Short
Ibu Meninggal, Suami Sibuk dengan Mantan

Ibu Meninggal, Suami Sibuk dengan Mantan

Oleh:  FlorentinaTamat
Bahasa: Bahasa_indonesia
goodnovel4goodnovel
8Bab
10.2KDibaca
Baca
Tambahkan

Share:  

Lapor
Ringkasan
Katalog
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi

Ketika ibu mertuaku terkena serangan jantung, suamiku yang seorang spesialis kardiologi malah sibuk memasak untuk kucing mantan pacarnya. Aku meneleponnya, memintanya cepat pulang untuk menyelamatkan ibu mertua. Dia dengan dingin menjawab, “Nova, kamu sakit jiwa, ya? Berani-beraninya kamu mengutuk ibuku hanya demi memaksaku pulang!” Setelah mengatakan itu, dia langsung menutup telepon. Ibu mertuaku meninggal di meja operasi, sementara dia pergi menonton konser bersama mantan pacarnya. Keesokan harinya, dia pulang ke rumah dan melihatku memeluk kotak abu jenazah. Dengan marah, dia melemparkan tas hadiah yang dibawanya ke arahku. “Melda begitu perhatian pada ibuku, bahkan membelikan baju untuknya. Sementara kamu, sebagai menantu, cuma bisa mengajaknya berpura-pura agar aku kembali!" Aku tersenyum sinis. Ibunya sudah tiada, lantas untuk siapa baju itu?

Lihat lebih banyak

Bab 1

Bab 1

"Maaaass!! Udah belum!! Buruan masukin! Aku gerah!”

Suara lengkingan itu memecah konsentrasi Dayat. Ia mengembuskan napas pendek, mencoba menahan gerutu yang hampir lolos dari bibirnya. 

Mbak Niken, pemilik rumah ini, adalah tipe pelanggan yang tidak punya kamus kata "sabar". Sejak Dayat menginjakkan kaki di teras satu jam lalu, wanita itu sudah lima kali bolak-balik menanyakan progres pekerjaannya.

Terik matahari pukul dua siang seolah memanggang atap seng di area cuci belakang rumah mewah itu. 

Dayat menyeka keringat yang bercampur jelaga oli di dahinya menggunakan punggung tangan. “Sabar mbak, kabelnya susah.”

Di hadapannya, sebuah mesin pompa air yang sudah berumur teronggok pasrah, jeroannya berceceran di atas ubin semen yang lembap. 

Aroma logam berkarat dan pelumas menyengat indra penciumannya, namun Dayat sudah terbiasa. Ini adalah makan siang sehari-harinya. 

“Yat!!”

"Dikit lagi, Mbak! Dinamonya mampet karena kerak!" seru Dayat tanpa menoleh. Tangannya masih sibuk mengencangkan baut dengan kunci inggris.

Namun, derap langkah kaki yang mendekat tidak berhenti di ambang pintu. Suara sandal selop yang beradu dengan lantai granit terdengar makin jelas, hingga akhirnya berhenti tepat di belakang punggung Dayat. 

Hawa panas dari mesin air tiba-tiba terasa kalah dengan aroma sabun bunga mawar yang mendadak menyeruak, menggantikan bau oli yang tadi mendominasi.

"Gimana Mas? Aku udah gerah banget nih, mau mandi. AC di kamar juga rasanya kurang dingin kalau airnya nggak jalan," ucap Niken. Suaranya kini terdengar sangat dekat, tepat di samping telinga Dayat, rendah dan sedikit serak.

Dayat menelan ludah. "Bentar Mb—"

Ucapannya terhenti di kerongkongan. Saat Dayat menoleh untuk memberikan penjelasan teknis, pandangannya justru menabrak pemandangan yang membuat jantungnya seakan melompat dari rongga dada. 

Niken berdiri di sana, hanya berbalut sehelai handuk putih yang melilit tubuhnya dari batas dada hingga pertengahan paha. 

Bahunya yang putih mulus tampak berkilau karena sisa keringat yang mengalir, menciptakan jalur-jalur bening di atas kulitnya yang lembab.

Dayat terpaku. Matanya tak sanggup berbohong, menelusuri garis bahu hingga lekuk dada Niken yang tersaji begitu nyata di depan mata. Hawa panas yang tadi berasal dari matahari, kini mendadak menjalar ke wajah dan lehernya.

"Ini Mbak, apa namanya... Dinamonya bermasalah, ada kerak yang bikin macet. Lagi saya coba akalin biar nggak usah ganti baru," ucap Dayat terbata-bata. Ia berusaha keras memfokuskan matanya pada mesin di bawahnya, namun bayangan kulit putih di sampingnya terus mengganggu kewarasannya. 

Tiba-tiba, tanpa peringatan, Niken ikut berjongkok. Ia merapatkan kedua kakinya tepat di hadapan wajah Dayat yang masih berlutut di depan mesin. Jarak yang hanya sejengkal itu membuat Dayat refleks menahan napas. 

Wangi sabun itu makin kuat, dan dari sudut matanya, ia bisa melihat betapa tipisnya kain handuk yang menutupi bagian vital wanita di depannya.

"Apanya sih yang macet, Mas? Emang udah parah ya?" tanya Niken dengan nada lugu yang sangat dibuat-buat. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan, seolah ingin melihat lebih jelas ke dalam mesin, namun gerakannya itu justru membuat lilitan handuk di dadanya sedikit melonggar.

Duh, makin nekat aja nih orang, gumam Dayat dalam hati. 

Ia memaksakan jemarinya bergerak meski hanya memutar-mutar baut yang sebenarnya sudah kencang. Fantasi liar mulai berebut tempat di kepalanya, menggerus akal sehat yang ia coba pertahankan sekuat tenaga.

"Ini, Mbak... bagian ini yang karat. Saya bersihin dulu biar muternya lancar," jawab Dayat asal. Keringatnya kini menetes lebih deras, bukan karena panas, tapi karena tekanan batin yang luar biasa.

"Cepet dong Mas, gerah lho ini aku... Tuh, nggak liat ampe keringetan gini?" Niken mengusap lehernya perlahan, sengaja menonjolkan lekuk leher dan bagian atas dadanya yang mulai basah. 

Matanya mengerling nakal, seolah menikmati kegugupan yang ditunjukkan teknisi muda di hadapannya itu.

"I-iya bentar. Mending Mbak tunggu di dalam aja deh... Gak konsen ini saya kalau ditungguin begini," ucap Dayat akhirnya, sebuah upaya terakhir untuk mengusir gangguan yang nyaris membuatnya meledak.

Niken hanya memberikan senyuman tipis yang penuh arti. "Yaudah deh, aku tunggu di dalem ya, Mas!" ucapnya manja, lalu perlahan bangkit berdiri. 

Dayat tetap berjongkok, namun matanya tak bisa menahan diri untuk tidak mengikuti punggung Niken. Gerakan pinggulnya yang bergoyang seiring langkah kaki menuju ruang tamu membuat Dayat hanya bisa kembali menelan ludah dengan susah payah.

Lima belas menit kemudian, suara dengung mesin air yang stabil akhirnya terdengar. Dayat menghela napas lega. 

Ia segera melangkah ke arah keran di sudut halaman, memutarnya, dan seketika air menyembur deras. Dinginnya air yang mengenai tangannya sedikit membantu menurunkan suhu di kepalanya.

"Mbaakk!! Udah nyala tuh!" teriak Dayat, suaranya sengaja dikeraskan agar menembus ruang tengah.

Hening sejenak. Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang terburu-buru. Niken muncul dari balik pintu belakang. Wajahnya tampak sumringah, seolah sudah sangat tidak sabar ingin segera membasuh tubuhnya yang gerah.

Namun, di sinilah petaka itu terjadi. Tepat saat ia melangkah di atas ubin semen yang basah karena cipratan air tadi, kaki Niken selip.

"E-ehh!!" pekik Niken. Tubuhnya limbung seketika.

BRAAKK!

Niken jatuh terduduk tepat di hadapan Dayat yang baru saja hendak membereskan tas perkakasnya. 

Posisi jatuhnya tidak beraturan kedua kakinya terbuka lebar untuk menyeimbangkan beban, dan karena ia hanya mengenakan handuk, kain putih itu tersingkap tinggi hingga ke pangkal paha. 

Dayat yang berada tepat di depannya seolah mendapatkan sebuah pertunjukan yang tak pernah ia duga.

Namun, kain handuk yang sejak awal memang hanya dililitkan itu tidak mampu menahan beban gerakan yang tiba-tiba. Tepat saat Niken berusaha bangkit dengan bertumpu pada satu tangan, lilitan di dadanya menyerah. 

Kain putih itu merosot jatuh, terlepas sepenuhnya dari tubuh Niken seiring dengan gerakannya yang kikuk.

Tampilkan Lebih Banyak
Bab Selanjutnya
Unduh

Bab terbaru

Bab Lainnya

To Readers

Selamat datang di dunia fiksi kami - Goodnovel. Jika Anda menyukai novel ini untuk menjelajahi dunia, menjadi penulis novel asli online untuk menambah penghasilan, bergabung dengan kami. Anda dapat membaca atau membuat berbagai jenis buku, seperti novel roman, bacaan epik, novel manusia serigala, novel fantasi, novel sejarah dan sebagainya yang berkualitas tinggi. Jika Anda seorang penulis, maka akan memperoleh banyak inspirasi untuk membuat karya yang lebih baik. Terlebih lagi, karya Anda menjadi lebih menarik dan disukai pembaca.

Ulasan-ulasan

ayeni balai pom jambi ayeni
ayeni balai pom jambi ayeni
kenapa nggak bisa dibuka
2025-02-07 06:47:05
0
0
keno jung
keno jung
bagus lanjutkan
2025-01-07 22:19:44
0
0
Maria Magdalena Setlight
Maria Magdalena Setlight
koq tidak bisa dibuka
2024-11-30 22:27:25
0
0
Zamila ayu Lestari
Zamila ayu Lestari
knpa tidak bisa di buka
2024-11-29 20:11:27
0
0
Patricia
Patricia
saya tak bisa membaca bab4
2024-12-18 08:40:58
0
0
8 Bab
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status