Tumpah ke meja, Noemi berhenti menuang dan segera melirik reaksi ayah sahabatnya. ‘Apa dia ilfil?’ memastikan.
Pria dewasa itu yang sudah terbiasa mengurus hal-hal kecerobohan begini. Bangun sigap menghampiri sisi kanan Noemi. “Hati-hati,” nadanya pelan, tidak memarahi justru ada kekhawatiran. Mengambil tisu, mengelap dan menuang air untuk sahabat putrinya.
Gerakannya begitu cekatan, seolah sudah terbiasa dia begini. “Pelan-pelan, minum ini,” menyodorkan, nada netral dewasa dan penuh jarak yang sopan.
Jarak yang seharusnya cukup untuk membuat semuanya aman.
Namun, berbeda bagi Noemi semua yang dia lakukan sungguh berbeda di matanya. “Makasih, Om.”
“Mikirin apa sih?” selidik Mitha.
Noemi menggeleng, mereka kembali duduk, sesekali Noemi mengintip ayah sahabatnya mengambilkan makan untuk dirinya. Kaki tersilang di bawah, dua tangan di pangku meski tak sadar jemarinya saling bertaut lebih erat dari biasanya. ‘Dia mengambilkanku makanan, perhatian sekali.’
Hal normal bagi Darius, seperti mengambilkan anaknya makanan, tapi di mata gadis ini, perhatian itu terasa berbeda di dada Noemi!
Bukan karena status.
Bukan karena teman sahabat anaknya.
Dia sudah tumbuh di dunia ini, karena ketenangannya. Menerima piring yang berisi makanan lengkap. “Om,” ucap Noemi, suaranya lembut, “terima kasih … sudah baik sama aku.”
Pria itu terdiam sepersekian detik, melepas piring, lalu tersenyum ringan. “Kamu sahabat Mitha, dan jangan sisihkan brokoli itu,” menegaskan lagi. Memang kurang suka dengan sayur-mayur, ia cukup pilih-pilih makanan. Bahkan daun bawang nyempil satu pun akan disisihkan sebelum dimakan.
Jawaban yang tepat. Aman dan dewasa.
Noemi menunduk, menyadari sesuatu yang tak ingin ia akui sepenuhnya.
Perasaannya tidak tumbuh karena ia kagum pada dunia orang itu … melainkan karena ia merasa tenang berada didekatnya. Ketenangan itu, bagi gadis seusianya adalah sesuatu yang berbahaya. “Iya, Om. Aku habiskan.” Menahan gejolak di hatinya dan mengintip reaksi pria itu yang tak bereaksi berlebihan.
Mereka makan bersama dan setelah itu, semua berjalan semestinya tapi Noemi mengharapkan lebih, seolah tak mau berpisah darinya. “Em, aku bantu cucikan ya Om.” Mengambil piring bekas makan dan mencoba membantu.
Mitha tau tabiat dia yang tidak pernah mengambil pekerjaan rumah, langsung membara. “Hah, apah? Cuci? Hadeh, kamu cuma bisa pecahin doang, sini mabar game ama aku, biarin Papah yang cuci.”
Betul. Ia pernah berinisiatif mencuci gelas seolah mencari perhatian ketika ayah sahabatnya datang, tapi malah memecahkan cangkir kesayangan ayah sahabatnya. Noemi meremas gelas yang ia pegang lebih keras. ‘Dasar mulut ember, aku mau ke sana tau.’ Menahan diri dan membuang napas.
“Sana … pergi main, biar aku yang cuci dan ini sudah malam, dingin.” Mengambil piring dan gelas di tangannya.
Degh!
Hatinya berdegup kencang, tangan pria itu menyentuh ujung jarinya tanpa sengaja, terlalu singkat untuk di sebut apa-apa.
Berbeda dengan Noemi, ia diam sesaat mengingat hal tadi, hatinya berdegup dan seolah aliran darah meninggi. Padahal pria itu sudah membawa peralatan makan ke wastafel, tapi Noemi masih diam dalam sentuhan yang singkat itu.
“Mi! Emi, cepat sini.”
Teriakan Mitha menyadarkan lamunannya, segara menggeleng dan berlari ke arah sahabatnya yang sudah ada di tengah tangga menyusul masuk ke dalam kamar.
Pria ini mencuci, melirik sekilas dan merasa tenang mereka sudah masuk kamar, mengingatkan lagi. “Jangan begadang.”
“Oke Pah! Tenang aja,” balas Mitha. Noemi tidak berani meilik takut membayangkan kejadian tadi, hatinya benar-benar berisik. Mengikuti sahabatnya ke kamar, tanpa menoleh memastikan pria itu lagi.
Noemi tidak pernah bisa mengingat tanggal pastinya, saat ia mulai sadar menyukai ayah sahabatnya.
Tidak ada momen dramatis.
Tidak ada detak jantung yang tiba-tiba berlari.
Tidak ada musik latar seperti di film.
Hanya satu sore yang terasa … sedikit berbeda.
Saat itu ia masih kelas satu SMA, hujan turun rapi tidak deras, hanya cukup untuk membuat udara dingin menyerap, masuk ke ruang keluarga rumah Mitha. Noemi duduk di karpet, membuka buku pelajaran yang tak benar-benar ia baca.
Mitha sedang ke dapur dan pria itu, ayahnya baru pulang.
“Oh, Noemi,” katanya. “Masih di sini?”
“Iya, Om,” jawabannya spontan, terlalu cepat. Ia bahkan tidak tahu mengapa ia mendongak secepat itu.
Pria itu tersenyum kecil, lalu menuju rak untuk mengambil gelas. Geraknya biasa saja, tidak ada yang istimewa.
Namun, Noemi mendapati dirinya memperhatikan hal-hal kecil itu.
Cara pria itu melonggarkan jam tangan.
Cara dia menghela napas pelan sebelum duduk.
Cara kehadirannya membuat ruangan terasa lebih tenang.
“Kamu nggak dijemput?” kembali bertanya.
“Nanti,” membalas. “Papa masih kerja, sopirku masih di bengkel.”
Pria itu mengangguk. “Hujan begini, jangan pulang sendirian.”
Kalimat itu sederhana, bahkan sangat wajar.
Entah kenapa, Noemi merasa dadanya menghangat, seperti saat seseorang menyelimutinya tanpa diminta.
Ia menunduk cepat, berpura-pura fokus pada buku. ‘Kenapa aku jadi aneh begini?’ batinnya.
Sejak hari itu, ia mulai menyadari perubahan kecil, ia mulai memilih pakaian dengan hati-hati setiap kali ke rumah Mitha.
Mulai merapikan rambut sebelum masuk.
Mulai gugup tanpa sebab jelas, ketika pria itu ada di ruangan yang sama.
Ia menyebutnya kagum.
Ia bilang pada dirinya, ‘Ini cuma karena dia dewasa. Karena dia baik, Karena dia figur ayah.’
Namun semakin ia mengulang alasan itu, semakin ia tahu– ada yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan logika.
Suatu malam, ia mendengar Mitha berkata santai, “Om tuh emang dingin, tapi kalau sudah peduli, dia serius.”
Noemi tertawa kecil, “Kelihatan.”
Tapi malam itu, di kamarnya sendiri, Noemi berbaring sambil menatap langit-langit, ia mengulang kalimat itu dalam pikirannya.
Dingin … tapi peduli.
Dan untuk pertama kalinya, sebuah pikiran berbahaya melintas tanpa diundang.
Kalau suatu hari aku dewasa ….
Apakah dia akan tetap melihatku seperti ini?
Noemi menutup mata, jantungnya berdebar pelan, ia tahu pikiran ini salah.
Ia tahu, ia tidak seharusnya memikirkannya.
Namun rasa tidak selalu bertanya apakah ia boleh ada.
Sejak saat itu, Noemi belajar satu hal. Perasaan paling berbahaya bukan yang meledak, melainkan yang tumbuh diam-diam, sambil berpura-pura tidak ada.
Mentari sudah mengambil tugasnya, Noemi merasa ada cahaya yang mencolok masuk, memejamkan mata lagi, sesaat membuka mata dan pikirannya sudah tertuju ke. ‘Dia tidak kerja sekarang, mungkinkah sudah bangun?’ pikiranya lebih sadar dulu ketimbang tubuhnya. Bangun, ke kamar mandi merapikan diri dan bersiap ke bawah, sengaja tanpa membangunkan Mitha.
Ia sudah bertekad untuk mendekati pria yang seharusnya tidak ia dekati, yakni ayah sahabatnya. Akan tetapi gejolak gadis muda tak bisa ditahan dan kakinya sudah berjalan keluar. Tidak nampak pria itu di meja makan. “Kemana dia? Bukannya sarapan?” berbisik, sambil celingukan.
Di bawah ada pelayan yang sering ia lihat. “Bik, belum pada sarapan yah? Emm, Om juga belum?” Mencoba bertanya se-stabil mungkin, agar tidak ada yang curiga.
Pelayan tua ini yang sudah menemani Mitha sebelum lahir tersenyum. “Aduh, Non. Ini jam berapa, Tuan sudah sarapan dari pagi, dia olahraga di luar.” Menunjuk ke luar rumah.
Noemi mengikuti petunjuknya dan mencari keberadaan pria itu.
“Mau sarapan apa, nanti biar Bibi yang siapkan?”
Menggeleng, “Em makasih, aku mau peregangan dulu,” berjalan meregangkan pinggang kanan-kiri. Jam sudah menunjuk pukul sembilan lebih, siapa yang mau sarapan jam segini?
Noemi bergegas keluar, mencari keberadaan dia, mengitari taman, ia menyusuri jalan setapak ke utara, tidak ada. Lanjut balik ke kanan tidak ada. “Haah, di mana sih dia?” Diam di persimpangan taman bunga mawar merah, kesukaan Mitha.
Matanya tak sengaja menangkap pria itu di sudut lagi peregangan otot, memakai pakain sederhana, dia mengenakan kaos hitam dan celana pendek hitam. Otot lengannya makin tercetak di lengan dan punggung makin terlihat besar di tempelan kaos yang sudah basah oleh keringat.
Pria itu kini menenggak air putih yang sisa setengah, dia langsung menegak dan minum habis. Ada lelehan air yang mangkir dari bibir ke dagu dan lehernya bercampur keringat.
Noemi menelan ludah, ia tidak jijik sama sekali dan itu bukan menjijikan di wajah putih tampannya itu. Ditambah jakun yang menonjol, bagi pria itu tingginya 187 cm, siapa yang bisa menolak pria di masa prime-nya ini? “Woah,” tanpa sadar suara kagum keluar dan tubuhnya terus mendekati pria itu hingga..*..*
.