Share

Titik Nol

Author: qia
last update Petsa ng paglalathala: 2026-06-08 09:32:40

bagi Braelyn. Suara dengung AC di langit-langit kantor mendadak bergaung seperti suara ledakan bom di pelabuhan—sebuah memori visual yang tidak bisa ia jelaskan dari mana asalnya.

Mata Braelyn terpaku pada buku harian berkulit domba di tangan Lucien. Sampulnya bersih, tidak hangus, tapi lambang mawar kecil di sudutnya memicu rasa sakit yang menghantam kepalanya bagai hantaman benda tumpul.

Kenapa dia ada di sini? Siapa dia? Kenapa aku merasa sangat membencinya? in

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Aku Mati di Pernikahanku   Hujan Baja di Lembah Barat

    "Tutup jalur evakuasi sektor tiga sekarang juga sebelum gelombang pertama plasma menembus kubah pelindung!" bentak Eryx sambil mengempaskan batangan besinya ke lantai baja.Percikan api berpijar terang setiap kali hantaman senjata itu berbenturan dengan puing beton yang runtuh. Asap belerang mengepul pekat dari koridor utama yang membara akibat hantaman rudal udara. Suara sirene meraung memekakkan telinga, bersahutan dengan deru mesin pesawat tempur musuh di luar dinding benteng. Para pejuang koloni berlarian mengambil posisi di balik tembok pertahanan darurat."Sistem hidrolik gerbang utama sudah lumpuh total akibat korsleting listrik," balas Kael terengah-engah, mengetik cepat di atas konsol darurat yang berkedip merah. Rembesan darah segar menetes dari pelipis peretas muda itu akibat terjangan gelombang kejut sebelumnya. Jemarinya menari liar memindahkan sisa daya baterai ke menara meriam plasma otomatis. "Kita harus menahan mereka manual dari sini!"Braelyn

  • Aku Mati di Pernikahanku   Perlawanan

    "Mari ikut aku ke ruang strategi utama, waktu kita tidak banyak sebelum pasukan Adrian memindai seluruh frekuensi wilayah ini," ucap pria tua berbalut jubah usang itu, memimpin langkah melewati koridor baja yang terang benderang.Eryx dan Kael mengekor di belakang, sementara Braelyn menggenggam erat chip memori data di dalam saku jaketnya. Ruangan strategi pusat tampak sangat futuristik dengan meja taktis hologram melingkar di tengah ruangan. Belasan teknisi dan panglima koloni berdiri mengelilingi meja tersebut, menatap layar proyeksi tiga dimensi yang menampilkan peta orbit satelit bumi secara detail."Aku Aris, pemimpin dewan pertahanan koloni ini," ucap pria tua itu berbalik menghadap mereka setelah tiba di depan meja taktis. "Kalian telah membawa dokumen paling berharga yang kita butuhkan untuk meruntuhkan jaringan utama Adrian."Braelyn mengeluarkan chip memori dari saku jaketnya, menyerahkannya langsung ke tangan Aris. "Data di dalam chip ini memuat kode

  • Aku Mati di Pernikahanku   Lorong Keselamatan

    "Cepat masuk sebelum pintu ini tertutup total, pasukan pembersih sudah berada di ujung tebing!" seru pria tua berbalut jubah usang itu, menarik lengan Braelyn dengan sigap ke dalam lorong batu.Eryx dan Kael melompat masuk bersamaan tepat saat rentetan tembakan laser drone menghantam dinding luar tebing dengan suara ledakan yang memekakkan telinga. Pintu batu tebing bergeser menutup rapat secara otomatis, memutus total suara bising di luar dan menyisakan keheningan di dalam terowongan bawah tanah yang temaram. Bau mesiu seketika tergantikan oleh aroma tanah lembap yang bersih.Braelyn mengatur napasnya yang memburu, menatap lekat-lekat sosok pria tua yang berdiri di hadapannya dengan sorot mata penuh wibawa. Obor kuno di tangan pria itu memantulkan pendaran hangat di dinding batu yang dipenuhi ukiran mekanik purba."Lu... bagaimana lu bisa tahu kami akan datang lewat jalur ini?" tanya Kael curiga, meraba saku jaketnya untuk memastikan chip memori data aman di te

  • Aku Mati di Pernikahanku   Lorong Tersembunyi di Tebing Batu

    "Loncat sekarang sebelum lantai menara ini runtuh total menimbun kita!" seru Eryx tajam, menepis pecahan besi membara dengan batangan besinya.Ledakan susulan menghantam dinding beton menara komunikasi, menciptakan lubang besar yang menganga lebar ke arah jurang bukit. Asap hitam pekat mengepul memenuhi ruangan sempit, mencekat pernapasan tiga buronan tersebut. Kael terbatuk keras sambil menyeret tubuhnya merayap mendekati tepian lubang ledakan."Chip memori datanya sudah di tanganku, kita tidak punya waktu lagi untuk berdebat!" balas Braelyn tegas, menyembunyikan benda kecil itu ke dalam saku dalam jaketnya.Pesawat tempur tanpa awak di luar menembakkan rentetan sinar laser biru yang membelah udara pagi. Semburan api membakar sisa konsol utama, meruntuhkan langit-langit menara dalam satu kedipan mata. Eryx menarik lengan Braelyn dan Kael secara bersamaan, melompat menerobos lubang dinding menuju lereng bukit curam."Kita meluncur bebas ke arah semak berd

  • Aku Mati di Pernikahanku   Warisan di Menara Tua

    Suara serak itu memantul di dinding besi berkarat, menciptakan gema yang menusuk telinga di tengah kesunyian bukit. Eryx langsung menarik tubuh Braelyn ke belakang, mengarahkan batangan besinya lurus ke lubang speaker menara. Kael merinding hebat, menyapu sekeliling area dengan tatapan siaga penuh."Siapa yang memasang penyadap di tempat terpencil ini, sistemnya bahkan sudah mati ratusan tahun lalu," desis Kael tegang, melangkah mundur perlahan.Layar monitor darurat berkedip liar, memproyeksikan cahaya biru pucat ke wajah Braelyn yang menatap lekat-lekat barisan kode sandi Wilson. Wanita itu melepaskan genggaman Eryx, melangkah pasti melewati ambang pintu baja tanpa ragu sedikit pun. Bau ozon tipis bercampur debu tua langsung menyergap rongga hidungnya saat ia berdiri tepat di depan konsol utama. Tidak ada jebakan digital atau aliran listrik berbahaya yang menyengat kulit telapak tangannya."Jangan mendekati konsol itu sendirian, Braelyn, kita tidak tahu jebaka

  • Aku Mati di Pernikahanku   Fajar Garis Waktu Nyata

    "Bangun, Kael! Kalau lu terus terlelap di atas tanah basah ini, paru-paru lu bakal penuh dengan lendir lumpur!" seru Eryx tajam, menepuk keras pipi peretas muda itu.Kael terbatuk-batuk hebat, memuntahkan air jernih dari mulutnya saat udara lembap beraroma pinus menyergap rongga dadanya. Pria itu mengerjap cepat, memindai sekeliling area hutan lebat yang diselimuti kabut tipis keperakan. Tidak ada lagi lantai kaca abadi ataupun jurang antardimensi yang merobek kesadaran mereka.Braelyn bangkit perlahan dengan bantuan dahan pohon terdekat, merasakan denyut nadi di pergelangannya kembali normal tanpa sengatan sirkuit. Wanita itu mengepalkan telapak tangannya, mendapati pendaran emas di kulitnya telah sepenuhnya lenyap berganti kulit manusia biasa. Inti reaktor dan kristal memori di saku jaketnya kini berubah menjadi batu kerikil biasa yang kehilangan seluruh daya magisnya. Keheningan hutan purba itu terasa begitu nyata, memecah ketegangan sisa pertempuran panjang di ruan

  • Aku Mati di Pernikahanku   Braelyn Tidak Akan Menjadi Korban Lagi

    “Siapa kamu sebenarnya?”Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Braelyn, pelan namun penuh tekanan, seolah ditujukan pada bayangan di luar jendela yang sudah lama menghilang. Ia sendiri tidak tahu kepada siapa kalimat itu ditujukan. Pada orang di dalam mobil hitam itu, at

  • Aku Mati di Pernikahanku   Braelyn Kembali ke Tiga Tahun Lalu

    “Bangun, Braelyn. Kau baik-baik saja?”Suara itu terasa begitu nyata, begitu dekat, hingga membuat Braelyn tersentak. Ia membuka mata lebih lebar, menatap sosok pria paruh baya yang berdiri di samping tempat tidurnya. Wajah itu tidak asing. Justru terlalu ia kenal.Ayahn

  • Aku Mati di Pernikahanku   Kematian Braelyn di Hari Pernikahannya

    “Minum ini dulu, Braelyn. Kamu pasti lelah.”Suara Nevan Conner terdengar lembut, nyaris terlalu sempurna untuk dipercaya. Senyum di wajahnya tetap sama—hangat, penuh perhatian, seperti pria yang selama ini ia cintai tanpa ragu. Gelas kristal itu terulur di hadapannya, berisi cairan berwarna bening

  • Aku Mati di Pernikahanku   Senyum Braelyn, Rencana yang Berubah

    “Jangan datang lagi tanpa pemberitahuan.”Braelyn berdiri tegak di hadapan Eryx, suaranya tenang namun tegas. Ia tidak mundur selangkah pun meski pria itu masih berada terlalu dekat untuk ukuran seorang tamu.Eryx tidak terlihat tersinggung. Tatapannya justru mengamati wajah Braelyn

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status