengung tajam. "Kalian mengira melompati Sesar Waktu akan membebaskan kalian dari hukum komite pusat, Wilson?"Braelyn maju sel
"Itu bukan ledakan satelit! Celah Sesar Waktu di bawah sana kembali terbuka!" teriak Kael histeris, menunjuk ke arah lantai beton yang merekah lebar.Guncangan dahsyat menghantam bunker bawah tanah, melemparkan debu tebal dan serpihan batu ke segala arah. Retakan bercahaya ungu menyala terang merayap cepat membelah lantai semen tempat mereka berpijak. Suara gemuruh frekuensi tinggi mencabik udara, memekakkan telinga seketika.Eryx segera menerjang maju, mencengkeram lengan Braelyn untuk menariknya menjauh dari tepi rekahan yang menganga. "Jangan sampai lu mendekati pusaran itu, Wilson!"Braelyn terengah-engah, menatap telapak tangan kanannya yang kembali memancarkan pendaran sirkuit emas murni tanpa bisa dikendalikan. Aliran energi liar itu menarik partikel debu di sekitar mereka tersedot masuk ke dalam celah dimensi yang menganga lebar. Pendaran cahaya ungu di bawah sana berputar kencang membentuk badai mini yang memekakkan mata."Energi di dalam tubuhku
"Protokol pemusnahan total macam apa yang lu maksud, Varis?!" bentak Eryx, mencengkeram kerah zirah komandan itu hingga tubuh musuhnya terangkat dari lantai semen.Varis tersenyum miring di balik helmnya yang pecah, memuntahkan setetes darah segar ke lantai beton yang dingin. "Satelit pengorbit di atas sana sudah memuat hulu ledak termal... Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, seluruh permukaan Distrik Empat bakal rata dengan tanah."Kael melompat ke hadapan konsol utama, jemarinya menari sangat cepat di atas papan ketik virtual yang berkedip liar. "Sial! Angka hitung mundurnya benar-benar nyata! Satelit faksi pusat sedang melakukan sinkronisasi koordinat GPS tepat di atas lokasi kita!"Braelyn meremukkan batangan logam kecil di tangannya dengan tatapan membunuh tertuju pada Varis. "Bunuh saja dia sekarang, Eryx. Kita tidak punya waktu meladeni omong kosong anjing suruhan ini."Eryx menghempaskan tubuh Varis begitu saja ke lantai hingga kepala komandan
"Jangan bergerak atau kepala kalian hancur berkeping-keping dalam detik ini juga!" suara dingin itu menggelegar dari balik bayangan dinding beton yang baru saja runtuh.Eryx menahan napasnya, merapatkan cengkeraman pada batangan besi sambil menggeser posisi tubuhnya untuk melindungi Braelyn. Asap putih mengepul tebal dari celah dinding yang jebol, membawa aroma ozon yang menusuk hidung. Di tengah kepulan debu itu, sesosok figur berzirah tempur lengkap melangkah keluar dengan langkah berat."Siapa lagi bajingan yang dikirim faksi pusat buat mati di sini?" cibir Kael tajam, meraba gawai portabelnya untuk mencari celah retasan sistem zirah musuh.Figur tersebut mengangkat senapan pulsa berat, menyorotkan laser merah tepat ke arah dada Eryx tanpa sedikit pun keraguan. "Nama saya Komandan Varis, pengawas sisa dari komite eksekutif yang bertugas membersihkan sampah eksperimen gagal."Braelyn maju selangkah, menatap tajam sosok di hadapannya dengan sorot mata me
"Tubuh itu cuma cangkang kosong, Eryx! Jangan buang waktu buat ngajak dia ngobrol!" teriak Braelyn, mengangkat batangan logamnya tinggi-tinggi saat pecahan kaca tabung mulai berderak retak.Sosok Thomas di dalam wadah cairan siber itu menyeringai lebar, menampakkan urat-urat leher yang membiru akibat aliran tegangan tinggi. Cairan pendar keemasan di dalam tabung bergolak hebat, mendidih mengeluarkan gelembung udara berukuran besar. Suara dengungan frekuensi rendah mencabik gendang telinga, membuat sekujur dinding bunker bergetar dahsyat."Cangkang atau bukan, dia dalang di balik semua kekacauan ini," balas Eryx dingin, melangkah maju mendekati altar kontrol utama.Kael merayap cepat ke balik konsol sekunder, jemarinya menari liar di atas tombol darurat yang berkedip merah. "Sistem transfer datanya sudah mencapai sembilan puluh persen! Kalau kita nggak putus kabel utama itu sekarang, kesadaran kita bakal tersedot masuk ke dalam celah dimensi!"Cairan di da
“Apa maksudmu dengan pesan ini?”Braelyn menatap layar ponselnya sambil berbicara pelan, seolah pengirimnya bisa langsung menjawab dari seberang sana. Ujung jarinya masih menggantung di atas layar, ragu apakah harus membalas atau tidak. Kalimat itu terlalu tepat, terlalu tajam,
“Jangan datang lagi tanpa pemberitahuan.”Braelyn berdiri tegak di hadapan Eryx, suaranya tenang namun tegas. Ia tidak mundur selangkah pun meski pria itu masih berada terlalu dekat untuk ukuran seorang tamu.Eryx tidak terlihat tersinggung. Tatapannya justru mengamati wajah Braelyn
“Siapa kamu sebenarnya?”Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Braelyn, pelan namun penuh tekanan, seolah ditujukan pada bayangan di luar jendela yang sudah lama menghilang. Ia sendiri tidak tahu kepada siapa kalimat itu ditujukan. Pada orang di dalam mobil hitam itu, at
“Bangun, Braelyn. Kau baik-baik saja?”Suara itu terasa begitu nyata, begitu dekat, hingga membuat Braelyn tersentak. Ia membuka mata lebih lebar, menatap sosok pria paruh baya yang berdiri di samping tempat tidurnya. Wajah itu tidak asing. Justru terlalu ia kenal.Ayahn







