Share

Bab 2

Author: Mickey
Tiga hari kemudian, Zaidan datang menemuiku dengan membawa pangsit kukus isi telur kepiting dari restoran favoritku. Dia meletakkan kantong itu di meja kopi dan duduk di hadapanku.

"Hari itu, ibuku ambil keputusan secara spontan. Aku nggak tahu dia akan mengumumkannya di depan umum," kata Zaidan.

"Tapi ibumu bilang, kamu nggak berani beri tahu aku, jadi dia yang wakili kamu melakukannya. Apa itu juga keputusan mendadak?" sahutku.

Dia pun terkejut. "Ibuku menemuimu?"

Aku mengangguk, lalu menatap langsung ke arahnya. "Dia suruh aku cari pasangan yang cocok denganku dan jangan membuang-buang waktu lagi denganmu. Jadi, berapa lama lagi kamu mau aku menunggu?"

Zaidan terdiam sejenak sebelum menjawab, "Beri aku sedikit waktu lagi."

"Berapa lama? Tiga tahun cukup nggak?"

Dia mendongak, lalu menatapku dengan mata memohon. "Keluarga kami punya kerja sama bisnis yang mendalam dengan keluarga Zafira. Aku nggak bisa langsung putuskan hubungan di antara kedua keluarga. Tunggu aku sedikit lebih lama lagi."

Pada akhirnya, aku tidak mengatakan apa-apa.

Keesokan harinya, Zaidan mengajakku ke sebuah jamuan malam, seolah-olah tidak ada yang terjadi. Dia mengatakan ada klien penting yang harus dijamunya. Bagaimanapun juga, itu adalah urusan pekerjaan. Aku tidak lagi mengungkit kejadian sebelumnya.

Ketika tiba di ruang privat, aku melihat Zafira duduk di sebelah Zaidan. Zaidan memperkenalkan aku kepada yang lain, "Ini Kiara, staf perencana konten di perusahaanku."

Selama makan, Zafira mengambilkan makanan dan menuangkan alkohol untuk Zaidan. Zaidan juga mengupas kulit udang untuknya. Gerakannya begitu alami, seolah-olah telah melakukannya berulang kali.

Seperti baru mengingat kehadiranku, Zaidan menoleh dan berujar, "Kiara, tolong catat poin-poin penting hari ini untukku. Setelah kembali, kirimkan catatan itu ke semua departemen terkait."

Aku mengeluarkan ponselku dan membuka aplikasi memo.

Zafira berkata pelan kepada Zaidan, "Bu Kiara benar-benar profesional. Dia bahkan nggak lupa sama pekerjaannya saat makan."

Zaidan tersenyum dan menyahut, "Dia memang sangat serius dengan pekerjaannya."

Sepanjang makan, Zaidan tidak pernah menyebutkan bahwa aku adalah pacarnya.

Setelah makan, Zafira berdiri. Zaidan membantunya mengenakan mantel, lalu menoleh ke arahku. "Kiara, kamu pergi ambil mobil dulu. Aku akan antar Zafira ke pintu masuk."

Aku pergi mengambil mobil, lalu memarkirnya di depan pintu masuk. Zaidan dan Zafira berdiri di tangga sambil mengobrol. Zafira menarik-narik lengan bajunya dan tersenyum sangat manis.

Seseorang yang lewat berkomentar, "Pak Zaidan dan Bu Zafira benar-benar saling mencintai."

Zaidan hanya membalasnya dengan senyuman.

Setelah mengantar kepergian Zafira, Zaidan baru masuk ke mobil. Namun, aku hanya memegang kemudi tanpa menyalakan mesin mobil.

"Kenapa tadi kamu nggak kenalin aku sebagai pacarmu?"

"Waktu hari ini nggak tepat. Zafira juga hadir."

"Jadi, aku harus berperan sebagai sekretarismu lagi."

"Hanya sementara."

Aku menoleh ke arahnya. "Zaidan, aku sudah berada di sisimu selama tiga tahun. Dari pacar jadi pembantu, dari pembantu jadi sekretaris. Apa lagi peranku selanjutnya?"

Zaidan mengerutkan kening, tetapi tidak menjawab. Kami tidak berbicara lagi sepanjang perjalanan.

Setelah tiba di ke gedung apartemen Zaidan, dia meraih tanganku sebelum keluar dari mobil. "Kiara, kamu harus tahu bahwa kamulah satu-satunya yang kucintai. Dia paling-paling cuma punya status."

Aku menyuruhnya turun, lalu melaju pergi. Melalui kaca spion, aku melihatnya berdiri di pintu masuk gedung. Dia tidak mengejarku.

Tiba-tiba, aku teringat musim dingin saat kami baru mulai berpacaran. Zaidan yang sedang demam menunggu di bawah asramaku sambil memegang secangkir teh susu panas. Saat itu, dia tidak akan pernah membuatku menunggu selama satu jam, tidak akan membiarkanku menggunakan pintu samping, apalagi membuatku berperan hanya sebagai rekan kerjanya di jamuan makan.

Kapan semuanya mulai berubah? Aku bahkan tidak ingat lagi.

Akhir pekan itu, aku pergi berbelanja sendirian dan melihat Zaidan sedang bersama Zafira di sebuah restoran di lantai empat mal. Hidangan set untuk pasangan terletak di depan mereka. Zafira menyendok sesuap hidangan penutup dan menyodorkannya ke mulut Zaidan. Pria itu memakannya, lalu tersenyum sambil menyeka sudut mulut Zafira dengan tisu.

Aku berdiri di belakang pagar dan mengingat bagaimana pada minggu lalu, dia mengatakan bahwa dia harus lembur akhir pekan ini. Ternyata, ini arti lembur yang dia maksud.

Aku tidak menghampiri mereka, melainkan berbalik dan turun melalui eskalator. Saat eskalator turun, hatiku ikut tenggelam. Ternyata, dia bukan tidak bisa menunjukkan perhatian kepada seseorang di depan umum. Hanya saja, orang itu bukan aku.

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Pernah Menunggumu   Bab 10

    Pada hari Harvey menemui Zaidan, hujan sedang turun."Zaidan, aku sudah bernegosiasi dengan Keluarga Cahyadi. Aku akhirnya berinvestasi di proyek kawasan tepi sungai itu. Aku juga sudah cairkan bagianmu dan transfer uangnya ke kartu ini." Harvey meletakkan sebuah kartu bank di atas meja. "Ini hal terakhir yang bisa kulakukan untukmu. Gimanapun, kita itu teman."Zaidan menatap kartu itu. "Zafira yang suruh kamu mencariku?""Nggak, aku sendiri yang mau mencarimu.""Makasih."Harvey berdiri dan berjalan pergi. Saat tiba di pintu, dia menoleh dan berujar, "Dia akan nikah pada Festival Perahu Naga bulan depan. Kalau kamu mau pergi, aku bisa kasih kamu alamatnya. Selain itu, ada sesuatu yang belum kuberi tahu kamu selama ini.""Selingkuhan ayahmu sebenarnya adalah ibunya Zafira. Jadi, sejak awal, pertunangan kalian bukanlah aliansi bisnis, melainkan utang dari generasi yang lebih tua."Seusai berbicara, Harvey pun pergi.Zaidan duduk sendirian di kantor. Hujan di luar menerpa jendela. Dia te

  • Aku Pernah Menunggumu   Bab 9

    Setelah Grup Pangestu mengalami krisis, Zaidan mulai mencari investor. Setiap hari, dia bertemu investor yang berbeda dan mengatakan hal yang sama. Kebanyakan orang menolak proposalnya.Ada orang yang berkata terus terang padanya, "Kamu bahkan nggak mampu pertahankan pertunanganmu. Mana bisa aku percaya padamu?"Ada yang diam-diam berdiskusi di belakang Zaidan bahwa Keluarga Pangestu telah menyinggung Keluarga Cahyadi. Siapa pun yang membantunya akan tertimpa kesialan.Setiap hari, Zaidan sibuk dari pagi sampai dini hari. Ketika dia kembali ke apartemen, ada lampu yang masih menyala. Itu adalah lampu yang kupilih. Dia berbaring di sofa dan menatap lampu itu.Terkadang, dia akan merenungkan apa yang sedang kulakukan, apakah aku makan dengan baik, apakah orang tersebut memperlakukanku dengan baik.Suatu hari, ayah Zaidan memanggilnya ke ruang kerja dan menyodorkan sebuah dokumen di depannya. "Tandatangani ini."Zaidan membaca isi dokumen itu. Itu adalah surat perjanjian pengalihan saham.

  • Aku Pernah Menunggumu   Bab 8

    Bisnis toko bungaku sudah makin baik. Theo juga selalu membantuku. Suatu malam, dia berdiri di bawah rumahku dan memberitahuku bahwa dia menyukaiku.Aku ragu cukup lama, tetapi bukan karena dia tidak cukup baik."Theo, ada sesuatu yang perlu kamu ketahui dulu. Masa laluku agak rumit. Aku pernah tunggu seseorang di ibu kota selama tiga tahun. Sampai nggak ada lagi yang bisa kutunggu, aku baru datang kemari.""Aku sudah tahu dari awal."Aku mendongak untuk menatap Theo. Dia pun tersenyum. "Yang kutanya bukan apa kamu bisa menerimaku, melainkan apa kamu bersedia biarkan aku temani kamu menjadikan tempat ini rumahmu?"Malam itu, aku menyetujuinya. Bukan karena aku merasa terharu, tetapi karena aku merasa sangat santai saat bersama Theo.Suatu pagi, ketika membuka pintu, aku melihat sebuket bunga lili di depan pintu. Tidak ada kartu atau nama pengirim pada bunga itu.Lili adalah bunga favoritku dan aku hanya pernah memberi tahu satu orang. Aku mengambil bunga itu, lalu melihatnya sekejap se

  • Aku Pernah Menunggumu   Bab 7

    Setelah kembali ke ibu kota, Zaidan mengajak Zafira bertemu."Aku mau akhiri pertunangan kita. Kamu boleh ajukan syarat apa pun."Zafira meletakkan gelasnya dan menatap Zaidan beberapa saat. "Kamu sudah ambil keputusan? Demi wanita itu?""Itu nggak ada hubungannya denganmu.""Oke, aku mau proyek kawasan tepi sungai yang kamu pegang.""Oke.""Dan vila di sebelah barat kota.""Oke.""Kamu bahkan nggak mau tawar-menawar denganku?""Aku akan berikan apa pun yang kamu inginkan. Tapi, aku punya satu syarat. Jangan pernah muncul di hadapannya lagi."Zafira tertawa terbahak-bahak. "Zaidan, dia nggak menginginkanmu lagi, tapi kamu masih melindunginya?""Itu nggak ada hubungannya denganmu."Seusai berbicara, Zaidan berdiri dan hendak pergi."Kamu kira dengan akhiri pertunangan kita, dia akan kembali? Sekarang, dia menghabiskan waktu bersama pemilik kafe itu setiap hari. Kamu kira kamu sedang berkorban demi dia? Dia sama sekali nggak tahu, juga nggak peduli."Zaidan terpaku di tempat, dengan pung

  • Aku Pernah Menunggumu   Bab 6

    Setengah tahun kemudian, aku membuka toko bunga di kota kecil itu. Di sebelah tokoku, berdiri sebuah kafe. Pemiliknya bernama Theo Lapardi.Sore itu, Zaidan menemukanku. Aku sedang berjongkok di depan pintu toko untuk memotong duri mawar. Tiba-tiba, sepasang sepatu kulit muncul dalam pandanganku. Aku pun mendongak. Dia sudah jauh lebih kurus. Berdiri di bawah sinar matahari, bayangannya terlihat sangat panjang."Mau beli bunga?""Aku datang untuk jemput kamu pulang."Aku menggeleng dan terus memotong duri mawar. "Aku nggak punya rumah lagi. Kalau kamu bukan mau beli bunga, tolong jangan halangi jalan.""Aku akan belikan kamu rumah baru."Aku meletakkan gunting tanaman, lalu berdiri dan menatapnya. "Zaidan, yang kuinginkan bukanlah rumah, melainkan seseorang yang nggak akan membuatku menunggu."Zaidan membuka mulutnya, tetapi tidak dapat berbicara."Kembalilah. Hidupku di sini sangat baik."Aku mengambil mawar yang durinya sudah dipotong dan masuk ke toko. Dia berdiri di luar dan menol

  • Aku Pernah Menunggumu   Bab 5 

    Zaidan pergi ke perusahaanku, tetapi resepsionis mengatakan aku sudah mengundurkan diri dari seminggu yang lalu. Dia bertanya kapan, dan resepsionis menjawab Rabu lalu. Resepsionis juga memberitahunya bahwa aku pergi terburu-buru, bahkan serah terima juga dilakukan secara online.Zaidan berdiri di lobi perusahaan dan mulai menelepon semua orang. Namun, tidak ada yang tahu di mana aku berada. Dia pergi mencari Mira, teman baikku. Mira membuka pintu, tetapi tidak mengizinkannya masuk."Buat apa kamu kemari?""Apa dia menghubungimu?""Ya, tapi aku nggak akan kasih tahu kamu.""Katakan di mana dia. Aku mau mencarinya."Tatapan Mira seketika berubah."Zaidan, kamu tahu gimana dia lewati tiga tahun terakhir? Setiap liburan, kamu bilang mau temani keluargamu, jadi dia melewatinya sendirian. Waktu ibunya meninggal, dia sendiri yang tandatangani semua dokumen, urus kremasinya, dan bawa guci abu itu ke pemakaman. Kapan kamu pernah ada di sisinya?"Zaidan membuka mulutnya, tetapi tidak ada suara

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status