Share

Aku Menikah di Depan Pria yang Hancurkan Aku
Aku Menikah di Depan Pria yang Hancurkan Aku
Penulis: KarenW

Bab 1

Penulis: KarenW
Sudut Pandang Arumi.

Aku disergap oleh geng musuh keluargaku saat sebuah pesta berlangsung.

Di tengah kekacauan itu, aku lihat Nathan Mulin pacarku selama lima tahun dan Rudi Safwan, sahabatku sejak kecil, lari menuju sepupuku, Ayu Zahira.

Aku lihat mereka lindungi dia, tutupin dia dengan tubuh mereka, sementara aku diseret pergi sambil menjerit minta tolong.

Aku pun dikurung selama berjam-jam sebelum seorang pria misterius selamatkan aku dan bawa aku pulang.

Belakangan, Nathan dan Rudi datang temui aku, coba minta maaf.

Namun begitu Ayu teteskan air mata, mereka langsung pergi lagi, lari kembali ke sisinya.

Jadi saat mereka nggak ada, aku telepon ayahku dan terima perjodohan yang dulu aku nggak pernah mau terima.

Beberapa hari setelah penyergapan itu, saat tubuhku masih belum pulih, aku terima undangan ke pesta ulang tahun Ayu.

Aku ragu, tapi teringat pesan Ibu agar aku jaga Ayu selama ia ada di kota, jadi aku pun datang.

“Arumi,” sapa Ayu begitu aku tiba, senyumnya hangat tapi matanya dingin.

“Senang banget kamu bisa datang hari ini.”

Aku angkat gelas sampanye.

“Selamat ulang tahun.”

Ia mendekat sedikit.

“Aku harap kamu nggak nyalahkan Nathan atau Rudi atas apa yang terjadi malam itu. Kamu tahu sendiri mereka hanya berusaha lindungi aku.”

Jadi itu yang mereka sebut "melindunginya". Biarkan aku diseret pergi sambil berbisik, "Tunggu kami. Kami akan kembali jemput kamu."

Tapi Nathan dan Rudi nggak pernah kembali untuk aku.

Orang lain yang lakukan itu.

Seorang pria yang namanya saja aku nggak tahu.

Aku tersenyum, sembunyikan perasaanku.

“Apa nggak aneh? Pacarku, sahabatku. Keduanya lari ke sisimu. Dan kalian bertiga hanya … nonton.”

“Itu nggak seperti yang kamu pikirkan,” katanya cepat, lalu terbatuk.

Sejujurnya, Ayu memang selalu rapuh.

Kesehatannya buruk dan ia butuh perhatian ekstra, aku ngerti itu.

Tapi itu nggak berarti aku pantas ditinggalkan seperti korban nggak berarti.

“Maafkan aku, Arumi,” bisiknya, batuknya makin keras saat ia mundur dengan langkah goyah.

Aku lihat menara gelas sampanye di belakangnya.

Tinggi, berkilau dan hanya satu langkah dari kehancuran.

Ia tersandung, dan tanpa pikir panjang aku raih tangannya.

Namun Ayu nggak sambut uluran tanganku.

Sedetik kemudian, kaca pecah dan menara itu runtuh menimpa dirinya.

“Apa-apaan ini?” Nathan menerobos ke depanku, hampir jatuhkan aku.

Ia berlutut di sisi Ayu. “Ayu! Kamu nggak apa-apa?”

“Aku nggak apa-apa kok,” gumamnya pelan, matanya berkedip polos.

Lalu menatapku.

“Arumi nggak bermaksud .…”

‘Nggak bermaksud?’

Aku menatap Ayu. Saat itulah aku sadar, ia tahu persis apa yang sedang ia lakukan.

Jatuhnya dirinya itu bukan kecelakaan.

Dan dalam sepersekian detik, hanya sekelebat, aku lihat sesuatu di matanya.

Sesuatu yang sangat mirip kebencian.

“Ya Tuhan, Arumi!” bentak Nathan, menatapku seolah aku orang asing.

“Serius? Kamu masih simpan dendam karena kami lindungi Ayu dan bukan kamu? Jadi sekarang kamu ingin lukai dia di hari ulang tahunnya? Dia sepupumu. Keluargamu. Kamu kan tahu betul tubuhnya dia itu sangat rapuh. Bisa nggak kamu nggak bersikap kejam?”

“Aku nggak dorong dia,” kataku singkat.

Namun Nathan mendengus, jelas nggak percaya aku.

Rudi datang dan sengaja senggol bahuku.

“Sejak kapan kamu jadi sekekanak-kanakan dan sekejam ini, Arumi?”

Kami bertiga tumbuh bersama.

Tiga tahun lalu Nathan nyatakan cintanya, dan sejak itu kami nggak terpisahkan.

Rudi juga selalu dekat, sahabat bagi kami berdua.

Semuanya sempurna sampai setahun lalu Ayu kembali.

Ia sepupu yatim piatu yang dulu pernah tinggal dengan aku waktu kecil.

Dulu, Nathan dan Rudi hampir nggak tahan dengan dia.

Mereka bilang Ayu terlalu pendiam dan terlalu rapuh, seperti boneka.

Kami dibesarkan dalam keluarga mafia. Rapuh bukanlah pujian.

Namun saat Ayu kembali, kali ini segalanya berubah.

Tiba-tiba Nathan dan Rudi selalu jagain dia, sebut dia keluarga.

“Kami anggap Ayu sebagai adik. Dia kan sudah nggak punya keluarga, jadi kami yang harus lindungi dia. Kamu ngerti, kan, Arumi?” kata mereka padaku.

Dan awalnya, aku memang ngerti. Karena bagiku, Ayu juga keluarga.

Tapi lalu datang kencan yang dibatalkan, panggilan yang nggak dijawab.

Nathan mulai sering batalkan janji. Rudi mulai simpan rahasia.

Seharusnya aku sudah lihat tanda-tandanya jauh sebelum penyergapan itu.

Seharusnya aku tahu kalau aku akan jadi yang ditinggalkan.

Dan sekarang, lihat mereka berdua lari ke sisi Ayu tanpa lirik aku sedikit pun, nggak mau dengarkan penjelasanku, aku rasakan lagi rasa hampa yang sama ketika malam itu nggak ada seorang pun yang datang selamatkan aku.

Sejak kapan dua sahabatku, salah satunya pria yang aku cintai jadi orang-orang yang nggak aku kenal lagi?

“Nathan. Rudi.”

Suaraku tenang, tapi jantungku berdebar keras.

“Kalian kan nggak lihat sendiri gimana ia jatuh. Tapi kalian langsung kira aku yang dorong dia? Apa aku benar-benar seburuk itu di mata kalian?”

Rudi mendengus.

“Kami kira? Nggak. Aku lihat caramu mandang Ayu saat kami lari lindungi dia dan kamu diseret pergi. Kamu tahu kenapa kami lindungi dia. Dia nggak punya siapa-siapa. Nggak punya keluarga. Nggak kayak kamu.”

Kata-katanya menusuk lebih dalam dari yang ia sadari.

“Ayolah, Arumi. Kita berdua tahu kalau para preman itu nggak akan nyakitin kamu. Mereka tahu siapa ayahmu. Kamu bisa saja berkorban sedikit demi Ayu. Kenapa harus kamu yang selalu jadi pusat segalanya?” lanjutnya.

Aku menatapnya, terkejut.

Jadi itu yang mereka yakini?

Bahwa aku aman.

Bahwa para penjahat itu terlalu takut untuk sentuh aku.

Mereka nggak tahu .…

Mereka nggak tahu hal pertama yang dilakukan pria-pria itu adalah kurung aku di ruangan gelap, siram aku dengan air dingin, dan tampar aku sampai penglihatanku berkunang-kunang.

Mereka nggak tahu tentang lebam, ketakutan, dan kesunyian.

Mereka nggak tahu aku mohon untuk dibebaskan, hanya sekali agar aku bisa bernapas.

Aku tertawa pendek, pahit.

Sekarang nggak ada gunanya jelaskan semua itu.

Terutama ketika yang mereka lihat hanya Ayu yang rapuh dan aku yang dianggap manja dan dramatis.

“Aku nggak dorong. Percaya atau nggak, terserah. Aku mau pergi dulu,” kataku datar.

Aku berbalik untuk pergi.

Namun sebelum jalan dua langkah, sebuah tangan cengkeram pergelangan tanganku.

Itu Nathan.

Sejenak aku hampir berharap, mungkin dia sadar. Mungkin dia menyesal atas kata-katanya.

Namun kemudian Nathan bicara.

“Kamu belum minta maaf ke Ayu. Mana sopan santunmu?” katanya dingin, genggamannya mengencang.

Aku coba lepaskan diri, tapi ia tahan aku.

“Kalau kamu nggak mau minta maaf, kita putus saja. Aku nggak akan nikahi wanita yang kasar dan nggak beradab. Aku nggak akan bawa wanita seperti itu ke dalam keluargaku dan jadikan dia istriku,” ancamnya pelan.

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Aku Menikah di Depan Pria yang Hancurkan Aku   Bab 10

    Sudut Pandang Arumi.Hidup di Rowana rasanya begitu nikmat.Ayah mulai serahkan sebagian bisnis ke aku, terutama divisi kasino. Lebih dari sekali ia ingatkan aku, “Aku nikahkan kamu dengan Simon bukan karena anggap kamu sebagai alat tukar bisnis. Aku nikahkan kamu dengan dia karena aku tahu dia orang yang tepat. Dan kalau kamu akan hidup bersama pria seperti Simon, kamu juga harus sama kuatnya.”Aku setuju banget dengan ucapan ayah.Jadi aku ambil kendali. Di bawah kepemimpinanku kasino-kasino berkembang pesat. Simon nggak pernah sekalipun suruh aku melambat atau pilih jalan yang lebih mudah. Ia percaya ke aku.Sama seperti aku percaya ke diriku sendiri.Pagi ini, saat aku bangun dari tempat tidur, aku baru sadar sesuatu, aku belum buka hadiah pernikahan.Aku dan Simon langsung pergi bulan madu setelah upacara pernikahan selesai. Setelah itu aku tenggelam dalam pekerjaan. Kotak-kotak hadiah itu hanya tertumpuk begitu saja.Aku berjalan menyusuri lorong menuju ruangan tempat para staf

  • Aku Menikah di Depan Pria yang Hancurkan Aku   Bab 9

    Sudut Pandang Nathan.Setelah kami diusir oleh Arumi dan keluarganya, aku dan Rudi tetap nggak tinggalkan Rowana.Kami putuskan untuk tinggal, setidaknya sampai hari pernikahannya.Pada hari kesepuluh di sini, kami ketemu dengan Simon. Tunangan Arumi.Aku ragu itu kebetulan.Desas-desus bilang kalau setengah dari Itahera itu punya Simon.“Jadi kamu Nathan Mulin,” katanya dengan tatapannya tenang namun menilai.Rudi yang berdiri di sampingku melangkah maju.“Rudi Safwan. Sahabat Arumi sejak kecil.”Simon jabat tangannya dengan sopan, lalu kembali pusatkan perhatian penuh ke aku.“Aku sudah baca sedikit tentang kalian berdua.”Senyumnya ramah, tapi nggak tulus sampai ke matanya.“Dan aku akan sangat hargain kalau kalian menjauh dari Arumi. Dia mungkin kelihatannya kuat, tapi aku perhatikan … setiap kali ketemu kalian, dia selalu kelihatan gelisah.”“Kamu ….” Rudi mulai bicara, tapi aku angkat tangan hentikan dia.“Simon, hubunganku dengan Arumi bukan urusanmu. Kami sudah saling kenal sel

  • Aku Menikah di Depan Pria yang Hancurkan Aku   Bab 8

    Sudut Pandang Arumi.Sejak tiba di Rowana, aku belum ketemu lagi dengan Simon.Sebenarnya bagus juga, karena aku sendiri belum yakin gimana perasaanku kalau harus lihat dia lagi.Yang aku tahu cuma satu: sebagian dari diriku merasa sangat berutang budi ke dia.Kalau nggak karena dia, aku nggak akan berada di sini, hidup dan masih bisa bernapas.“Arumi! Ada tamu penting buat kamu!” Suara Ibu terdengar dari ujung lorong.Pikiranku langsung kembali ke masa kini.Langkah kaki bergema di lantai marmer.Kurang dari sepuluh detik kemudian, pria dari malam itu melangkah masuk.Simon Marzuki.Setelan rapi yang sama. Langkah percaya diri yang sama. Dan senyum itu .…“Nona Danastri,” sapanya sambil hampiri dan kasih aku buket bunga yang ada di lengannya.Mawar merah muda. Favoritku.“Panggil aku Arumi saja,” kataku sambil tersenyum.Ia balas senyum itu dengan manis.“Oke, Arumi.”“Simon, sini duduk dulu.” Ibu berkata sambil masuk ke ruangan, ramah dan hangat.Aku menangkap gimana tatapannya berla

  • Aku Menikah di Depan Pria yang Hancurkan Aku   Bab 7

    Sudut Pandang Nathan.Pintu tiba-tiba terbuka.“Kenapa? Apa yang terjadi?” Rudi menerobos masuk, matanya berpindah dari Ayu yang tergeletak di lantai ke arahku.Ia bergerak hendak tolong Ayu untuk bangkit berdiri, tapi Ayu tepis tangannya.“Oh, nggak perlu.”Rudi menegang. Ia menatapku, keraguan berkilat di matanya.“Nathan?”Ayu berdiri, rapikan gaunnya seolah nggak terjadi apa pun.“Kami cuma sedang ngobrol senang banget akhirnya Arumi pergi. Yah nggak, Rudi?” katanya ringan.“Apa? Ayu, jangan bicara kayak gitu tentang Arumi. Aku tahu dia kejam ke kamu, tapi itu nggak berarti dia nggak ….” kata Rudi sambil kerutkan kening.“Dua orang munafik,” potong Ayu dengan seringai sinis.Sesuatu di dadaku mengencang.“Ayu, apa benar yang Arumi bilang kapan lalu? Kalau kamu jatuh sendiri lalu nyalahkan dia?” kataku perlahan.Untuk pertama kalinya, Ayu menatapku tanpa kelembutan atau topeng apa pun.“Menurutmu gimana?” tanyanya.Aku berdiri, melangkah ke arahnya, dan berhenti hanya beberapa inci

  • Aku Menikah di Depan Pria yang Hancurkan Aku   Bab 6

    Sudut Pandang Nathan.Sudah tiga hari sejak Arumi tinggalkan kota ini.Awalnya, aku dan Rudi tetap tinggal di vila-nya dan nggak mau pergi. Sebagian dari diriku masih berharap Arumi bohong, dia nggak benar-benar akan pindah ke belahan dunia lain dan nikahi seseorang yang belum pernah ia temui.Namun kemarin, pemilik baru vila itu datang, pastikan kecurigaan kami. Arumi nggak melebih-lebihkan saat bilang kalau ia mau jual vila itu.Keluarganya telah miliki vila itu hampir satu abad. Aku hanya bisa bayangkan ia jual Vila itu karena ia memang nggak punya niatan untuk kembali, setidaknya nggak untuk menetap.Setiap detik, kecemasan di dadaku semakin besar. Rudi juga rasakan itu. Nggak satu pun dari kami pernah benar-benar bayangkan hidup tanpa Arumi.Kami telah bersama begitu lama, sejak kecil selalu bertiga. Bahkan sebelum aku sadar aku cinta dia. Kami seperti sebuah keluarga.“Hey, Nathan, gimana kabarmu?” Rudi masuk saat aku tuangkan segelas wiski lagi.Itu botol keempatku.Semakin bany

  • Aku Menikah di Depan Pria yang Hancurkan Aku   Bab 5

    Sudut Pandang Arumi.Aku menunduk menatap tangan Nathan yang cengkeram pergelangan tanganku.Lalu aku menatap wajahnya.“Lepaskan, Nathan.”Dia nggak mau lepaskan tanganku.“Pernikahan apa? Jangan-jangan kamu beneran mau nikah dengan orang lain?” tanyanya lagi, rahangnya mengeras.Aku tarik tanganku.“Iya, emang.”“Kamu bohong. Ini pasti cuma salah satu permainanmu, Arumi. Aku nggak tahu kenapa kamu selalu buat Nathan dan aku merasa bersalah,” kata Rudi di belakangnya.Lalu ia menoleh ke Nathan.“Tenang saja. Dia nggak akan benar-benar lakukan itu.”Aku menatapnya.“Aku sudah lakukan itu. Dokumen pertunangannya sudah ditandatangani. Pernikahannya di Itahera. Beberapa minggu lagi.”Nathan menatapku seolah nggak ngerti kata-kataku.“Emang siapa dia?”Aku nggak jawab.“Siapa dia, Arumi?!” bentaknya.Pria yang biasanya selalu tenang kini tampak hancur.Aku raih kartu di dalam kotak dan sentuh itu dengan ujung jariku.“Namanya Simon Marzuki.”Rudi berkedip.“Tunggu, Simon dari Itahera? Gima

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status