แชร์

Aku Menolak Mengoperasi Pembunuh Ibuku
Aku Menolak Mengoperasi Pembunuh Ibuku
ผู้แต่ง: Kelby

Bab 1

ผู้เขียน: Kelby
"Profesor Ajeng, apa maksudnya?"

Asisten Hanna masih terpaku di tempat, sementara aku sudah mulai mengemasi barang-barang.

"Sesuai yang aku bilang. Tolong jadwal ulang tiket keretanya jadi malam ini."

"Tapi ... di seluruh provinsi ini, nggak ada orang lain yang bisa menjadi ahli bedah utama untuk tumor batang otak. Kalau Anda pergi, pasien itu ...."

"Aku tahu, tapi aku nggak bisa menerimanya."

Aku membuka pintu dan keluar dari ruang rapat.

Dokter Ferdi, Kepala Departemen Bedah Saraf dari RSUD Medika Kusuma, berjalan mendekat dengan langkah cepat. Memaksakan senyuman di wajahnya.

"Profesor Ajeng, saya Ferdi Susanto dari Departemen Bedah Saraf."

Dia mengulurkan tangan, tapi aku tidak menjabatnya.

Dia menarik tangannya dengan canggung, lalu menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya.

"Operasi ini sudah kami persiapkan selama tiga bulan. Mengundang Anda dari ibu kota bukan hal yang mudah, dan keluarga pasien ...."

"Dokter Ferdi."

Aku langsung memotong kalimatnya.

"Alasan penolakannya akan saya sampaikan secara tertulis."

Dia tertegun sejenak, lalu merendahkan suaranya sambil mendekatkan kepalanya.

"Profesor Ajeng, mungkin Anda belum terlalu mengerti situasinya. Pasien ini ayah dari wakil direktur rumah sakit kami, Reihan Abimana. Dan juga ayah mertua dari putri mantan direktur rumah sakit, Irwan Hartanto. Kalau Anda menolak begitu saja, saya nggak bisa menjelaskan kepada pihak keluarga."

"Itu urusan Anda."

Aku melewatinya, melanjutkan langkah ke luar.

Dari belakang, Dokter Ferdi mengejar dua langkah, nada suaranya menjadi mendesak.

"Profesor Ajeng, tolong berikan alasan apa pun, biar bisa saya sampaikan kepada pihak keluarga. Apa rencana operasinya yang bermasalah? Atau ada yang kurang memuaskan dari fasilitas operasi di sini? Peralatan, tim, perawatan pascaoperasi, sampaikan saja permintaan Anda, kami akan bekerja sama sepenuhnya!"

"Nggak ada yang kurang memuaskan. Operasinya sendiri bisa dilakukan, tapi harus diganti orang lain."

"Jadi, apa masalah biaya? Keluarga pasien sudah mengatakan kalau biaya bukan masalah. Silakan sebutkan harganya!"

"Bukan masalah uang."

Sebelum dia bisa melanjutkan, aku langsung memotongnya.

"Dokter Ferdi, keputusan saya nggak akan berubah."

Baru setelah pintu lift menutup, Dokter Ferdi tersadar kembali, lalu mengeluarkan ponselnya dan menelepon.

Hanna mengikuti aku turun, berlari kecil sepanjang jalan menuju tempat parkir.

"Profesor Ajeng, ada apa sebenarnya?"

Dia menghalangi pintu mobil, dahinya basah oleh keringat.

"Anda nggak seperti biasanya. Operasi apa yang belum pernah Anda tangani? Anda pernah menghadapi situasi yang jauh lebih berbahaya daripada ini. Tapi kali ini, hanya karena rekam medis saja ...."

"Hanna."

Aku menatapnya, dan dia berhenti berbicara.

"Kamu sudah empat tahun jadi asistenku, pernahkah kamu lihat tanganku gemetar di meja operasi?"

"Nggak pernah."

"Kalau aku bilang, aku sangat yakin tanganku pasti akan gemetar karena gugup saat operasi ini?"

Hanna mengerutkan kening, seolah ingin berkata sesuatu tapi menahan diri.

"Nggak ada ruang untuk kesalahan dalam bedah saraf, bahkan setengah milimeter pun."

Dua puluh tahun.

Butuh waktu 20 tahun bagiku untuk membuat tanganku benar-benar stabil.

Bahkan setelah operasi selama 12 jam berturut-turut, kesalahan tanganku tidak akan melebihi tiga milimeter.

Rekan-rekan sejawat menganggapku sebagai alat yang presisi, yang selalu tenang dalam situasi apa pun sampai sulit dinalar.

Namun hari ini, saat aku melihat nama dan wajah orang itu, hatiku tetap tidak bisa tenang.

Dua puluh tahun yang lalu, karena kesalahan setengah sentimeter, ibuku pergi selamanya.

Ponselku bergetar, ada pesan dari nomor yang tidak dikenal.

[Halo, Profesor Ajeng. Saya keluarga pasien. Saya dengar Anda menolak melakukan operasi, bisakah Anda memberi kami kesempatan untuk bertemu?]

Aku tidak tahu siapa yang mengirim pesan ini, tapi aku tahu pasti ada Reihan di antara keluarga pasien tersebut.

Aku tidak membalasnya, dan pesan kedua masuk tak lama kemudian.

[Bagi seorang dokter, yang paling ditakuti bukan operasi gagal, tapi membiarkan pasien mati tanpa pertolongan.]

อ่านหนังสือเล่มนี้ต่อได้ฟรี
สแกนรหัสเพื่อดาวน์โหลดแอป

บทล่าสุด

  • Aku Menolak Mengoperasi Pembunuh Ibuku   Bab 10

    "Ibu, aku datang menjengukmu."Sebuah kuburan sederhana dan sebuah nisan kecil, itulah yang tersisa dari ibuku."Bu, aku sudah menyelidiki perkara itu untukmu."Aku berjongkok dan meletakkan foto itu di samping.Foto yang diambil Retno tidak terlalu jelas. Sosoknya agak buram, tapi aku masih bisa mengenali siluet tubuhnya."Orang yang menyakitimu itu nggak mati di bawah pisauku."Aku berhenti sejenak."Dia mati karena keserakahannya sendiri."Tadi malam, kondisi kesehatan Hendra memburuk secara drastis, melampaui batas yang bisa dikendalikan oleh obat-obatan.Di ranjang rumah sakit, dia berulang kali jatuh koma, dan jeda saat dia sadar semakin pendek.Akhirnya, tidak ada yang bisa melakukan operasi untuknya. Setelah jatuh koma untuk yang terakhir kali, dia tidak pernah bangun lagi.Mona sudah bercerai dengan Reihan, dan sebagai mantan istrinya, dia secara tegas menyatakan tidak memiliki wewenang apa pun atas pengambilan keputusan medis.Hanna berdiri di samping, menungguku dengan tenan

  • Aku Menolak Mengoperasi Pembunuh Ibuku   Bab 9

    "Saudara Hendra Abimana, Anda kami ditangkap atas dugaan tindak pidana."Saat suara Kombes Wahyu terdengar dari dalam kamar rawat, banyak orang berdiri di luar pintu.Ada dokter, perawat, karyawan dari bagian lain yang datang setelah mendengar kabar, serta tidak sedikit pula awak media.Aku berdiri di dekat jendela di ujung koridor, mengamati dari kejauhan.Pintu kamar rawat setengah terbuka, memperlihatkan siluet Hendra yang terbaring di tempat tidur.Dia sangat kurus, bahkan tidak punya tenaga untuk mengangkat selimutnya.Setelah Pak Wahyu selesai membacakan surat pemberitahuan, dia menambahkan, "Ada yang ingin disampaikan?""Panggil anakku," jawabnya dengan susah payah.Dia hanya ingin bertemu Reihan.Namun, Reihan tidak muncul.Karena tiga jam sebelumnya, dia sudah berada di ruang interogasi.Irwan juga ikut terjaring. Karena dugaan menyembunyikan malpraktik medis, dia mengundurkan diri dari jabatan administratif dan menjalani pemeriksaan.Namun, semua ini bukan aku yang memulai, m

  • Aku Menolak Mengoperasi Pembunuh Ibuku   Bab 8

    "Ajeng, kamu menang. Sudah cukup, oke?"Sore hari setelah konferensi pers berakhir, Reihan muncul di depan pintu kamar hotelku.Di belakangnya ada Mona, yang kini tidak tampak energik seperti dulu."Katakan saja, apa yang kamu mau."Suaranya serak."Kamu mau uang, mau aku berlutut meminta maaf, atau mau aku mengundurkan diri? Sebutkan syaratmu!""Aku nggak punya syarat.""Nggak mungkin kamu nggak punya syarat! Kamu sudah mempersiapkan ini selama 20 tahun, mengerahkan banyak tenaga, hanya untuk melampiaskan amarahmu di konferensi pers?"Dia melangkah maju dan menghalangi jalanku."Aku tahu kamu membenciku, kamu membenci ayahku! Oke! Tapi, dia sekarang sudah sekarat. Terlepas dari apa yang pernah dia lakukan sebelumnya, dia sekarang cuma seorang pasien!"Aku mundur selangkah, bersandar pada bingkai pintu."Reihan, katakanlah, kalau 20 tahun yang lalu kalian berdiri di depan meja operasi ibuku dengan pemikiran yang sama, mungkinkah ibuku masih hidup sampai sekarang?"Mulutnya terbuka sedi

  • Aku Menolak Mengoperasi Pembunuh Ibuku   Bab 7

    "Profesor Ajeng, lihat tren berita teratas."Saat Hanna datang mengantarkan berkas kedua, dia tidak bisa menahan diri dan bicara kepadaku.Aku tidak membuka ponsel untuk melihatnya, hanya menerima berkas dari tangannya."Profesor Ajeng, humas departemen kita tanya, apa perlu membuat pernyataan? Kalau begini terus, jadwal janji temu Anda akan terganggu ....""Kamu sudah rapikan rekaman dari Retno?""Sudah.""Oke, tolong bantu aku hubungi satu orang lagi."Setelah Hanna pergi, Reihan menelepon."Ajeng."Kali ini, dia tidak memanggilku Dokter Ajeng. Nada sopan dalam suaranya akhirnya lenyap seluruhnya."Apa sebenarnya yang kamu inginkan?""Aku nggak ingin apa-apa.""Nggak mungkin, setiap orang pasti punya harga!""Oh ya? Pernahkah kamu berpikir kalau ada hal-hal yang nggak bisa diukur dengan harga? Tanyakan saja pada ayahmu. Oh, nggak bisa, mungkin dia sudah nggak bisa bicara lagi sekarang."Keheningan panjang di ujung telepon."Kamu akan menyesali ini.""Reihan, kamu yakin kalimat itu bu

  • Aku Menolak Mengoperasi Pembunuh Ibuku   Bab 6

    "Kepada anggota majelis yang terhormat, dokumen yang saya serahkan hari ini adalah Permohonan Penolakan."Ruang rapat Majelis Etika tampak lebih ramai daripada kemarin.Selain para ahli dan staf administrasi dari rumah sakit ini, ada empat orang yang datang dari Dinas Kesehatan."Pengunduran diri?"Ardi mendongak."Profesor Ajeng, Anda belum tahu seperti apa citra Anda di internet saat ini? Masih ingin mengundurkan diri?""Justru karena itu, saya harus menjelaskan semuanya di sini."Aku membuka map, lalu mengeluarkan lembar pertama."Pasien di meja operasi itu bernama Hendra Abimana. Dia dokter bedah yang menyebabkan kematian Rina Widyana, ibu saya, 20 tahun yang lalu."Ruang rapat seketika hening, semua orang tercengang."Pada 10 Juli 2004, ibu saya dilarikan ke Departemen Bedah Saraf RSUD Medika Kusuma karena pendarahan otak. Dokter bedah yang memimpin operasi saat itu adalah Hendra Abimana, yang menjabat sebagai Kepala Departemen. Karena sebuah kesalahan dalam operasi, pisau bedah m

  • Aku Menolak Mengoperasi Pembunuh Ibuku   Bab 5

    [Profesor Ajeng Widyana menolak merawat pasien kritis. Di mana hati nuraninya sebagai dokter?]Pukul 8 pagi keesokan harinya, berita ini menjadi berita utama di tiga platform informasi medis.Kolom komentar sudah sangat ramai.[Kalau nggak puas dengan bayarannya, bilang saja langsung, kenapa cari-cari alasan?][Dokter yang kabur begitu mendapat pasien yang operasinya sulit, apa masih pantas disebut ahli?][Tingkat keberhasilannya 100 persen, jangan-jangan karena dia menghindari operasi berisiko tinggi?]Aku mengembalikan ponselku kepada Hanna."Bagaimana penyelidikan yang kuminta kemarin?""Sudah ketemu."Hanna mengeluarkan selembar kertas dari tasnya."Dia sudah pensiun, sekarang tinggal di selatan kota. Tapi, dia sepertinya nggak terlalu ingin bertemu orang lain.""Buatkan janji temu dengannya, bilang saja anak Rina Widyana dari dua puluh tahun yang lalu ingin bertemu dengannya."Hanna melirikku dan mengangguk.Terdengar suara ketukan dari luar pintu.Aku membuka pintu, Reihan berdir

บทอื่นๆ
สำรวจและอ่านนวนิยายดีๆ ได้ฟรี
เข้าถึงนวนิยายดีๆ จำนวนมากได้ฟรีบนแอป GoodNovel ดาวน์โหลดหนังสือที่คุณชอบและอ่านได้ทุกที่ทุกเวลา
อ่านหนังสือฟรีบนแอป
สแกนรหัสเพื่ออ่านบนแอป
DMCA.com Protection Status