Share

Bab 3

Author: Wanita
Nyaris dalam sekejap, Yosef memalingkan wajah dan menghindari ciuman itu.

Lalu, tanpa menunjukkan emosi, dia menarik kembali tangannya dan mengalihkan pandangan ke jari manisnya.

Aku sedikit terkejut. Dia menyukai Wina, seharusnya reaksinya bukan seperti ini.

Wajah Wina menegang. Dia menarik tangannya perlahan dengan nada bicara agak merajuk, "Yosef, kamu nggak mungkin jadi punya perasaan sama Shofia setelah lama tinggal bareng dia, 'kan? Kamu lupa gimana dulu dia maksa kita buat pisah? Kalau ...."

Belum sempat dia menyelesaikan kalimatnya, Yosef memotong dengan suara dingin, "Aku nggak lupa, aku juga nggak mungkin suka sama dia. Tenang aja, kamu bakal cerai nggak lama lagi ...."

Mata Wina berbinar, senyum di sudut birunya sama sekali tidak bisa disembunyikan, "Kamu serius?"

Yosef mengangguk, tapi wajahnya sama sekali tidak memperlihatkan senyum sedikit pun.

Wina baru saja hendak memeluknya, tapi Yosef segera menghentikannya, "Wina, kamu pulang duluan aja. Aku agak capek, mau istirahat sebentar."

"Tapi kamu belum makan? Gimana kalau ...."

Nada bicara Yosef terdengar tenang, "Bawa pulang aja, aku lagi nggak nafsu makan."

Wina ragu-ragu selama beberapa detik, tapi akhirnya dia mengangguk patuh, "Ya sudah kalau gitu. Oh iya, semalam sudah janji sama Yoga dan yang lain buat kumpul nanti malam, jangan sampai lupa ya."

"Iya." Setelah Wina pergi, Yosef bersandar di sofa dengan wajah suram.

Sepanjang sore dia tampak tidak fokus. Berkali-kali dia melirik ponselnya, seolah-olah sedang menunggu sebuah pesan.

Saat jam pulang kantor tiba, aku mengikutinya ke Bar Nuansa. Begitu sampai di meja baris mereka, orang-orang mulai bersorak dan mendorongnya agar mendekat ke arah Wina, bahkan dengan semangat memanggil Wina dengan sebutan kakak ipar!

Wina berpura-pura kesal dan menyuruh mereka berhenti memanggil begitu, lalu dengan wajah malu-malu dia bersembunyi di pelukan Yosef.

Kakak ipar? Panggilan itu seperti pisau tajam yang menghunjam jantungku. Empat tahun menikah, dia tidak pernah sekalipun membawaku bertemu teman-temannya, apalagi mendapatkan pengakuan dari mereka. Di mata mereka, aku hanyalah sosok yang tidak berguna.

Teman-temannya bergantian bersulang untuk dia dan Wina, "Kak Yosef, dengar dari Kak Wina katanya kamu mau cerai ya? Wah, ini sih berita bagus! Kapan nikahnya kabari ya, nanti biar kami yang jadi pengiring pengantin pria!"

"Kak Wina juga harus cariin pendamping pengantin wanita yang cantik-cantik ya, biar bisa comblangin kami."

Yang lain ikut menimpali begitu mendengarnya. Wina tersenyum manis lalu mengalihkan pandangannya ke Yosef, "Aku terserah Yosef aja."

Berbeda dengan suasana sekitar yang riuh, Yosef tetap diam. Dia duduk tenang di sofa, di bawah cahaya temaram ekspresinya sulit ditebak. Dia hanya menerima gelas dari tangan Wina dan langsung menenggaknya sampai habis.

Melindungi sedalam itu, terlihat jelas kalau Yosef memang sangat mencintainya.

Aku tertawa getir. Jadi teringat saat dia baru masuk ke perusahaan dulu, akulah yang membawanya pergi menjamu relasi dan mengenalkannya pada urusan kantor sedikit demi sedikit. Karena takut dia minum terlalu banyak, akulah yang selalu maju paling depan, dan yang muntah-muntah pun selalu aku.

Apa yang dilakukan Yosef saat itu? Dia hanya menonton dengan dingin. Dia bahkan tidak pernah berpikir untuk berdiri sekali saja demi menghentikan orang-orang yang mencekokiku minuman, apalagi beri perhatian. Karena aku takut ayah akan merendahkannya, aku berbohong kalau semua proyek itu berhasil didapatkan oleh Yosef. Berkat usahaku, ayah perlahan mulai suka padanya.

Wina bersandar di sisi Yosef dengan senyum manis. Siapa pun yang melihat pasti menganggap mereka pasangan yang serasi.

Orang-orang mulai bersorak melihat pemandangan itu. "Cium! Cium!"

Wina tersipu malu, bersandar di bahu Yosef. Tatapannya penuh perasaan dan tidak mampu menyembunyikan harapan.

Saat sorakan mereka makin riuh, hatiku justru mendingin sampai ke titik nadir. Sikap mereka kepada Wina, pada dasarnya adalah cerminan dari sikap Yosef. Dia sudah membiarkan Wina dianggap sebagai istrinya.

Dulu aku masih bisa menipu diri sendiri, tapi melihat kemesraan mereka secara langsung saat ini, aku baru sadar betapa bodohnya aku. Menyia-nyiakan waktu selama empat tahun, pada akhirnya aku tidak mendapatkan apa-apa, bahkan seperseribu cinta pun tidak ada.

Di bawah desakan semua orang, Yosef memutar tubuhnya menghadap Wina. Orang-orang di sana terdiam, menatap iri ke arah mereka berdua.

Yosef membelakangiku sehingga aku tidak bisa melihat raut wajahnya. Tapi, melihat wajah Wina yang tampak sangat bahagia, tidak sulit membayangkan ekspresi Yosef. Aku tidak sanggup melihat mereka berciuman, jadi aku memalingkan badan.

Namun, tiba-tiba nada dering ponsel berbunyi di saat yang tidak tepat. Aku berbalik dan melihat Yosef hendak mengangkat telepon.

Meski terlihat kesal, Wina tetap merangkul lengan Yosef dengan mesra sambil menatapnya penuh cinta.

Yosef perlahan menarik lengannya dari rangkulan Wina, lalu berjalan ke samping untuk menerima telepon. Aku mendekat diam-diam, berusaha mendengar isi pembicaraan.

Di ujung telepon, terdengar suara cemas Bi Yayah. Suaranya gemetar karena panik dan khawatir, "Pak Yosef, Bapak kapan pulang? Ibu sepertinya kena musibah ...."

Yosef mengernyit, nadanya terdengar nggak senang, "Dia bisa kena musibah apa sih? Kalau ada apa-apa ngomong yang cepet, aku sibuk."

Aku sama sekali tidak kaget kalau dia menolak pulang. Lagi pula, hal apa pun tidak akan lebih penting daripada menemani Wina.

Di ujung sana, Bi Yayah terdiam sejenak sebelum suaranya terdengar makin mendesak, "Saya ... saya baru saja beres-beres kamar, terus di tempat sampah nemuin surat wasiat yang ditulis ibu. Saya coba telepon ibu berkali-kali tapi nggak nyambung, makanya saya ...."

"Surat wasiat apa?" Yosef mendadak memotong ucapan Bi Yayah.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Sudah Mati, Kamu Buat Apa Pura-Pura?   Bab 18

    Setelah mematikan telepon, Yosef langsung mencabut jarum infus. Dia mengabaikan bujukan Bi Yayah dan bersikeras untuk keluar, lalu langsung naik taksi menuju kantor polisi.Petugas polisi menyerahkan sebuah kantong berisi barang-barang kepada Yosef. Dia tampak termenung menatap barang-barang di tangannya.Polisi itu melanjutkan, "Pelaku utama pembunuhan istri Anda bernama Wina. Dialah yang menyuruh Yulius Candra membuntuti istri Anda, lalu sengaja menabrak mobil Ibu Shofia hingga jatuh ke bawah jembatan, menciptakan ilusi kematian akibat kecelakaan.""Menurut pengakuan tersangka, Yulius ini adalah sepupu Wina ....""Nggak mungkin Wina, kalian ... apa salah orang?" wajah Yosef membiru, dia spontan membantah.Bahkan sampai titik ini, dia masih berusaha membela Wina.Kemudian kudengar dia bergumam, "Jadi, aku yang mencelakainya ...." suaranya terlalu pelan sampai aku tidak mendengar jelas sisanya.Polisi itu mengangguk yakin, "Pak Yosef, Wina sudah mengaku. Menurut pengakuannya, dia membu

  • Aku Sudah Mati, Kamu Buat Apa Pura-Pura?   Bab 17

    Setelah pemakaman, Yosef rutin berangkat ke kantor tepat waktu seperti biasa. Sepintas terlihat normal, hanya saja ada kesan ganjil yang menyelimuti kenormalan itu.Setiap pagi dia mengenakan pakaian yang dulu kusiapkan untuknya. Dia menyuruh Bi Yayah menyiapkan makan siang seperti dulu, bahkan sampai detail kemasan dan jenis hidangannya harus persis sama seperti saat aku masih hidup, meskipun rasanya jelas berbeda.Terkadang di sela-sela rapat yang sibuk, dia tiba-tiba memanggil Heni dan bertanya pelan apakah ada telepon masuk atau kiriman untukku.Nada bicara Yosef sangat lembut, wajahnya penuh harap, tidak ada lagi kesan tidak sabaran seperti dulu.Setiap kali Heni dengan hati-hati mengingatkannya bahwa aku sudah tidak ada, Yosef akan memotongnya dengan tatapan dingin.Dia mulai sering menelepon nomor ponselku yang tidak akan pernah aktif lagi, berbisik pada udara kosong seolah aku benar-benar bisa mendengarnya.Pria yang dulu selalu sibuk itu, sekarang langsung bergegas pulang begi

  • Aku Sudah Mati, Kamu Buat Apa Pura-Pura?   Bab 16

    Yosef tampak sangat lelah. Entah karena belum sadar sepenuhnya atau apa, dia tidak menunjukkan reaksi terkejut sedikit pun atas perkataan polisi.Cukup lama kemudian, barulah dia bertanya pelan, "Siapa yang membunuhnya?"Kedua polisi itu sepertinya menyadari kalau Yosef terlalu tenang. Mereka menatap tajam setiap gerak-gerik Yosef untuk mencari petunjuk, tapi Yosef hanya balas menatap dengan datar, seolah-olah dia benar-benar hanya orang asing yang menonton kejadian ini."Kami masih menyelidiki pelakunya. Ada beberapa hal yang ingin kami tanyakan. Di mana Bapak berada pada pagi hari saat istri Bapak menghilang?" tanya polisi dengan raut serius.Yosef sedikit mengernyit, seolah mulai nggak sabar sama pertanyaan itu, "Lagi istirahat." Nadanya benar-benar tanpa emosi.Para polisi saling lirik, jelas nggak puas sama jawaban Yosef. Mereka lanjut mendesak, "Pak Yosef, Bapak dan Ibu Shofia sempat bertengkar hari sebelumnya. Terus pas tahu istri Bapak nggak ada, masa Bapak nggak kepikiran buat

  • Aku Sudah Mati, Kamu Buat Apa Pura-Pura?   Bab 15

    Yosef mendadak duduk tegak. Dia menggenggam ponselnya kuat-kuat, suaranya terdengar serak, "Kamu yakin? Beneran dia?"Di seberang telepon, nada bicara terdengar berat, "Pak Yosef, harap tabah! Saat ini Bapak perlu segera datang ke kantor polisi."Setelah telepon ditutup, tangan Yosef yang memegang ponsel tidak kunjung turun. Seluruh tubuhnya seolah-olah kehilangan tenaga, dia duduk terpaku di atas ranjang.Tiba di kantor polisi, baru saja Yosef melangkah masuk ke ruang jenazah, suara "plak" yang nyaring terdengar. Sebuah tamparan keras dari Silvia mendarat telak di wajahnya.Dia sama sekali tidak bersiap, hingga terhuyung mundur dua langkah sebelum akhirnya berhasil berdiri tegak.Para petugas polisi di sekitar pun terkejut melihat kejadian mendadak itu. Mereka saling pandang dan suasana seketika membeku.Mata Silvia merah dan bengkak, wajahnya penuh jejak air mata. Dia menatap tajam pria di depannya dengan penuh kemarahan, "Yosef, kamu! Kamu yang sudah bikin Shofia mati!"Sambil bicar

  • Aku Sudah Mati, Kamu Buat Apa Pura-Pura?   Bab 14

    Yosef tidak memperhatikan kotak-kotak itu. Dia sibuk melonggarkan dasinya sendiri lalu menuangkan segelas air. Namun, saat dia mengangkat gelas tersebut, wajahnya tiba-tiba berubah menjadi sangat keruh.Aku mengikuti arah pandangannya. Terlihat kotak-kotak kardus itu penuh berisi pakaian, perlengkapan mandi, dan barang-barang elektronik milikku. Barang pribadiku dikemas begitu saja dengan sembarangan, seolah-olah aku tidak pernah ada di rumah ini.Saat itu, Wina menggerakkan kursi rodanya keluar dari arah lift. Senyum puas terlukis di wajahnya. "Yosef, kamu akhirnya pulang juga. Aku tunggu kamu lama banget."Yosef menatapnya dengan dingin. Suaranya menyiratkan kemarahan. "Ini semua apa maksudnya?"Wina menunjuk kardus-kardus itu dengan santai. "Oh, yang ini? Aku pikir kalian 'kan mau cerai, barang-barangnya juga nggak perlu disimpan lagi. Jadi aku minta pembantu beresin sekalian."Dia mengatakannya seolah-olah itu adalah hal yang sangat wajar. Dia bersikap layaknya nyonya rumah. Namun,

  • Aku Sudah Mati, Kamu Buat Apa Pura-Pura?   Bab 13

    Setelah menutup telepon, dia menoleh ke arah Wina. Bayangan kelam di wajahnya belum sepenuhnya hilang, nadanya terdengar dingin. "Wina, aku harus ke kantor polisi. Kamu istirahat yang baik di rumah.""Apa terjadi sesuatu sama Shofia?"Entah itu hanya perasaanku saja, tapi aku merasa saat Wina menanyakan hal itu, tatapan matanya tampak goyah dan gelisah.Kilatan ejekan melintas di wajah Yosef, dia mendengus dingin, "Dia? Aku malah berharap dia benar-benar kena musibah."Sudah sampai di tahap ini pun, dia masih saja menyumpahiku! Seberapa besar rasa bencinya padaku, sampai-sampai dia sangat tidak menginginkan hal baik terjadi padaku?Aku menahan rasa jijikku pada Yosef dan mengikutinya ke kantor polisi.Baru saja sampai di depan gerbang kantor polisi, Silvia pun tiba. Mereka berdua yang memang tidak pernah akur, saat ini bahkan tidak sudi bertukar sepatah kata pun dan langsung berjalan masuk ke dalam.Begitu masuk, seorang polisi langsung membimbing mereka menuju ruang identifikasi jenaz

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status