로그인Aku berjalan menuju kelasku, melewati koridor yang terasa berbeda. Seluruh siswa menatapku, bisikan-bisikan terdengar di mana-mana. Aku tahu, mereka pasti telah melihat pertarunganku dengan Bima. Beberapa dari mereka menatapku dengan mata penuh kekaguman.
Ketika aku sampai di depan pintu kelasku, seorang siswa laki-laki menghampiriku. "Terima kasih," katanya. Aku terkejut. "Bima sering mengganggu kami juga, tapi kami tidak bisa melakukan apa pun. Kau berani melawannya. Kau hebat." Siswa-siswa lain juga menghampiriku, mengucapkan terima kasih dan menepuk pundakku. Aku tidak pernah membayangkan ini akan terjadi. Aku yang dulunya diabaikan, kini menjadi pusat perhatian. Aku tidak pernah merasa sebahagia ini. Aku berjalan melewati kerumunan siswa yang memujiku. Aku mendengar pujian mereka, tapi ekspresiku tetap datar. Aku tidak butuh pujian. Aku hanya ingin membalas dendam. Aku duduk di bangku, mengambil buku dan alat tulisku. Aku tidak mempedulikan pandangan mereka. Aku hanya ingin belajar. Aku tidak akan membiarkan emosiku menggangguku. Aku tahu, mereka tidak tahu apa yang kurasakan. Mereka tidak tahu betapa menderitanya aku. Mereka tidak tahu betapa sulitnya aku berjuang. Aku hanya ingin kembali ke diriku yang dulu. Aku hanya ingin menjadi anak laki-laki biasa yang tidak perlu takut lagi. Bel istirahat berbunyi, dan aku memutuskan untuk pergi ke kantin. Perutku terasa lapar setelah pelajaran yang panjang. Namun, ketika aku sampai di sana, aku melihat kerumunan siswa. Aku mendekat, dan melihat seorang siswa tinggi sedang dibully oleh tiga siswa lainnya. Hatiku terasa berdebar. Aku ingin membantu, tapi aku ragu. Aku tahu apa yang akan terjadi jika aku melangkah maju. Tapi, sebelum aku sempat melakukan apa-apa, siswa tinggi itu menghajar mereka. Ia memukul, menendang, dan menjatuhkan mereka. Ketiga pembully itu lari ketakutan. Aku terkejut. Aku tidak menyangka bahwa ia akan sekuat itu. Dia tidak hanya mengalahkan mereka, tapi ia juga menghancurkan mereka. "Kau punya 10 ribu?" tanya dirinya, tatapannya dingin dan mengintimidasi. Aku terkejut. Pertanyaan itu terasa janggal dan sombong. Belum sempat aku menjawab, dia melayangkan tendangan ke arahku. Aku menahan tendangannya, berkat latihan intensifku. "Apa yang kau lakukan?" kataku, suaraku serak. "Namaku Rio," katanya, senyum sinisnya membuatku merinding. "Ini adalah caraku berkenalan. Kau tidak sekuat yang kuduga." Aku tahu, ini adalah ujian. Bukan tentang uang, tapi tentang kekuatan. Aku tidak akan membiarkan dia menginjakku. Rio menghentikan tendangannya, menarik kakinya kembali. Dia menatapku, matanya dipenuhi rasa jijik dan penghinaan. "Pergilah.." katanya, suaranya dipenuhi nada mengejek. "Bocah miskin." Dia berbalik, lalu pergi begitu saja, meninggalkan aku di sana, dengan rasa sakit dan amarah yang membara. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku sudah mengalahkan mereka, tapi aku tidak bisa mengalahkan dia. Aku duduk di bangku, rasa sakit di tanganku masih terasa, tapi pikiranku dipenuhi oleh tendangan Rio. Itu bukan sekadar kekuatan, itu adalah presisi dan keahlian. Dia tidak hanya ingin menyakitiku, dia ingin menunjukkan padaku bahwa ada tingkat kekuatan yang jauh di atas apa yang kukenal. Aku merasa kesal, tapi di balik kekesalan itu, ada kekaguman yang aneh. Aku menyadari bahwa semua yang kupelajari dari Paman Ayam, semua pukulan dan strategiku, hanyalah dasar. Rio adalah level yang berbeda. Dia adalah tantangan baru, dan aku harus menghadapinya. Aku tahu, aku harus belajar darinya. Aku tidak bisa membuang-buang waktu. Aku tahu, jika aku ingin mengalahkan Rio, aku harus mengenalnya lebih baik. Aku menunggu hingga jam pulang sekolah, lalu menyelinap ke ruang guru. Aku menemukan berkas siswa, dan mencari nama Rio. Jantungku berdebar kencang saat aku membuka berkasnya. Aku membaca namanya: Rio Sanjaya. Lalu, aku melihat nama orang tuanya: Bapak Sanjaya, Master Taekwondo. Aku terkejut. Aku tidak menyangka bahwa Rio adalah anak seorang master Taekwondo. Kini, aku tahu mengapa tendangannya begitu kuat dan presisi. Bel pulang berbunyi, dan aku tidak membuang waktu. Aku mencari Rio, dan menemukannya di gerbang sekolah, sedang mengobrol dengan beberapa temannya. Aku berjalan menghampirinya, tidak lagi dengan rasa takut, tapi dengan tekad yang membara. "Rio," panggilku. Ia menoleh, matanya dipenuhi nada mengejek. "Kau mau dihajar lagi?" Aku tidak menjawab. Aku menatapnya. "Aku ingin berduel." Rio dan teman-temannya tertawa. "Kau yakin?" katanya, menunjuk ke arahku. "Kau pikir kau bisa mengalahkanku?" "Aku tahu kau anak seorang master Taekwondo," kataku, suaraku datar. "Tapi itu tidak membuatmu tak terkalahkan." Senyum di wajah Rio menghilang. Ia menatapku dengan mata penuh amarah. "Ayo kita buktikan." Rio meninggalkan teman-temannya. Tanpa berkata apa-apa, dia berjalan, dan aku mengikutinya. Kami tidak saling bicara. Udara terasa tegang. Kami berjalan jauh, melewati jalanan yang ramai, hingga kami sampai di sebuah rumah besar. Rio membukakan gerbang, dan aku terkejut melihat sebuah sasana Taekwondo di halaman belakang. "Ini tempat latihanku," katanya, suaranya dipenuhi nada arogansi. "Tidak ada yang bisa mengalahkanku di sini." Aku tidak menjawab. Aku hanya menatapnya, lalu berjalan masuk ke dalam sasana. Aku tahu, ini adalah pertarungan terpenting dalam hidupku. Aku tidak akan menyerah. Aku akan mengalahkannya, bukan dengan kekuatan, tapi dengan strategi. Aku harus menggunakan otakku, bukan hanya ototku. Aku mengambil posisi, dan Rio tersenyum. "Kau siap?" katanya. Aku hanya mengangguk. Kami berdua mengambil posisi. Rio berdiri tegak, dengan tangan di dada dan kakinya siap menendang. Aku, di sisi lain, mengambil posisi bertahan. Aku tidak akan menyerangnya terlebih dahulu. Aku harus membiarkan dia menyerang, agar aku bisa mencari celah.Bugh! Brak!Aku jatuh ke lantai. Kepalaku terasa berdenging, tubuhku lemas. Aku mencoba bangkit, tetapi tenagaku terkuras habis. Latihan yang kupelajari tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan pelatihan bertahun-tahun yang diterima Nico dari Golden Circle.Aku terkapar, kelelahan. Di sampingku, Rio dan Bagus juga terengah-engah, tidak berdaya. Kami bertiga kini hanya bisa melihat Nico.Nico berdiri di atasku. Dia tidak terlihat lelah sama sekali. Dia merapikan kerah kemejanya yang sedikit berantakan karena pukulan kejutan tadi. Itu adalah satu-satunya tanda bahwa aku berhasil memberinya perlawanan."Sudah selesai," kata Nico, suaranya kembali datar dan dominan. "Kalian membuktikan bahwa kalian punya keberanian, tapi bukan kecerdasan bertarung."Dia melirik ke pemantik yang masih ada di tangannya."Kalian membuatku membuang waktu. Sekarang, kalian akan membayar harganya."Tepat ketika Nico berjalan ke arah pintu dan meng
Rio, dengan naluri bertarung yang kuat, memahami maksudku. Dia menyeret kursinya dan menggunakan tenaganya untuk menggesekkan tali yang mengikat pergelangan tangannya ke tepi kursi logam Bagus yang tajam. Bagus, dengan kecerdasannya, segera meniru gerakan itu.Aku merasakan tali di pergelangan tanganku mulai melonggar dan menipis. Bau bensin membuat pernapasan terasa berat, menambah tekanan pada upaya melarikan diri ini.Srett!Tali di pergelangan tangan Rio putus lebih dulu."Kita tidak lari keluar!" teriakku, sambil berdiri tegak. "Kita cari Nico! Dia yang tahu di mana kita!"Rio dan Bagus mengangguk. Mereka tahu ancaman di luar sana lebih besar daripada ancaman di ruangan ini. Rio segera mengambil pisau lipatnya dan menghampiri dua penjaga yang mencoba bangkit, Bagus mengambil kesempatan itu dan berlari ke pintu."Ikuti aku!" seru Bagus, yang sudah menganalisis tata letak ruangan itu. "Toilet adalah jebakan! Kita harus naik!"
Sekarang, hanya aku yang tersisa. Sosok ketiga bergerak mendekatiku. Aku tahu melawan secara fisik adalah hal yang bodoh. Aku mencoba melarikan diri, tapi koridor itu terasa seperti perangkap. Tangan bersarung tangan meraih lenganku, dan aku merasakan sensasi menusuk yang tajam. Dunia mulai berputar, suara-suara menjadi kabur.Hal terakhir yang kulihat sebelum kegelapan merenggutku adalah wajah dingin salah satu penculik. Mereka membawa kami pergi, satu per satu, tanpa meninggalkan jejak.Aku membuka mata. Kepalaku pusing dan badanku terasa kaku. Cahaya samar dari sebuah lampu tunggal di langit-langit menyambutku. Kami berada di sebuah ruangan beton kosong yang dingin. Rio dan Bagus sudah ada di sana, terikat di kursi logam yang berbeda, tampak sama bingungnya denganku.Tepat di depan kami, duduk dengan tenang di atas meja kayu, adalah Nico. Dia tidak memakai seragam sekolah. Dia mengenakan kemeja gelap yang rapi. Di tangannya, dia memegang selembar kertas
"Tepat," balasku, lalu menoleh ke Bagus. "Aku butuh analisismu, Bagus. Kau yang paling ahli dalam strategi. Saat kau lihat Nico menyerang Rio, apa yang kau pelajari?"Bagus mengangguk. "Serangannya cepat, brutal, dan efisien. Tapi ada yang lebih penting: Dia tidak bertarung untuk melukai, dia bertarung untuk membaca. Dia mengukur kekuatan dan kelemahan Rio hanya dengan satu pukulan. Dia tahu di mana kelemahan emosional Rio, dan dia mengeksploitasinya. Dia adalah petarung yang menggunakan otaknya sebagai senjata utamanya.""Maka kita harus menyerang kelemahannya yang sesungguhnya," kataku, memandang mereka berdua. "Bagus, strateginya kuserahkan padamu. Kita tidak bisa menghadapinya sendirian. Kita harus menyerang Golden Circle, orang-orang di balik Nico, dan merusak image sempurna yang dia bangun."Bagus menyipitkan mata. "Serangan pada reputasi? Itu bisa jadi bumerang.""Kita harus ambil risiko," ujarku dingin. "Kita punya Rio sebagai kekuatan fis
Aku tahu, aku tidak bisa membiarkan Rio dan Bagus terus beradu ego di depan Nico. Setiap detik kami berdiri di sana, Nico mendapatkan lebih banyak informasi tentang kelemahan kami. Rio sudah terdiam, malu dan marah, setelah dihantam kata-kata Nico. Bagus hanya menatapku, menunggu. Fira, di sampingku, terlihat tegang tapi juga penasaran.Aku melangkah maju, menempatkan diriku di antara Rio dan Nico. Aku menatap Nico, matanya yang dingin dan datar."Kami tidak mau apa-apa," kataku, suaraku diatur agar terdengar tenang, menyembunyikan kekesalan yang mendidih. "Kami hanya lewat. Tapi sekarang, karena kau sudah repot-repot menyambut kami... sebaiknya kami pergi."Nico tidak bereaksi. Dia hanya menatapku.Aku berbalik, Aku bilang pada Rio dan Bagus. "Kita pulang," kataku tegas. "Sekarang."Rio protes pelan, tapi Bagus menatapku sekilas dengan ekspresi yang sulit diartikan—mungkin sedikit rasa hormat karena aku mengambil alih. Kami berempat berj
Aku berjalan, tapi pikiranku masih dipenuhi dengan Nico. Dia tidak seperti yang terlihat. Dia adalah seorang manipulator ulung. Dia adalah seorang pejuang yang berbahaya. Dan dia memiliki hubungan dengan organisasi rahasia.Siapa dia? gumamku dalam hati. Apa yang dia sembunyikan?Aku berjalan menuju toilet, pikiranku masih dipenuhi dengan Nico dan misterinya. Aku tahu, ini adalah pertarungan yang sesungguhnya. Aku tidak bisa mengalahkannya dengan kekuatan. Aku harus mengalahkannya dengan kecerdasan. Aku harus membuat rencana yang jauh lebih matang.Tiba-tiba, pintu toilet terbuka. Nico keluar dari sana. Ia tidak terlihat terkejut atau takut. Ia hanya menatapku, matanya datar, lalu berjalan melewatiku.Aku terdiam, tidak bisa berkata-kata. Pikiranku kacau. Ia tidak melihatku? Ia tidak tahu aku ada di sini? Atau ia hanya berpura-pura tidak melihatku? Aku tidak tahu. Aku hanya tahu, ia adalah sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih berbahaya.