ANMELDEN"Jangan bergerak atau kepala kalian hancur berkeping-keping dalam detik ini juga!" suara dingin itu menggelegar dari balik bayangan dinding beton yang baru saja runtuh.
Eryx menahan napasnya, merapatkan cengkeraman pada batangan besi sambil menggeser posisi tubuhnya untuk melindungi Braelyn. Asap putih mengepul tebal dari celah dinding yang jebol, membawa aroma ozon yang menusuk hidung. Di tengah kepulan debu itu, sesosok figur berzirah tempur lengkap melangkah keluar dengan langkah be
"Bangun, Kael! Kalau lu terus terlelap di atas tanah basah ini, paru-paru lu bakal penuh dengan lendir lumpur!" seru Eryx tajam, menepuk keras pipi peretas muda itu.Kael terbatuk-batuk hebat, memuntahkan air jernih dari mulutnya saat udara lembap beraroma pinus menyergap rongga dadanya. Pria itu mengerjap cepat, memindai sekeliling area hutan lebat yang diselimuti kabut tipis keperakan. Tidak ada lagi lantai kaca abadi ataupun jurang antardimensi yang merobek kesadaran mereka.Braelyn bangkit perlahan dengan bantuan dahan pohon terdekat, merasakan denyut nadi di pergelangannya kembali normal tanpa sengatan sirkuit. Wanita itu mengepalkan telapak tangannya, mendapati pendaran emas di kulitnya telah sepenuhnya lenyap berganti kulit manusia biasa. Inti reaktor dan kristal memori di saku jaketnya kini berubah menjadi batu kerikil biasa yang kehilangan seluruh daya magisnya. Keheningan hutan purba itu terasa begitu nyata, memecah ketegangan sisa pertempuran panjang di ruan
"Makhluk itu bukan sekadar ilusi, ribuan mata merahnya terhubung langsung dengan titik pusat kehancuran realitas!" seru Kael histeris, merangkak menghindari serpihan kaca yang menghujani lantai. Permukaan kaca abadi di bawah mereka bergetar hebat, mengeluarkan bunyi derit bernada tinggi yang menusuk gendang telinga. Peretas muda itu menyapu pandangan ke sekeliling, mendapati dinding jurang merah semakin mendekat dengan kecepatan penuh.Eryx mengayunkan batangan besinya dengan sekuat tenaga, menangkis cakar kegelapan yang menyambar liar dari perut sang entitas raksasa. Percikan api biru berpijar terang, menerangi wajah mereka yang dipenuhi peluh dan sisa darah kering. Makhluk bermata seribu itu mengaum memekakkan telinga, melayangkan hantaman gelombang kejut yang meretakkan lantai kaca abadi.Braelyn berdiri tegak di tengah terpaan angin badai kosmik, mengepalkan tangan kanannya hingga pendaran emas murni menyilaukan mata. Wanita itu menatap tajam ke arah inti dada sang
"Bangun, Kael! Kalau lu terus terlelap di atas lantai kaca ini, tubuh kita bakal terserap habis ke dalam celah hampa!" seru Eryx tajam, menarik kerah jaket peretas muda itu dengan kasar.Kael terbatuk keras, memuntahkan cairan bening dari mulutnya saat udara dingin tanpa oksigen menyergap paru-parunya. Pria itu mengerjap cepat, memindai sekeliling area yang membentang luas tanpa batas tepi. Permukaan tempat mereka berpijak memantulkan bayangan langit kelam berbintang merah menyala. Tidak ada lagi reruntuhan laboratorium besi ataupun bau mesiu yang menyesakkan dada. Suara desir angin berfrekuensi rendah bergema tipis di atas hamparan lantai kaca abadi tersebut."Di mana kita sekarang? Tempat ini tidak punya koordinat di dalam memori gawiku," gumam Kael lirih, meraba saku jaketnya yang kosong melompong.Braelyn bangkit perlahan dengan napas memburu, merasakan denyut hangat yang menjalar dari telapak tangannya ke seluruh tubuh. Wanita itu mengepalkan jari-jarinya e
"Jangan biarkan mereka bangkit lagi, Kael, segera selesaikan retasannya!" seru Eryx tajam, menepis cakar tajam sang klon yang menerjang dari balik kepulan asap.Serpihan kaca tabung pengamatan menghujani lantai laboratorium dengan suara gemerincing yang memekakkan telinga. Puluhan klon manusia bangkit merangkak dari genangan cairan bening, memancarkan pendaran merah menyala dari balik bola mata mereka. Asap tebal mengepul pekat dari konsol utama yang terbakar akibat hantaman gelombang kejut Adrian. Eryx langsung mengayunkan batangan besinya untuk menghantam kepala klon terdekat tanpa keraguan."Kalian tidak akan pernah bisa menghentikan evolusi yang sudah mendarah daging di dalam sistem ini!" teriak Adrian lantang, mengalirkan energi merah ke seluruh lantai ruangan.Braelyn mengepalkan tangannya erat-erat hingga pendaran emas di kulitnya membakar udara di sekitar mereka. Wanita itu melangkah maju membelah barisan klon yang mendesis beringas, menatap lurus ke ara
"Pintu baja itu mengunci seluruh akses keluar, kita terjebak di dalam perangkap digital ini!" teriak Kael histeris, menghantamkan tinjunya ke dinding kubah yang berdengung dingin.Lempengan baja hitam legam memantulkan pendaran cahaya merah yang tiba-tiba menyala dari langit-langit kubah. Udara di dalam ruangan tertutup itu berubah sesak akibat desinfektan kimia yang mulai disemprotkan dari ventilasi tersembunyi. Eryx merapatkan batangan besinya ke permukaan dinding, mencari celah lemah pada struktur logam yang baru saja muncul. Bau mesiu bercampur ozon menyengat rongga hidung, mengingatkan mereka pada neraka laboratorium yang baru saja ditinggalkan."Adrian sengaja memancing kita masuk ke fasilitas bawah tanah ini untuk menguji sirkuit di dalam darahku," ucap Braelyn dingin, mengepalkan tangan kanannya hingga kulitnya berpendar keemasan.Wanita itu melangkah mendekati konsol utama yang mencuat dari tengah lantai kubah. Tombol-tombol virtual berkedip liar menamp
"Jangan biarkan mereka menembus barisan depan, lindungi Braelyn!" teriak Eryx, mengayunkan batangan besinya hingga menciptakan gelombang kejut biru yang memukul mundur kawanan serigala perak.Sembburan api dari hantaman senjata itu menyambar bulu keperakan para monster, memicu bau hangus yang menguar pekat di udara lembah. Puluhan pasang mata merah menyala menatap tajam dari balik semak belukar, siap menerkam tanpa belas kasihan. Kael merangkak cepat menghindari cakar tajam yang menggores tanah tepat di samping sepatu botnya. Peretas muda itu menyambar serpihan ranting pohon besar, melemparkan serpihan kayu tersebut untuk mengalihkan perhatian monster yang mengincar lehernya."Hewan-hewan ini bukan binatang biasa, sirkuit mutasi mengalir di dalam darah mereka!" seru Kael histeris, napasnya tersengat udara panas.Braelyn berdiri tegak di tengah kepungan, mengabaikan getaran hebat yang merambat dari telapak kakinya ke seluruh tubuh. Wanita itu memusatkan sisa ener
“Apa maksudmu dengan pesan ini?”Braelyn menatap layar ponselnya sambil berbicara pelan, seolah pengirimnya bisa langsung menjawab dari seberang sana. Ujung jarinya masih menggantung di atas layar, ragu apakah harus membalas atau tidak. Kalimat itu terlalu tepat, terlalu tajam,
“Jangan datang lagi tanpa pemberitahuan.”Braelyn berdiri tegak di hadapan Eryx, suaranya tenang namun tegas. Ia tidak mundur selangkah pun meski pria itu masih berada terlalu dekat untuk ukuran seorang tamu.Eryx tidak terlihat tersinggung. Tatapannya justru mengamati wajah Braelyn
“Siapa kamu sebenarnya?”Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Braelyn, pelan namun penuh tekanan, seolah ditujukan pada bayangan di luar jendela yang sudah lama menghilang. Ia sendiri tidak tahu kepada siapa kalimat itu ditujukan. Pada orang di dalam mobil hitam itu, at
“Minum ini dulu, Braelyn. Kamu pasti lelah.”Suara Nevan Conner terdengar lembut, nyaris terlalu sempurna untuk dipercaya. Senyum di wajahnya tetap sama—hangat, penuh perhatian, seperti pria yang selama ini ia cintai tanpa ragu. Gelas kristal itu terulur di hadapannya, berisi cairan berwarna bening







