Home / Romansa / Aku Menyukai Ayah Sahabatku / 1 Persahabatan yang Lahir Dari Hujan dan Payung Biru

Share

Aku Menyukai Ayah Sahabatku
Aku Menyukai Ayah Sahabatku
Author: Yu Liani

1 Persahabatan yang Lahir Dari Hujan dan Payung Biru

Author: Yu Liani
last update Last Updated: 2026-01-07 18:02:02

Dunia memang memiliki ceritanya sendiri, pagi hari di Aurora International High School. Selalu dimulai dengan suara langkah sepatu yang teratur dan percakapan dalam berbagai bahasa. Inggris mendominasi di selingi Mandarin dan sesekali bahasa ibu yang lolos begitu saja dari bibir para murid.

Noemi datang seperti biasa, terlambat 3 menit.

Ia berlari kecil di lorong marmer, rambut pendeknya yang sebahu tergerai setengah terikat, di hiasi pita merah muda, dasi sekolahnya sedikit miring. Di tangannya ada segelas latte hangat dengan logo cafe mahal, yang jelas tidak dijual di sekitar sekolah.

“Mitha!” panggilnya panik.

Di depan ruang kelas 11 B, Mitha berdiri tenang sambil menutup buku catatannya. Tatapannya datar, seolah sudah menduga adegan ini akan terjadi. “Kamu lagi,” menjawab singkat.

Noemi senyum manja. “Tadi papa lama banget rapat, aku nggak enak motong.”

Mendengus kecil, “Itu alasan ketiga minggu ini,” jawab Mitha lalu membuka pintu kelas. “Masuk, Sebelum MR. Hamilton melirik ke arah kita.”

Mereka duduk bersebelahan, seperti biasa. Noemi langsung menyandarkan dagu ke meja, mendekat ke Mitha, berbisik, “Hari ini kamu kok, kelihatan cantik banget.”

Mitha meliriknya singkat. “Kamu mau minta contekan?”

Noemi tertawa kecil di bibir mungilnya yang di poles lip balm merah muda, tertawa tanpa rasa bersalah.

Beginilah mereka, tak pernah di buat-buat.

Di mata orang lain Noemi Lunara adalah gadis yang terlalu mudah disukai. Senyum ceria, tawa renyah dan sikap manja yang terasa tulus, bukan menyebalkan.

Ia tidak perlu berusaha keras untuk menjadi pusat perhatian, dunia seakan otomatis memberi ruang padanya.

Sedangkan Mithalia Arani, orang harus memperhatikannya lebih lama untuk menyadari kehadirannya, dia bukan tipe yang bersinar di permukaan. Namun, sekali seseorang duduk cukup dekat, mereka akan paham. Mitha adalah ketenangan yang kuat, pikiran yang teratur dan seseorang yang selalu tahu kapan harus bicara dan kapan memilih diam.

Noemi langsung berdiri pas bel istirahat selesai, meraih lengan Mitha. “Kantin, yuk. Aku lapar.”

“Kamu selalu lapar,” balas Mitha, tapi tetap mengikuti langkah sahabatnya.

Mereka berjalan melewati taman tengah sekolah, area favorit murid Aurora. Bangku kayu tertata rapi, pepohonan rindang dan kolam kecil dengan air mancur yang berkilau di bawah matahari pagi.

Sepulang sekolah, Noemi tidak pulang, menyuruh sopirnya pulang sendiri, ia justru ikut dengan Mitha. “Mith, aku ikut kamu pulang ya.”

Tidak merasa ada yang aneh, justru senang ada teman bermain. “Oke, ayo.” Mereka pulang bersama, tapi satu hal pasti Noemi membuka tas. Mengeluarkan bedak basah dari tasnya yang ia beli kisaran satu setengah juta, dengan kulit wadah warna hitam. Brand ini sangat terkenal, mahal dan elegan tentunya barang bagus. Menambah riasan dan tak lupa membubuhi pipi dengan perona merah mudah, ditambah lipstik merah muda menjadi segar dan cantik.

Mitha mau heran, tapi dia selalu suka dandan setiap saat jadi ini hal lumrah, bahkan detik ini mengipasi hidung yang Noemi menyemprotkan parfum ke dirinya sendiri bak mandi parfum. “Kita mau pulang, bukan mau ngedate.”

Noemi tersenyum penuh arti. “Ia tau kok.”

Setibanya di rumah, mereka masuk seperti biasa. “Papamu belum pulang ya?” sembari merapikan rambut.

Mitha melepas sepatu dan baju yang muak mengenakan ini, ingin mengganti ke kain yang lebih nyaman, meski kain baju sekolahnya bukan hal yang murahan. “Iya, paling lembur kalau gak sore baru pulang, napa?”

Noemi menunduk, 5 detik mengangkat kepala. “Emm tidak, kalau gitu aku boleh nginap nggak?”

Melempar bantal ke wajahnya, mereka sudah di kamar. “Pakai nanya, boleh lah.”

Noemi kegirangan, begitupun Mitha juga suka dia menginap karena ada teman, tapi kesenangan yang berbeda. Dia tidak tahu apa yang isi pikiran sahabatnya yang menyukai ayahnya sendiri!

Awal persahabatan mereka dimulai dari dulu semasa SMP.

Hari itu hujan turun tanpa permisi di halaman sebuah SMP, Mitha dengan seragam yang basah, berjongkok menangis di sisi gerbang. Ponselnya telah mati, di bawah hujan, dia menelpon beberapa kali orang rumah. Naas tidak ada yang mengangkat dan tidak ada yang menjemput pulang sampai ponselnya mati.

Di situlah Noemi Lunara muncul.

Rambutnya dikuncir asal, mendekati gadis itu, mengulurkan payung kecil berwarna biru dan berkata ringan, “Kamu kenapa? Tidak ada yang menjemputmu? Ayo masuk, biar sopirku yang antar.”

Mitha menelan ludah takut, tapi dia lebih takut lagi di tinggalkan di sini. “Aku, rumahku ada di jalan xxx.”

Noemi membukakan pintu untuknya, mereka mulai mengobrol di jalan menuju rumah Mitha, pak sopir segera mengantarkannya. “Tenang saja, aku akan mengantarmu.”

Awalnya takut, tapi sesampai di rumah, benar ini rumahnya. Mitha merasa aman dan bilang terima kasih, turun dari mobil yang sudah dijemput pria dewasa. “Kamu jangan turun … hujan, makasih ya.”

Noemi mengangguk, “Iya sama-sama, bye bye.” Melambaikan tangan dan menutup kaca mobil. Sekilas ia melihat pria dewasa yang menjemput teman barunya, merasa senang dan lega.

Semenjak itu, hujan selalu punya arti lain bagi Mitha.

Mereka tidak satu sekolah yang sama, setelah tahun itu berakhir, tidak pernah ketemu lagi. Kehidupan membawa mereka kembali ke jalurnya masing-masing.

Tiga tahun kemudian, di bawah langit yang cerah dan bendera negara yang berkibar anggun. Noemi berdiri di gerbang Aurora International High School. Sekolah itu terkenal bukan hanya karena fasilitasnya, tetapi karena para muridnya adalah anak-anak dari dunia yang berlapis. Diplomat, pebisnis, pewaris dan mereka yang dipersiapkan untuk memimpin sebelum dewasa.

Noemi menoleh, jantungnya berdegup ketika melihat sosok yang tidak asing, menghampiri dia dari turunan mobil hitam yang dikemudikan seorang pria, wajahnya tidak jelas. “Kamu?”

Mitha menoleh, melepas senyum ke pengemudi dan mengingat kembali tahun itu, raut wajahnya seketika berubah. Senyum kecilnya melebar hangat dan nyata, seolah jarak tiga tahun tak pernah ada. “Noemi kamu juga di sini?” menghampiri.

Mereka saling senyum tak menyangka dan Noemi memeluknya pergi bersamaan, mereka kini satu sekolah yang sama. Bahkan memutuskan duduk berdampingan di bangku yang sama hingga sampai kini, di kelas dua SMA.

Noemi tumbuh menjadi gadis ceria, manja dan manis, seperti namanya yang lembut dan bersinar. Dunia selalu ramah padanya, ia lahir dari sendok emas, terbiasa dengan gaun mahal, liburan ke luar negeri. Tawanya mudah, tangisannya jarang, dan hatinya terlalu polos untuk menyadari bahwa tidak semua orang hidup seberuntung dirinya.

Sedangkan Mitha, dia ketenangan yang berkelas, sama-sama dari keluarga berada, namun tahu arti menahan diri. Dia tidak banyak bicara, dan sedikit lebih dewasa. Setelah kejadian itu, dia belajar lebih keras untuk pencapaiannya. Menyimpan mimpi-mimpi besar dalam diam dan menjaga Noemi seperti menjaga sesuatu yang rapuh namun berharga.

Mereka dikenal sebagai dua sahabat yang tak terpisahkan. Noemi dengan cerita-cerita cerobohnya, Mitha dengan tatapan sabar yang mendengarkan semua ocehannya.

Mereka berada di ruang tamu sambil menonton dan buku pelajaran berserakan di depan TV. Noemi sibuk melihat ponsel dan jam di dinding yang seolah menunggu sesuatu. “Kamu sudah tanya Papamu pulang jam berapa?” Di keheningan, tiba-tiba Noemi bertanya.

Mitha menjawab sambil membalik buku pelajaran. “Tadi katanya jam delapan sih,” nadanya ringan, ini hal biasa.

Noemi terdiam sejenak.

Mendekati sahabatnya. “Emm, gimana pendapat Papamu boleh aku nginep kan? Bak tanya.” Melirik ponsel Mitha, ingin melihat lebih lagi, tidak mungkin ia chat duluan tanpa arah, itu konyol!

Mitha mendorong Noemi, menaruh ponsel, tapi kini terlalu dekat yang bergelantungan di pundak kirinya. “Suka lah, gak usah tanya lagi, papaku suka kalau ada teman yang menginap. Apalagi kamu, kan udah kenal lama dari tahun ini.”

Kalimat itu terdengar sederhana, terlau sederhana, hal lumrah kalau anak teman sebaya menginap, pasti orang tua senang.

Noemi tidak menanggapi, ia membenarkan posisi duduknya, tapi ada sesuatu dalam cara ia menghela napas. Sebuah jeda tipis yang nyaris tak terlihat, namun cukup untuk menyimpan makna.

Mitha tak menyadarinya.

Baginya, dunia masih ramah, sekolah adalah tempat aman. Persahabatan adalah hal yang tak akan berubah, dan orang-orang dewasa hanyalah latar belakang. Figur jauh yang tak akan pernah menyentuh ruang hatinya.

Dia belum tahu.

Bahwa suatu hari nanti, satu anak yang disebutnya dengan santai akan menjadi batas antara masa remaja dan kedewasaan.

Persahabatan yang lahir dari hujan dan payung biru itu, akan diuji oleh perasaan yang tak pernah mereka rencanakan.

Ketika Noemi asik melihat sosmed, bel pintu berdenting dan saat itu entah kenapa hatinya ikut berdenting. Tangan itu berhenti menscroll dan menunggu lantunan langkah kaki yang berdetak mendekat. Ia menoleh…*..*

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Menyukai Ayah Sahabatku   4 Menunggu Balasan

    Kakinya tanpa sengaja menabrak pot di sudut kiri. “Ahh, aduh.” Noemi jatuh di lantai, lututnya terbentur jalan, dia mengenakan piyama berwarna merah selutut. Kerahnya menutupi dada, tapi bagian bawah tidak menutup sempurna. “Aduuh, sialan apa sih bikin malu aja.” Mengusap kaki, duduk menekuk kedua lutut yang memerah. “Kenapa bisa jatuh? Cobak.” Pria ini berjongkok perlahan melihat lutut Noemi yang di pegang memar kemerahan. Ada suara kekhawatiran, segera menoleh, ‘Kaan, dia di sini?’ saking malunya menunduk. Tiba-tiba dua bola matanya membesar dan tundukan hilang, di saat tangan pria itu menyentuh lututnya yang menyapu debu dan kerikil kecil. “Sst,” desisan Noemi. “Ayo, bangun.” Noemi terdiam, tapi di hatinya begitu banyak ocehan yang tak menentu. ‘Bukankah ini hal romantis seperti di film? Dia pasti menggendongku,’ tanpa sadar mengangguk dan senyuman keluar, tapi satu sisi lagi hatinya berteriak. ‘Dasar tidak tahu malu, dia ayah sahabatmu.’ Lagi-lagi Noemi menggeleng yang me

  • Aku Menyukai Ayah Sahabatku   3 Saat Noemi Pertama Kali Merasa Aneh

    Tumpah ke meja, Noemi berhenti menuang dan segera melirik reaksi ayah sahabatnya. ‘Apa dia ilfil?’ memastikan. Pria dewasa itu yang sudah terbiasa mengurus hal-hal kecerobohan begini. Bangun sigap menghampiri sisi kanan Noemi. “Hati-hati,” nadanya pelan, tidak memarahi justru ada kekhawatiran. Mengambil tisu, mengelap dan menuang air untuk sahabat putrinya. Gerakannya begitu cekatan, seolah sudah terbiasa dia begini. “Pelan-pelan, minum ini,” menyodorkan, nada netral dewasa dan penuh jarak yang sopan. Jarak yang seharusnya cukup untuk membuat semuanya aman. Namun, berbeda bagi Noemi semua yang dia lakukan sungguh berbeda di matanya. “Makasih, Om.” “Mikirin apa sih?” selidik Mitha. Noemi menggeleng, mereka kembali duduk, sesekali Noemi mengintip ayah sahabatnya mengambilkan makan untuk dirinya. Kaki tersilang di bawah, dua tangan di pangku meski tak sadar jemarinya saling bertaut lebih erat dari biasanya. ‘Dia mengambilkanku makanan, perhatian sekali.’ Hal normal bagi Darius

  • Aku Menyukai Ayah Sahabatku   2 Tidak Boleh Pacaran!

    Pria tinggi dengan jas hitam yang lengkap, kacamata yang masih menempel di hidung tingginya. “Eh, ada Noemi, apa menunggu jemputan?” suaranya rendah dan stabil. Reflex merapikan rambut. “Iya, Om.” Tiba-tiba menjadi canggung, sedetik lagi meluruskan, “Egh nggak nunggu supir, aku mau nginap besok kan libur.” “Iya, Pah Emi mau nginep aku suka tau, jadi gak kosong lagi nih rumah, percuma besar.” Memeluk Noemi yang sudah tegak di sudut sofa yang duduk di depan bawah lantai di atas karpet bulu. Panggilan kesayangannya Emi atau Mi. Rumah Mitha selalu terasa berbeda bagi Noemi. Bukan karena kemewahannya, meski rumah ini besar, bersih dan tertata dengan rasa yang tenang, berbeda dengan rumahnya yang di penuhi pelayan. Bukan pula karena taman luas atau lampu gantung kristal di ruang tamu. Ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang membuat Noemi secara tak sadar melangkah lebih pelan setiap kali memasuki halaman rumah ini. Mungkin karena disanalah ia pertama kali belajar merasa gugup tanpa alas

  • Aku Menyukai Ayah Sahabatku   1 Persahabatan yang Lahir Dari Hujan dan Payung Biru

    Dunia memang memiliki ceritanya sendiri, pagi hari di Aurora International High School. Selalu dimulai dengan suara langkah sepatu yang teratur dan percakapan dalam berbagai bahasa. Inggris mendominasi di selingi Mandarin dan sesekali bahasa ibu yang lolos begitu saja dari bibir para murid. Noemi datang seperti biasa, terlambat 3 menit.Ia berlari kecil di lorong marmer, rambut pendeknya yang sebahu tergerai setengah terikat, di hiasi pita merah muda, dasi sekolahnya sedikit miring. Di tangannya ada segelas latte hangat dengan logo cafe mahal, yang jelas tidak dijual di sekitar sekolah.“Mitha!” panggilnya panik.Di depan ruang kelas 11 B, Mitha berdiri tenang sambil menutup buku catatannya. Tatapannya datar, seolah sudah menduga adegan ini akan terjadi. “Kamu lagi,” menjawab singkat.Noemi senyum manja. “Tadi papa lama banget rapat, aku nggak enak motong.”Mendengus kecil, “Itu alasan ketiga minggu ini,” jawab Mitha lalu membuka pintu kelas. “Masuk, Sebelum MR. Hamilton melirik ke a

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status