Share

Sang Fajar

Author: qia
last update publish date: 2026-06-11 09:41:31

Suara sirine kapal kepolisian air semakin nyaring menggema, memecah kesunyian laut distrik selatan yang perlahan kembali tenang. Beberapa kapal patroli bergerak cepat mengepung kapal pesiar Lucien, menyorotkan lampu-lampu terang yang kini terasa melegakan, bukan lagi mengancam.

Pasukan polisi bersenjata lengkap segera melompat ke atas dek, langsung memborgol anak buah Lucien yang sudah tidak memiliki daya perlawanan. Dua petugas polisi mendekati Lucien yang masih terkapar lemas di lant

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Aku Mati di Pernikahanku   Nyawa di Ujung Retakan

    "Pegang erat tanganku, kalau lu lepas sekarang, keberadaan lu bakal terhapus tanpa sisa!" teriak Braelyn di tengah badai data merah yang menyayat udara.Tubuh mereka melesat bebas menembus lorong piksel yang berputar liar dengan kecepatan kilat. Suara dengung frekuensi tinggi menghantam gendang telinga bagai ribuan jarum tajam. Braelyn mengerahkan seluruh sisa pendaran emas di telapak tangannya untuk menepis serpihan kode biner yang beterbangan. Cahaya merah dari mata raksasa di bawah sana semakin membesar, menelan seluruh ruang pandang mereka dalam sekejap."Aku tidak bisa merasakan jemariku lagi, rasanya seperti tubuhku tercabut dari tulang!" balas Kael tersengal-sengal di sampingnya.Peretas muda itu memejamkan mata rapat-rapat saat gelombang panas membakar kulit wajahnya. Tarikan gravitasi mendadak berbalik arah menjadi dorongan mahadahsyat yang melemparkan mereka keluar dari pusaran. Benturan keras menghantam lantai logam tipis yang bergetar hebat di bawah

  • Aku Mati di Pernikahanku   Cermin di Ujung Semesta

    "Kalian mengira air palung itu akan membawa pada kebebasan, padahal itu hanya saluran pembuangan akhir dari sejarah," suara dingin itu memecah keheningan ruangan.Sosok wanita berambut perak tersebut perlahan membalikkan badannya menghadap ke arah dua buronan yang basah kuyup. Tatapan matanya yang keperakan memantulkan kilau api dari kehancuran galaksi di balik jendela kaca raksasa. Jubah putih panjangnya berkibar lembut tertiup angin hampa yang merembes dari celah dinding yang retak. Di tangannya, sebuah bola kristal berdenyut memancarkan frekuensi yang sama persis dengan yang mereka temui di kuil purba."Siapa kau sebenarnya, kenapa semua hal di tempat ini selalu berpusat pada garis keturunan kami?" bentak Kael, suaranya bergetar menahan amarah dan sisa rasa takut yang mencekam.Wanita itu tersenyum tipis tanpa menyisakan kehangatan sedikit pun di garis wajahnya yang pucat. Langkah kakinya mendekat perlahan dengan irama yang tenang di atas ubin logam yang berg

  • Aku Mati di Pernikahanku   Sayap Besi di Pasir Hitam

    "Jangan biarkan cairan itu menyedot lututmu, tarik kakimu sekarang, Kael!" bentak Braelyn, suaranya tersengat rasa panik yang membakar dada.Cairan hitam legam itu mendidih hebat di sekeliling pergelangan kaki mereka, menarik tubuh ke bawah bak pasir hisap bercampur logam cair. Braelyn menghantamkan kedua telapak tangannya ke permukaan pasir yang mengeras, berusaha memecah cengkeraman sebelum menenggelamkan mereka sepenuhnya. Sosok bersayap logam menjulang tinggi di hadapan, menatap tajam tanpa secercah emosi di dalam bola mata ungu terang. Setiap detik yang terbuang di tempat terkutuk itu terasa bagai bilah pisau yang perlahan menembus leher."Kakiku sudah mati rasa, rasanya seperti membeku di dalam balok baja!" seru Kael terengah-engah, memukul-mukul tanah berpasir yang kini berubah sekeras semenPeretas muda itu mengerahkan seluruh sisa tenaga ototnya untuk mencabut tungkai kanannya dari cengkeraman lumpur pekat tersebut. Butiran pasir hitam menempel tebal di

  • Aku Mati di Pernikahanku   Gema di Ambang Hampa

    "Jangan mundur selangkah pun atau kita akan terhapus dari sejarah selamanya!" teriak Eryx, suaranya parau menembus desing plasma yang membakar udara."Aku tidak bisa menahan mereka lebih lama, perisai ini mulai retak!" sahut Braelyn, napasnya tersengal di antara pendaran energi keemasan yang kian meredup di telapak tangannya.Eryx mengayunkan batangan besinya dengan pola liar, memukul mundur dua prajurit berzirah yang mencoba menyudutkan mereka. Ubin lantai hitam bergetar hebat di bawah pijakannya, mengeluarkan percikan listrik statis yang menusuk kulit. Setiap benturan senjata menghasilkan dentuman logam yang merambat ke seluruh sudut kubah. Di hadapan mereka, sang leluhur berdiri tenang, mengamati perlawanan sia-sia itu dengan senyum meremehkan."Kalian sungguh naif jika mengira sisa energi simulasi itu bisa menandingi otoritas pencipta sistem," ujar sang leluhur dingin sambil mengangkat pedang plasmannya tinggi-tinggi

  • Aku Mati di Pernikahanku   Retak di Tepi Waktu

    Cahaya putih menyilaukan mata perlahan meredup, menyisakan dengung frekuensi rendah yang menggetarkan tulang belakang. Gravitasi lenyap sepenuhnya, membuat tubuh mereka melayang bebas di tengah hamparan ruang hampa tanpa batas. Puing-puing benteng berterbangan berputar liar di sekeliling, hancur menjadi debu kosmik dalam hitungan detik. Udara terasa hampa tanpa oksigen, memaksa paru-paru membakar sisa energi terakhir untuk bertahan hidup."Kael! Tangkap tanganku sebelum pusaran ini memisahkan kita!" teriak Eryx histeris, merentangkan lengan di tengah badai partikel yang berputar kencang.Pria itu mengayunkan tubuhnya melawan arus gravitasi buatan yang menarik mereka ke dalam lorong gelap. Serpihan logam tajam melesat nyaris menggores lehernya tanpa ampun. Napasnya memburu di balik bibir yang mulai membiru akibat suhu ekstrem ruang hampa. Cengkeraman tangannya mengeras pada batangan besi yang kini kehilangan pendaran birunya."Aku tidak bisa melihat apa-apa, tari

  • Aku Mati di Pernikahanku   Hujan Baja di Lembah Barat

    "Tutup jalur evakuasi sektor tiga sekarang juga sebelum gelombang pertama plasma menembus kubah pelindung!" bentak Eryx sambil mengempaskan batangan besinya ke lantai baja.Percikan api berpijar terang setiap kali hantaman senjata itu berbenturan dengan puing beton yang runtuh. Asap belerang mengepul pekat dari koridor utama yang membara akibat hantaman rudal udara. Suara sirene meraung memekakkan telinga, bersahutan dengan deru mesin pesawat tempur musuh di luar dinding benteng. Para pejuang koloni berlarian mengambil posisi di balik tembok pertahanan darurat."Sistem hidrolik gerbang utama sudah lumpuh total akibat korsleting listrik," balas Kael terengah-engah, mengetik cepat di atas konsol darurat yang berkedip merah. Rembesan darah segar menetes dari pelipis peretas muda itu akibat terjangan gelombang kejut sebelumnya. Jemarinya menari liar memindahkan sisa daya baterai ke menara meriam plasma otomatis. "Kita harus menahan mereka manual dari sini!"Braelyn

  • Aku Mati di Pernikahanku   Pertemuan Pertama dengan Eryx Caspian

    “Apa maksudmu dengan pesan ini?”Braelyn menatap layar ponselnya sambil berbicara pelan, seolah pengirimnya bisa langsung menjawab dari seberang sana. Ujung jarinya masih menggantung di atas layar, ragu apakah harus membalas atau tidak. Kalimat itu terlalu tepat, terlalu tajam,

  • Aku Mati di Pernikahanku   Senyum Braelyn, Rencana yang Berubah

    “Jangan datang lagi tanpa pemberitahuan.”Braelyn berdiri tegak di hadapan Eryx, suaranya tenang namun tegas. Ia tidak mundur selangkah pun meski pria itu masih berada terlalu dekat untuk ukuran seorang tamu.Eryx tidak terlihat tersinggung. Tatapannya justru mengamati wajah Braelyn

  • Aku Mati di Pernikahanku   Braelyn Kembali ke Tiga Tahun Lalu

    “Bangun, Braelyn. Kau baik-baik saja?”Suara itu terasa begitu nyata, begitu dekat, hingga membuat Braelyn tersentak. Ia membuka mata lebih lebar, menatap sosok pria paruh baya yang berdiri di samping tempat tidurnya. Wajah itu tidak asing. Justru terlalu ia kenal.Ayahn

  • Aku Mati di Pernikahanku   Kematian Braelyn di Hari Pernikahannya

    “Minum ini dulu, Braelyn. Kamu pasti lelah.”Suara Nevan Conner terdengar lembut, nyaris terlalu sempurna untuk dipercaya. Senyum di wajahnya tetap sama—hangat, penuh perhatian, seperti pria yang selama ini ia cintai tanpa ragu. Gelas kristal itu terulur di hadapannya, berisi cairan berwarna bening

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status