Share

Bab 4

Author: Wanita
Aku mendongak dan mendapati ekspresi Yosef yang dipenuhi cemoohan, tapi sekaligus tampak seperti terperangah.

"Saya juga nggak tahu pasti apa yang terjadi, Bapak sebaiknya cepat pulang. Saya khawatir terjadi sesuatu yang buruk sama Ibu," suara Bi Yayah terdengar makin mendesak.

Namun, tak lama kemudian, wajah Yosef menunjukkan ekspresi meremehkan dan suaranya berubah menjadi dingin, "Shofia kasih kamu uang berapa sampai kamu mau bantu dia akting begini?"

Akting?

Hatiku hancur melihat ekspresinya yang acuh tak acuh itu. Bahkan asisten di rumah pun bisa melihat ada yang tidak beres, tapi dia tetap saja menganggap itu hanya trik yang aku buat.

Bi Yayah masih ingin menjelaskan, tapi Yosef memotongnya dengan kasar, "Aku nggak mau dengar omong kosong ini! Kasih tahu dia, berhenti main drama membosankan begini. Kalaupun dia benar-benar mau mati, itu nggak ada urusannya sama aku!"

Bi Yayah di seberang telepon sepertinya sangat ketakutan karena sikap Yosef, suaranya terdengar gemetar saat bertanya, "Lalu ... lalu surat wasiat ini harus diapakan?"

Suara Yosef tidak membawa kehangatan sedikit pun, "Balikin ke orang yang kasih itu ke kamu, atau buang saja!"

Setelah itu, Yosef langsung mematikan telepon tanpa memberikan kesempatan bagi Bi Yayah untuk bicara lagi.

Dadaku terasa sesak. Aku tertawa mengejek diri sendiri. Ternyata begini cara terakhirnya memperlakukanku, seperti membuang barang tidak berguna tanpa belas kasihan.

Aku berbalik menatap Yosef. Matanya menatap tajam ke layar ponsel, lalu dia kembali duduk di mejanya dengan wajah tenang.

Banyak orang datang menghampirinya untuk bersulang. Yosef menerima semuanya tanpa menolak. Setelah beberapa gelas tandas, dia mulai berdiri dengan tidak stabil.

Wina segera berdiri dan menarik Yosef ke sampingnya, lalu menolak ajakan yang lain sambil tersenyum, "Sudah ya, cukup sampai di sini. Yosef sudah mabuk, aku mau antar dia pulang buat istirahat."

Setelah berkata demikian, dia memapah Yosef keluar dari ruangan dan mereka naik lift bersama menuju lantai 32.

Begitu keluar dari lift, Wina memandu Yosef ke depan sebuah kamar dan membuka pintu menggunakan kartu yang sudah dia siapkan sebelumnya.

Dia memapah Yosef ke tempat tidur, membantunya melepas jaket, lalu dia sendiri pergi ke kamar mandi.

Pria di atas ranjang itu memiliki semburat merah di pipinya. Matanya yang sayu tampak seperti tertutup lapisan kabut. Dasinya sudah dia tarik hingga berantakan. Bibir tipisnya bergerak sedikit, entah sedang meracaukan apa, sementara satu tangannya menggenggam ponsel dengan erat.

Pemandangan yang tidak asing ini membuatku teringat saat pertama kali aku dan Yosef melakukannya. Waktu itu kami pergi untuk urusan kerja sama. Kliennya sangat sulit dihadapi dan terus mencekoki Yosef dengan alkohol. Aku membantunya menghalau beberapa gelas, tapi dia tetap mabuk berat.

Aku mengantarnya ke kamar hotel. Saat aku hendak pergi, dia menarikku dan langsung menindihku di atas ranjang. Aku mencoba berontak, tapi seluruh tubuhku terkunci rapat olehnya.

Sebelum aku sempat bereaksi, dia membungkuk dan mencium bibirku. Sentuhan dingin itu membuatku seketika kehilangan kesadaran. Matanya memancarkan kelembutan yang belum pernah kulihat sebelumnya. Dalam pergulatan malam itu, kami akhirnya menjadi suami istri yang sesungguhnya.

Aku pikir setelah kejadian itu hubungan kami akan berubah, tapi saat terbangun keesokan harinya, ucapan Yosef kembali memadamkan semua harapanku.

"Shofia, kamu nggak punya rasa malu ya? Manfaatin aku yang lagi mabuk buat naik ke ranjangku, begini cara keluargamu mendidikmu?! Benar-benar bikin aku buka mata!" Dia menatapku dengan tatapan penghinaan dan ejekan.

"Kalau kamu pikir dengan cara ini aku bakal jatuh cinta sama kamu, mending kamu buang jauh-jauh rencana itu. Sama perempuan licik kayak kamu, aku lebih baik mati daripada harus suka."

Kata-kata penghinaan itu seperti pisau tajam yang menusuk dadaku. Jelas dia yang kehilangan kendali karena mabuk, tetapi akhirnya aku yang dituduh menggoda. Hari itu aku sangat memalukan, mengenakan jubah mandi sambil menangis dan berlari keluar kamar.

Sampai kemudian aku melihat betapa lembutnya dia kepada Wina, barulah aku mengerti kalau kelembutan malam itu mungkin dia tujukan untuk orang lain melalui diriku.

Malam ini bagi mereka berdua pasti akan menjadi malam yang tidak terlupakan.

Saat itu, Wina keluar dari kamar mandi dengan mengenakan jubah mandi. Dia langsung berjalan ke tepi ranjang dan menatap Yosef dengan tatapan bahagia.

Sementara Yosef duduk di tepi ranjang dengan mata sayu, seolah belum sepenuhnya sadar dari pengaruh alkohol.

Suasana di dalam kamar makin intim. Aku mengepalkan tangan kuat-kuat hingga kuku menusuk telapak tanganku, merasakan sakit yang tidak terlukiskan. Apa aku benar-benar harus melihat adegan kemesraan yang akan mereka lakukan? Bagiku ini terlalu kejam.

Wina membungkukkan badan dan hendak menciumnya, tapi Yosef tiba-tiba duduk tegak dan mendorongnya. Sepasang matanya yang dalam tidak menunjukkan banyak emosi, tapi tatapannya jauh lebih jernih daripada sebelumnya.

Wina tampak tertegun sejenak dan bertanya ragu, "Ada apa?"

"Aku mau pesan satu kamar lagi." Yosef berdiri. Kepalanya yang pening membuatnya sempoyongan beberapa kali dan hampir jatuh.

Dia menolak?

Aku mendadak merasa tidak bisa memahaminya lagi. Dia jelas-jelas sangat menyukai Wina, seharusnya dia sangat menantikan hari ini, kalau tidak mana mungkin dulu dia tidak sengaja berhubungan denganku.

Ekspresi Wina sedikit meredup, dia segera berdiri dan menahannya, "Yosef, jangan salah paham. Aku cuma lihat kamu mabuk dan mau jaga kamu. Aku ganti baju karena gaunku kena noda anggur. Kalau kamu keberatan, aku ganti sekarang juga, jangan marah ya?"

Biasanya Yosef selalu menjawab setiap perkataan Wina, tapi kali ini dia hanya menatap ponselnya dengan erat tanpa menjawab.

Wina menggigit bibir dan terus membujuk dengan suara lembut, "Aku tahu, kamu belum cerai sama dia, kamu masih punya keraguan. Aku yang kurang pertimbangan, maaf ya, lain kali nggak bakal begini lagi."

Yosef mengernyit, tapi suaranya tetap terdengar lembut, "Aku nggak marah. Kamu juga sudah minum banyak hari ini, lebih baik istirahat saja dulu."

Selesai bicara, dia berjalan terhuyung-huyung menuju pintu. Di belakangnya, mata Wina yang berkabut perlahan berubah menjadi dingin hingga akhirnya memancarkan kebencian.

Aku mengikuti di belakangnya dan tidak sengaja menangkap gumaman pelan Wina, "Sudah mau cerai saja dia masih jaga kesucian buat perempuan itu ...."

Aku mengikuti Yosef ke kamar lain. Rona merah di wajahnya sudah hilang. Meski langkahnya masih sedikit gontai, kesadarannya sudah pulih.

Dia duduk lesu di sofa dengan mata tertuju pada ponsel di atas meja. Dari sorot matanya yang redup, tidak sulit untuk melihat kalau perasaannya sedang sangat buruk.

Aku membatin, mungkin dia menyesali keputusannya tadi, lagi pula Wina adalah orang yang dia sukai selama bertahun-tahun.

Aku menemaninya duduk di sofa selama setengah jam. Berkali-kali dia mengambil ponselnya lalu meletakkannya kembali dengan ekspresi gusar.

Saat aku mulai merasa bosan, dia tiba-tiba mengambil ponselnya. Aku pikir dia mau menelepon Wina, tapi saat aku mendekat, aku melihat dia membuka WhatsApp dan mencari kolom percakapan denganku.

Dia mulai mengetik sesuatu di kolom pesan, tapi segera menghapusnya lagi, berkali-kali seperti itu.

[Shofia, kamu belum puas juga bikin keributan?]

[Kamu sebaiknya tahu diri, kalau nggak aku ....]

[Shofia, aku nggak punya waktu buat main permainan membosankan kayak gini. Kalau dalam satu jam kamu nggak pulang, tanggung sendiri akibatnya ....]

Pada akhirnya, dia tetap tidak mengirimkan satu pesan pun padaku. Sepertinya dia masih menungguku untuk mengalah lebih dulu.

Tapi, aku tidak bisa mengalah, aku sudah mati.

Dia menggenggam ponsel dengan erat, lalu tiba-tiba berdiri dan berjalan terhuyung keluar hotel.

Dia memesan taksi dan langsung pulang ke vila. Begitu masuk ke ruang tamu, dia melihat surat wasiat yang dibilang Bi Yayah tadi tergeletak kusut di atas meja.
Continue to read this book for free
Scan code to download App

Latest chapter

  • Aku Sudah Mati, Kamu Buat Apa Pura-Pura?   Bab 18

    Setelah mematikan telepon, Yosef langsung mencabut jarum infus. Dia mengabaikan bujukan Bi Yayah dan bersikeras untuk keluar, lalu langsung naik taksi menuju kantor polisi.Petugas polisi menyerahkan sebuah kantong berisi barang-barang kepada Yosef. Dia tampak termenung menatap barang-barang di tangannya.Polisi itu melanjutkan, "Pelaku utama pembunuhan istri Anda bernama Wina. Dialah yang menyuruh Yulius Candra membuntuti istri Anda, lalu sengaja menabrak mobil Ibu Shofia hingga jatuh ke bawah jembatan, menciptakan ilusi kematian akibat kecelakaan.""Menurut pengakuan tersangka, Yulius ini adalah sepupu Wina ....""Nggak mungkin Wina, kalian ... apa salah orang?" wajah Yosef membiru, dia spontan membantah.Bahkan sampai titik ini, dia masih berusaha membela Wina.Kemudian kudengar dia bergumam, "Jadi, aku yang mencelakainya ...." suaranya terlalu pelan sampai aku tidak mendengar jelas sisanya.Polisi itu mengangguk yakin, "Pak Yosef, Wina sudah mengaku. Menurut pengakuannya, dia membu

  • Aku Sudah Mati, Kamu Buat Apa Pura-Pura?   Bab 17

    Setelah pemakaman, Yosef rutin berangkat ke kantor tepat waktu seperti biasa. Sepintas terlihat normal, hanya saja ada kesan ganjil yang menyelimuti kenormalan itu.Setiap pagi dia mengenakan pakaian yang dulu kusiapkan untuknya. Dia menyuruh Bi Yayah menyiapkan makan siang seperti dulu, bahkan sampai detail kemasan dan jenis hidangannya harus persis sama seperti saat aku masih hidup, meskipun rasanya jelas berbeda.Terkadang di sela-sela rapat yang sibuk, dia tiba-tiba memanggil Heni dan bertanya pelan apakah ada telepon masuk atau kiriman untukku.Nada bicara Yosef sangat lembut, wajahnya penuh harap, tidak ada lagi kesan tidak sabaran seperti dulu.Setiap kali Heni dengan hati-hati mengingatkannya bahwa aku sudah tidak ada, Yosef akan memotongnya dengan tatapan dingin.Dia mulai sering menelepon nomor ponselku yang tidak akan pernah aktif lagi, berbisik pada udara kosong seolah aku benar-benar bisa mendengarnya.Pria yang dulu selalu sibuk itu, sekarang langsung bergegas pulang begi

  • Aku Sudah Mati, Kamu Buat Apa Pura-Pura?   Bab 16

    Yosef tampak sangat lelah. Entah karena belum sadar sepenuhnya atau apa, dia tidak menunjukkan reaksi terkejut sedikit pun atas perkataan polisi.Cukup lama kemudian, barulah dia bertanya pelan, "Siapa yang membunuhnya?"Kedua polisi itu sepertinya menyadari kalau Yosef terlalu tenang. Mereka menatap tajam setiap gerak-gerik Yosef untuk mencari petunjuk, tapi Yosef hanya balas menatap dengan datar, seolah-olah dia benar-benar hanya orang asing yang menonton kejadian ini."Kami masih menyelidiki pelakunya. Ada beberapa hal yang ingin kami tanyakan. Di mana Bapak berada pada pagi hari saat istri Bapak menghilang?" tanya polisi dengan raut serius.Yosef sedikit mengernyit, seolah mulai nggak sabar sama pertanyaan itu, "Lagi istirahat." Nadanya benar-benar tanpa emosi.Para polisi saling lirik, jelas nggak puas sama jawaban Yosef. Mereka lanjut mendesak, "Pak Yosef, Bapak dan Ibu Shofia sempat bertengkar hari sebelumnya. Terus pas tahu istri Bapak nggak ada, masa Bapak nggak kepikiran buat

  • Aku Sudah Mati, Kamu Buat Apa Pura-Pura?   Bab 15

    Yosef mendadak duduk tegak. Dia menggenggam ponselnya kuat-kuat, suaranya terdengar serak, "Kamu yakin? Beneran dia?"Di seberang telepon, nada bicara terdengar berat, "Pak Yosef, harap tabah! Saat ini Bapak perlu segera datang ke kantor polisi."Setelah telepon ditutup, tangan Yosef yang memegang ponsel tidak kunjung turun. Seluruh tubuhnya seolah-olah kehilangan tenaga, dia duduk terpaku di atas ranjang.Tiba di kantor polisi, baru saja Yosef melangkah masuk ke ruang jenazah, suara "plak" yang nyaring terdengar. Sebuah tamparan keras dari Silvia mendarat telak di wajahnya.Dia sama sekali tidak bersiap, hingga terhuyung mundur dua langkah sebelum akhirnya berhasil berdiri tegak.Para petugas polisi di sekitar pun terkejut melihat kejadian mendadak itu. Mereka saling pandang dan suasana seketika membeku.Mata Silvia merah dan bengkak, wajahnya penuh jejak air mata. Dia menatap tajam pria di depannya dengan penuh kemarahan, "Yosef, kamu! Kamu yang sudah bikin Shofia mati!"Sambil bicar

  • Aku Sudah Mati, Kamu Buat Apa Pura-Pura?   Bab 14

    Yosef tidak memperhatikan kotak-kotak itu. Dia sibuk melonggarkan dasinya sendiri lalu menuangkan segelas air. Namun, saat dia mengangkat gelas tersebut, wajahnya tiba-tiba berubah menjadi sangat keruh.Aku mengikuti arah pandangannya. Terlihat kotak-kotak kardus itu penuh berisi pakaian, perlengkapan mandi, dan barang-barang elektronik milikku. Barang pribadiku dikemas begitu saja dengan sembarangan, seolah-olah aku tidak pernah ada di rumah ini.Saat itu, Wina menggerakkan kursi rodanya keluar dari arah lift. Senyum puas terlukis di wajahnya. "Yosef, kamu akhirnya pulang juga. Aku tunggu kamu lama banget."Yosef menatapnya dengan dingin. Suaranya menyiratkan kemarahan. "Ini semua apa maksudnya?"Wina menunjuk kardus-kardus itu dengan santai. "Oh, yang ini? Aku pikir kalian 'kan mau cerai, barang-barangnya juga nggak perlu disimpan lagi. Jadi aku minta pembantu beresin sekalian."Dia mengatakannya seolah-olah itu adalah hal yang sangat wajar. Dia bersikap layaknya nyonya rumah. Namun,

  • Aku Sudah Mati, Kamu Buat Apa Pura-Pura?   Bab 13

    Setelah menutup telepon, dia menoleh ke arah Wina. Bayangan kelam di wajahnya belum sepenuhnya hilang, nadanya terdengar dingin. "Wina, aku harus ke kantor polisi. Kamu istirahat yang baik di rumah.""Apa terjadi sesuatu sama Shofia?"Entah itu hanya perasaanku saja, tapi aku merasa saat Wina menanyakan hal itu, tatapan matanya tampak goyah dan gelisah.Kilatan ejekan melintas di wajah Yosef, dia mendengus dingin, "Dia? Aku malah berharap dia benar-benar kena musibah."Sudah sampai di tahap ini pun, dia masih saja menyumpahiku! Seberapa besar rasa bencinya padaku, sampai-sampai dia sangat tidak menginginkan hal baik terjadi padaku?Aku menahan rasa jijikku pada Yosef dan mengikutinya ke kantor polisi.Baru saja sampai di depan gerbang kantor polisi, Silvia pun tiba. Mereka berdua yang memang tidak pernah akur, saat ini bahkan tidak sudi bertukar sepatah kata pun dan langsung berjalan masuk ke dalam.Begitu masuk, seorang polisi langsung membimbing mereka menuju ruang identifikasi jenaz

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status