LOGIN"Tekan tombol itu kalau lu mau kubur diri lu sendiri bareng pecahan waktu di sini, Thomas!" bentak Eryx, melangkah maju tanpa ragu dengan batangan besi yang digenggam erat hingga buku-buku jarinya memutih.
Thomas Vance mendengus sinis, jempolnya berada tepat di atas tombol merah detonator yang berkedip liar. "Kamu pikir saya takut mati, mekanik bodoh? Dunia ini sudah busuk dari akarnya, dan saya adalah arsitek tunggal yang berhak menulis ulang seluruh sejarahnya!"
"Koordinat ini mengarah langsung ke Zona Nol, tempat di mana seluruh jejak peradaban manusia pertama kali dihapus dari muka bumi," ujar Kael tajam, menatap layar konsol kecil yang berkedip biru.Debu sisa reruntuhan monolit masih beterbangan di udara pagi yang dingin. Angin lembah berembus kencang, membawa aroma ozon pekat dari kawah yang membara. Braelyn merapatkan jaketnya, mengawasi peta hologram tiga dimensi yang memproyeksikan jalur tersembunyi menuju selatan. Tidak ada lagi sirkuit atau ilusi virtual yang mengurung kesadaran mereka."Kalau Zona Nol masih menyimpan rahasia, artinya Adrian bukan satu-satunya arsitek yang merancang kehancuran dunia ini," balas Braelyn dingin.Mereka melangkah menyusuri sisa jalan raya purba yang tertutup semak belukar liar. Tanah di bawah sepatu bot mereka terasa padat, berbeda dengan lantai logam labirin yang rapuh. Kael terus memindai frekuensi sinyal yang semakin menguat di setiap kilometer perjalanan. Suara dengung rendah
"Apa lagi yang belum hancur setelah kita meremukkan inti kesadaran utama itu, Kael?!" seru Braelyn tajam, bangkit berdiri dengan napas memburu.Tanah subur di bawah kaki mereka bergetar hebat, membelah hamparan rumput hijau menjadi celah-celah jurang yang menganga. Bayangan raksasa di ufuk timur menjulang tinggi, menutupi pendaran cahaya fajar dengan wujud besi hitam pekat. Suara derit gigi roda mekanik berukuran masif menggetarkan rongga dada tanpa ampun. Debu tebal mengepul liar, menutup jarak pandang mereka dalam hitungan detik."Itu bukan bagian dari simulasi virtual, itu adalah Mesin Pembersih Otomatis sisa peradaban pertama!" teriak Kael panik, meraba saku jaketnya yang kosong.Peretas muda itu mundur beberapa langkah, menatap ngeri ke arah pilar baja setinggi ratusan meter yang melangkah mendekat. Monolit raksasa tersebut memancarkan cahaya merah darah dari lensa utamanya, memindai seluruh permukaan daratan bumi. Panas ekstrem menyengat kulit seiring terb
"Tutup matamu, Kael, jangan biarkan cahaya dari ribuan mata itu merusak struktur saraf otakmu!" raung Braelyn tertahan, menepis gelombang mental yang menghantam kesadaran mereka secara brutal.Pusaran cahaya keemasan itu membanting tubuh mereka ke atas permukaan lantai transparan yang melayang di tengah kehampaan kosmik. Ribuan mata merah menyala di tubuh sang entitas raksasa berputar serentak, memancarkan gelombang memori masa lalu yang menyiksa. Suara dengung frekuensi rendah berdengking keras di dalam tengkorak kepala, mengorek setiap kenangan pahit yang coba mereka kubur dalam-dalam. Kael berteriak histeris, mencengkeram kepalanya sendiri saat bayangan kegagalan masa lalu berkelebat cepat di hadapannya."Entitas ini bukan sekadar program pelindung, ia adalah cerminan dari seluruh rasa bersalah yang kita bawa selama pertempuran!" teriak Kael terengah-engah, memuntahkan darah segar ke atas lantai kaca.Peretas muda itu merangkak mundur, menghindari sorot mata
"Kau mengira garis keturunan Wilson adalah satu-satunya penguasa takdir, padahal kalian hanyalah wadah eksperimen yang kami rancang dari awal," ucap sosok berjubah putih itu tenang, membuka tudung kepalanya perlahan.Wajah di balik jubah itu menampilkan garis kerutan yang sama persis dengan potret leluhur pertama yang terpahat di dinding lab. Sorot matanya memancarkan kebijaksanaan dingin yang membuat bulu kuduk merinding seketika. Braelyn tertegun, cengkeraman tangannya pada serpihan besi mengendur perlahan karena keterkejutan yang luar biasa. Kael melangkah mundur hingga punggungnya membentur dinding kristal yang berdengung lirih."Ibu... atau harusku sebut Dr. Elena, pencipta asli jaringan simulasi dunia ini?" desis Braelyn tajam, menahan suara gemetar di tenggorokannya.Elena tersenyum tipis, melangkah mendekat tanpa rasa bersalah sambil membawa gulungan data kuno ke hadapan mereka. "Aku tidak mati, Braelyn. Tubuhku melebur dengan inti kuantum ini agar aku b
"Koordinat itu bergerak mendekat, sumber sinyalnya bukan dari reruntuhan satelit melainkan dari dalam perut bumi kita sendiri!" seru Kael panik, menunjuk titik biru yang berkedip pada layar konsol usang.Abu sisa pembakaran armada masih mengepul tipis di udara pagi yang dingin. Para penyintas benteng bawah tanah melangkah mendekati mereka dengan tatapan kagum bercampur waswas. Braelyn bangkit berdiri, menepis debu dari pakaian compang-campingnya tanpa mengalihkan pandangan dari layar perangkat Kael. Suara dengung frekuensi rendah itu kini terdengar langsung di telinga mereka tanpa bantuan alat elektronik. Tanah di bawah kaki mereka bergetar lembut seirama dengan denyut sinyal asing tersebut."Buka peta geologis lama koloni, cari struktur rongga bawah tanah di sekitar koordinat sektor selatan," perintah Braelyn tajam, mengabaikan rasa lelah di sekujur tubuhnya.Kael mengetuk layar gawainya dengan jemari yang bergetar hebat akibat sisa radiasi kuantum. Garis-garis
"Braelyn! Jangan biarkan ledakan ini mengubur kita di ruang hampa!" teriak Kael histeris, menarik tuas darurat kapsul peluncur seketika.Kapal induk utama hancur berkeping-keping, memuntahkan jutaan ton serpihan baja menyala ke dalam kegelapan kosmik. Gelombang kejut termal membakar sisa-sisa atmosfer buatan di sekitar dermaga darurat tanpa ampun. Kael terhempas ke dalam kursi kapsul peluncur, menatap ngeri kobaran api raksasa yang menelan tubuh Soren dan Braelyn. Mesin pendorong kapsul berderit keras, melontarkan bodi kecil itu keluar dari radius ledakan dengan kecepatan eksponensial."Kau harus bertahan hidup, Braelyn... kita sudah menghancurkan inti mereka," bisik Kael gemetar, memindai monitor radar yang kosong.Kapsul penyelamat itu meluncur bebas menembus hujan meteor besi sisa kehancuran armada musuh yang berserakan. Jendela kokpit retak parah akibat hantaman partikel kuantum berkecepatan tinggi dari ledakan pusat reaktor. Oksigen di dalam kabin menipis d
“Apa maksudmu dengan pesan ini?”Braelyn menatap layar ponselnya sambil berbicara pelan, seolah pengirimnya bisa langsung menjawab dari seberang sana. Ujung jarinya masih menggantung di atas layar, ragu apakah harus membalas atau tidak. Kalimat itu terlalu tepat, terlalu tajam,
“Jangan datang lagi tanpa pemberitahuan.”Braelyn berdiri tegak di hadapan Eryx, suaranya tenang namun tegas. Ia tidak mundur selangkah pun meski pria itu masih berada terlalu dekat untuk ukuran seorang tamu.Eryx tidak terlihat tersinggung. Tatapannya justru mengamati wajah Braelyn
“Siapa kamu sebenarnya?”Pertanyaan itu keluar begitu saja dari bibir Braelyn, pelan namun penuh tekanan, seolah ditujukan pada bayangan di luar jendela yang sudah lama menghilang. Ia sendiri tidak tahu kepada siapa kalimat itu ditujukan. Pada orang di dalam mobil hitam itu, at
“Bangun, Braelyn. Kau baik-baik saja?”Suara itu terasa begitu nyata, begitu dekat, hingga membuat Braelyn tersentak. Ia membuka mata lebih lebar, menatap sosok pria paruh baya yang berdiri di samping tempat tidurnya. Wajah itu tidak asing. Justru terlalu ia kenal.Ayahn







