Lucifer dalam Islam dikenal sebagai Iblis, makhluk yang menolak sujud kepada Adam atas perintah Allah. Kisahnya tercantum dalam Al-Qur'an, terutama di surat Al-Baqarah dan Al-A'raf. Aku selalu terpesona bagaimana narasinya berbeda dari versi Kristen—di sini, Iblis bukan fallen angel melainkan jin yang sombong. Konflik utamanya adalah kesombongan, menolak mengakui keunggulan manusia. Uniknya, Iblis diberi 'izin' untuk menggoda hingga hari kiamat, menciptakan dinamika yang lebih filosofis tentang ujian hidup.
Dari sudutku, ini lebih dari sekadar cerita moral. Iblis dalam Islam justru menjadi simbol konsekuensi dari pilihan bebas. Aku sering diskusi di forum-forum tentang bagaimana kisah ini menginspirasi tema redemption dalam manga seperti 'Blue Exorcist', meski tentu dengan banyak creative liberty. Yang menarik, tidak ada konsep 'Lucifer' sebagai nama proper—lebih sebagai sifat (arrogance) yang dimanifestasikan dalam sosok.