MasukKetika ibu mertuaku terkena serangan jantung, suamiku yang seorang spesialis kardiologi malah sibuk memasak untuk kucing mantan pacarnya. Aku meneleponnya, memintanya cepat pulang untuk menyelamatkan ibu mertua. Dia dengan dingin menjawab, “Nova, kamu sakit jiwa, ya? Berani-beraninya kamu mengutuk ibuku hanya demi memaksaku pulang!” Setelah mengatakan itu, dia langsung menutup telepon. Ibu mertuaku meninggal di meja operasi, sementara dia pergi menonton konser bersama mantan pacarnya. Keesokan harinya, dia pulang ke rumah dan melihatku memeluk kotak abu jenazah. Dengan marah, dia melemparkan tas hadiah yang dibawanya ke arahku. “Melda begitu perhatian pada ibuku, bahkan membelikan baju untuknya. Sementara kamu, sebagai menantu, cuma bisa mengajaknya berpura-pura agar aku kembali!" Aku tersenyum sinis. Ibunya sudah tiada, lantas untuk siapa baju itu?
Lihat lebih banyak"Maaaass!! Udah belum!! Buruan masukin! Aku gerah!”
Suara lengkingan itu memecah konsentrasi Dayat. Ia mengembuskan napas pendek, mencoba menahan gerutu yang hampir lolos dari bibirnya. Mbak Niken, pemilik rumah ini, adalah tipe pelanggan yang tidak punya kamus kata "sabar". Sejak Dayat menginjakkan kaki di teras satu jam lalu, wanita itu sudah lima kali bolak-balik menanyakan progres pekerjaannya. Terik matahari pukul dua siang seolah memanggang atap seng di area cuci belakang rumah mewah itu. Dayat menyeka keringat yang bercampur jelaga oli di dahinya menggunakan punggung tangan. “Sabar mbak, kabelnya susah.” Di hadapannya, sebuah mesin pompa air yang sudah berumur teronggok pasrah, jeroannya berceceran di atas ubin semen yang lembap. Aroma logam berkarat dan pelumas menyengat indra penciumannya, namun Dayat sudah terbiasa. Ini adalah makan siang sehari-harinya. “Yat!!” "Dikit lagi, Mbak! Dinamonya mampet karena kerak!" seru Dayat tanpa menoleh. Tangannya masih sibuk mengencangkan baut dengan kunci inggris. Namun, derap langkah kaki yang mendekat tidak berhenti di ambang pintu. Suara sandal selop yang beradu dengan lantai granit terdengar makin jelas, hingga akhirnya berhenti tepat di belakang punggung Dayat. Hawa panas dari mesin air tiba-tiba terasa kalah dengan aroma sabun bunga mawar yang mendadak menyeruak, menggantikan bau oli yang tadi mendominasi. "Gimana Mas? Aku udah gerah banget nih, mau mandi. AC di kamar juga rasanya kurang dingin kalau airnya nggak jalan," ucap Niken. Suaranya kini terdengar sangat dekat, tepat di samping telinga Dayat, rendah dan sedikit serak. Dayat menelan ludah. "Bentar Mb—" Ucapannya terhenti di kerongkongan. Saat Dayat menoleh untuk memberikan penjelasan teknis, pandangannya justru menabrak pemandangan yang membuat jantungnya seakan melompat dari rongga dada. Niken berdiri di sana, hanya berbalut sehelai handuk putih yang melilit tubuhnya dari batas dada hingga pertengahan paha. Bahunya yang putih mulus tampak berkilau karena sisa keringat yang mengalir, menciptakan jalur-jalur bening di atas kulitnya yang lembab. Dayat terpaku. Matanya tak sanggup berbohong, menelusuri garis bahu hingga lekuk dada Niken yang tersaji begitu nyata di depan mata. Hawa panas yang tadi berasal dari matahari, kini mendadak menjalar ke wajah dan lehernya. "Ini Mbak, apa namanya... Dinamonya bermasalah, ada kerak yang bikin macet. Lagi saya coba akalin biar nggak usah ganti baru," ucap Dayat terbata-bata. Ia berusaha keras memfokuskan matanya pada mesin di bawahnya, namun bayangan kulit putih di sampingnya terus mengganggu kewarasannya. Tiba-tiba, tanpa peringatan, Niken ikut berjongkok. Ia merapatkan kedua kakinya tepat di hadapan wajah Dayat yang masih berlutut di depan mesin. Jarak yang hanya sejengkal itu membuat Dayat refleks menahan napas. Wangi sabun itu makin kuat, dan dari sudut matanya, ia bisa melihat betapa tipisnya kain handuk yang menutupi bagian vital wanita di depannya. "Apanya sih yang macet, Mas? Emang udah parah ya?" tanya Niken dengan nada lugu yang sangat dibuat-buat. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, seolah ingin melihat lebih jelas ke dalam mesin, namun gerakannya itu justru membuat lilitan handuk di dadanya sedikit melonggar. Duh, makin nekat aja nih orang, gumam Dayat dalam hati. Ia memaksakan jemarinya bergerak meski hanya memutar-mutar baut yang sebenarnya sudah kencang. Fantasi liar mulai berebut tempat di kepalanya, menggerus akal sehat yang ia coba pertahankan sekuat tenaga. "Ini, Mbak... bagian ini yang karat. Saya bersihin dulu biar muternya lancar," jawab Dayat asal. Keringatnya kini menetes lebih deras, bukan karena panas, tapi karena tekanan batin yang luar biasa. "Cepet dong Mas, gerah lho ini aku... Tuh, nggak liat ampe keringetan gini?" Niken mengusap lehernya perlahan, sengaja menonjolkan lekuk leher dan bagian atas dadanya yang mulai basah. Matanya mengerling nakal, seolah menikmati kegugupan yang ditunjukkan teknisi muda di hadapannya itu. "I-iya bentar. Mending Mbak tunggu di dalam aja deh... Gak konsen ini saya kalau ditungguin begini," ucap Dayat akhirnya, sebuah upaya terakhir untuk mengusir gangguan yang nyaris membuatnya meledak. Niken hanya memberikan senyuman tipis yang penuh arti. "Yaudah deh, aku tunggu di dalem ya, Mas!" ucapnya manja, lalu perlahan bangkit berdiri. Dayat tetap berjongkok, namun matanya tak bisa menahan diri untuk tidak mengikuti punggung Niken. Gerakan pinggulnya yang bergoyang seiring langkah kaki menuju ruang tamu membuat Dayat hanya bisa kembali menelan ludah dengan susah payah. Lima belas menit kemudian, suara dengung mesin air yang stabil akhirnya terdengar. Dayat menghela napas lega. Ia segera melangkah ke arah keran di sudut halaman, memutarnya, dan seketika air menyembur deras. Dinginnya air yang mengenai tangannya sedikit membantu menurunkan suhu di kepalanya. "Mbaakk!! Udah nyala tuh!" teriak Dayat, suaranya sengaja dikeraskan agar menembus ruang tengah. Hening sejenak. Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru. Niken muncul dari balik pintu belakang. Wajahnya tampak sumringah, seolah sudah sangat tidak sabar ingin segera membasuh tubuhnya yang gerah. Namun, di sinilah petaka itu terjadi. Tepat saat ia melangkah di atas ubin semen yang basah karena cipratan air tadi, kaki Niken selip. "E-ehh!!" pekik Niken. Tubuhnya limbung seketika. BRAAKK! Niken jatuh terduduk tepat di hadapan Dayat yang baru saja hendak membereskan tas perkakasnya. Posisi jatuhnya tidak beraturan kedua kakinya terbuka lebar untuk menyeimbangkan beban, dan karena ia hanya mengenakan handuk, kain putih itu tersingkap tinggi hingga ke pangkal paha. Dayat yang berada tepat di depannya seolah mendapatkan sebuah pertunjukan yang tak pernah ia duga. Namun, kain handuk yang sejak awal memang hanya dililitkan itu tidak mampu menahan beban gerakan yang tiba-tiba. Tepat saat Niken berusaha bangkit dengan bertumpu pada satu tangan, lilitan di dadanya menyerah. Kain putih itu merosot jatuh, terlepas sepenuhnya dari tubuh Niken seiring dengan gerakannya yang kikuk.Aku pulang untuk mengemas barang-barang dan pindah ke mess perusahaan. Aku mulai bekerja keras dan meyakinkan diri sendiri bahwa aku bisa membeli rumah dengan kemampuanku sendiri.Mengenai perceraian, meskipun Angga tidak setuju, setelah dua tahun berpisah, aku tetap bisa mengajukan perceraian.Setelah pulang kerja, aku pergi makan malam dengan rekan-rekanku. Begitu keluar dari restoran, aku melihat banyak orang berkumpul di sekitar sana.Sebenarnya aku tidak tertarik dengan gosip, tetapi tanpa sengaja aku melihat Melda. Dia sedang dicaci oleh seorang wanita paruh baya yang menarik rambutnya. “Dasar kamu pelacur, berani sekali menggoda suamiku! Lihat saja, aku akan memukulmu sampai mati!”Aku mendekat, dan melihat Melda dipukuli hingga wajahnya memar, pakaiannya robek, dan terlihat sangat berantakan.“Wanita hina ini sudah bersama suamiku bertahun-tahun. Dia nggak hanya menghabiskan menghabiskan lebih dari dua ratus miliar uang suamiku, tapi dia bahkan memaksanya untuk bercerai dengank
Ponsel Angga terlepas dari tangannya dan jatuh ke tanah.Tubuhnya gemetar tak terkendali, wajahnya menunjukkan rasa sakit, penyesalan, dan rasa bersalah. Sepertinya dia mengingat semua yang terjadi dalam beberapa hari terakhir.Malam itu, ketika aku pergi ke rumah Melda untuk menemuinya, aku memohon padanya untuk kembali ke rumah sakit dan melakukan operasi pada Ibu, tetapi dia menolak. Kemudian, ketika dia pulang, dia bahkan menghancurkan kotak abu jenazah Ibu, mengklaim itu hanya tepung.Dia benar-benar panik, kedua kakinya lemas dan langsung berlutut di lantai."Ibu, bagaimana bisa ini terjadi? Mengapa ibu bisa meninggal?""Ini salahku, Ibu, maafkan aku, aku minta maaf!"Angga menangis sambil mengangkat tangan dan terus menampar pipinya sendiri.Aku menatapnya tanpa ekspresi. Meskipun dia memukul dirinya sampai mati, ibu mertuaku tetap tidak akan hidup kembali.Melda berjongkok di sampingnya dan mencoba menenangkannya, "Angga, semua ini bukan salahmu. Jangan menyalahkan dirimu sendi
Angga mengambil surat cerai itu dan membacanya sebentar. Begitu dia menyadari bahwa aku benar-benar ingin bercerai dengannya, wajahnya langsung berubah pucat karena marah."Kalau begitu, baiklah. Kita cerai. Seharusnya aku nggak menikahimu sejak awal!"Dia dengan cepat menandatangani surat tersebut.Aku menyimpan surat cerai itu dan berkata, "Besok pagi jam 9:30, kita akan bertemu untuk memproses perceraian."Angga tampaknya tidak mendengarkan apa yang aku katakan. Dia sudah berbalik dan berkata kepada Melda, "Melda, kita bawa Leon ke dokter, dia akan baik-baik saja, jangan khawatir."Melda tersenyum dan mengangguk, kemudian memberiku tatapan puas, seolah-olah dia sudah menang.Aku malas untuk merespons akting murahan seperti itu, jadi aku berbalik dan menutup pintu rumah.Namun, saat pintu itu tertutup, aku teringat pada ibu mertuaku. Ketika kucing itu terluka, Angga langsung panik dan ingin membawanya ke dokter. Namun, sudah beberapa hari dia tidak melihat ibunya, dia bahkan tidak be
Dulu, setiap aku mendengar kata-kata seperti itu, aku pasti akan merasa sangat sedih. Namun sekarang, aku hanya ingin tertawa. Dia memang sangat bodoh. Tidak ingin membuang waktu untuk berdebat lebih lama, akhirnya aku menjawab, “Aku sudah menyiapkan surat cerai, kamu tinggal pulang dan tanda tangan.”Aku tak memberinya kesempatan bicara lagi dan langsung menutup telepon.Sekitar setengah jam kemudian, bel pintu berbunyi. Kukira itu Angga, jadi aku segera membukanya.Namun, orang yang berdiri di depan pintu bukanlah Angga, melainkan Melda dengan kucing di pelukannya.Dia menatapku dengan tatapan mengejek sambil berkata, "Bagaimana rasanya suamimu direbut orang lain? Nggak enak, kan?"Saat ini, hanya ada aku dan dia, jadi Melda tak lagi berpura-pura. Dia mengangkat ponselnya dan memperlihatkan sebuah foto padaku."Nova, tahukah kamu kenapa Angga menikahimu? Itu hanya karena wajahmu mirip dengan wajahku di masa lalu. Sekarang aku sudah kembali, jadi lebih baik kamu sadar diri dan segera
Dalam sekejap, abu jenazah tersebar di lantai, dan aku begitu marah hingga tubuhku bergetar.Aku mengangkat tangan dan menampar wajahnya."Angga, kamu brengsek!""Bisa-bisanya kamu menjatuhkan abu Ibu! Apa kamu nggak takut kena balasan?"Angga terkejut dengan tamparanku. Beberapa saat kemudian, dia sada
Aku tidak punya pilihan selain bergegas kembali ke rumah sakit, dan dalam perjalanan, aku terjatuh beberapa kali karena terlalu panik.Begitu Mario melihatku, dia bertanya, "Nova, di mana Angga?""Dia nggak mau ikut aku ke rumah sakit. Bagaimana dengan Ibu?"Mario menoleh dan berkata tanpa menatapku
Aku menggenggam jariku erat-erat, tetapi sekarang aku tak punya waktu untuk bertanya apa yang mereka lakukan di dalam."Di mana Angga?"Begitu kata-kataku terucap, Angga muncul dengan kucing di pelukannya. Saat melihatku, wajahnya langsung berubah geram."Nova, mau apa kamu kesini?"Dengan wajah tid
Saat makan malam, ibu mertuaku tiba-tiba memegang dada, dan wajahnya pucat.Aku segera meletakkan mangkok, lalu mendekat dan bertanya, "Ibu, jantungmu kambuh?"Ibu mertuaku mengangguk.Aku segera mengambil ponsel dan menelepon suamiku, Angga, yang merupakan ahli jantung.Malam ini, dia bilang dia ha


















Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.
Ulasan-ulasan