Share

4 Menunggu Balasan

Author: Yu Liani
last update Last Updated: 2026-01-07 18:05:06

Kakinya tanpa sengaja menabrak pot di sudut kiri. “Ahh, aduh.”

Noemi jatuh di lantai, lututnya terbentur jalan, dia mengenakan piyama berwarna merah selutut. Kerahnya menutupi dada, tapi bagian bawah tidak menutup sempurna. “Aduuh, sialan apa sih bikin malu aja.” Mengusap kaki, duduk menekuk kedua lutut yang memerah.

“Kenapa bisa jatuh? Cobak.” Pria ini berjongkok perlahan melihat lutut Noemi yang di pegang memar kemerahan.

Ada suara kekhawatiran, segera menoleh, ‘Kaan, dia di sini?’ saking malunya menunduk.

Tiba-tiba dua bola matanya membesar dan tundukan hilang, di saat tangan pria itu menyentuh lututnya yang menyapu debu dan kerikil kecil. “Sst,” desisan Noemi.

“Ayo, bangun.”

Noemi terdiam, tapi di hatinya begitu banyak ocehan yang tak menentu. ‘Bukankah ini hal romantis seperti di film? Dia pasti menggendongku,’ tanpa sadar mengangguk dan senyuman keluar, tapi satu sisi lagi hatinya berteriak. ‘Dasar tidak tahu malu, dia ayah sahabatmu.’ Lagi-lagi Noemi menggeleng yang menepis suara itu di hatinya.

Karena hati yang membara lebih mendominasi dan membuang moralnya. “Emm, kayaknya aku gak bisa jalan deh, Om.”

Yap! Dia mengharapkan digendong, seperti di novel romance atau drama yang sering ditonton bersama Mitha.

Seharunya begitu dan seharunya itu terjadi.

Pria ini mendiam sejenak, sesaat melihat luka dan memapah bangun dengan satu angkatkan tangan kanan, Noemi berdiri. “Egh-ehh,” kaget dirinya ditarik berdiri.

“Kalau tidak bisa jalan, saya ambilkan kursi roda sebentar, itu punya Mitha waktu kecil.”

Hah? Yang bener aja, ‘Emang aku bayi!’ entah kenapa sedikit kesal, rencana gagal, Noemi menepis tangan yang menopang itu. “Aku bisa jalan, Om,” ada sedikit nada kesal, melanjutkan biar tidak curiga, “tadi cuma kesemutan.”

Berjalan lebih dulu, meski masih terasa perih tapi jalan masih bisa, lebih ke malu. Noemi pergi ke kamar Mitha, mengambil pakaian dan pamitan.

Melihat reaksi temannya yang baru masuk dan mengambil semua baju. “Kamu mau ke mana? Sopirmu sudah datang?”

Noemi terus memungut barangnya. “Belum, aku tunggu di bawah aja.”

“Is is, kenapa tuh lekukan alismu, siapa yang pagi-pagi bikin kamu kesal?” mengitari sahabatnya. Dia kalau marah sangat terlihat jelas dari alisnya makin mendekat dan menukik. Mulutnya merapat serta bulu matanya bergetar.

“Ah, enggak kok … ini gara-gara sopirku lama jemputnya,” elaknya. Dalam hati, ‘Bapakmu lah, siapa lagi!’

Mitha mengantar turun Noemi, saat di ruang tamu dibawah, sosok pria dewasa itu datang dari sudut dapur. Sepertinya dia habis menenggak minuman yang masih menyisakan basah di bibirnya.

Noemi yang hatinya kesal, melihat penampilan pria itu lagi. Bibirnya lembab, rambutnya acak yang basah oleh keringat. Bajunya jelas tercetak di tubuh, lagi dan lagi mata mudanya tidak bisa menjaga pandangan.

Pria ini melihat kedua gadis yang turun dari tangga, menghampiri. “Gimana lukanya?” menyerahkan salep kecil setelunjuk.

Mitha melirik Noemi, memeriksa keadaanya. “Kamu kenapa? Luka di mana? Kok gak ngasih tau sih.” Sibuk memeriksa.

Menerima guncangan, Noemi menarik dua tangan sahabatnya. “Aku tidak apa-apa, tadi jatuh gak sengaja eee,” melirik ayah sahabatnya dan kembali tertunduk sesaat meyakinkan sahabatnya, “itu aku gak sengaja tersandung pot.”

Mitha heran kok bisa? Soalnya bagian pot sangat jauh dengan jalan dan kalau tersenggol seharusnya menempel ke tembok, kecuali melihat orang di balik tembok. “Hah? Ngapain kamu? Ngintip kah?”

“Ah, apa sih aku cuma mau ambil bunga terus gak sengaja kesandung,” buru-buru menyangkal!

Dalam hati berbeda, agar sahabatnya tidak tahu! Tidak, agar mereka tidak tahu apa yang ada di hatinya!

‘Aku tidak akan mengintip lagi, tapi aku akan terang-terangan menyukaimu!’ mengintip ayah sahabatnya!

Ayah Mitha mengerti. “Kalau kamu suka bunga itu, bawa saja beberapa.”

Noemi menggeleng dan meremas salep, “Makasih, tapi bunga itu tidak perlu, berbahaya. Cantik sih, bila ku genggam aku terluka dan ku tak sanggup menahannya.”

Tiba-tiba banget puitis, Mitha menyipitkan mata. “Kamu lagi suka siapa?”

Noemi segera memelototi sahabatnya. “Apa sih, aku suka bunganya tidak dengan durinya!” Mereka pergi keluar dan pria itu pergi ke atas.

Sesampainya di rumah, Noemi disambut para pelayan, seolah princess sudah tiba. Pelayan mulai menyambut berjejer depan pintu. Mereka cepat mengambil tugas masing-masing, seolah terbiasa di gerakan yang gesit.

Sekitar 4 payan wanita dengan seragam sama hitam, sedikit kombinasi putih bersih. Mereka mulai mengambil semua barang Noemi, ada yang memegang tas, buku dan membuka pintu. Satunya lagi menyerahkan jus cherry kesukaan Noemi dan cemilan manis favoritnya.

Mengambil satu dan minum setengah yang di kembalikan ke nampan. Tangan pelayan itu sigap memberikan tisu, tanpa diminta tapi tahu apa yang harus dilakukan. Ini bukan hal sekali dua kali, seiring berjalannya waktu, tanpa perintah. Mereka tahu apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan.

Perbedaan rumah Noemi dan Mitha tidak terlalu mencolok, tapi penghuninya yang membedakan. Di rumah sahabatnya, pelayan sangat sedikit dan jam menuju malam hanya menyisakan 2 saja, itupun kalau tidak di panggil tidak keluar.

Sedangkan di rumah ini, pelayan begitu banyak dan punya pekerjaannya masing-masing. “Non Luna, mau makan siang apa pijatan dulu?” tawar sang pelayan yang agak lebih tua, dia pemimpin pelayan di sini.

“Emm, aku mau makan,” jawabnya singkat.

Pelayan ini mengangguk dan menyuruh dua dayang mempersiapkan semua yang dia mau. Noemi pergi ke kamar yang suda di siapkan air hangat buat mandi dan juga dua pelayan wanita yang siap membantu keramas.

Ia sudah dimanjakan dari lahir, ibunya sibuk bekerja mengurus WO yang bliau bangun dari remaja dan sampai saat ini. Banyak klien yang sudah memesan di tepatnya, mulai dari artis sampai ke selebgram.

Ayahnya sibuk mengurus hotel dan villa yang di bangun sendiri, itu bukan hotel di satu tempat yang sama. Jadi sering tidak pulang mengurus bisnisnya di luar kota. Maka, apapun yang Noemi mau akan diusahakan selagi bisa dibeli. Tidaklah heran, ia hidup di bawah sendok emas. Sedangkan ayah Mitha bergerak di bidang F&B.

Menikmati pijatan di rendaman air hangat, matanya terpejam dan memikirkan pria itu lagi di bayangannya. ‘Sial, aku benar-benar suka padanya,’ sesaat dahi mengkerut.

Pelayan merasa nonanya tidak beres, segera memijat tanpa tanya dengan pelan. Noemi merasakan pijatan itu lebih rileks tapi hatinya tidak tenang. ‘Ya, aku tidak salah, akan ku kejar dia, tapi kalau Mitha tau apa dia akan membenciku?’

Lagi kedutan makin jelas, pelayan makin was-was, dengungan napas itu keluar. ‘Sudah ku pendam selama ini tidak terjadi apapun, hampir satu tahun tapi tidak ada kemajuan, aku ngak mau nunggu lagi!’ Di batinnya bergelut. Sudah memutuskan menyatakan perasaannya! Bola mata mendelik, pelayan kaget tapi tetap profesional.

Noemi bangun dan pijatan belum selesai tapi keramas sudah selesai. “Cepat keringkan rambutku.”

Dirinya sudah bersih dengan piyama warna merah muda, kesukaannya warna pastel dengan tali piyama kecil bagian renda bawah di dadanya. “Uh, coba gini piyama Mitha kan aku bisa goda dia haha.” Membayangkan dirinya menggoda ayah sahabatnya, ia sudah bertekad tidak mungkin berbalik!

Meremas salep. “Penghinaan ini kamu harus terima, tidak ada cowok yang menolakku!”

Dan yaap! Itu betul sekali, ia pernah pacaran pas awal masuk, tapi putus dalam 1 minggu yang tidak tahan dengan pria ganteng lainnya. Sekarang, hatinya berfokus ke ayah sahabatnya.

Memotret salep, jepretan kedua ke lutut yang sudah dilumuri salep, ide muncul di hatinya. “Syukur aku menonton drama, jadi aku pintar!”

Seolah bangga menonton drama romance dan membaca cerita romance lainnya, adegan liar mulai menjalar di otak.

Mengangkat kaki, paha sedikit tersibak tapi tidak penuh, ia memotret ke lutut yang merah muda di kulit putihnya. Ujung piyama dengan bahan halus berada di atas lutut seruas jari, tidak terlalu mencolok dan seolah di foto acak, mengirim ke ayah sahabatnya. [Makasih, Om] disambut emoji mata yang berbinar dan [Aku sudah pakai, moga gak berbekas, kan laki-laki tidak suka yang ada bekasnya]

Kirim!

Noemi tersenyum di kalimat terakhir, “Aku yakin dia tidak tahan gadis sepertiku, huh! Kakelku aja gak tahan liat lama aku.” Menyandingkan pria yang ia temui, selalu suka dan tidak tahan ke dirinya. Meski ia tidak mengejar semua lelaki, kalau ia sudah bertekad pasti akan tunduk.

Ia sering mendapatkan apa yang di mau, jadi arti diabaikan dan kehilangan hampir tak pernah di kamusnya. Menunggu balasan. “Kok belum dibalas ya? Apa belum dilihat?” Mengecek lagi, dan untuk mendapatkan nomornya sangat susah.

Dulu kira-kira 5 bulan yang lalu, ia sengaja membuang ponsel Mitha, demi menelpon nomor ayahnya menggunakan ponselnya, kalau meminta tanpa alasan yang jelas itu mustahil! “Aku pakai alasan apa?”

Karena dia tidak ada alasan dekat dengan ayah sahabatnya!

Itu tidak benar!

Hampir 5 menit Noemi menunggu balasan, belum juga, tangannya gatal dan menanyakan ke sahabatnya. [Eee, Mit lagi di mana?]

Belum ada semenit bahkan 20 detik sudah dibalas. [Biasa di kamar lah, nih!]

Mengirimi foto yang dikenal PAP, dia lagi rebahan bersama tab yang sudah menayangkan drama yang sering ditonton. [Kamu sudah nonton ep barunya?]

Saking penasaran reaksi ayah sahabatnya, ia lupa drama yang ditonton. [Ah, nonton lah, em kamu sendirian?]

Masih mencari-cari informasi ayahnya, kalau langsung bertanya tidak mungkin. Mitha tidak curiga, karena sifat sahabatnya emang random. Justru mengirim stiker kocak dengan balasan. [Menurutmu gimana? Masak sama ayahku, dia sibuk lah di ruang kerjanya]

Haaah!

Napas Noemi sedikit lebih berat dan membalas dengan emoji saja, sambil bilang mau menonton drama, tapi yang ia buka justru kontak ayah sahabatnya dan tertera.

… Sedang mengetik.

Mata Noemi membesar dan melempar ponsel, segera pencet tombol home, tanpa babibu. “Aduhh, dia sudah liat, dia jawab apa ya?”

Tubuhnya berguling di kasur dan kepala terbenam di bantal yang berwarna pink muda, menunggu balasan darinya dengan telinga menguping.

Ting!

Nada itu, ya nada itu pasti balasan dari ayah sahabatnya, tangan mulai mengambil. Hati ikut bergetar, manik mengintip, rambut diselipkan ke telinga. Membuka ponsel dan klik!

Dua pupil cokelatnya terpejam, perlahan yang sebelah kanan terbuka. Seolah menunggu jawaban ya atau tidak, saat ia menembaknya, tapi ini bukan pesan pengakuan ia sudah setakut ini. Karena Noemi baru kali ini mengirimi pesan setelah 5 bulan itu. “Aduuh, apa ya balasnya?” membuka dan membaca, diam sesaat.

Balasan itu…*..*

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Menyukai Ayah Sahabatku   4 Menunggu Balasan

    Kakinya tanpa sengaja menabrak pot di sudut kiri. “Ahh, aduh.” Noemi jatuh di lantai, lututnya terbentur jalan, dia mengenakan piyama berwarna merah selutut. Kerahnya menutupi dada, tapi bagian bawah tidak menutup sempurna. “Aduuh, sialan apa sih bikin malu aja.” Mengusap kaki, duduk menekuk kedua lutut yang memerah. “Kenapa bisa jatuh? Cobak.” Pria ini berjongkok perlahan melihat lutut Noemi yang di pegang memar kemerahan. Ada suara kekhawatiran, segera menoleh, ‘Kaan, dia di sini?’ saking malunya menunduk. Tiba-tiba dua bola matanya membesar dan tundukan hilang, di saat tangan pria itu menyentuh lututnya yang menyapu debu dan kerikil kecil. “Sst,” desisan Noemi. “Ayo, bangun.” Noemi terdiam, tapi di hatinya begitu banyak ocehan yang tak menentu. ‘Bukankah ini hal romantis seperti di film? Dia pasti menggendongku,’ tanpa sadar mengangguk dan senyuman keluar, tapi satu sisi lagi hatinya berteriak. ‘Dasar tidak tahu malu, dia ayah sahabatmu.’ Lagi-lagi Noemi menggeleng yang me

  • Aku Menyukai Ayah Sahabatku   3 Saat Noemi Pertama Kali Merasa Aneh

    Tumpah ke meja, Noemi berhenti menuang dan segera melirik reaksi ayah sahabatnya. ‘Apa dia ilfil?’ memastikan. Pria dewasa itu yang sudah terbiasa mengurus hal-hal kecerobohan begini. Bangun sigap menghampiri sisi kanan Noemi. “Hati-hati,” nadanya pelan, tidak memarahi justru ada kekhawatiran. Mengambil tisu, mengelap dan menuang air untuk sahabat putrinya. Gerakannya begitu cekatan, seolah sudah terbiasa dia begini. “Pelan-pelan, minum ini,” menyodorkan, nada netral dewasa dan penuh jarak yang sopan. Jarak yang seharusnya cukup untuk membuat semuanya aman. Namun, berbeda bagi Noemi semua yang dia lakukan sungguh berbeda di matanya. “Makasih, Om.” “Mikirin apa sih?” selidik Mitha. Noemi menggeleng, mereka kembali duduk, sesekali Noemi mengintip ayah sahabatnya mengambilkan makan untuk dirinya. Kaki tersilang di bawah, dua tangan di pangku meski tak sadar jemarinya saling bertaut lebih erat dari biasanya. ‘Dia mengambilkanku makanan, perhatian sekali.’ Hal normal bagi Darius

  • Aku Menyukai Ayah Sahabatku   2 Tidak Boleh Pacaran!

    Pria tinggi dengan jas hitam yang lengkap, kacamata yang masih menempel di hidung tingginya. “Eh, ada Noemi, apa menunggu jemputan?” suaranya rendah dan stabil. Reflex merapikan rambut. “Iya, Om.” Tiba-tiba menjadi canggung, sedetik lagi meluruskan, “Egh nggak nunggu supir, aku mau nginap besok kan libur.” “Iya, Pah Emi mau nginep aku suka tau, jadi gak kosong lagi nih rumah, percuma besar.” Memeluk Noemi yang sudah tegak di sudut sofa yang duduk di depan bawah lantai di atas karpet bulu. Panggilan kesayangannya Emi atau Mi. Rumah Mitha selalu terasa berbeda bagi Noemi. Bukan karena kemewahannya, meski rumah ini besar, bersih dan tertata dengan rasa yang tenang, berbeda dengan rumahnya yang di penuhi pelayan. Bukan pula karena taman luas atau lampu gantung kristal di ruang tamu. Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat Noemi secara tak sadar melangkah lebih pelan setiap kali memasuki halaman rumah ini. Mungkin karena disanalah ia pertama kali belajar merasa gugup tanpa alas

  • Aku Menyukai Ayah Sahabatku   1 Persahabatan yang Lahir Dari Hujan dan Payung Biru

    Dunia memang memiliki ceritanya sendiri, pagi hari di Aurora International High School. Selalu dimulai dengan suara langkah sepatu yang teratur dan percakapan dalam berbagai bahasa. Inggris mendominasi di selingi Mandarin dan sesekali bahasa ibu yang lolos begitu saja dari bibir para murid. Noemi datang seperti biasa, terlambat 3 menit.Ia berlari kecil di lorong marmer, rambut pendeknya yang sebahu tergerai setengah terikat, di hiasi pita merah muda, dasi sekolahnya sedikit miring. Di tangannya ada segelas latte hangat dengan logo cafe mahal, yang jelas tidak dijual di sekitar sekolah.“Mitha!” panggilnya panik.Di depan ruang kelas 11 B, Mitha berdiri tenang sambil menutup buku catatannya. Tatapannya datar, seolah sudah menduga adegan ini akan terjadi. “Kamu lagi,” menjawab singkat.Noemi senyum manja. “Tadi papa lama banget rapat, aku nggak enak motong.”Mendengus kecil, “Itu alasan ketiga minggu ini,” jawab Mitha lalu membuka pintu kelas. “Masuk, Sebelum MR. Hamilton melirik ke a

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status