Share

Aku Sudah Mati, Kamu Buat Apa Pura-Pura?
Aku Sudah Mati, Kamu Buat Apa Pura-Pura?
Author: Wanita

Bab 1

Author: Wanita
Aku mengidap penyakit mematikan. Menjelang ajal, aku menyiapkan surat cerai dan surat wasiat untuk suamiku.

Namun, dia malah berkata kepadaku, "Orang jahat itu panjang umur, kamu nggak bakal mati. Kalau kamu beneran mati, aku pasti bakal nyalain petasan buat ngerayainnya."

Kemudian, aku benar-benar mati. Di kantor polisi, dia memeluk jasadku yang sudah tidak dikenali lagi sambil bergumam sendiri, "Sayang, jangan bercanda lagi ya. Setelah pulang kali ini, gantian aku yang masakin buat kamu, oke?"

……

Larut malam, Yosef akhirnya pulang dengan aroma alkohol yang samar.

Saat melihatku duduk di sofa, sebersit keterkejutan sempat muncul di matanya sebelum kembali tenang. Dia bertanya, entah kepadaku atau pada dirinya sendiri, "Belum tidur?"

Nada bicaranya sama sekali tidak menutupi rasa muaknya.

Aku berdiri sambil menggenggam erat surat cerai di tangan, "Yosef, ada yang mau aku omongin sama kamu."

Dia melirikku sekilas. Tatapannya beralih pada gelas alkohol di sampingku, membuat alisnya yang rupawan sedikit berkerut.

"Perempuan kok minum alkohol seharian, kamu nggak bisa cari kerjaan lain yang bener apa?" dia mendengus dengan nada penuh hinaan.

Kerjaan yang benar?

Aku tersenyum pahit dalam hati. Yosef sepertinya sudah lupa kalau dulu dialah yang memintaku melepas pekerjaan dan impian demi mengurus orang tuanya. Empat tahun menikah, aku yang dulunya seorang gadis kaya tanpa beban, aku kini berubah menjadi wanita yang terkurung di rumah, mahir dalam segala urusan rumah tangga namun penuh keluhan dan kepahitan.

Namun, pada akhirnya aku justru mendapatkan laporan diagnosis kanker serta tatapan dingin dan menghina darinya.

Dia hendak pergi saat melihatku diam.

Aku menahan rasa tidak nyaman di perut dan menjulurkan tangan untuk menghentikannya.

Suaraku terdengar tenang secara tidak wajar, "Yosef, ayo kita bicara!"

Langkahnya terhenti. Dia menunduk dan menatapku dingin dengan nada tidak sabar, "Aku capek, apa pun itu kita omongin besok aja!"

"Cuma tanda tangan doang, nggak bakal nyita banyak waktu kamu kok."

Sambil berkata demikian, aku menyodorkan surat cerai itu ke hadapannya.

Di bawah surat itu, aku melampirkan surat wasiatku. Aku sudah tidak punya keluarga lagi di dunia ini. Aku ingin semua aset atas namaku didonasikan ke panti asuhan melalui suamiku setelah aku meninggal nanti.

Tentu saja, dalam hartaku itu juga termasuk perhiasan yang pernah Yosef berikan.

Kalau mau, dia bisa menyimpannya sebagai kenangan, tapi kalau tidak mau, dia juga boleh menjual semuanya.

Yosef tidak menerima kertas itu. Dia hanya melirik malas ke bawah. Saat melihat tulisan besar bertajuk "Surat Cerai", alisnya berkerut makin dalam, "Kamu mau main trik apa lagi sekarang?"

Lagi?

Empat tahun jadi suami istri, aku sudah rela melepaskannya demi cinta sejatinya. Tapi, dia malah menganggap kado perpisahan ini sebagai taktik licikku untuk mempertahankannya?

Rasa sakit di perutku mendadak makin hebat, rasanya seperti ditusuk ribuan jarum. Dengan wajah memucat, aku mencengkeram perutku kuat-kuat, keringat dingin bercucuran.

Namun, Yosef hanya menatapku dingin dengan raut wajah seolah sudah membaca semua sandiwaraku.

"Kenapa? Mulai pura-pura sakit lagi? Shofia, kamu nggak bisa cari jurus baru apa? Aku kasih tahu ya, biarpun kamu mati di depanku sekarang, aku nggak bakal sudi lihat kamu sedikit pun."

Sekujur tubuhku terasa membeku. Rasa sakit di perutku ini bahkan tidak ada apa-apanya dibandingkan rasa sakit hati akibat ucapannya yang beribu kali lipat lebih pedih.

Aku menarik napas dalam, menahan penderitaan fisik dan batin, lalu menyodorkan surat cerai serta pulpen tepat ke dadanya. "Tanda tangan! Begitu kamu tanda tangan, kamu bebas! Kamu bisa terang-terangan sama Wina yang baru pulang dari luar negeri itu."

Yosef mendengus sinis. "Shofia, kamu jago banget akting ya. Baru beberapa hari lalu kamu cari gara-gara sama Wina di rumah sakit, sekarang malah sok murah hati gini."

Aku tertegun sejenak, lalu langsung mengerti. Yang dia maksud adalah saat aku pergi ke rumah sakit mengambil hasil laporan medis.

Hari itu, aku mengambil laporan diagnosis kanker dan memang berpapasan dengan Wina. Namun, kami bahkan tidak bicara lebih dari dua patah kata, dari mana datangnya tuduhan cari gara-gara itu?

"Kalau aku bilang aku begini karena kena ...."

"Cukup!" Dia memijat pangkal hidungnya. "Aku capek hari ini. Kalau mau ajak ribut, lain kali aja."

Aku tidak punya sisa tenaga lagi bahkan hanya untuk sekadar menjelaskan. Aku hanya mendesaknya agar segera mengurus surat cerai itu.

"Kalau menurut kamu suratnya bermasalah, kamu bisa telepon pengacara buat ke sini dan tanda tangan depan dia."

Mendengar itu, tatapan Yosef sedikit berubah. Dia akhirnya mau menatap mataku yang tegas dan penuh harap. Aku melihat jakunnya bergerak naik turun sebelum dia mendengus dingin. "Shofia, kamu pikir kamu siapa? Atas dasar apa kamu yang mutusin kapan nikah dan kapan cerai? Mau kamu serius atau cuma pura-pura, aku nggak bakal tanda tangan, sekalipun kamu mati!"

Tapi, aku memang sudah hampir mati.

"Oh, aku hampir lupa. Orang jahat itu panjang umur, kamu nggak bakal mati. Kalau suatu hari nanti kamu beneran mati, aku pasti bakal nyalain petasan buat ngerayainnya, terus surat cerai ini bakal aku tanda tanganin, lalu kubakar buat kamu!"

Dia pergi ke lantas atas setelah itu.

Aku hendak mengejarnya, tapi rasa sakit di perutku kembali menyerang lebih hebat. Tubuhku ambruk begitu saja hingga berlutut di lantai. Aku mencengkeram sudut meja kuat-kuat agar tidak terjatuh sepenuhnya.

Yosef berdiri di sudut tangga. Punggungnya tampak sempat membeku sejenak, tapi pada akhirnya dia tetap tidak menoleh.

Sosoknya perlahan menghilang sepenuhnya dari pandanganku.

Pada detik itu, semua harapan dan khayalanku tentang dia hancur lebur. Pria yang pernah sangat kucintai ini kini justru menjadi luka terbesar dalam hidupku.

Aku bersusah payah untuk duduk stabil di sofa, lalu menenggak habis sisa setengah gelas anggur merah di atas meja. Sensasi alkohol itu membuatku melupakan rasa sakit untuk sementara, sekaligus menguatkan tekadku.

Kupikir, sisa waktu dalam hidupku seharusnya tidak diakhiri dengan kematian yang begitu menyakitkan.

Aku menatap cincin kawin di jari manisku, lalu perlahan melepasnya dan meletakkannya di samping surat cerai. Surat wasiatku sendiri kugenggam, kuremas hingga kusut, lalu kubuang ke tempat sampah ....

Aku mengganti pakaian dengan gaun putih, merias wajah dengan rapi, lalu mengemudikan mobil meninggalkan rumah yang dulu pernah kusebut sebagai rumahku.

Aku ingin pergi berlibur dan melihat matahari terbit di pegunungan bersalju.

Mobil melaju terus ke depan, melewati pinggir laut.

Namun, tepat saat aku hendak berbelok, sebuah truk tiba-tiba muncul dalam pandanganku.

Pria di kursi kemudi tertutup rapat, hanya menyisakan sepasang mata yang menatap dingin.

Saat aku melintasi Jembatan Samudra, truk itu mendadak melaju kencang dan menghantam mobilku dengan brutal!

Aku terdorong hingga menabrak pagar pembatas. Diiringi suara dentuman keras, mobilku tenggelam dengan cepat ke dalam air laut!

Hidupku ini sungguh tragis, bahkan keinginan kecil untuk pergi ke gunung salju di saat terakhir pun tidak tercapai.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Sudah Mati, Kamu Buat Apa Pura-Pura?   Bab 18

    Setelah mematikan telepon, Yosef langsung mencabut jarum infus. Dia mengabaikan bujukan Bi Yayah dan bersikeras untuk keluar, lalu langsung naik taksi menuju kantor polisi.Petugas polisi menyerahkan sebuah kantong berisi barang-barang kepada Yosef. Dia tampak termenung menatap barang-barang di tangannya.Polisi itu melanjutkan, "Pelaku utama pembunuhan istri Anda bernama Wina. Dialah yang menyuruh Yulius Candra membuntuti istri Anda, lalu sengaja menabrak mobil Ibu Shofia hingga jatuh ke bawah jembatan, menciptakan ilusi kematian akibat kecelakaan.""Menurut pengakuan tersangka, Yulius ini adalah sepupu Wina ....""Nggak mungkin Wina, kalian ... apa salah orang?" wajah Yosef membiru, dia spontan membantah.Bahkan sampai titik ini, dia masih berusaha membela Wina.Kemudian kudengar dia bergumam, "Jadi, aku yang mencelakainya ...." suaranya terlalu pelan sampai aku tidak mendengar jelas sisanya.Polisi itu mengangguk yakin, "Pak Yosef, Wina sudah mengaku. Menurut pengakuannya, dia membu

  • Aku Sudah Mati, Kamu Buat Apa Pura-Pura?   Bab 17

    Setelah pemakaman, Yosef rutin berangkat ke kantor tepat waktu seperti biasa. Sepintas terlihat normal, hanya saja ada kesan ganjil yang menyelimuti kenormalan itu.Setiap pagi dia mengenakan pakaian yang dulu kusiapkan untuknya. Dia menyuruh Bi Yayah menyiapkan makan siang seperti dulu, bahkan sampai detail kemasan dan jenis hidangannya harus persis sama seperti saat aku masih hidup, meskipun rasanya jelas berbeda.Terkadang di sela-sela rapat yang sibuk, dia tiba-tiba memanggil Heni dan bertanya pelan apakah ada telepon masuk atau kiriman untukku.Nada bicara Yosef sangat lembut, wajahnya penuh harap, tidak ada lagi kesan tidak sabaran seperti dulu.Setiap kali Heni dengan hati-hati mengingatkannya bahwa aku sudah tidak ada, Yosef akan memotongnya dengan tatapan dingin.Dia mulai sering menelepon nomor ponselku yang tidak akan pernah aktif lagi, berbisik pada udara kosong seolah aku benar-benar bisa mendengarnya.Pria yang dulu selalu sibuk itu, sekarang langsung bergegas pulang begi

  • Aku Sudah Mati, Kamu Buat Apa Pura-Pura?   Bab 16

    Yosef tampak sangat lelah. Entah karena belum sadar sepenuhnya atau apa, dia tidak menunjukkan reaksi terkejut sedikit pun atas perkataan polisi.Cukup lama kemudian, barulah dia bertanya pelan, "Siapa yang membunuhnya?"Kedua polisi itu sepertinya menyadari kalau Yosef terlalu tenang. Mereka menatap tajam setiap gerak-gerik Yosef untuk mencari petunjuk, tapi Yosef hanya balas menatap dengan datar, seolah-olah dia benar-benar hanya orang asing yang menonton kejadian ini."Kami masih menyelidiki pelakunya. Ada beberapa hal yang ingin kami tanyakan. Di mana Bapak berada pada pagi hari saat istri Bapak menghilang?" tanya polisi dengan raut serius.Yosef sedikit mengernyit, seolah mulai nggak sabar sama pertanyaan itu, "Lagi istirahat." Nadanya benar-benar tanpa emosi.Para polisi saling lirik, jelas nggak puas sama jawaban Yosef. Mereka lanjut mendesak, "Pak Yosef, Bapak dan Ibu Shofia sempat bertengkar hari sebelumnya. Terus pas tahu istri Bapak nggak ada, masa Bapak nggak kepikiran buat

  • Aku Sudah Mati, Kamu Buat Apa Pura-Pura?   Bab 15

    Yosef mendadak duduk tegak. Dia menggenggam ponselnya kuat-kuat, suaranya terdengar serak, "Kamu yakin? Beneran dia?"Di seberang telepon, nada bicara terdengar berat, "Pak Yosef, harap tabah! Saat ini Bapak perlu segera datang ke kantor polisi."Setelah telepon ditutup, tangan Yosef yang memegang ponsel tidak kunjung turun. Seluruh tubuhnya seolah-olah kehilangan tenaga, dia duduk terpaku di atas ranjang.Tiba di kantor polisi, baru saja Yosef melangkah masuk ke ruang jenazah, suara "plak" yang nyaring terdengar. Sebuah tamparan keras dari Silvia mendarat telak di wajahnya.Dia sama sekali tidak bersiap, hingga terhuyung mundur dua langkah sebelum akhirnya berhasil berdiri tegak.Para petugas polisi di sekitar pun terkejut melihat kejadian mendadak itu. Mereka saling pandang dan suasana seketika membeku.Mata Silvia merah dan bengkak, wajahnya penuh jejak air mata. Dia menatap tajam pria di depannya dengan penuh kemarahan, "Yosef, kamu! Kamu yang sudah bikin Shofia mati!"Sambil bicar

  • Aku Sudah Mati, Kamu Buat Apa Pura-Pura?   Bab 14

    Yosef tidak memperhatikan kotak-kotak itu. Dia sibuk melonggarkan dasinya sendiri lalu menuangkan segelas air. Namun, saat dia mengangkat gelas tersebut, wajahnya tiba-tiba berubah menjadi sangat keruh.Aku mengikuti arah pandangannya. Terlihat kotak-kotak kardus itu penuh berisi pakaian, perlengkapan mandi, dan barang-barang elektronik milikku. Barang pribadiku dikemas begitu saja dengan sembarangan, seolah-olah aku tidak pernah ada di rumah ini.Saat itu, Wina menggerakkan kursi rodanya keluar dari arah lift. Senyum puas terlukis di wajahnya. "Yosef, kamu akhirnya pulang juga. Aku tunggu kamu lama banget."Yosef menatapnya dengan dingin. Suaranya menyiratkan kemarahan. "Ini semua apa maksudnya?"Wina menunjuk kardus-kardus itu dengan santai. "Oh, yang ini? Aku pikir kalian 'kan mau cerai, barang-barangnya juga nggak perlu disimpan lagi. Jadi aku minta pembantu beresin sekalian."Dia mengatakannya seolah-olah itu adalah hal yang sangat wajar. Dia bersikap layaknya nyonya rumah. Namun,

  • Aku Sudah Mati, Kamu Buat Apa Pura-Pura?   Bab 13

    Setelah menutup telepon, dia menoleh ke arah Wina. Bayangan kelam di wajahnya belum sepenuhnya hilang, nadanya terdengar dingin. "Wina, aku harus ke kantor polisi. Kamu istirahat yang baik di rumah.""Apa terjadi sesuatu sama Shofia?"Entah itu hanya perasaanku saja, tapi aku merasa saat Wina menanyakan hal itu, tatapan matanya tampak goyah dan gelisah.Kilatan ejekan melintas di wajah Yosef, dia mendengus dingin, "Dia? Aku malah berharap dia benar-benar kena musibah."Sudah sampai di tahap ini pun, dia masih saja menyumpahiku! Seberapa besar rasa bencinya padaku, sampai-sampai dia sangat tidak menginginkan hal baik terjadi padaku?Aku menahan rasa jijikku pada Yosef dan mengikutinya ke kantor polisi.Baru saja sampai di depan gerbang kantor polisi, Silvia pun tiba. Mereka berdua yang memang tidak pernah akur, saat ini bahkan tidak sudi bertukar sepatah kata pun dan langsung berjalan masuk ke dalam.Begitu masuk, seorang polisi langsung membimbing mereka menuju ruang identifikasi jenaz

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status