Share

Aku Pernah Menunggumu
Aku Pernah Menunggumu
Author: Mickey

Bab 1 

Author: Mickey
Setelah mobil berhenti di depan kediaman lama Keluarga Pangestu, Zaidan melepaskan sabuk pengamannya. "Tunggu lima menit. Aku masuk dulu untuk beri tahu ibuku."

Lima menit telah berlalu. Dia mengirim pesan kepadaku dan mengatakan "sebentar ya".

Sepuluh menit kemudian, dia mengatakan "sudah hampir selesai".

Empat puluh menit kemudian, dia mengatakan "tunggu sebentar lagi".

Aku tidak membalas lagi. Melalui jendela mobil, aku melihat Peggy, ibu Zaidan, secara pribadi menyambut seorang gadis bergaun tradisional di depan pintu. Begitu keluar dari mobil, gadis itu langsung menghampiri Zaidan dan merangkul lengannya. Dia tidak mendorong gadis itu menjauh.

Ketiganya masuk ke rumah sambil mengobrol gembira. Gerbang rumah tertutup di depanku.

Ponselku masih menyala. Pesan terakhir di layar masih menampilkan kata "tunggu sebentar lagi".

Dua puluh menit kemudian, kepala pelayan mengetuk jendela mobil.

"Kamu Kiara, 'kan? Nyonya Peggy suruh kamu masuk dan membantu. Dapur lagi kurang orang."

"Bagaimana Nyonya Peggy tahu tentang aku?"

"Tuan Zaidan yang beri tahu dia. Katanya, kamu juga cuma duduk menunggu di luar."

Aku mengikuti kepala pelayan ke dapur melalui pintu samping. Dia memberiku satu set peralatan makan dan menunjuk ke sebuah meja di sudut ruangan.

"Meja itu masih kurang satu set peralatan makan. Setelah taruh ini di sana, bantu bawa hidangan dari dapur."

Aku membawa satu set peralatan makan itu ke ruang perjamuan. Saat melewati sebuah cermin, aku melihat diriku yang mengenakan gaun dan berdiri di koridor remang-remang. Aku terlihat sangat tidak cocok dengan suasana di tempat ini.

Tawa memenuhi ruang perjamuan. Aku meletakkan peralatan makan itu di meja sudut, lalu mendongak.

Peggy sedang berdiri di samping meja utama sambil memegang tangan Zafira.

"Hari ini, aku sangat bahagia dan punya kabar baik untuk dibagikan. Pernikahan Zafira dan Zaidan sudah ditetapkan dan akan diadakan saat Festival Pertengahan Musim Gugur."

Semua orang di dalam ruangan bertepuk tangan. Bahkan ada yang bersorak dan menyuruh mereka berciuman.

Zafira berjinjit dan mencium pipi Zaidan. Zaidan hanya tersenyum dan tidak menghindar.

Aku berdiri di sudut ruangan, tetapi pria itu tidak pernah melirik ke arahku. Aku meletakkan peralatan makan itu, lalu keluar melalui pintu samping.

Ketika aku sampai di halaman, Peggy berjalan keluar. Dia berdiri di tangga dan mengamatiku dari atas ke bawah.

"Kamu Kiara? Zaidan pernah cerita soal kamu kepadaku. Katanya, kamu itu gadis yang bijaksana dan nggak akan buat keributan."

Peggy tersenyum, lalu berjalan mendekat dan menepuk-nepuk punggung tanganku. "Kamu juga sudah lihat apa yang terjadi hari ini. Zafira adalah menantu perempuan kami. Zaidan nggak tega kasih tahu kamu secara langsung, jadi aku yang wakili dia untuk melakukannya. Pergilah. Jangan pernah datang lagi."

Seusai berbicara, Peggy berbalik dan masuk ke rumah.

Saat aku tiba di gerbang, layar ponselku menyala.

[ Tunggu aku, aku akan mengurusnya. ]

Aku hanya membalas sepatah kata.

[ Selamat. ]

Kemudian, aku memesan taksi online dan meninggalkan rumah Zaidan.

Saat mobil berbelok keluar dari gang, aku melirik jendela lantai dua kediaman lama Keluarga Pangestu melalui kaca spion. Zafira berdiri di dekat jendela sambil memegang gelas anggur. Dia mengangkat gelas anggur itu ke arahku.

Kemudian, aku menerima kiriman foto dari nomor tak dikenal. Itu adalah foto Zaidan dan Zafira. Zafira bersandar di bahu Zaidan, sedangkan Zaidan tersenyum ke arah kamera. Di bawah foto itu, ada sebaris pesan.

[ Dia bilang kamu cuma seorang asisten. ]

Aku menatap foto itu lama sekali. Kemudian, aku meletakkan ponselku menghadap ke bawah di pangkuanku.

Tiba-tiba, aku teringat bagaimana sebelum meninggal, ibuku menggenggam tanganku sambil berkata, "Kiara, jangan cari pasangan yang buat kamu menunggu. Ayahmu juga buat aku menunggu sepuluh tahun. Pada akhirnya, dia pergi dengan wanita itu. Aku nggak mau kamu mengalami hal yang sama."

Saat itu, aku menggenggam tangannya dan mengiakannya. Sekarang, aku duduk di kursi belakang taksi, tetapi bahkan tidak tahu harus pergi ke mana.

Ketika sampai di rumah, aku membuka lemari. Di dalamnya tergantung gaun pertama yang Zaidan berikan kepadaku. Aku telah memakainya selama tiga tahun dan tidak tega membuangnya. Aku melipat gaun itu dan memasukkannya ke dalam kantong.

Kemudian, aku mengeluarkan sepasang anting mutiara dari laci. Anting itu dibelinya dengan bonus pertama yang diterimanya. Saat itu, dia mengatakan akan memberiku sebuah perhiasan setiap hari jadi kami. Sekarang, kami sudah bersama selama tiga tahun. Namun, anting itu masih adalah satu-satunya hadiah yang pernah kuterima.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Pernah Menunggumu   Bab 10

    Pada hari Harvey menemui Zaidan, hujan sedang turun."Zaidan, aku sudah bernegosiasi dengan Keluarga Cahyadi. Aku akhirnya berinvestasi di proyek kawasan tepi sungai itu. Aku juga sudah cairkan bagianmu dan transfer uangnya ke kartu ini." Harvey meletakkan sebuah kartu bank di atas meja. "Ini hal terakhir yang bisa kulakukan untukmu. Gimanapun, kita itu teman."Zaidan menatap kartu itu. "Zafira yang suruh kamu mencariku?""Nggak, aku sendiri yang mau mencarimu.""Makasih."Harvey berdiri dan berjalan pergi. Saat tiba di pintu, dia menoleh dan berujar, "Dia akan nikah pada Festival Perahu Naga bulan depan. Kalau kamu mau pergi, aku bisa kasih kamu alamatnya. Selain itu, ada sesuatu yang belum kuberi tahu kamu selama ini.""Selingkuhan ayahmu sebenarnya adalah ibunya Zafira. Jadi, sejak awal, pertunangan kalian bukanlah aliansi bisnis, melainkan utang dari generasi yang lebih tua."Seusai berbicara, Harvey pun pergi.Zaidan duduk sendirian di kantor. Hujan di luar menerpa jendela. Dia te

  • Aku Pernah Menunggumu   Bab 9

    Setelah Grup Pangestu mengalami krisis, Zaidan mulai mencari investor. Setiap hari, dia bertemu investor yang berbeda dan mengatakan hal yang sama. Kebanyakan orang menolak proposalnya.Ada orang yang berkata terus terang padanya, "Kamu bahkan nggak mampu pertahankan pertunanganmu. Mana bisa aku percaya padamu?"Ada yang diam-diam berdiskusi di belakang Zaidan bahwa Keluarga Pangestu telah menyinggung Keluarga Cahyadi. Siapa pun yang membantunya akan tertimpa kesialan.Setiap hari, Zaidan sibuk dari pagi sampai dini hari. Ketika dia kembali ke apartemen, ada lampu yang masih menyala. Itu adalah lampu yang kupilih. Dia berbaring di sofa dan menatap lampu itu.Terkadang, dia akan merenungkan apa yang sedang kulakukan, apakah aku makan dengan baik, apakah orang tersebut memperlakukanku dengan baik.Suatu hari, ayah Zaidan memanggilnya ke ruang kerja dan menyodorkan sebuah dokumen di depannya. "Tandatangani ini."Zaidan membaca isi dokumen itu. Itu adalah surat perjanjian pengalihan saham.

  • Aku Pernah Menunggumu   Bab 8

    Bisnis toko bungaku sudah makin baik. Theo juga selalu membantuku. Suatu malam, dia berdiri di bawah rumahku dan memberitahuku bahwa dia menyukaiku.Aku ragu cukup lama, tetapi bukan karena dia tidak cukup baik."Theo, ada sesuatu yang perlu kamu ketahui dulu. Masa laluku agak rumit. Aku pernah tunggu seseorang di ibu kota selama tiga tahun. Sampai nggak ada lagi yang bisa kutunggu, aku baru datang kemari.""Aku sudah tahu dari awal."Aku mendongak untuk menatap Theo. Dia pun tersenyum. "Yang kutanya bukan apa kamu bisa menerimaku, melainkan apa kamu bersedia biarkan aku temani kamu menjadikan tempat ini rumahmu?"Malam itu, aku menyetujuinya. Bukan karena aku merasa terharu, tetapi karena aku merasa sangat santai saat bersama Theo.Suatu pagi, ketika membuka pintu, aku melihat sebuket bunga lili di depan pintu. Tidak ada kartu atau nama pengirim pada bunga itu.Lili adalah bunga favoritku dan aku hanya pernah memberi tahu satu orang. Aku mengambil bunga itu, lalu melihatnya sekejap se

  • Aku Pernah Menunggumu   Bab 7

    Setelah kembali ke ibu kota, Zaidan mengajak Zafira bertemu."Aku mau akhiri pertunangan kita. Kamu boleh ajukan syarat apa pun."Zafira meletakkan gelasnya dan menatap Zaidan beberapa saat. "Kamu sudah ambil keputusan? Demi wanita itu?""Itu nggak ada hubungannya denganmu.""Oke, aku mau proyek kawasan tepi sungai yang kamu pegang.""Oke.""Dan vila di sebelah barat kota.""Oke.""Kamu bahkan nggak mau tawar-menawar denganku?""Aku akan berikan apa pun yang kamu inginkan. Tapi, aku punya satu syarat. Jangan pernah muncul di hadapannya lagi."Zafira tertawa terbahak-bahak. "Zaidan, dia nggak menginginkanmu lagi, tapi kamu masih melindunginya?""Itu nggak ada hubungannya denganmu."Seusai berbicara, Zaidan berdiri dan hendak pergi."Kamu kira dengan akhiri pertunangan kita, dia akan kembali? Sekarang, dia menghabiskan waktu bersama pemilik kafe itu setiap hari. Kamu kira kamu sedang berkorban demi dia? Dia sama sekali nggak tahu, juga nggak peduli."Zaidan terpaku di tempat, dengan pung

  • Aku Pernah Menunggumu   Bab 6

    Setengah tahun kemudian, aku membuka toko bunga di kota kecil itu. Di sebelah tokoku, berdiri sebuah kafe. Pemiliknya bernama Theo Lapardi.Sore itu, Zaidan menemukanku. Aku sedang berjongkok di depan pintu toko untuk memotong duri mawar. Tiba-tiba, sepasang sepatu kulit muncul dalam pandanganku. Aku pun mendongak. Dia sudah jauh lebih kurus. Berdiri di bawah sinar matahari, bayangannya terlihat sangat panjang."Mau beli bunga?""Aku datang untuk jemput kamu pulang."Aku menggeleng dan terus memotong duri mawar. "Aku nggak punya rumah lagi. Kalau kamu bukan mau beli bunga, tolong jangan halangi jalan.""Aku akan belikan kamu rumah baru."Aku meletakkan gunting tanaman, lalu berdiri dan menatapnya. "Zaidan, yang kuinginkan bukanlah rumah, melainkan seseorang yang nggak akan membuatku menunggu."Zaidan membuka mulutnya, tetapi tidak dapat berbicara."Kembalilah. Hidupku di sini sangat baik."Aku mengambil mawar yang durinya sudah dipotong dan masuk ke toko. Dia berdiri di luar dan menol

  • Aku Pernah Menunggumu   Bab 5 

    Zaidan pergi ke perusahaanku, tetapi resepsionis mengatakan aku sudah mengundurkan diri dari seminggu yang lalu. Dia bertanya kapan, dan resepsionis menjawab Rabu lalu. Resepsionis juga memberitahunya bahwa aku pergi terburu-buru, bahkan serah terima juga dilakukan secara online.Zaidan berdiri di lobi perusahaan dan mulai menelepon semua orang. Namun, tidak ada yang tahu di mana aku berada. Dia pergi mencari Mira, teman baikku. Mira membuka pintu, tetapi tidak mengizinkannya masuk."Buat apa kamu kemari?""Apa dia menghubungimu?""Ya, tapi aku nggak akan kasih tahu kamu.""Katakan di mana dia. Aku mau mencarinya."Tatapan Mira seketika berubah."Zaidan, kamu tahu gimana dia lewati tiga tahun terakhir? Setiap liburan, kamu bilang mau temani keluargamu, jadi dia melewatinya sendirian. Waktu ibunya meninggal, dia sendiri yang tandatangani semua dokumen, urus kremasinya, dan bawa guci abu itu ke pemakaman. Kapan kamu pernah ada di sisinya?"Zaidan membuka mulutnya, tetapi tidak ada suara

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status