Share

Bab 8

Author: TND
last update Last Updated: 2025-11-03 10:18:08

Rio tersenyum sombong. Ia melayangkan tendangan begitu kuat, membuat angin berdesir di sampingku. Aku menangkisnya, dan aku merasakan tenaganya. Rasanya seperti ada palu yang menghantam tanganku.

"Cuma itu yang kau punya?" katanya, suaranya dipenuhi nada mengejek. "Kau tidak sekuat yang kuduga."

Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya, mencari kelemahan. Aku tahu, ia tidak akan membiarkanku menang. Aku tahu, ia akan melakukan apa pun untuk mengalahkanku.

Aku tidak akan menyerah. Aku akan terus bertahan, dan aku akan mencari celah. Aku tahu, ada titik lemah di setiap manusia. Aku hanya harus menemukannya. Aku akan mengalahkannya, bukan dengan kekuatan, tapi dengan kecerdasan.

Aku melihat celah saat Rio melayangkan tendangannya. Aku melayangkan pukulan ke arah wajahnya, tapi dia terlalu cepat. Ia menghindari pukulanku, lalu melompat, melayangkan tendangan dwichagi yang keras ke arah perutku.

Aku tidak bisa menahannya. Tendangan itu terasa seperti ada palu yang menghantam tubuhku. Aku terhuyung, terjatuh, dan terbatuk-batuk. Rasanya sangat sakit. Aku tidak bisa bernapas.

Rio menatapku, matanya penuh dengan kemenangan. "Sudah kubilang," katanya, suaranya dipenuhi nada mengejek. "Kau tidak bisa mengalahkanku."

Aku hanya bisa terbaring di tanah, menahan rasa sakit. Aku tahu, dia benar. Dia terlalu kuat. Semua latihanku, semua strategiku, tidak ada gunanya.

Aku merasa hancur. Aku tidak bisa mengalahkannya. Aku terlalu lemah. Aku hanyalah seorang pecundang. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sekarang. Aku tidak tahu apakah aku bisa bertahan.

Rio menatapku, membusungkan dadanya. "Aku harus akui, kau punya nyali," katanya, suaranya dipenuhi nada mengejek. "Kau berani melawanku, dan itu patut dipuji."

Aku hanya bisa terbaring di sana, menahan rasa sakit. Pujiannya terasa seperti penghinaan. Aku tahu, dia tidak sungguh-sungguh memujiku. Dia hanya ingin mengejekku.

"Tapi kau lemah," lanjutnya, lalu tersenyum sinis. "Kau pikir kau bisa mengalahkanku? Kau salah. Kau tidak punya kekuatan, kau tidak punya teknik. Kau tidak punya apa-apa."

Rio terus berbicara, menyombongkan diri tentang betapa hebatnya dirinya, betapa kuatnya dirinya, dan betapa lemahnya aku. Aku hanya bisa menutup mataku, mencoba untuk tidak mendengar kata-katanya. Kata-katanya lebih menyakitkan daripada pukulan-pukulannya.

Aku tahu, aku kalah. Aku telah gagal. Aku telah gagal untuk membalas dendam. Aku telah gagal untuk melindungi diriku sendiri.

Aku memaksakan diri untuk bangkit, tubuhku bergetar menahan sakit. Aku menatap Rio, bukan dengan kebencian, melainkan dengan kekaguman. Dia tidak hanya kuat, tapi juga sangat terampil.

"Kau hebat," kataku, suaraku serak. "Aku akui, kau jauh lebih kuat dari siapa pun yang pernah kulawan."

Rio terkejut. Senyum arogannya sedikit memudar, digantikan oleh kerutan bingung di dahinya. "Oh? Jadi kau menyerah?"

Aku menggelengkan kepala. "Tidak. Aku punya tawaran." Aku menatapnya lurus di mata. "Jika aku bisa mengalahkanmu... maukah kau bergabung denganku?"

Dia tertawa, tawa yang mengejek dan penuh penghinaan. "Bergabung denganmu? Kau pasti sudah gila! Apa yang bisa kau tawarkan, anak lemah?"

"Bukan apa yang kutawarkan," kataku. "Tapi apa yang bisa kita capai bersama. Kau punya kekuatan, tapi aku punya sesuatu yang lebih dari itu."

Rio terdiam sejenak, menatapku dengan tatapan aneh. Lalu, dia tersenyum lagi. "Baik. Tawaran yang menarik. Tapi jika kau kalah, kau harus bersujud di hadapanku dan mengakui bahwa aku adalah yang terkuat."

"Setuju," kataku, lalu mengulurkan tanganku.

Rio menjabat tanganku, senyum sinisnya kembali. Aku tahu, ini adalah awal dari pertarungan yang sesungguhnya.

Aku berjalan pulang, setiap langkah terasa seperti tusukan pisau. Tubuhku dipenuhi lebam, dan rasa sakit dari tendangan dwichagi Rio masih terasa. Aku tahu, aku tidak bisa mengalahkannya dengan kekuatan. Aku harus mengalahkannya dengan kecerdasan.

Aku masuk ke dalam kos, lalu segera membersihkan luka-lukaku. Aku tidak peduli dengan rasa sakit. Aku hanya memikirkan satu hal "Rio."

Aku tahu, ini bukanlah akhir. Ini adalah awal dari pertarungan yang sesungguhnya.

Aku kembali ke beranda kanal Paman Ayam, dan di antara video-video pendek tentang paman ayam, ada sebuah video lama, yang tidak banyak ditonton, berjudul "Rahasia Mengalahkan Bakat Alami."

Aku merasa lega. Ternyata Paman Ayam tidak membohongiku.

Video itu tidak menunjukkan pukulan atau tendangan. Paman Ayam hanya duduk, dan menjelaskan bahwa bakat alami  tidak bisa dikalahkan dengan kekuatan. Bakat alami sudah ada di dalam darah mereka. Untuk mengalahkan mereka, aku harus menggunakan kecerdasanku.

"Bakat mereka adalah titik lemah mereka," kata Paman Ayam. "Mereka akan mengandalkan bakat mereka. Mereka tidak akan pernah berpikir tentang hal lain. Kau harus memancing mereka. Buat mereka lengah, dan kau akan menang."

Aku tahu, ini adalah kuncinya. Aku harus menggunakan otakku untuk mengalahkan Rio. Aku tidak akan mengandalkan otot. Aku akan mengandalkan strategi.

Aku tidak membuang waktu. Aku tahu, jika aku ingin mengalahkan Rio, aku harus menggunakan strateginya sendiri. Aku mengambil ranselku, mengisinya dengan beberapa buku tebal, lalu menggantungkannya di punggungku. Aku mencari palang di kusen pintu, lalu mulai melakukan pull-up.

Setiap tarikan terasa berat. Otot-otot di punggung dan lenganku terasa seperti ditarik paksa. Rasanya sangat sakit. Tapi aku tidak peduli. Aku hanya memikirkan satu hal: Rio.

Aku membayangkan bagaimana ia akan terkejut ketika aku bisa mengalahkannya. Aku membayangkan bagaimana ia akan merasa kalah.

Aku terus melakukan pull-up, satu per satu, sampai tanganku gemetar dan pundakku terasa sakit. Tapi aku tidak menyerah. Aku tidak akan membiarkan Rio menginjakku lagi.

Satu minggu berlalu. Setiap hari, dari pagi hingga malam, aku melakukan pull-up dengan beban. Tanganku melepuh, dan otot-otot di punggung serta lenganku terasa sakit. Namun, aku tidak peduli. Aku hanya punya satu tujuan: mengalahkan Rio.

Aku menatap diriku di cermin. Tubuhku terasa lebih kokoh, dan tanganku menjadi jauh lebih kuat. Aku tahu, aku telah berubah. Aku tidak lagi merasa takut. Aku hanya merasakan tekad yang membara.

Aku tidak akan membiarkan Rio menginjakku. Aku akan membuktikan kepadanya bahwa tekad jauh lebih kuat daripada bakat. Aku akan kembali, dan dia akan melihat betapa bodohnya ia telah meremehkanku.

Aku berjalan menuju rumah Rio. Langkahku mantap, tidak lagi dipenuhi keraguan. Aku tahu apa yang harus kulakukan, dan aku akan melakukannya. Aku membunyikan bel, dan Rio keluar. Senyum sombongnya langsung terlihat begitu ia melihatku.

"Wah, si pecundang sudah kembali," katanya, suaranya dipenuhi nada mengejek. "Kau mau dihajar lagi?"

Rio tertawa, tawa yang mengejek. "Kau yakin? Kau tidak akan bisa mengalahkanku."

"Aku tidak datang untuk bertarung," kataku. "Aku datang untuk mengalahkanmu."

Rio terkejut, senyumnya menghilang. Aku tahu, ia tidak mengerti. Ia tidak tahu bahwa aku telah berubah. Ia tidak tahu bahwa aku tidak lagi anak laki-laki yang lemah.

Saat Rio dan aku saling berhadapan, siap untuk bertarung, sebuah suara berat menginterupsi kami. "Hentikan!"

Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Pria Culun Yang Menyimpan Seluruh Dendam    Bab 20

    Bugh! Brak!Aku jatuh ke lantai. Kepalaku terasa berdenging, tubuhku lemas. Aku mencoba bangkit, tetapi tenagaku terkuras habis. Latihan yang kupelajari tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pelatihan bertahun-tahun yang diterima Nico dari Golden Circle.Aku terkapar, kelelahan. Di sampingku, Rio dan Bagus juga terengah-engah, tidak berdaya. Kami bertiga kini hanya bisa melihat Nico.Nico berdiri di atasku. Dia tidak terlihat lelah sama sekali. Dia merapikan kerah kemejanya yang sedikit berantakan karena pukulan kejutan tadi. Itu adalah satu-satunya tanda bahwa aku berhasil memberinya perlawanan."Sudah selesai," kata Nico, suaranya kembali datar dan dominan. "Kalian membuktikan bahwa kalian punya keberanian, tapi bukan kecerdasan bertarung."Dia melirik ke pemantik yang masih ada di tangannya."Kalian membuatku membuang waktu. Sekarang, kalian akan membayar harganya."Tepat ketika Nico berjalan ke arah pintu dan meng

  • Aku Pria Culun Yang Menyimpan Seluruh Dendam    Bab 19

    Rio, dengan naluri bertarung yang kuat, memahami maksudku. Dia menyeret kursinya dan menggunakan tenaganya untuk menggesekkan tali yang mengikat pergelangan tangannya ke tepi kursi logam Bagus yang tajam. Bagus, dengan kecerdasannya, segera meniru gerakan itu.Aku merasakan tali di pergelangan tanganku mulai melonggar dan menipis. Bau bensin membuat pernapasan terasa berat, menambah tekanan pada upaya melarikan diri ini.Srett!Tali di pergelangan tangan Rio putus lebih dulu."Kita tidak lari keluar!" teriakku, sambil berdiri tegak. "Kita cari Nico! Dia yang tahu di mana kita!"Rio dan Bagus mengangguk. Mereka tahu ancaman di luar sana lebih besar daripada ancaman di ruangan ini. Rio segera mengambil pisau lipatnya dan menghampiri dua penjaga yang mencoba bangkit, Bagus mengambil kesempatan itu dan berlari ke pintu."Ikuti aku!" seru Bagus, yang sudah menganalisis tata letak ruangan itu. "Toilet adalah jebakan! Kita harus naik!"

  • Aku Pria Culun Yang Menyimpan Seluruh Dendam    Bab 18

    Sekarang, hanya aku yang tersisa. Sosok ketiga bergerak mendekatiku. Aku tahu melawan secara fisik adalah hal yang bodoh. Aku mencoba melarikan diri, tapi koridor itu terasa seperti perangkap. Tangan bersarung tangan meraih lenganku, dan aku merasakan sensasi menusuk yang tajam. Dunia mulai berputar, suara-suara menjadi kabur.Hal terakhir yang kulihat sebelum kegelapan merenggutku adalah wajah dingin salah satu penculik. Mereka membawa kami pergi, satu per satu, tanpa meninggalkan jejak.Aku membuka mata. Kepalaku pusing dan badanku terasa kaku. Cahaya samar dari sebuah lampu tunggal di langit-langit menyambutku. Kami berada di sebuah ruangan beton kosong yang dingin. Rio dan Bagus sudah ada di sana, terikat di kursi logam yang berbeda, tampak sama bingungnya denganku.Tepat di depan kami, duduk dengan tenang di atas meja kayu, adalah Nico. Dia tidak memakai seragam sekolah. Dia mengenakan kemeja gelap yang rapi. Di tangannya, dia memegang selembar kertas

  • Aku Pria Culun Yang Menyimpan Seluruh Dendam    Bab 17

    "Tepat," balasku, lalu menoleh ke Bagus. "Aku butuh analisismu, Bagus. Kau yang paling ahli dalam strategi. Saat kau lihat Nico menyerang Rio, apa yang kau pelajari?"Bagus mengangguk. "Serangannya cepat, brutal, dan efisien. Tapi ada yang lebih penting: Dia tidak bertarung untuk melukai, dia bertarung untuk membaca. Dia mengukur kekuatan dan kelemahan Rio hanya dengan satu pukulan. Dia tahu di mana kelemahan emosional Rio, dan dia mengeksploitasinya. Dia adalah petarung yang menggunakan otaknya sebagai senjata utamanya.""Maka kita harus menyerang kelemahannya yang sesungguhnya," kataku, memandang mereka berdua. "Bagus, strateginya kuserahkan padamu. Kita tidak bisa menghadapinya sendirian. Kita harus menyerang Golden Circle, orang-orang di balik Nico, dan merusak image sempurna yang dia bangun."Bagus menyipitkan mata. "Serangan pada reputasi? Itu bisa jadi bumerang.""Kita harus ambil risiko," ujarku dingin. "Kita punya Rio sebagai kekuatan fis

  • Aku Pria Culun Yang Menyimpan Seluruh Dendam    Bab 16

    Aku tahu, aku tidak bisa membiarkan Rio dan Bagus terus beradu ego di depan Nico. Setiap detik kami berdiri di sana, Nico mendapatkan lebih banyak informasi tentang kelemahan kami. Rio sudah terdiam, malu dan marah, setelah dihantam kata-kata Nico. Bagus hanya menatapku, menunggu. Fira, di sampingku, terlihat tegang tapi juga penasaran.Aku melangkah maju, menempatkan diriku di antara Rio dan Nico. Aku menatap Nico, matanya yang dingin dan datar."Kami tidak mau apa-apa," kataku, suaraku diatur agar terdengar tenang, menyembunyikan kekesalan yang mendidih. "Kami hanya lewat. Tapi sekarang, karena kau sudah repot-repot menyambut kami... sebaiknya kami pergi."Nico tidak bereaksi. Dia hanya menatapku.Aku berbalik, Aku bilang pada Rio dan Bagus. "Kita pulang," kataku tegas. "Sekarang."Rio protes pelan, tapi Bagus menatapku sekilas dengan ekspresi yang sulit diartikan—mungkin sedikit rasa hormat karena aku mengambil alih. Kami berempat berj

  • Aku Pria Culun Yang Menyimpan Seluruh Dendam    Bab 16

    Aku berjalan, tapi pikiranku masih dipenuhi dengan Nico. Dia tidak seperti yang terlihat. Dia adalah seorang manipulator ulung. Dia adalah seorang pejuang yang berbahaya. Dan dia memiliki hubungan dengan organisasi rahasia.Siapa dia? gumamku dalam hati. Apa yang dia sembunyikan?Aku berjalan menuju toilet, pikiranku masih dipenuhi dengan Nico dan misterinya. Aku tahu, ini adalah pertarungan yang sesungguhnya. Aku tidak bisa mengalahkannya dengan kekuatan. Aku harus mengalahkannya dengan kecerdasan. Aku harus membuat rencana yang jauh lebih matang.Tiba-tiba, pintu toilet terbuka. Nico keluar dari sana. Ia tidak terlihat terkejut atau takut. Ia hanya menatapku, matanya datar, lalu berjalan melewatiku.Aku terdiam, tidak bisa berkata-kata. Pikiranku kacau. Ia tidak melihatku? Ia tidak tahu aku ada di sini? Atau ia hanya berpura-pura tidak melihatku? Aku tidak tahu. Aku hanya tahu, ia adalah sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih berbahaya.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status