Home / Romansa / Aku Menyukai Ayah Sahabatku / 2 Tidak Boleh Pacaran!

Share

2 Tidak Boleh Pacaran!

Author: Yu Liani
last update Last Updated: 2026-01-07 18:03:19

Pria tinggi dengan jas hitam yang lengkap, kacamata yang masih menempel di hidung tingginya. “Eh, ada Noemi, apa menunggu jemputan?” suaranya rendah dan stabil.

Reflex merapikan rambut. “Iya, Om.”

Tiba-tiba menjadi canggung, sedetik lagi meluruskan, “Egh nggak nunggu supir, aku mau nginap besok kan libur.”

“Iya, Pah Emi mau nginep aku suka tau, jadi gak kosong lagi nih rumah, percuma besar.” Memeluk Noemi yang sudah tegak di sudut sofa yang duduk di depan bawah lantai di atas karpet bulu. Panggilan kesayangannya Emi atau Mi.

Rumah Mitha selalu terasa berbeda bagi Noemi.

Bukan karena kemewahannya, meski rumah ini besar, bersih dan tertata dengan rasa yang tenang, berbeda dengan rumahnya yang di penuhi pelayan. Bukan pula karena taman luas atau lampu gantung kristal di ruang tamu. Ada sesuatu yang lain.

Sesuatu yang membuat Noemi secara tak sadar melangkah lebih pelan setiap kali memasuki halaman rumah ini. Mungkin karena disanalah ia pertama kali belajar merasa gugup tanpa alasan yang jelas.

Darius Axton pria dewasa yang berumur 27 tahun, dia ayah dari Mitha. Jadi kedua orang tua Mitha meninggal dulu, nah sang paman, yakni adik dari ayahnya yang mengurus dia dan Mita menganggapnya sebagai ayah sendiri.

Pria tinggi ini melepas jas hitam, menarik kacamata dan menggulung setengah lengan kemeja putihnya. Meski adegan yang sangat klise ini, bagi Noemi mata tak pernah lepas darinya dan menelan saliva dalam diam.

Noemi berhenti bernapas sepersekian detik, saat pria itu membuka 2 kancing atasnya, yang telah menyesakan harinya hari ini. Pria itu melepas dengan biasa dan bahkan biasa tanpa ada sentuhan sensasional atau disengaja.

Tetap mendebarkan bagi Noemi, hatinya tak berhenti berdegup, telinganya menjadi merah dan dua pipinya ikut memerah.

“Mi, liat gak Kakel kita up SW loh, ganteng banget baru liat.” Menyodorkan ponsel ke arahnya.

Noemi segera menggeleng dan menepis semua yang ada di otaknya, mengedipkan mata. “Ah, apa?”

Mitha memperhatikan dia, karena kulitnya yang berwarna cerah. Mitha bisa merasakan perubahan warna kulit, ada rona merah di kedua pipi dan telinganya. Menoyor, “Alah pura-pura gak lihat? Nih telingamu merah, kamu ga perlu lagi beli blush on yang hampir sejuta itu, hahha.”

“Haha, haha.” Noemi ikut tertawa canggung. ’Untung dia menganggap begitu.’

Untung saja dia tidak menyadarinya!

Melirik ke ayah sahabatnya yang mulai melangkah jauh dan berhenti di anak tangga. “Mitha kamu masih kecil, jangan pikirin yang aneh-aneh, lebih baik belajar yang rajin.”

Menasehati dan memperingati lagi, “Noemi, kamu jangan sampai begitu ya, jalan ke depan masih panjang.” Bicara seolah orang tua yang memberi nasehat.

“Baik, Om. Aku gak punya pacar!” menjawab penuh antusias bahkan sebelum pikirannya mengejar.

Mitha sampai mengerang, “Gak usah di perjelas, kamu gak punya pacar tapi banyak yang dekat kan,” melirik ayahnya. “Siap Pah, aku juga gak punya kalau punya pasti aku kasih tau Papah.” Melambai, menyuruh ayahnya naik dan tidak mengganggu lagi.

Manik Noemi melebar. ‘Ya ampun ngapain di usir, jangan pergi lah,’ heran hatinya, tapi pria itu melangkah lebih jauh lagi pergi ke atas.

Mata cokelat Noemi terus melirik sampai pria itu tak terlihat lagi di balikkan pintu hitam, tapi punggungnya yang lebar masih terbayang di mata dan otaknya.

Dia bukan pria yang mencolok, wajahnya tegas, rapi dengan sorot mata yang tenang. Terlalu tenang untuk seseorang yang mengasuh anak bukan darah dagingnya sendiri, sejak usia 6 tahun. Justru, di situlah yang membuatnya tampak nyata.

Ruangan tamu rumah Mitha luas, bernuansa hangat dengan dominasi kayu gelap dan cahaya alami dari jendela tinggi. Di sudut ruangan, aroma teh hitam dan kayu manis masih samar tercium. Itu dari sisa pria tadi yang meminum setengah sebelum naik ke atas. Menarik pandangan.

Mereka kembali duduk, sekarang mengambil posisi di sofa seberang, sibuk dengan ponselnya masing-masing. Ada yang membedakan, detik ini Noemi duduk agak kaku, punggungnya tegak, tangan bertaut di pangkuan.

Membayangkan tangan besar pria itu membuka kancing, bibirnya tersenyum kembali. Sesaat memori berpindah di saat dia melipat lengan bajunya, lagi senyum itu terlepas dari bibir Noemi dan diam sesaat tepat ketika dia meminum teh hitam tadi, menelan saliva. ‘Astaga apa yang kubayangkan?’ menepak kepala, mencoba sadar.

Mitha merasakan ada yang tidak beres, ponselnya saja yang hidup oleh suara di HP-nya sedangkan sampingnya diam membisu tanpa ada reaksi, tumben. “Napa kamu Mi? HP mu mati? Lapar?” Memastikan keadaan sahabatnya.

Noemi segera merapikan rambut lagi dan menjepitnya dengan jepit pita berwarna pink kesukaannya. “Em gak kok, nanti aja aku belum lapar.”

“Kalau lapar bilang aja, biar Papah aku yang masakin, enak kan masakannya.” Mengkonfirmasi, padahal mereka sudah makan masakan Darius.

Pupil cokelatnya kembali membesar. “Emm, kamu ngomong gitu aku jadi lapar.”

Mitha langsung melirik ke atas. “Pah, Emi lapar.”

Lagi dan lagi netra Noemi membesar. ‘Kurang ajar anak ini, baru dia datang dari kerja pasti capek, tapi … kalau gak gitu aku gak ketemu dia lagi.’

Segera menepuk lengannya. “Ssst, mending pesan aja, Om baru pulang,” tawarnya.

“Jangan, masakan luar belum tentu sehat dan lama menunggu, kamu lapar kan tunggu sebenar.”

Tiba-tiba suara berat itu di belakang punggungnya, seolah semua bulu berdiri di balik piyama pink yang dikenakan Noemi, pinjam dari Mitha. Menelan ludah dan mengintip ke belakang dekat tangga. “Hhehe makasih Om,” menjawab pelan dan sedikit tersendat.

Biasanya ia selalu menjawab dengan lancar dan tak pernah gugup sama sekali, bahkan di kejar oleh kakel yang terkenal tampan dan belum lagi teman sekolahnya yang tampan tidak segugup ini.

Darius pergi ke kulkas hitam, mengambil sekotak makanan ringan yang dia buat sendiri. “Makan ini dulu, sambil menunggu masakanku.”

“Makasih, Om”

Ayah Mitha diam sejenak, lalu tersenyum tipis. “Kamu sahabat Mitha, tidak usah bilang itu dan kamu tamu di sini, tunggu sebentar.”

Noemi menunduk, suara dan gerakan yang dia buat sungguh membuat hati berdebar, ia tak seharusnya merasa istimewa karena itu.

Ia tahu, pria di hadapannya adalah wali sahabatnya.

Sosok ayah.

Jarak usia sepuluh tahun seharusnya menjadi tembok yang jelas.

Namun, perasaan tidak selalu tumbuh dengan logika, dengan kepolosan yang utuh, belum tahu benih yang dibiarkan tumbuh diam-diam … suatu hari nanti akan menuntut jawaban.

Noemi mengambil cemilan yang diserahkan, memakan penuh kehati-hatian, seolah terlihat menjadi wanita dewasa.

Padahal di hadapannya, ia justru terlihat seperti anak kecil yang makan menyisakan serpihan di sudut bibir, persis Mitha waktu kecil. Darius menggeleng, memperhatikan sekilas lebih lama dari yang diperlukan.

Bukan tatapan aneh.

Bukan tatapan yang melanggar batas, hanya perhatian seorang wali … seorang ayah.

‘Apa dia melirikku? Moga aja aku gak belepotan,’ hati Noemi tahu dirinya agak ceroboh. Mengintip ke depan, netranya bergetar, langsung memutar bola mata dan menunduk. ‘Dia melihatku.’

Dan entah mengapa, itu justru yang membuat dada Noemi menghangat, secara bersamaan dengan itu, merasa bersalah. ‘Apa sih yang aku pikirkan? Sadar, dia ayah sahabatku!’ memaki dalam hati.

Saat mengingat kebelakang lagi, ia pernah menyukai pria seusianya, pernah menyukai crush yang datang dan pergi.

Namun, rasa ini … berbeda. ‘Ya aku tidak salah, ini beda dengan yang dulu,’ hatinya masih bergelut.

Dia berbeda, sungguh berbeda dari cowok-cowok sebelumnya.

Pria itu, Tidak berisik. Tidak mendesak.

Hanya hadir seperti kesadaran yang tumbuh diam-diam.

Di rumah Mitha semua pelayan dipulangkan sore hari, hanya ada 2 pelayan yang menetap di rumah, tentu tidak dipanggil karena ayah Mitha suka ketenangan. Masakan sudah dibuat, mereka dipanggil dan duduk di meja makan.

“Silakan, coba cicipi apa ada yang kurang?” Pria ini menghidangkan berapa masakan daging dan sayur, menyuruh mereka mencoba.

“Ndak perlu cicipi, pasti enak masakan Papah.” Menyodorkan piring seperti biasa diambilkan.

Noemi melirik Mitha, tertuju ke sosok itu, ya ayah sahabatnya dan dia menunggu kata itu keluar dari mulutnya yang tidak tebal dan tidak tipis. “Noemi, piringmu sini.”

Tangan itu tepat di depan dadanya lebih ke depan piring, pupil cokelat ini menatap dekatan tangan yang besar dan lengan yang berurat. Terus naik ke dada yang bidang, naik lagi pandangan ke leher dan berhenti di mulutnya yang baru berucap. Serasa tenggorokan Noemi tercekat, mendorong beberapa ludah masuk ke tenggorokan, mencoba menahan pandangan di wajahnya.

Mata mereka bertemu.

“Cepat kasih, kamu sampai telan ludah gitu, lapar ya?” Mengambil piring Noemi dan menyerahkan ke ayahnya, “cepat ambilkan yang banyak, Pah.”

Astaga!

Tangan kiri Noemi di bawah meja mengepal dan ingin menonjok sahabatnya. “Em, makasih Om, aku haus aja.” Buru-buru menuang air putih, malu. Entah dengan akal sehatnya yang sudah rusak atau celoteh sahabatnya. ‘Apa sih Mitha asal ceplos!’ Meunang.

Tangan yang bergetar itu tak menuang sempurna dan…*..*

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Menyukai Ayah Sahabatku   4 Menunggu Balasan

    Kakinya tanpa sengaja menabrak pot di sudut kiri. “Ahh, aduh.” Noemi jatuh di lantai, lututnya terbentur jalan, dia mengenakan piyama berwarna merah selutut. Kerahnya menutupi dada, tapi bagian bawah tidak menutup sempurna. “Aduuh, sialan apa sih bikin malu aja.” Mengusap kaki, duduk menekuk kedua lutut yang memerah. “Kenapa bisa jatuh? Cobak.” Pria ini berjongkok perlahan melihat lutut Noemi yang di pegang memar kemerahan. Ada suara kekhawatiran, segera menoleh, ‘Kaan, dia di sini?’ saking malunya menunduk. Tiba-tiba dua bola matanya membesar dan tundukan hilang, di saat tangan pria itu menyentuh lututnya yang menyapu debu dan kerikil kecil. “Sst,” desisan Noemi. “Ayo, bangun.” Noemi terdiam, tapi di hatinya begitu banyak ocehan yang tak menentu. ‘Bukankah ini hal romantis seperti di film? Dia pasti menggendongku,’ tanpa sadar mengangguk dan senyuman keluar, tapi satu sisi lagi hatinya berteriak. ‘Dasar tidak tahu malu, dia ayah sahabatmu.’ Lagi-lagi Noemi menggeleng yang me

  • Aku Menyukai Ayah Sahabatku   3 Saat Noemi Pertama Kali Merasa Aneh

    Tumpah ke meja, Noemi berhenti menuang dan segera melirik reaksi ayah sahabatnya. ‘Apa dia ilfil?’ memastikan. Pria dewasa itu yang sudah terbiasa mengurus hal-hal kecerobohan begini. Bangun sigap menghampiri sisi kanan Noemi. “Hati-hati,” nadanya pelan, tidak memarahi justru ada kekhawatiran. Mengambil tisu, mengelap dan menuang air untuk sahabat putrinya. Gerakannya begitu cekatan, seolah sudah terbiasa dia begini. “Pelan-pelan, minum ini,” menyodorkan, nada netral dewasa dan penuh jarak yang sopan. Jarak yang seharusnya cukup untuk membuat semuanya aman. Namun, berbeda bagi Noemi semua yang dia lakukan sungguh berbeda di matanya. “Makasih, Om.” “Mikirin apa sih?” selidik Mitha. Noemi menggeleng, mereka kembali duduk, sesekali Noemi mengintip ayah sahabatnya mengambilkan makan untuk dirinya. Kaki tersilang di bawah, dua tangan di pangku meski tak sadar jemarinya saling bertaut lebih erat dari biasanya. ‘Dia mengambilkanku makanan, perhatian sekali.’ Hal normal bagi Darius

  • Aku Menyukai Ayah Sahabatku   2 Tidak Boleh Pacaran!

    Pria tinggi dengan jas hitam yang lengkap, kacamata yang masih menempel di hidung tingginya. “Eh, ada Noemi, apa menunggu jemputan?” suaranya rendah dan stabil. Reflex merapikan rambut. “Iya, Om.” Tiba-tiba menjadi canggung, sedetik lagi meluruskan, “Egh nggak nunggu supir, aku mau nginap besok kan libur.” “Iya, Pah Emi mau nginep aku suka tau, jadi gak kosong lagi nih rumah, percuma besar.” Memeluk Noemi yang sudah tegak di sudut sofa yang duduk di depan bawah lantai di atas karpet bulu. Panggilan kesayangannya Emi atau Mi. Rumah Mitha selalu terasa berbeda bagi Noemi. Bukan karena kemewahannya, meski rumah ini besar, bersih dan tertata dengan rasa yang tenang, berbeda dengan rumahnya yang di penuhi pelayan. Bukan pula karena taman luas atau lampu gantung kristal di ruang tamu. Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat Noemi secara tak sadar melangkah lebih pelan setiap kali memasuki halaman rumah ini. Mungkin karena disanalah ia pertama kali belajar merasa gugup tanpa alas

  • Aku Menyukai Ayah Sahabatku   1 Persahabatan yang Lahir Dari Hujan dan Payung Biru

    Dunia memang memiliki ceritanya sendiri, pagi hari di Aurora International High School. Selalu dimulai dengan suara langkah sepatu yang teratur dan percakapan dalam berbagai bahasa. Inggris mendominasi di selingi Mandarin dan sesekali bahasa ibu yang lolos begitu saja dari bibir para murid. Noemi datang seperti biasa, terlambat 3 menit.Ia berlari kecil di lorong marmer, rambut pendeknya yang sebahu tergerai setengah terikat, di hiasi pita merah muda, dasi sekolahnya sedikit miring. Di tangannya ada segelas latte hangat dengan logo cafe mahal, yang jelas tidak dijual di sekitar sekolah.“Mitha!” panggilnya panik.Di depan ruang kelas 11 B, Mitha berdiri tenang sambil menutup buku catatannya. Tatapannya datar, seolah sudah menduga adegan ini akan terjadi. “Kamu lagi,” menjawab singkat.Noemi senyum manja. “Tadi papa lama banget rapat, aku nggak enak motong.”Mendengus kecil, “Itu alasan ketiga minggu ini,” jawab Mitha lalu membuka pintu kelas. “Masuk, Sebelum MR. Hamilton melirik ke a

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status