Share

Bab 2

Author: Wanita
Mungkin Tuhan merasa penderitaanku belum cukup. Jiwaku tidak lenyap begitu saja, melainkan melayang-layang kembali ke vila yang kukenal itu.

Jiwaku seolah terbelenggu. Entah mengapa, aku hanya bisa berada di sisi Yosef.

Aku mengikutinya turun ke lantai bawah.

Vila yang sangat besar itu terasa sunyi. Tatapannya menyapu ruang tamu yang kosong, seolah sedang mencari sesuatu.

Dia memanggil Bi Yayah dua kali, tapi tidak ada jawaban.

Sebelum aku bahas soal cerai dengannya, aku sengaja meliburkan para asisten rumah tangga selama dua hari. Mereka baru akan kembali nanti malam.

Yosef tampak tidak peduli. Dia mengambil jaketnya dan bersiap pergi. Langkahnya terhenti sejenak saat tatapannya tidak sengaja melewati surat cerai dan cincin kawin di atas meja.

Dia berjalan mendekat dengan perlahan, lalu mengambil surat cerai itu dan membukanya dengan ekspresi serius.

Aku pikir dia bakal langsung tanda tangan setelah membacanya. Lagi pula, dia tidak pernah puas dengan pernikahan ini. Sekarang aku bersedia melepaskannya, harusnya dia senang, 'kan? Tapi di luar dugaan, dia malah melempar dokumen itu kembali ke meja dengan wajah emosi.

"Bener-bener jago akting!" gumam Yosef pelan, matanya penuh rasa muak.

Ternyata dia yakin kalau aku cuma bersandiwara lagi.

Setelah itu, dia langsung pergi ke kantor. Aku pun terpaksa mengikutinya. Sepanjang pagi, dia sibuk mengurus pekerjaan. Mungkin karena kurang istirahat, gurat kelelahan tampak di matanya.

Aku berdiri diam di sampingnya sambil menatapnya. Dulu, aku harus berhati-hati hanya untuk mencuri pandang padanya. Sekarang, meski aku menatapnya tanpa henti pun, aku tidak akan lagi membuatnya merasa risi.

Setelah menandatangani dokumen terakhir, Yosef bersandar di kursi, memejamkan mata perlahan, dan memijat pelipisnya dengan satu tangan. Aku memperhatikan ada bekas merah samar di jari manisnya yang putih dan jenjang, tempat di mana dulu cincin kawin kami selalu melingkar.

Aku merasa sedikit kecewa. Kemarin saat dia bersikeras tidak mau tanda tangan cerai. Di dalam hati kecilku sempat ada sedikit harapan mungkin dia juga punya perasaan padaku.

Sekarang aku baru sadar, dia hanya tidak mau menuruti kemauanku saja dan sengaja ingin membuatku muak. Kalau tidak, dia tidak akan secepat itu melepas cincinnya.

Aku menyentuh dadaku, rasanya seperti ada yang hilang di sana. Ternyata, orang yang sudah mati pun tetap bisa merasa sedih.

Saat itu, Heni sang sekretaris mengetuk pintu dan masuk membawakan segelas teh hangat.

Yosef membuka mata dan menerima gelas itu. Baru satu sesapan, alisnya langsung berkerut. "Teh apa ini?"

Heni tertegun sejenak lalu menjawab jujur, "Sama seperti sebelumnya Pak, teh krisan. Cuma mereknya beda, soalnya sisa stok yang kemarin nggak sengaja dibuang sama petugas kebersihan."

Sambil bicara, dia bergumam pelan pada diri sendiri, "Padahal rasanya nggak jauh beda menurutku."

Yosef tampak bingung. Dia menunduk dan meneliti isi cangkir itu dengan saksama, memastikan itu memang teh krisan. "Nggak enak! Beli yang kayak sebelumnya."

Setelah itu, dia menaruh gelasnya di sudut meja dengan ekspresi menolak.

Heni terlihat serba salah, tetapi hanya bisa mengangguk dan membawa cangkir itu keluar dari ruangan.

Aku tersenyum getir melihat sosoknya yang menjauh. Dia tidak mungkin bisa menemukan teh yang sama, karena teh itu bukan beli, melainkan racikanku sendiri.

Sejak kuliah, Yosef tidak suka minum air putih, dia selalu lebih suka teh hijau atau teh hitam. Tapi, lambungnya kurang sehat, kalau terlalu banyak minum teh hijau perutnya bakal sakit sekali.

Demi kesehatannya, aku sengaja berkonsultasi dengan ahli pengobatan tradisional untuk meracik teh ini sesuai kondisi tubuh Yosef. Setiap takaran bahannya sudah diperhitungkan dengan teliti.

Dulu, aku akan selalu mengingat harinya dan mengirimkan stok baru tepat sebelum tehnya habis. Konyol sekali kalau dipikir-pikir sekarang. Dia tidak jatuh cinta padaku, tapi dia jatuh cinta pada kebiasaan yang aku buat.

Ponselnya berbunyi, layar menampilkan nomor yang kukenal, dia menekan tombol jawab. Suara manis Wina terdengar dari seberang sana, "Yosef, aku masakin makan siang buat kamu, sekarang aku di lobi kantor mu. Orang di resepsionis galak banget, aku nggak boleh masuk, kamu bisa jemput aku ke bawah nggak?"

Aku pikir dia akan langsung setuju, tapi ternyata dia cuma bilang dengan tenang, "Aku minta Heni yang jemput kamu!"

Setelah menutup telepon, Yosef membuka riwayat panggilan. Layarnya penuh dengan tanda merah bertuliskan nama "Shofia". Itu semua adalah panggilanku kemarin.

Dia mengernyitkan dahi dengan ekspresi serius, entah apa yang sedang dia pikirkan.

Tak lama kemudian, Wina yang mengenakan drss putih masuk ke ruangan dipandu oleh sekretaris.

Yosef menyimpan ponselnya. Mereka duduk di area istirahat di samping.

Sekretaris dengan pengertian meninggalkan ruangan, menyisakan mereka berdua. Wina menata kotak makan satu per satu dan berkata dengan nada sangat akrab, "Kemarin kamu minum alkohol dan tidur larut. Aku takut makanan luar terlalu berminyak dan nggak baik buat lambungmu, jadi aku masak sendiri dan bawakan ke sini."

Yosef menatapnya dan berkata datar, "Lambungku sekarang nggak selemah itu. Hari ini anginnya kencang, habis makan nanti aku minta sopir antar kamu pulang supaya nggak masuk angin."

Rasa getir di hatiku muncul begitu mendengarnya.

Saat aku baru bersama Yosef dulu, sudah berapa kali dia berguling kesakitan karena sakit lambung. Beberapa tahun ini, aku setiap hari mempelajari resep dan memasak untuk dikirim ke kantor tanpa sepengetahuannya.

Karena takut dia tidak mau makan, aku terpaksa berbohong kalau itu masakan asisten rumah tangga kami.

Lambungnya bisa sesehat sekarang tentu karena aku yang merawatnya dengan telaten.

Tapi, dia tidak pernah merasa berterima kasih sedikit pun padaku. Bahkan saat aku terpeleset karena kehujanan demi mengantar makanan, dia malah mengejek, "Shofia, kamu bisa nggak sih jadi orang yang berguna sedikit?!"

Sebelum makan, Yosef perhatian menuangkan air untuk Wina, "Lambungmu nggak bagus, minum air hangat dulu baru makan."

Kebiasaan minum air hangat sebelum makan itu dulu juga atas saranku kepada sekretaris.

Sungguh ironis. Kebaikanku padanya justru dia gunakan untuk menyenangkan cinta sejatinya.

Wina terlihat senang, "Ternyata kamu masih inget, aku kira ...."

Dia terdiam sejenak, tatapannya menajam, "Dulu kita sudah sepakat mau ke luar negeri bareng. Kalau bukan karena Shofia, kita nggak akan mungkin pisah. Dia yang bikin kita kehilangan waktu lima tahun."

Ya, akulah yang terlalu percaya diri mencintai Yosef, akulah yang memaksakan pernikahan tanpa cinta ini. Kalau aku diberi kesempatan sekali lagi, aku tidak akan membiarkan diriku terjebak dalam situasi seperti ini.

Wajah Yosef seketika muram mendengar ucapan Wina, seolah teringat semua hal buruk selama lima tahun ini. Dia mengernyit dengan ekspresi rumit.

"Aku yang salah sama kamu."

"Nggak kok!" Wina menaruh gelasnya dengan kilatan iba di matanya. Dia menggenggam tangan Yosef perlahan, "Yosef, ini bukan salahmu, aku tahu kamu punya alasan sulit. Shofia dan ayahnya yang sudah semena-mena, mereka yang misahin kita."

Yosef diam saja, dia sedikit menunduk untuk menghindari tatapan Wina.

Melihat reaksinya, Wina terus mencoba peruntungannya, "Yosef, sekarang kita sudah mulai lagi dari awal, 'kan? Kita punya kemampuan dan waktu buat menebus lima tahun yang hilang itu."

Wina menggenggam tangan Yosef lebih erat. Pria itu tidak menjawab juga tidak menolaknya, seolah membiarkan kedekatan itu terjadi.

Suasana perlahan menjadi intim. Tatapan Wina jatuh ke bibir tipis Yosef, dia mendongak dan mulai mendekat perlahan.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Sudah Mati, Kamu Buat Apa Pura-Pura?   Bab 18

    Setelah mematikan telepon, Yosef langsung mencabut jarum infus. Dia mengabaikan bujukan Bi Yayah dan bersikeras untuk keluar, lalu langsung naik taksi menuju kantor polisi.Petugas polisi menyerahkan sebuah kantong berisi barang-barang kepada Yosef. Dia tampak termenung menatap barang-barang di tangannya.Polisi itu melanjutkan, "Pelaku utama pembunuhan istri Anda bernama Wina. Dialah yang menyuruh Yulius Candra membuntuti istri Anda, lalu sengaja menabrak mobil Ibu Shofia hingga jatuh ke bawah jembatan, menciptakan ilusi kematian akibat kecelakaan.""Menurut pengakuan tersangka, Yulius ini adalah sepupu Wina ....""Nggak mungkin Wina, kalian ... apa salah orang?" wajah Yosef membiru, dia spontan membantah.Bahkan sampai titik ini, dia masih berusaha membela Wina.Kemudian kudengar dia bergumam, "Jadi, aku yang mencelakainya ...." suaranya terlalu pelan sampai aku tidak mendengar jelas sisanya.Polisi itu mengangguk yakin, "Pak Yosef, Wina sudah mengaku. Menurut pengakuannya, dia membu

  • Aku Sudah Mati, Kamu Buat Apa Pura-Pura?   Bab 17

    Setelah pemakaman, Yosef rutin berangkat ke kantor tepat waktu seperti biasa. Sepintas terlihat normal, hanya saja ada kesan ganjil yang menyelimuti kenormalan itu.Setiap pagi dia mengenakan pakaian yang dulu kusiapkan untuknya. Dia menyuruh Bi Yayah menyiapkan makan siang seperti dulu, bahkan sampai detail kemasan dan jenis hidangannya harus persis sama seperti saat aku masih hidup, meskipun rasanya jelas berbeda.Terkadang di sela-sela rapat yang sibuk, dia tiba-tiba memanggil Heni dan bertanya pelan apakah ada telepon masuk atau kiriman untukku.Nada bicara Yosef sangat lembut, wajahnya penuh harap, tidak ada lagi kesan tidak sabaran seperti dulu.Setiap kali Heni dengan hati-hati mengingatkannya bahwa aku sudah tidak ada, Yosef akan memotongnya dengan tatapan dingin.Dia mulai sering menelepon nomor ponselku yang tidak akan pernah aktif lagi, berbisik pada udara kosong seolah aku benar-benar bisa mendengarnya.Pria yang dulu selalu sibuk itu, sekarang langsung bergegas pulang begi

  • Aku Sudah Mati, Kamu Buat Apa Pura-Pura?   Bab 16

    Yosef tampak sangat lelah. Entah karena belum sadar sepenuhnya atau apa, dia tidak menunjukkan reaksi terkejut sedikit pun atas perkataan polisi.Cukup lama kemudian, barulah dia bertanya pelan, "Siapa yang membunuhnya?"Kedua polisi itu sepertinya menyadari kalau Yosef terlalu tenang. Mereka menatap tajam setiap gerak-gerik Yosef untuk mencari petunjuk, tapi Yosef hanya balas menatap dengan datar, seolah-olah dia benar-benar hanya orang asing yang menonton kejadian ini."Kami masih menyelidiki pelakunya. Ada beberapa hal yang ingin kami tanyakan. Di mana Bapak berada pada pagi hari saat istri Bapak menghilang?" tanya polisi dengan raut serius.Yosef sedikit mengernyit, seolah mulai nggak sabar sama pertanyaan itu, "Lagi istirahat." Nadanya benar-benar tanpa emosi.Para polisi saling lirik, jelas nggak puas sama jawaban Yosef. Mereka lanjut mendesak, "Pak Yosef, Bapak dan Ibu Shofia sempat bertengkar hari sebelumnya. Terus pas tahu istri Bapak nggak ada, masa Bapak nggak kepikiran buat

  • Aku Sudah Mati, Kamu Buat Apa Pura-Pura?   Bab 15

    Yosef mendadak duduk tegak. Dia menggenggam ponselnya kuat-kuat, suaranya terdengar serak, "Kamu yakin? Beneran dia?"Di seberang telepon, nada bicara terdengar berat, "Pak Yosef, harap tabah! Saat ini Bapak perlu segera datang ke kantor polisi."Setelah telepon ditutup, tangan Yosef yang memegang ponsel tidak kunjung turun. Seluruh tubuhnya seolah-olah kehilangan tenaga, dia duduk terpaku di atas ranjang.Tiba di kantor polisi, baru saja Yosef melangkah masuk ke ruang jenazah, suara "plak" yang nyaring terdengar. Sebuah tamparan keras dari Silvia mendarat telak di wajahnya.Dia sama sekali tidak bersiap, hingga terhuyung mundur dua langkah sebelum akhirnya berhasil berdiri tegak.Para petugas polisi di sekitar pun terkejut melihat kejadian mendadak itu. Mereka saling pandang dan suasana seketika membeku.Mata Silvia merah dan bengkak, wajahnya penuh jejak air mata. Dia menatap tajam pria di depannya dengan penuh kemarahan, "Yosef, kamu! Kamu yang sudah bikin Shofia mati!"Sambil bicar

  • Aku Sudah Mati, Kamu Buat Apa Pura-Pura?   Bab 14

    Yosef tidak memperhatikan kotak-kotak itu. Dia sibuk melonggarkan dasinya sendiri lalu menuangkan segelas air. Namun, saat dia mengangkat gelas tersebut, wajahnya tiba-tiba berubah menjadi sangat keruh.Aku mengikuti arah pandangannya. Terlihat kotak-kotak kardus itu penuh berisi pakaian, perlengkapan mandi, dan barang-barang elektronik milikku. Barang pribadiku dikemas begitu saja dengan sembarangan, seolah-olah aku tidak pernah ada di rumah ini.Saat itu, Wina menggerakkan kursi rodanya keluar dari arah lift. Senyum puas terlukis di wajahnya. "Yosef, kamu akhirnya pulang juga. Aku tunggu kamu lama banget."Yosef menatapnya dengan dingin. Suaranya menyiratkan kemarahan. "Ini semua apa maksudnya?"Wina menunjuk kardus-kardus itu dengan santai. "Oh, yang ini? Aku pikir kalian 'kan mau cerai, barang-barangnya juga nggak perlu disimpan lagi. Jadi aku minta pembantu beresin sekalian."Dia mengatakannya seolah-olah itu adalah hal yang sangat wajar. Dia bersikap layaknya nyonya rumah. Namun,

  • Aku Sudah Mati, Kamu Buat Apa Pura-Pura?   Bab 13

    Setelah menutup telepon, dia menoleh ke arah Wina. Bayangan kelam di wajahnya belum sepenuhnya hilang, nadanya terdengar dingin. "Wina, aku harus ke kantor polisi. Kamu istirahat yang baik di rumah.""Apa terjadi sesuatu sama Shofia?"Entah itu hanya perasaanku saja, tapi aku merasa saat Wina menanyakan hal itu, tatapan matanya tampak goyah dan gelisah.Kilatan ejekan melintas di wajah Yosef, dia mendengus dingin, "Dia? Aku malah berharap dia benar-benar kena musibah."Sudah sampai di tahap ini pun, dia masih saja menyumpahiku! Seberapa besar rasa bencinya padaku, sampai-sampai dia sangat tidak menginginkan hal baik terjadi padaku?Aku menahan rasa jijikku pada Yosef dan mengikutinya ke kantor polisi.Baru saja sampai di depan gerbang kantor polisi, Silvia pun tiba. Mereka berdua yang memang tidak pernah akur, saat ini bahkan tidak sudi bertukar sepatah kata pun dan langsung berjalan masuk ke dalam.Begitu masuk, seorang polisi langsung membimbing mereka menuju ruang identifikasi jenaz

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status